Are men intimidated by highly educated women? Undercover on Tinder

Penulis            : Brecht Neyt , Sarah Vandenbulcke, Stijn Baert

Tahun             : 2019

Publisher        : Elsevier

Journal           : Economics of Education Review

Diulas oleh     : Anggita Fiorella M dan Alif Ihsan A Fahta

PENDAHULUAN

Sarana seseorang dalam menemukan pasangan hidupnya telah secara drastis berubah selama beberapa abad belakangan. Internet telah menjadi sarana ketiga yang paling mungkin digunakan untuk menemukan pasangan, selain melalui pertemanan (28%) dan pertemuan di bar atau restoran. (Rosenfeld & Thomas, 2012). Faktanya, aplikasi Tinder telah menjadi aplikasi kencan paling populer untuk iOS dan Android, dengan lebih dari 100 juta unduhan dan lebih dari 10 juta pengguna aktif harian (Sumter, Vandenbosch & Ligtenberg, 2017) di lebih dari 190 negara (About Tinder, 2019). Lebih jauh, penggunaan Tinder yang mencapai 2 miliar per hari telah menghasilkan lebih dari 30 miliar kecocokan secara total sejak dirilis di tahun 2012, bahkan telah memfasilitasi kencan offline sebanyak kurang lebih 1 juta per minggu  (About Tinder, 2019).

Terlepas dari popularitasnya, hingga saat ini, tidak ada penelitian yang membahas tentang perilaku penjodohan (mating behaviour) pada aplikasi kencan, seperti Tinder. Dalam penelitian ini, perilaku penjodohan diartikan sebagai preferensi seseorang dalam memilih pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak dari tingkat pendidikan seseorang terhadap tingkat kesuksesan penjodohan di aplikasi kencan Tinder. Penelitian ini mengaitkan temuannya dengan potensi ketimpangan pendapatan dalam masyarakat yang mungkin disebabkan oleh preferensi pilihan pasangan. Selanjutnya, penelitian ini juga menambahkan pembahasan mengenai kaitan antara pendidikan dengan pasar kencan, dimana ini dapat mempengaruhi peranan wanita di pasar input (labour market).

Selain itu, penelitian ini akan mengestimasikan dampak tingkat pendidikan dalam kesuksesan penjodohan tanpa adanya friksi pencarian atau friksi sosial. Dalam hal ini, friksi pencarian dimaksudkan sebagai pengaruh pemilihan pasangan berdasarkan karakteristik yang sama, sedangkan friksi sosial merupakan pengaruh psikologi berupa ketakutan terhadap penolakan.

DATA DAN METODOLOGI

Penelitian ini menggunakan metode correspondence experiments framework yang telah digunakan dalam mengidentifikasi perlakuan yang tidak setara di pasar tenaga kerja. Peneliti memperluas correspondence experiment framework ke dalam aplikasi kencan Tinder. Correspondence experiment ini dapat mengestimasikan efek kausal (sebab-akibat) antara tingkat pendidikan dan kesuksesan penjodohan (mating success).

Peneliti membuat 24 profil Tinder fiksi di beberapa kota di Flanders, Belgium. Peneliti hanya membuat profilnya berbeda dalam karakteristiknya yaitu tingkat pendidikan, yang mana secara acak dibagikan ke 24 profil fiksi. Ada empat derajat tingkat edukasi yang digunakan, diurutkan dari tinggi ke rendah :

  • Master (5 years) in Business Engineering (hereafter: ‘Ma+’)
  • Master (4 years) in Public Administration and Management (hereafter: ‘Ma–’)
  • Bachelor (3 years) in Business Management (hereafter: ‘Ba+’)
  • Bachelor (3 years) in Office Management (hereafter: ‘Ba–’).

Subjek dari penelitian ini adalah pengguna Tinder yang memenuhi tiga kriteria, yaitu preferensi seksual, rentang usia, dan rentang jarak. Pertama, penelitian ini hanya melihat preferensi heteroseksual. Kedua, untuk rentang usia penelitian ini hanya melihat subjek yang berusia 23 hingga 27 tahun. Ketiga, jangkauan jarak yang dilihat adalah jangkauan yang ditingkatkan secara bertahap dari minimum dua kilometer ke atas hingga jarak maksimal tiga kilometer. Peneliti melakukan observasinya dengan menyukai 150 profil subjek secara acak menggunakan pola tertentu yang dilakukan oleh 24 profil fiksi sehingga total sample berjumlah 3.600 data.

HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Bivariate Analysis

Dari Tabel 1 dapat dilihat pada Panel A, yang mempertimbangkan keseluruhan subjek baik pria dan wanita, dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki tingkat pendidikan Ma+ memiliki probabilitas lebih tinggi 15.3% untuk dapat dipilih dibandingkan dengan orang yang memiliki tingkat pendidikan Ba- dan hasil ini signifikan hingga 5%. Sedangkan jika dilihat dari sudut pandang pria, semua rasio kecocokan sedikit di atas 1 tapi tidak berbeda secara signifikan, yang berarti pria tidak melihat wanita berdasarkan tingkat pendidikannya. Hal ini berbanding terbalik dengan wanita yang terlihat di panel C. Peneliti melihat bahwa wanita lebih mempertimbangkan untuk memilih pria yang memiliki tingkat pendidikan Ma+, dimana probabilitasnya 2 kali lebih tinggi untuk match dibandingkan dengan pria yang memiliki tingkat pendidikan Ma-.

Tabel 2. Multivariate Analyses (Multiple Logistic Regression)

Serupa dengan bivariate analysis, dengan mempertimbangkan seluruh subjek, peneliti menemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikannya, probabilitas orang tersebut didekati lebih besar ⅓ dibandingkan profil yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Kemudian dari sudut pandang pria terlihat bahwa tingkat pendidikan tidak secara signifikan mempengaruhi kecenderungan untuk menyukai wanita. (Sumter et al. 2017) menemukan bahwa motivasi pria dalam menggunakan Tinder hanya sebatas casual sex (hubungan satu malam). Sebaliknya dari subjek wanita, probabilitas untuk mendekati pria yang lebih tinggi tingkat pendidikannya secara signifikan lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan pria yang berpendidikan lebih rendah.

Tabel 3. Match Ratio by Homogamy, Hypergamy, dan Hypogamy

Pada variabel homogamy, profil fiktif (profil yang dicari) dan subjek memiliki tingkat pendidikan yang sama. Pada hypergamy, profil fiktif memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada tingkat pendidikan subjek. Sedangkan pada hypogamy, profil fiktif memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah daripada tingkat pendidikan subjek. Hipotesis awal peneliti adalah hypergamy akan lebih dipilih dibandingkan dengan bukan hypergamy.

Dari Tabel 3 dapat dilihat pada Panel A, yang mempertimbangkan keseluruhan subjek baik pria dan wanita, dapat disimpulkan bahwa kejadian hypergamy memiliki probabilitas lebih tinggi 26.5% secara signifikan untuk dapat dipilih dibandingkan dengan kejadian bukan hypergamy.

Sebaliknya, pria di Tinder tidak memiliki preferensi untuk calon pasangan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Fakta bahwa pria tidak memiliki keengganan terhadap situasi ini menegaskan bahwa mereka tidak terintimidasi oleh perempuan yang berpendidikan tinggi, bahkan jika tingkat pendidikan perempuan melebihi mereka. Bahkan pria tidak menyukai perempuan yang berpendidikan lebih rendah dari dirinya, hal ini terbukti dari rasio kejadian hypergamy yang memiliki probabilitas lebih tinggi 15.2% secara signifikan dibandingkan dengan kejadian hypogamy.

Apabila menggabungkan temuan ini dengan temuan dari sub-bagian sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan bahwa bagi wanita di Tinder, preferensi untuk pasangan yang berpendidikan tinggi tidak hanya mutlak tetapi juga relatif terhadap tingkat pendidikan mereka sendiri. Jika dilihat lebih jauh, probabilitas bagi wanita untuk memilih pria yang pendidikannya lebih tinggi mencapai 158,3% lebih tinggi secara signifikan dibandingkan pria yang pendidikannya lebih rendah.

KESIMPULAN

Berdasarkan sampel dari 3600 profil Tinder yang dievaluasi, peneliti menemukan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh ketika wanita mengevaluasi profil Tinder pria dan tidak berlaku sebaliknya. Temuan ini sejalan dengan literatur sebelumnya dari berbagai bidang yang menemukan bahwa wanita memiliki preferensi yang lebih tinggi pada pasangan yang berpendidikan tinggi yang pada gilirannya memiliki potensi penghasilan yang lebih tinggi. Pria ternyata tidak merasa terintimidasi akan tingkat pendidikan wanita yang tinggi yang mana berpotensi  memiliki tingkat pendapatan yang tinggi pula. Hal ini tidak berpengaruh negatif pada pasar kencan wanita, sehingga wanita tidak perlu takut menempuh pendidikan dan karir yang tinggi dalam kontribusinya di labor market.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in