Economic Insecurity: A socioeconomic determinant of mental health

Penulis          : Daniel Kopasker, Catia Montagna, Keith A. Bender

Tahun            : 2018

Publisher      : Elsevier Ltd.

Diulas oleh   : Muhammad Daffa Ihsan

Pendahuluan

Kesehatan mental menjadi sebuah isu yang sedang hangat diperbincangkan oleh masyakarat kita saat ini. Banyak kita lihat acara seminar/webinar yang mengangkat tema kesehatan mental. Banyak pula informasi mengenai kesehatan mental yang bertebaran di internet dan social media. Bagi setiap individu, kesehatan mental sering menjadi salah satu faktor yang memiliki kontribusi besar kepada kepuasan hidup, melebihi dari kesehatan fisik, pengangguran, dan pendapatan (Layard et al, 2013). Kesehatan mental juga memiliki konsekuensi ekonomi yang besar dari tingkat employer dan level nasional. Menurut Hampson et al (2017), hasil estimasi menyatakan bahwa kesehatan mental yang buruk dapat memberikan dampak kerugian bisnis sekitar 37 triliun poundsterling per tahun dan angka tersebut ekuivalen dengan 2% dari PDB. Sebagian besar dari biaya-biaya ini berasal dari turunnya produktivitas pekerja karena memiliki masalah pada kesehatan mental.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi dampak yang ditimbulkan dari economic insecurity terhadap kesehatan mental populasi angkatan kerja di Inggris. Dengan menggunakan strategi estimasi yang kuat, penulis dapat mengidentifikasi bentuk economic insecurity yang paling memiliki dampak besar untuk setiap bagian angkatan kerja. Economic insecurity atau keresahan dalam ekonomi sendiri dapat diartikan sebagai kecemasan yang terbentuk oleh kemungkinan terpaparnya peristiwa ekonomi yang buruk dan pemikiran bahwa akan mengalami kesulitan untuk kembali ke kondisi semula. Beberapa contohnya, yaitu kekhawatiran tidak mendapat pekerjaan atau kondisi keuangan yang memburuk.

Metodologi dan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari BHPS (Institute for Social and Economic Research, 2010). Sebanyak delapan belas gelombang data digunakan sebagai dataset penelitian. Total sampel yang digunakan sebagai data berjumlah sebanyak 20.836 orang yang terdiri atas 13.186 pria dan 7.650 wanita. Penulis mengukur proporsi waktu masa dimana sampel tidak memiliki pekerjaan dalam tiga tahun terakhir dan membentuk variabel dummy untuk menentukan apakah sampel/individu tersebut tidak bekerja pada tahun berikutnya. Kemudian, fokus sampel pada penelitian ini adalah individu yang berada pada usia bekerja (16-64 tahun) di Inggris. Terdapat beberapa batasan dalam sampling yang digunakan agar dapat mengidentifikasi dampak dari economic insecurity terhadap kesehatan. Pertama, anggota sampel harus merupakan bagian dari angkatan kerja primer, yaitu individu yang bekerja dalam sebuah kontrak kerja permanen dan full-time. Batasan Ini digunakan untuk menghindari kemungkinan individu bekerja secara sukarela. Tambahan batasan berikutnya adalah sampel dibatasi kepada individu yang tidak memiliki pasangan atau yang pasangannya tidak mengalami economic insecurity baik dari faktor yang berhubungan tentang pekerjaan atau dari keadaan financial.

Metodologi yang digunakan dalam jurnal ini adalah regresi berganda yang kemudian diestimasi menggunakan fixed effect (FE) estimator dan instrumental variable regression. Penggunaan metode fixed effect diharapkan dapat mengontrol variabel yang dapat mempengaruhi dependen dan independen variabel serta heterogenitas. Sementara itu, instrumental variable regression digunakan oleh peneliti karena berdasarkan Geishecker (2012), hasil estimasi yang dihasilkan dari regresi fixed effect cenderung lebih kecil (undervalue) jika dibandingkan estimasi yang dihasilkan dari regresi instrumental variable.Oleh karena itu,  untuk mendapat nilai estimasi yang lebih robust, regresi instrumental variable pun dipilih oleh peneliti. Berikut merupakan spesifikasi model yang digunakan dalam penelitian ini:

Variabel dependen (H) merupakan score Global Health Questionnaire-12 (GHQ-12) untuk individual  pada periode  yang sudah distandarisasi. I merupakan dummy variable yang mengindikasikan paparan economic insecurity. P adalah variabel continuous yang menggambarkan proporsi dari lama waktu menganggur dalam tiga tahun terakhir. Kemudian, F adalah dummy variable dengan nilai 1 apabila individu berekspektasi akan menganggur dalam 12 bulan kedepan. X adalah vektor dari standard control seperti persentil dari pendapatan keluarga, dummy kondisi kesehatan, dummy pendidikan, usia, dummy status perkawinan, jumlah anak, dll. Yang terakhir,  yang merupakan time dummy dan  menggambarkan error.

Hasil Penelitian

Tabel 2. Dampak Economic Insecurity terhadap Skor GHQ-12 (Fixed Effect Regression)

Tabel diatas merupakan hasil dari regresi fixed effect. Dari hasil regresi tersebut dapat diketahui bahwa economic insecurity memiliki dampak negatif kepada kesehatan mental baik untuk pria maupun wanita dalam lingkup kerja dengan koefisien sebesar -0.316 bagi pria dan -0.171 bagi wanita dan signifikan pada tingkat 1%. Artinya jika pria mengalami ketidakpuasan pada tingkat keamanan kerja pada saat ini, hal itu dapat mengurangi skor GHQ-12 sebesar 0.316 standar deviasi. Kemudian, jika kondisi tersebut terjadi pada wanita, hal itu dapat mengurangi skor GHQ-12 sebesar 0.171. Kemudian jika seorang individu memiliki ekspektasi bahwa keadaan finansial mereka akan memburuk, hal itu dapat mengurangi skor GHQ-12 sebesar 0.181 bagi pria dan 0.175 bagi wanita yang tercermin pada kolom (3) dan (4).

Apabila menganalisis lebih lanjut perbedaan estimasi antara pria dan wanita, terlihat bahwa estimasi yang ada pada kelompok pria (Kolom 1) memiliki nilai yang secara absolut lebih besar dibandingkan estimasi yang ada pada kelompok wanita (Kolom 2). Hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa economic insecurity memiliki dampak yang lebih besar pada kelompok pria. Akibat selanjutnya dari hal ini adalah, pada kelompok pria, economic insecurity akan memiliki kecenderungan untuk mengalami perubahan perilaku yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok wanita.

Di masa depan sekalipun, economic insecurity lebih terasa pada pria dari yang dicerminkan oleh variabel unemployment anticipation, yakni hanya negatif dan signifikan pada pria. Hal ini disebabkan oleh risiko economic insecurity yang terpapar lebih besar pada umumnya pada pria yang ditandai dari kondisi pekerjaannya saat ini dapat membawa ekspektasi yang sejenis terhadap kehidupan karir laki-laki di masa depan.

Kesimpulannya, hasil dari tabel 2 menunjukkan bahwa elemen yang bersifat subyektif, seperti economic insecurity ternyata membawa dampak lebih buruk terhadap kesehatan mental daripada elemen yang bersifat obyektif. Baik pada pria maupun wanita, hasil penelitian ini menujukkan perspektif tiap individu terhadap paparan risiko menjadi lebih berbahaya dibandingkan risiko yang benar-benar terjadi. Ini merupakan poin yang penting sebagaimana yang ditakutkan oleh setiap individu justru membawa dampak lebih buruk terhadap kesehatan mental masing-masing kendati ketakutan tersebut belum tentu terjadi di kenyataan.

Tabel 3. Dampak Economic Insecurity terhadap Skor GHQ-12 (Instrumental Variable Regression)

Jika regresi menggunakan instrumental variable, hasilnya menyatakan bahwa efek dari economic insecurity, khususnya pada kondisi pekerjaan pria, memiliki dampak negatif yang lebih besar dari hasil estimasi menggunakan fixed effect. Estimasi lebih besar yang dihasilkan oleh regresi instrumental variable ini pun mengonfirmasi temuan dari Geishecker (2012). Hal ini dapat terlihat pada koefisien-koefisiennya yang hampir tiga kali lebih besar dibandingkan dengan koefisien hasil estimasi fixed effect. Apabila meninjau dari tingkat signifikansinya, estimasi dari instrumental variable memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi khususnya pada bagian work-related, namun lebih rendah tingkat akurasinya pada bagian kondisi finansial yang ditandai oleh koefisien pada tabel regresi yang tidak signifikan.

Kesimpulan

Penelitian ini dapat menjelaskan sebuah fenomena dimana economic insecurity dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental seorang individu. Salah satu temuan utama pada penelitian ini adalah kondisi pekerjaan dapat menjadi sumber terbesar dalam memberikan dampak negatif kepada kesehatan mental, terutama bagi pria. Hasil analisis menunjukkan economic insecurity dapat mengakibatkan hilangnya sebagian besar kesejahteraan secara tidak langsung karena tekanan psikologis yang dapat mempengaruhi angkatan kerja manapun. Selain kondisi pekerjaan, ekspektasi individu terhadap kondisi finansial mereka juga dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi kesehatan mental mereka. Hasil regresi menunjukkan bahwa economic insecurity memiliki dampak negatif kepada kesehatan mental untuk setiap kelompok pendapatan dan dapat terjadi tanpa suatu kejadian yang bersifat objektif.  Penelitian ini juga menyarankan untuk adanya penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana institusi yang ada di pasar tenaga kerja, karakteristik employer, dan praktik manajemen dapat mengurangi dampak negatif dari economic insecurity terhadap kesehatan mental.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in