The Effect of Language on Economic Behavior: Evidence from Savings Rates, Health Behaviors, and Retirement Assets

Peneliti           : M. Keith Chen

Tahun             : 2013

Publisher        : American Economic Review 

Diulas oleh     : Ariqoh Wahyu Armadhani

Pendahuluan

Secara garis besar, bahasa dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok berdasarkan aturan bagi penuturnya untuk menandai peristiwa yang terjadi di masa depan secara gramatikal, yaitu bahasa yang mewajibkan hal tersebut dan bahasa yang tidak. Contohnya, untuk mengatakan kalimat “Besok akan hujan” dalam bahasa Jerman cukup dengan hanya mengatakan “Morgen regnet es” yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi “It rains tomorrow”. Sedangkan, dalam bahasa Inggris, kita harus menggunakan kata seperti “will’ atau “going to” untuk menandai peristiwa di masa depan sehingga kalimat “Besok akan hujan” akan diucapkan sebagai “It will rains tomorrow”. Bahasa Inggris mengharuskan penuturnya untuk membedakan peristiwa yang terjadi saat ini dan di masa depan. Lantas, apakah perbedaan ini mempengaruhi keputusan intertemporal seseorang?

Penelitian ini akan menguji hipotesis bahwa penutur bahasa yang mewajibkan pembedaan antara peristiwa saat ini dan masa depan akan cenderung lebih rendah untuk mengambil tindakan berorientasi masa depan. Untuk menguji hipotesis tersebut, penelitian ini menggunakan beberapa tindakan berorientasi masa depan seperti menabung, berolahraga, tidak merokok, penggunaan kondom, dana pensiun, dan kesehatan jangka panjang.

Linguistic-Saving Hypothesis

Mekanisme 1: Obligatory distinctions bias beliefs

Mekanisme pertama tentang bagaimana bahasa dapat memengaruhi pilihan tentang masa depan adalah melalui distancing. Secara linguistik, distancing adalah penggunaan FTR (Future Time Reference) atau PTR (Past Time Reference) untuk menjelaskan kondisi saat ini dengan tujuan untuk memberi kesan bahwa kejadian tersebut memiliki jarak dengan saat ini. (Dancygier & Sweetser, 2009). Contohnya dalam bahasa Inggris, untuk mengatakan kalimat “Seandainya saya memiliki mobil sekarang” penutur menggunakan kalimat “I wish I had a car right now”. Penggunaan PTR “had” dalam kejadian saat ini menggambarkan adanya kemustahilan yang menunjukkan bahwa hal tersebut memiliki jarak dengan kondisi penutur saat ini. Dengan skema yang sama, penggunaan FTR pada kejadian terkini akan membuat kejadian tersebut terasa berjarak. Dengan kata lain, penggunaan FTR pada kejadian yang akan datang akan membuat kejadian tersebut semakin jauh lagi dari kondisi sebenarnya.

Mekanisme 2: Linguistic distinctions lead to more precise beliefs

Mekanisme kedua adalah melalui kemampuan bahasa untuk mempengaruhi keyakinan presisi (precise beliefs) penuturnya mengenai timing dari sebuah keuntungan di masa depan. Bahasa dengan unsur FTR kuat cenderung meningkatkan keyakinan presisi penuturnya terkait suatu kejadian di suatu waktu. Hingga penelitian ini dilaksanakan, belum terdapat studi yang mempelajari pengaruh bahasa terhadap kepercayaan atas waktu. Namun, terdapat studi lain yang menjelaskan pengaruh pembedaan warna dalam suatu bahasa terhadap kepercayaan presisi penuturnya terhadap warna. Seperti studi yang dilakukan oleh Winawer et al. (2007) yang menunjukkan bahwa penutur bahasa Rusia dapat membedakan warna-warna biru di antara spektrum warna goluboy (biru gelap)/siniy (biru terang) lebih baik dibandingkan penutur bahasa Inggris. Franklin et.al (2008) menemukan bahwa perbedaan ini tidak berlaku pada balita yang belum dapat menuturkan bahasa, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara bahasa terhadap perbedaan keyakinan presisi seseorang. Penutur bahasa dengan FTR kuat akan cenderung memiliki keinginan untuk menabung yang lebih rendah dibandingkan dengan penutur bahasa dengan FTR lemah.

Data dan Metodologi

Penelitian ini menggunakan variabel bebas berupa kekuatan FTR di suatu bahasa. Kriteria FTR tersebut diadopsi dari proyek yang telah dilakukan oleh European Science Foundation’s Typology of Language in Europe (EUROTYP). Kodifikasi bahasa menjadi bahasa dengan FTR kuat atau lemah ini dilakukan dengan melihat apakah suatu bahasa mengharuskan penggunaan FTR dalam kalimat prediksi (Dahl, 2000). Untuk memastikan keabsahan kodifikasi bahasa yang dilakukan oleh EUROTYP, peneliti melakukan pengujian dengan cara mengukur kekuatan FTR berdasarkan frekuensi kata yang digunakan dalam teks ramalan cuaca yang tersedia di internet. Pengujian ini melihat 2 kriteria untuk menentukan kekuatan FTR suatu bahasa, yaitu verb ratio (berapa banyak kata kerja tentang prediksi cuaca yang ditandai sebagai future-referring) dan sentence ratio (berapa banyak kalimat tentang prediksi cuaca yang memiliki grammatical future marker). Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa kodifikasi yang dilakukan EUROTYP cukup objektif sehingga dapat digunakan dalam penelitian. Mengingat penelitian ini menggunakan dataset dari World Values Survey (WVS) yang sebagian respondennya adalah penutur bahasa yang belum dikodifikasi oleh EUROTYP, maka peneliti menggunakan analisis lintas bahasa lainnya (Bybee et al. 1994, Cyffer et al. 2009, Dahl 1985, Dahl & Kós-Dienes 1984, and Nurse 2008) dan kodifikasi mandiri untuk bahasa yang tidak tercakup dalam analisis-analisis sebelumnya.

Adapun, variabel terikat dari penelitian ini adalah perilaku dan keyakinan terkait menabung, aset ketika pensiun, perilaku terkait kesehatan, dan tingkat tabungan nasional. Variabel perilaku dan keyakinan terkait menabung diperoleh dari WVS yang dilakukan pada kurun waktu 1994-2007. Peneliti melakukan estimasi fixed-effect model logit dari hasrat menabung seseorang, diregresikan terhadap kekuatan FTR dan fixed-effect tingkat negara dan karakter individual lainnya, seperti kepercayaan terhadap orang lain dan seberapa penting menabung bagi budaya mereka. Sehingga dapat dilihat apakah bahasa yang memengaruhi hasrat menabung atau bahasa menjadi salah satu penanda dari nilai budaya yang mendorong hasrat menabung. Variabel aset ketika pensiun yang diperoleh dari SHARE (The Survey of Health, Ageing, and Retirement in Europe) digunakan untuk melengkapi variabel perilaku dan keyakinan terkait menabung dari WVS. Variabel perilaku dan keyakinan terkait menabung menunjukkan kondisi terkini, sedangkan variabel asset ketika pensiun menunjukkan kondisi masa lalu seseorang. Peneliti melakukan estimasi dengan model OLS terhadap asset ketika pensiun bersih suatu rumah tangga yang diregresi dengan bahasa sehari-hari rumah tangga. Selain aset pensiun, SHARE juga mengumpulkan data kesehatan tingkat individu. Bersamaan dengan MEASURE DHS yang mengumpulkan data kesehatan di negara-negara berkembang, variabel tersebut digunakan untuk melihat apakah bahasa juga memiliki pengaruh terhadap perilaku kesehatan, seperti perilaku merokok dan berolahraga, penggunaan kondom, serta perencanaan keluarga. Tidak berhenti pada tingkat individu saja, penelitian ini menggunakan tingkat tabungan nasional yang diperoleh dari OECD (1970-sekarang) dan World Bank yang telah digabung dengan WVS. Penelitian ini berusaha menjawab apakah kekuatan FTR bahasa suatu negara dapat memengaruhi tingkat tabungan nasional. Peneliti menggunakan kekuatan FTR tertimbang yang mempertimbangkan persentase populasi suatu negara yang menuturkan bahasa tersebut.

Hasil Penelitian

Bahasa dan Hasrat Menabung

Kolom 1, yang hanya memasukkan variabel kontrol berupa usia dan jenis kelamin, menunjukkan bahwa keluarga penutur bahasa dengan FTR kuat menabung 46% lebih rendah dibanding keluarga penutur bahasa dengan FTR lemah. Hasil ini signifikan pada confidence level 99%. Setelah ditambahkan variabel kontrol tambahan country’s legal system origin dan log dari GDP per kapita, hasil tersebut tetap signifikan pada confidence level yang sama. Namun mengalami sedikit penurunan koefisien. Penambahan variabel-variabel kontrol baru pada kolom 3 dan 4 ternyata tidak menurunkan signifikansi dari pengaruh kekuatan FTR terhadap perilaku menabung responden. Pada kolom 5, peneliti menambahkan variabel kontrol trust yang menunjukkan kepercayaan responden terhadap orang-orang di sekitarnya dan family yang menunjukkan seberapa penting keluarga bagi responden. Hasilnya, seseorang yang menganggap orang-orang disekitarnya dapat dipercaya cenderung lebih mungkin untuk menabung pada tahun ini sebesar 23%. Selanjutnya, seseorang yang menganggap keluarga penting baginya, juga cenderung menyimpan lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak. Uniknya, kedua efek ini bersifat independen terhadap pengaruh bahasa.

Bahasa dan Aset pada Usia Pensiun

Secara keseluruhan, regresi yang dilakukan dari kolom 1-5 menunjukkan hasil yang cukup konsisten, yaitu keluarga pensiunan yang menuturkan bahasa dengan FTR kuat cenderung memiliki 39% kekayaan yang lebih sedikit. Dalam kolom 5, peneliti menggunakan Negara Belgia dan Swiss sebagai lingkup penelitian. Alasan dari penggunaan dua negara tersebut adalah karena keduanya memiliki persentase penutur bahasa dengan FTR kuat dan lemah yang cukup besar. Hasil dari perbandingan kolom 4 dengan 5 menunjukkan bahwa pengaruh dari perbedaan tersebut kurang lebih sama besar baik pada pengamatan yang melibatkan Negara Belgia dan Swiss saja maupun pada keseluruhan negara dalam dataset.

Bahasa dan Kesehatan

Berdasarkan hasil pengujian di negara-negara Uni Eropa (Tabel 8) dan negara-negara berkembang (Tabel 9), bahasa terbukti memiliki pengaruh terhadap kondisi dan perilaku kesehatan seseorang. Kolom 1 pada Tabel 8 menunjukkan bahwa penutur bahasa dengan FTR kuat memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk merokok sebesar 24%. Sedangkan, kolom 2 menunjukkan bahwa penutur bahasa dengan FTR kuat memiliki kecenderungan untuk lebih sedikit melakukan aktivitas fisik sebesar 29%. Kolom 3, 4, 5, dan 6 menunjukkan bahwa bahasa juga memberikan pengaruh terhadap kondisi dan perilaku kesehatan jangka panjang, yaitu penutur bahasa dengan FTR kuat cenderung mengalami penurunan kekuatan genggaman hingga sebesar 1 kg, pengurangan kapasitas hembusan napas maksimal sebesar 16 liter per menit, dan 13% lebih mungkin mengalami obesitas. Pada kasus negara berkembang, penutur bahasa dengan FTR kuat ternyata 20% lebih mungkin untuk merokok dan  17% lebih mungkin untuk menderita obesitas. Selanjutnya, penutur bahasa dengan FTR kuat ternyata juga lebih mungkin untuk menggunakan alat kontrasepsi.

Pengaruh Bahasa terhadap Tingkat Tabungan Nasional

Pada kolom 2 hingga 6 Tabel 10, peneliti memasukkan variabel kontrol  yang memungkinan tingkat tabungan nasional bervariasi sesuai ukuran ekonomi nasional. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa negara penutur bahasa dengan FTR kuat secara rata-rata menabung 5% lebih rendah dibandingkan negara penutur bahasa dengan FTR lemah. Pada kolom 5 dan 6, peneliti menambahkan variabel kontrol agama protestan, country’s legal system origin, fixed-effect benua, dan jarak dari ibu kota suatu negara ke ekuator dalam ribuan mil. Dimasukkannya variabel-variabel kontrol tersebut ternyata tidak mengurangi pengaruh bahasa yang terjadi. Negara penutur bahasa dengan FTR lemah secara rata-rata menabung 6% lebih tinggi dibanding negara penutur bahasa dengan FTR kuat. Hasil pengujian regresi pada dataset WVS (Tabel 12) menunjukkan hasil yang konsisten dengan hasil pengujian pada dataset OECD. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh bahasa terhadap tingkat tabungan nasional berlaku secara umum, tidak hanya pada negara-negara dengan budaya tertentu.

Kesimpulan dan Saran

Hasil penelitian ini mendukung kebenaran hipotesis bahwa bahasa dengan FTR kuat memengaruhi penuturnya untuk kurang melakukan tindakan-tindakan dengan orientasi masa depan. Pada perilaku menabung, kondisi tersebut terjadi baik di tingkat individu (dicerminkan dari hasrat menabung individu dan jumlah aset ketika pensiun) maupun tingkat nasional (dicerminkan dari tingkat tabungan nasional). Kondisi tersebut ternyata juga berpengaruh pada perilaku kesehatan seseorang, mulai dari perilaku merokok dan penggunaan kondom. Menariknya, hasil ini hanya terjadi pada individu yang lahir dan dibesarkan di negara yang sama.

Masalah utama dalam penelitian ini adalah adanya kemungkinan bahwa hubungan antara bahasa dan tindakan-tindakan berorientasi masa depan tersebut bukanlah sebab-akibat (causing), melainkan hanya pencerminan/penggambaran (reflecting). Hal ini disebabkan karena faktor-faktor lain, seperti faktor nilai budaya, juga memiliki pengaruh terhadap hasrat menabung seseorang dan tindakan berorientasi masa depan lainnya.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in