A Review of the Stern Review on the Economics of Climate Change

Author: William  D. Nordhaus

Diulas oleh Adzrani Anggita dan Jessica Annabel

Pendahuluan

Saat ini, tidak ada satu pun tempat di bumi yang dapat terhindar dari pemanasan global. Melihat hal ini, tidak heran jika banyak studi yang dilakukan terkait pemanasan global. Salah satunya dilakukan oleh Pemerintah Inggris yang berjudul The Stern Review on the Economics of Climate Change. Studi ini memperkirakan bahwa total biaya dan risiko dari perubahan iklim bisa disamakan dengan kehilangan paling sedikit 5% dari GDP dunia setiap tahunnya, bahkan dampaknya dapat meningkat hingga melampaui 20% dari GDP dunia. Dampak yang luar biasa ini dapat disamakan dengan dampak dari The Great Wars dan The Great Depression yang terjadi pada awal paruh abad ke-20. Melihat dampaknya yang begitu parah, tidak mengherankan jika banyak kebijakan yang diambil guna  memperlambat laju pemanasan global dengan signifikan. Kebijakan seperti inilah yang sering dikenal sebagai Climate-Policy Ramp.

Namun nyatanya hingga kini, masih banyak ketidakpastian jika berbicara mengenai pemanasan global. Semua setuju bahwa pemanasan global adalah isu yang penting dan patut diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya studi ekonomi yang mengungkap pentingnya mengurangi gas rumah kaca. Tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah berapa banyak gas rumah kaca yang perlu dikurangi dan seberapa darurat isu ini harus ditangani. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dilakukan analisis cost-benefit. Dalam hal ini, tingkat diskonto merupakan faktor yang sangat penting. Dengan menggunakan tingkat diskonto yang benar, dampak dari pemanasan global yang terjadi di masa depan dapat diseimbangkan dengan biaya yang perlu dikeluarkan saat ini. Menurut penulis, tingkat diskonto yang digunakan di dalam The Stern Review perlu dipertimbangkan kembali. Penulis meyakini bahwa tingkat diskonto yang digunakan terlalu rendah. Hal ini kemudian diperparah dengan penggunaan asumsi-asumsi lain yang menyebabkan dampak buruk pemanasan global terlihat sangat besar sehingga kebijakan pengurangan emisi secara signifikan adalah kebijakan terbaik saat ini. Oleh karena itu, penulis merasa tingkat diskonto yang digunakan perlu diubah. Akibatnya, terjadi perubahan drastis pada hasil dari studi ini.

Inti Masalah

Jurnal ini ditulis berdasarkan aturan, ilmu, atau standar dari ilmu sains dan ilmu ekonomi. Pandangan radikal dari stern review berasal dari asumsi ekstrim tentang diskonto. Bagian ini akan membahas mengenai masalah-masalah inti dalam Stern Review.

Konsep mengenai discount rate terdiri atas dua konsep berbeda. Pertama, konsep discount rate yang merujuk ke jumlah barang atau uang pada saat waktu yang berbeda. Kedua, mengenai time discount rate yang dihitung dalam persentase per unit waktu. Tetapi mengacu pada pengurangan tingkat kesejahteraan masa depan, bukan barang atau uang di masa depan.

Kebijakan iklim dan konsumsi dievaluasi menggunakan  model pertumbuhan ekonomi optimal Ramsey – Koopmans-Cass. Dalam teori ini, pembuat keputusan pusat ingin memaksimalkan fungsi kesejahteraan sosial yang merupakan nilai diskon dari utilitas konsumsi selama periode waktu yang tidak terbatas.

Di sini, c(t) adalah konsumsi per kapita, U adalah fungsi utilitas yang digunakan untuk membandingkan nilai relatif dari berbagai tingkat konsumsi per generasi, dan p adalah tingkat diskonto waktu yang diterapkan pada generasi yang berbeda. Untuk mempermudah, diasumsikan bahwa populasi konstan dinormalisasi menjadi 1. Stern Review menggunakan angka 0,1 sebagai time discount rate, atau lebih dikenal dengan near-zero discount rate.

Kemudian, fungsi ini dikembangkan lebih jauh dengan mengasumsikan fungsi utilitas memiliki elastisitas konstan dari utilitas konsumsi marjinal, yang disebut sebagai “elastisitas konsumsi”. Rumusnya dapat dijabarkan sebagai berikut:

Setelah itu, kita dapat mengukur social welfare yang optimal dengan Ramsey-equation berikut ini. Dimana a merupakan consumption elasticity, g* merupakan constant rate dari pertumbuhan konsumsi setiap generasi dan r* merupakan real return on capital.

r∗ = p +ag∗.

Stern Review berpendapat bahwa near-zero discount rate merupakan tingkat diskonto terbaik, di mana semua orang tidak memihak, baik pada generasi sekarang maupun generasi masa depan. Sementara itu, the real return on capital adalah variabel yang dapat menunjukan pengurangan emisi yang efisien. Real return on capital berada pada titik optimal ketika biaya konsumsi marjinal pengurangan emisi saat ini setara dengan diskon manfaat konsumsi marjinal yang dari pengurangan kerusakan iklim di masa depan.

Parameter-parameter yang ditetapkan sebagai asumsi untuk elastisitas konsumsi, pertumbuhan jangka panjang output, dan tingkat diskonto dalam Stern Review dibuat tanpa justifikasi apapun. Hal ini akan menghasilkan diskonto yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan saat ini. Lebih lanjut, strategi Plus-Deficit yang digunakan Stern Review adalah menggunakan kebijakan fiskal untuk menjaga tingkat konsumsi tetap sama selama lima puluh tahun. Tetapi, investasi yang lebih banyak dilakukan adalah dalam pengurangan emisi gas rumah kaca atau modal iklim, dibandingkan dengan modal konvensional, seperti pembangunan pabrik ataupun pembelian kapital baru. Hal ini akan membuat generasi masa depan memburuk dan konsumsi yang lebih sedikit daripada strategi optimal-plus-deficit. Setelah lima puluh tahun, modal konvensional telah banyak berkurang, sementara modal iklim hanya meningkat sedikit.

Dengan menggunakan near-zero discount rate, kerusakan besar dari pemanasan global mencerminkan kerusakan besar dan spekulatif di masa depan yang sangat jauh diperbesar menjadi nilai saat ini. Selain itu, lebih dari setengah perkiraan kerusakaan dalam model Stern Review terjadi setelah tahun 2800. Padahal kerusakan yang masih sangat lama ini juga belum tentu terjadi. Apabila dihitung menggunakan near-zero discount rate, nilai aliran konsumsi di masa mendatang akan menjadi sangat tinggi sehingga sebagian besar pendapatan saat ini akan ditukarkan untuk meningkatkan aliran pendapatan di masa mendatang dengan bagian yang sangat kecil.

Fitur terkait dari near-zero time discount rate adalah hal ini menempatkan keputusan saat  ini pada pemicu hambatan dalam menghadapi kemungkinan di masa depan. Sementara itu, pada conventional discounting, kemungkinan berabad-abad di masa depan memiliki bobot yang kecil dalam keputusan hari ini. Keputusan lebih fokus pada waktu yang dekat. Sebaliknya, dengan prosedur tingkat diskonto yang diajukan oleh Stern Review, keputusan yang diambil sekarang menjadi sangat sensitif terhadap peristiwa yang tidak pasti di masa mendatang.

Model Penelitian

Dalam studi ini, penulis menggunakan DICE model, yang merupakan singkatan dari Dynamic Integrated model of Climate and the Economy guna memperkirakan kebijakan optimal yang dapat dilakukan. DICE menghitung investasi modal dan pengurangan gas rumah kaca yang dapat memaksimalkan fungsi kesejahteraan sosial. Untuk analisis ini, penulis menggunakan DICE-2007.delta.v7 model. Model ini menggunakan tingkat diskonto terhadap waktu sebesar 1,5% per tahun dengan tingkat elastisitas konsumsi sebesar 2. Parameter ini disesuaikan dengan tingkat bunga pasar dan tingkat bunga tabungan.

Penulis melakukan tiga runs. Run pertama adalah kebijakan perubahan iklim optimal sesuai dengan model DICE-2007, run kedua sesuai dengan The Stern Review zero discount rate, sedangkan run ketiga sesuai dengan zero discount rate dan elastisitas konsumsi yang telah direkalibrasi (diatur kembali).

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai ketiga runs yang dilakukan oleh penulis, perlu diketahui bahwa untuk menciptakan kebijakan yang efisien, pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan beberapa hal. Biaya sosial dari penggunaan karbon adalah tambahan kerusakan terhadap lingkungan akibat pertambahan satu ton emisi karbon. Untuk mengatasi hal ini, penetapan harga atau pajak yang optimal untuk penggunaan karbon diperlukan untuk menyeimbangkan biaya dari mengurangi emisi karbon dengan manfaat dari pengurangan dampak perubahan iklim. Kebijakan yang diambil disebut maksimal jika pajak penggunaan karbon yang ditetapkan sama dengan biaya sosial dari penggunaan karbon tersebut.

Run 1 memperhitungkan bahwa harga karbon yang optimal pada tahun 2015 adalah $35 per ton karbon dan meningkat seiring berjalannya waktu menjadi $85 pada tahun 2050 dan $206 pada tahun 2100. Dengan ini, tingkat reduksi emisi yang optimal adalah 14% pada tahun 2015, 25% pada tahun 2050, dan 43% pada tahun 2100.

Hasil dari DICE model ini jauh berbeda dengan analisis yang dilakukan dalam The Stern Review yang memperkirakan biaya sosial dari karbon pada tahun 2005 adalah $350 per ton karbon. Nilai ini bahkan sepuluh kali lipat dari yang dihasilkan oleh model DICE. Hal ini terjadi akibat rendahnya time discount rate yang digunakan. Pada run 2, discount rate yang digunakan adalah 0,1% per tahun dan consumption elasticity adalah 1. Perbedaan kecil ini mengubah kebijakan yang perlu diambil dengan drastis. Pengurangan emisi yang perlu dilakukan menurut run 2 jauh lebih besar yaitu 53% karena efek yang muncul di masa depan dibuat seolah muncul saat ini.

Salah satu permasalahan pada run 2 adalah real returns yang terlalu rendah dan savings rate yang terlalu tinggi jika dibandingkan dengan data di pasar. Kesalahan ini kemudian dikoreksi pada run 3. Setelah melalui perhitungan ulang, run 3 ternyata sangat mirip dengan run 1. Meskipun run 3 menggunakan near-zero time discount rate, rekalibrasi yang dilakukan memastikan bahwa run 3 menggunakan tingkat return riil yang sesuai dengan kondisi pasar.

Melihat dari grafik pada figur 1 dan figur 2, kesalahan yang terjadi pada The Stern Review adalah penggunakan rate of return yang terlalu rendah dan savings rate yang terlalu tinggi jika dibandingkan dengan data makroekonomi.

Satu hal yang dapat disimpulkan oleh pembaca dari ini semua adalah bahwa dalam melihat biaya dan manfaat dari kebijakan untuk mengatasi pemanasan global, pembaca perlu melihat dari berbagai perspektif yang berbeda. Perspektif yang berbeda ini dapat berupa perbedaan dari segi asumsi normatif, estimasi perilaku, model dan data, juga prospek dari future learning. Menggunakan hanya satu model akan membuat pengambilan keputusan tidak dapat dilakukan dengan baik. Sebaliknya, untuk mengambil keputusan dengan bijaksana, diperlukan berbagai skenario alternatif.

Kesimpulan

Peneliti berusaha merevisi pandangan-pandangan dalam Stern Review, khususnya mengenai real return capital dan savings rate terkait berapa seharusnya pengurangan emisi karbon yang dilakukan saat ini. Dalam Stern Review, real return capital terlalu rendah sedangkan savings rate terlalu tinggi. Hal ini menyebabkan kebijakan yang terlalu berhati-hati terhadap lingkungan. Seharusnya, real return capital ditingkatkan dan savings rate dikurangi. Hal ini akan menyebabkan carbon tax yang lebih rendah. Lalu, aktivitas-aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan lancar.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in