A’s from Zzzz’s? The Causal Effect of School Start Time on the Academic Achievement of Adolescents

Penulis            : Scott E. Carrell, Teny Maghakian, dan James E. West

Tahun              : 2011

Publisher       : American Economic Association

Jurnal             : American Economic Journal: Economic Policy

Diulas oleh    : Adho Adinegoro

PENDAHULUAN

Mengikuti kelas pagi tanpa ditemani rasa kantuk mungkin terasa sulit bagi sebagian orang. Berbagai penelitian pun telah menunjukkan bagaimana anak-anak di masa remaja secara empiris mengalami kekurangan tidur akibat waktu mulai belajar di sekolah yang terlalu awal dan pergeseran pola tidur yang mengiringi. Lebih parahnya lagi, berbagai penelitian juga menunjukkan  bahwa terdapat asosiasi yang signifikan antara waktu mulai belajar yang terlalu pagi terhadap pencapaian akademik seorang pelajar di sekolah. Sebagai contoh, Kwiatkowki (2007) menunjukkan bahwa pelajar yang memiliki nilai IPK yang rendah memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk sulit berkonsentrasi dan bangun di pagi hari. Akan tetapi, tidak dimungkiri bahwa berbagai penelitian yang ada tersebut hanya sebatas menunjukkan korelasi, bukan kausalitas. Oleh karena itu, penelitian ini pun dilakukan untuk menganalisis secara kausal dampak dari waktu mulai belajar sekolah yang terlalu awal terhadap pencapaian akademik seorang pelajar.

Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan studinya dengan melihat (1) bagaimana perubahan ritme tidur seseorang secara biologis memengaruhi pergeseran pola tidur; (2) bagaimana dampak dari kurang tidur akibat waktu mulai belajar sekolah memengaruhi proses pembelajaran; (3) bagaimana dampak waktu mulai belajar yang semakin siang berdampak pada pola tidur. Peneliti berhipotesis bahwasanya waktu mulai belajar yang terlalu awal memengaruhi pergeseran pola tidur karena mengubah ritme tidur secara biologis, yaitu ritme sirkadian. Akibatnya, dengan ritme sirkadian yang tidak teratur, hal ini membuat seseorang secara alamiah untuk merasa mengantuk di saat mereka seharusnya terbangun dan terbangun di saat mereka seharusnya tertidur. Dampak selanjutnya dari ritme sirkadian yang tidak teratur ini pun kemudian berdampak pula pada pencapaian akademik seseorang, sebagaimana fungsi kognitif yang semestinya dapat bekerja optimal di pagi hari, justru bergeser ke siang atau sore hari.

DATA DAN METODOLOGI

Data yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas 6.165 sampel siswa taruna tahun pertama di Akademi Angkatan Udara Amerika Serikat (USAFA). Untuk menentukan sampel yang terandomisasi, peneliti melakukan studi pra-perlakuan dengan menganalisis data demografi dan sekumpulan nilai tes bakat akademik, atletik, dan kepemimpinan. Data tes bakat akademik diperoleh dari nilai SAT dan nilai IPK tertimbang. Data tes bakat atletik diperoleh dari nilai tes kebugaran yang diperoleh taruna pada saat pendaftaran. Data tes bakat kepemimpinan diperoleh dari nilai yang dihitung oleh USAFA dengan mengukur rekam jejak partisipasi taruna pada kegiatan-kegiatan di SMA dan di lingkungannya. Dari kumpulan ketiga data ini, sampel yang ada pun dirandomisasi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok awal yang memulai kelas pada pukul 7:00 pagi, kelompok tengah yang memulai kelas pada pukul 7:30 pagi, dan kelompok akhir yang memulai kelas pada pukul 7:50 pagi. Dari tiga kelompok yang akan dianalisis ini, peneliti menggunakan nilai hasil studi taruna yang telah dinormalisasikan sebagai variabel dependen untuk mengukur indikator pencapaian akademik. Adapun intervensi normalisasi dilakukan dengan menimbang adanya perbedaan tingkat kesulitan setiap mata kuliah setiap tahunnya.

Dalam meneliti dampak kausal dari waktu mulai belajar sekolah yang terlalu awal terhadap pencapaian akademik, peneliti menggunakan persamaan sebagai berikut:

dengan  adalah nilai hasil studi taruna i pada mata kuliah c di jadwal hari s tahun t yang dinormalisasi.  adalah variabel dummy yang bernilai 1 jika seorang taruna i mengambil mata kuliah c di jadwal hari s tahun t pada sesi pertama perkuliahan.  mengacu pada variabel kontrol demografi, yaitu kumpulan ketiga nilai tes bakat, ras, gender, dan jumlah SKS yang dimiliki pada hari perkuliahan.  mengacu pada variabel untuk mengontrol efek peer pada pencapaian akademik taruna i.   mengacu pada fixed effect mata kuliah untuk mengontrol perbedaan tak terobservasi dari pencapaian akademik seseorang pada mata kuliah c di jadwal hari s tahun t. mengacu pada fixed effect pengajar untuk mengontrol perbedaan yang tidak terobservasi pada pencapaian akademik seseorang akibat perbedaan dosen di tahun t.

Selain persamaan (1), untuk meneliti perbedaan dampak kausal dari waktu mulai belajar sekolah yang terlalu awal terhadap pencapaian akademik di setiap kelompok, peneliti menggunakan persamaan sebagai berikut:

dengan adalah variabel dummy yang bernilai 1 jika seorang taruna i dari kelompok awal mengambil mata kuliah c di jadwal hari s tahun t pada sesi pertama perkuliahan.  adalah variabel dummy yang bernilai 1 jika seorang taruna i dari kelompok tengah mengambil mata kuliah c di jadwal hari s tahun t pada sesi pertama perkuliahan. adalah variabel dummy yang bernilai 1 jika seorang taruna i dari kelompok akhir mengambil mata kuliah c di jadwal hari s tahun t pada sesi pertama perkuliahan.

HASIL PENELITIAN

Terlihat pada Tabel 4 di atas, terdapat hubungan negatif dan signifikan antara waktu mulai belajar sekolah dengan pencapaian akademik siswa di hampir semua kolom kecuali kolom (3). Kolom (1) dan (2) menunjukkan hasil untuk persamaan (1), sementara kolom (4) hingga (6) menunjukkan hasil untuk persamaan (2). Kolom (1) menunjukkan bahwasanya siswa yang mengambil mata kuliah c pada sesi pertama di jadwal hari s memperoleh nilai hasil studi 0.076 standar deviasi lebih rendah secara signifikan dibandingkan siswa yang mengambilnya pada sesi lain. Pada saat peneliti menambahkan fixed effects pengajar, nilai yang diperoleh juga tetap lebih rendah dan signifikan seperti yang ditunjukkan pada kolom (2), meskipun dengan koefisien yang lebih kecil, yakni –0.058 standar deviasi.

Kemudian apabila melihat pada kolom (4), terlihat bahwa apabila dibandingkan antarkelompok, siswa yang mengambil mata kuliah c di jadwal hari s dari kelompok awal memiliki nilai hasil studi 0.139 standar deviasi lebih rendah dibandingkan dengan siswa berkarakteristik sejenis dari kelompok tengah dan kelompok akhir. Secara absolut, nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan hasil studi kelompok tengah yang memeroleh nilai 0.084 standar deviasi lebih rendah. Saat peneliti menambahkan fixed effects pengajar di kolom (5), hasil ini masih menunjukkan nilai yang negatif dan signifikan  bahkan dengan koefisien yang secara absolut lebih besar dibandingkan koefisien pada kolom (4) dan (6). Hasil ini pun menunjukkan bahwasanya bahkan di antara siswa yang mengambil mata kuliah c di jadwal hari s, siswa yang memiliki sesi pertama di jam 7 pagi memiliki nilai hasil studi yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan siswa yang memiliki sesi pertama di jam 7:30 pagi dan 7:50 pagi.

Peneliti kemudian melakukan analisis lanjutan untuk mengetahui apakah hasil yang didapat pada Tabel 4 sebelumnya merupakan akibat dari buruknya performa siswa di sesi pertama saja atau di sepanjang hari. Hal ini dilakukan dengan menginteraksikan variabel perlakuan pada Tabel 4 dengan variabel kontrol yang menentukan pada sesi kapan mata kuliah c diambil di jadwal hari s. Hasil yang didapat pun tetap negatif dan signifikan di hampir semua kolom.

Sebagai contoh, pada kolom (1), koefisien 0.067 dapat diinterpretasikan bahwa siswa yang memiliki sesi pertama kuliah memiliki rata-rata nilai hasil studi 0.067 standar deviasi lebih rendah di mata kuliah yang ada pada sesi pertama maupun mata kuliah lain yang ada pada sesi lainnya. Begitu pula pada kolom (4), koefisien 0.131 menunjukkan bahwa siswa yang memiliki sesi kuliah pertama pada jam 7 pagi memiliki rata-rata nilai hasil studi 0.131 standar deviasi lebih rendah di mata kuliah yang ada pada sesi pertama maupun mata kuliah lain yang ada pada sesi lainnya dibandingkan siswa yang memiliki sesi kuliah pertama pada jam 7:30 dan 7:50 pagi. Hasil ini pun semakin menguatkan bukti bahwasanya waktu mulai belajar sekolah yang semakin siang memiliki dampak kausal yang positif dan signifikan pada pencapaian akademik siswa di sekolah.

DISKUSI

Berdasarkan temuan pada Tabel 4 dan 5, peneliti menduga bahwa dampak kausal ini disebabkan beberapa alasan. Utamanya, hal ini terkait pada jumlah jam tidur yang dimiliki siswa (Proses S) dan waktu kapan seseorang dapat bertindak secara optimal (Proses C). Kedua proses ini pun secara bersamaan berdampak secara negatif pada siswa-siswa yang memiliki kuliah di sesi pertama melalui dua cara. Pertama, siswa yang memiliki kuliah di sesi pertama berada di kelas pada saat tubuh mereka sejatinya ingin tidur, yang akhirnya melemahkan fungsi otak dan membuat mereka sulit untuk belajar. Kedua, siswa yang memiliki kuliah di sesi pertama memiliki waktu tidur yang lebih sedikit dibandingkan siswa yang tidak memiliki kuliah di sesi pertama, di mana siswa yang tidak memiliki kuliah di sesi pertama memiliki kesempatan untuk tidur sebentar sebelum sesi kuliah dan belajar secara optimal di hari yang lebih siang.

KESIMPULAN

Penelitian ini telah berhasil menganalisis dampak kausal dari waktu mulai belajar sekolah yang terlalu awal terhadap pencapaian akademik siswa. Dampak kausal ini ditemukan negatif dan signifikan pada beberapa kasus. Pertama, jika dibandingkan antara siswa yang memiliki mata kuliah di sesi pagi dan yang tidak, siswa yang memiliki mata kuliah di sesi pertama di pagi hari memiliki rata-rata hasil studi yang secara signifikan lebih rendah. Kedua, antara siswa yang mengambil mata kuliah di sesi pertama, semakin pagi waktu mulai belajar dimulai, maka akan semakin rendah pula rata-rata hasil studi yang diperoleh siswa. Ketiga, siswa yang memiliki mata kuliah di sesi pertama di pagi hari memiliki rata-rata hasil studi yang lebih rendah di hampir semua mata kuliahnya dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki mata kuliah di sesi pertama di pagi hari. Beberapa penyebab dapat menjelaskan penemuan ini di mana jumlah jam tidur dan waktu seseorang dapat bertindak secara optimal diduga menjadi dua penjelasan utama. Hasil yang ditemukan ini memiliki implikasi yang penting karena telah memberikan bukti kausal terkait topik yang sebelumnya hanya diduga sebatas korelasional saja. Untuk itu, berdasarkan hasil penelitian ini, para pemangku kebijakan sejatinya dapat mempertimbangkan kembali manfaat yang didapat dari penyusunan kebijakan waktu mulai belajar yang lebih siang dalam memperbaiki pencapaian akademik siswa-siswa di sekolah.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in