I Lie? We Lie! Why? Experimental Evidence on a Dishonesty Shift in Groups

Penulis            : Martin G. Kocher, Simeon Schudy, and Lisa Spantig

Tahun              : 2017

Publisher        : Institute for Operations Research and the Management Sciences

 (INFORMS)

Diulas oleh     : Gilbert

Pendahuluan

Dalam perkembangannya, penelitian-penelitian mulai banyak mengkaji perilaku berbohong, berbuat curang, maupun korupsi dari individu. Penelitian-penelitian sebelumnya berfokus dalam mengungkapkan keputusan individu dalam berbohong (Abeler et.al., 2014; Cappelen et.al., 2013; Erat dan Gneezy, 2012; Fischbacher dan Follmi-Heusi, 2013). Penelitian-penelitian tersebut mengungkapkan adanya biaya dalam berbohong sehingga bila tingkat pengembalian yang bisa didapatkan dari berbohong melebihi biaya dari berbohong, individu akan cenderung berbohong. Lebih lanjut, penelitian-penelitian tersebut mengungkapkan bahwa individu cenderung akan berbohong dalam berbagai kondisi dan melupakan biaya moral dari berbohong.

Perilaku berbohong seringkali dianggap sebagai keputusan individu, padahal keputusan untuk berbohong juga bisa terjadi di tingkat yang lebih terorganisasi (kelompok). Dalam hal ini, perilaku berbohong di kelompok bisa saja dipengaruhi oleh banyak hal, seperti menjaga citra sosial, kemampuan menyembunyikan kebohongan dalam kelompok, persepsi berbohong dalam kelompok, dan masih banyak lagi. Meskipun begitu, masih minim jurnal yang berusaha melihat perbedaan antara keputusan berbohong pada tingkat individu dan tingkat kelompok. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tendensi berbohong pada tingkat individu dan kelompok serta mengetahui apakah komunikasi yang terjadi dalam keputusan kelompok cenderung mempengaruhi keputusan berbohong.

Tinjauan Literatur

Beberapa penelitian telah berusaha untuk menginvestigasi perilaku berbohong dalam kelompok (Baeker dan Mechtel, 2015; Chytilova dan Korbel, 2014; Conrads et.al., 2013; Muehlheusser et.al., 2015; Sutter, 2009). Penelitian-penelitian tersebut mengungkapkan bahwa individu akan cenderung berbohong saat berada dalam kelompok ketimbang sendiri. Hal ini didasarkan oleh tiga alasan, yaitu kelompok cenderung mampu memunculkan berbagai alasan untuk berbohong, lebih mudah menyembunyikan kebohongan saat berada di kelompok, dan perilaku berbohong dalam kelompok cenderung menguntungkan anggota kelompok lainnya. Namun, tidak sedikit pula penelitian yang justru menunjukkan hal sebaliknya yang disebabkan oleh pertimbangan citra sosial yang lebih kuat saat di kelompok dan perubahan persepsi normal bisa saja membawa pada penurunan atau peningkatan perilaku berbohong.

Desain Experimental

Penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi eksperimen “die-rolling task” dari Fischbacher dan Follmi-Heusi (2013). Dalam eksperimen ini, partisipan akan diperlihatkan satu di antara enam video yang berisikan angka dadu. Setelah diperlihatkan, partisipan akan diminta untuk memasukkan angka yang dilihatnya di video ke kolom pertanyaan yang disediakan. Namun, partisipan bisa memilih antara memberitahukan angka sebenarnya atau berbohong. Dalam hal ini, angka yang dilaporkan akan menentukan jumlah insentif yang bisa didapatkan. Angka dadu 1 hingga 5 akan mendapatkan poin 1 hingga 5, namun bila melaporkan angka 6, partisipan akan mendapatkan poin 0.

Dalam eksperiment ini, partisipan akan dibagi ke dalam 3 kelompok treatment (Individual, GroupPC, dan GroupNoPC) dan 3 tahap. Pada treatment individual, partisipan diminta untuk memberitahukan angka secara individu pada tiga tahap berturut-turut. Pada treatment GroupPC dan GroupNoPC, partisipan diminta untuk memutuskan secara individu pada tahap 1 dan 3, tetapi pada tahap 2 akan dilakukan interaksi grup secara random dan anonim akan dibentuk 3 orang dalam satu grup. Selain itu, setiap selesai tahap 1 dan tahap 3, peneliti akan memberitahukan gambaran keputusan secara umum yang diambil oleh partisipan lain.

Dalam treatment GroupPC, partisipan akan menghadapi payoff commonality (PC) atau hanya akan mendapatkan hadiah bila seluruh anggota grup menjawab angka yang sama. Dalam treatment GroupNoPC, partisipan tidak akan menghadapi PC sehingga hadiah yang didapatkan tidak didasarkan pada kesamaan jawaban. Penelitian dilakukan di Munich Experimental Laboratory for Economic and Social Sciences (MELESSA) dengan periode eksperimen antara Juni hingga September 2015. Penelitian ini dilakukan pada 273 responden (39 termasuk dalam treatment individual, 117 termasuk dalam treatment GroupPC, dan 117 termasuk dalam GroupNoPC). Experimen dilakukan dengan komputer dan menggunakan z-Tree.

Hasil

Pergeseran Perilaku Berbohong dan Payoff Commonality

Dalam hal ini, peneliti menemukan bahwa pada tahap 1, setelah dijumlah terdapat perbedaan angka laporan dan angka yang dilihat mencapai 31% hingga 41%. Namun, tidak ditemukan perbedaan nilai signifikan antar kelompok treatment saat dilakukan Fisher’s exact test. Pada tahap 2, peneliti menemukan adanya perbedaan berbohong yang signifikan pada kelompok GroupPC dan kelompok individual. Lebih lanjut, tingkat laporan palsu di GroupPC mencapai 89,7% sedangkan di kelompok individual mencapai 61,5% (Fisher’s exact test, p=0.007). Hasil ini konsisten signifikan ketika peneliti mengeluarkan partisipan yang melihat dadu angka 5 di tahap 1.

Selain itu, tingkat berbohong di GroupNoPC juga signifikan berbeda terhadap tingkat individual, dimana tingkat berbohong di GroupNoPC mencapai 86,3% (Fisher’s exact test, p=0.007). Namun, tidak dijumpai adanya perbedaan signifikan pada tingkat laporan palsu di GroupPC dan GroupNoPC. Menariknya, pada kelompok GroupPC, seluruh 39 grup berkoordinasi sehingga tidak ada anggota grup yang melaporkan angka yang berbeda. Namun pada kelompok GroupNoPC, hanya 33 dari 39 kelompok yang berkoordinasi melalui diskusi grup. Hal ini mencirikan bahwa komunikasi kelompok tidak mempengaruhi perilaku berbohong namun meningkatkan koordinasi dalam berbohong.

Ketika membandingkan kepercayaan mengenai tingkat kejujuran dari peserta lain, peneliti juga menemukan bahwa adanya komunikasi kelompok cenderung menurunkan kepercayaan partisipan mengenai tingkat kejujuran partisipan lain. Hal ini terlihat dari Kolmogorov-Smirnov exact test pada GroupPC vs Individual dan GroupNonPC vs Individual yang memiliki p < 0.1.

Peran Individu Bohong dalam Grup

Peneliti menemukan bahwa komposisi grup yang didasarkan dari perilaku yang ditunjukkan di tahap 1, tidak memengaruhi perubahan perilaku berbohong. Hal ini karena setelah adanya komunikasi grup, baik kelompok yang berisikan tiga orang sebelumnya berkata jujur maupun tidak, cenderung berbohong di tahap selanjutnya.

Dampak Penggunaan Argumen dalam Komunikasi Grup

Selama komunikasi grup, argumen-argumen untuk memberikan sinyal berbohong justru muncul lebih banyak secara signifikan ketimbang argumen untuk berkata jujur (chi-square test, p=0.086).

Lebih lanjut, peneliti membagi argumen yang dilontarkan selama komunikasi grup ke dalam beberapa kategori, yaitu uang, kejujuran, kekhawatiran, aturan, dan alasan lain. Peneliti menemukan bahwa kelompok yang berisikan maksimal 1 orang berbohong di tahap 1, cenderung memiliki jenis alasan yang bervariatif. Sedangkan, kelompok yang berisikan dua orang berbohong di tahap 1, cenderung memiliki argumen yang lebih sedikit dan cenderung berfokus pada uang. Namun, kelompok dengan tiga orang berbohong di tahap 1, hanya menggunakan alasan yang menyangkut uang.

Meskipun jumlah argumen untuk berbohong lebih banyak ketimbang argumen untuk jujur, argumen yang mengajak untuk jujur justru lebih signifikan untuk menurunkan perilaku berbohong. Lebih lanjut, argumen yang mengajak untuk berbohong tidak signifikan meningkatkan atau menurunkan perilaku berbohong.

Karakteristik Individu dan Berbohong

Peneliti menemukan bahwa laki-laki cenderung berpotensi berbohong ketimbang perempuan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4, dimana variabel perempuan cenderung menunjukkan probabilitas berbohong di tahap kedua lebih rendah.

Kesimpulan

Penelitian ini berhasil menemukan bahwa perilaku berbohong lebih sering terjadi di tingkat kelompok ketimbang individu. Selain itu, nyatanya payoff commonality ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap perilaku berbohong. Lebih lanjut, komunikasi dalam kelompok cenderung menyebabkan dishonesty shift yang mana seseorang cenderung menjadi pembohong. Penelitian ini juga menyediakan berbagai penemuan lainnya, seperti argumen yang bertujuan untuk mengajak anggota lain berbohong cenderung lebih banyak dari argumen untuk mengajak berkata jujur. Walaupun begitu, dampak dari argumen untuk mengajak berkata jujur cenderung lebih berdampak pada penurunan jumlah berbohong. Penelitian ini juga menyatakan bahwa laki-laki cenderung lebih banyak berbohong dari perempuan.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in