“Sticks and Stones May Break My Bones, but Words Will Never Hurt Me”: Verbal Sexual Harassment Among Middle School Students

Penulis             : Shawn M. Rolfe, MA dan Ryan D. Schroeder, PhD

Tahun              : 2017

Publisher         : SAGE Journals

Jurnal               : Journal of Interpersonal Violence

Diulas oleh      : Gabriella Caryn Nanda

PENDAHULUAN

Salah satu pepatah mengatakan bahwa “Tongkat dan batu mungkin dapat mematahkan tulangku, tetapi kata-kata tidak akan pernah menyakitiku.” Namun, kenyataannya, “perkataan” dapat menyakitkan dan berdampak pada perkembangan anak, terutama dalam bentuk pelecehan seksual verbal. Secara umum, pelecehan seksual verbal melibatkan kontak nonfisik dan mengacu pada komentar seksual, lelucon, panggilan nama homofobik, dan gerak tubuh. Sedangkan, pelecehan seksual fisik mengacu pada bentuk kontak seksual yang tidak pantas seperti sentuhan orang lain di wilayah pribadi (American Association of University Women [AAUW], 2001)

Terlepas dari perbedaan tersebut, sebagian besar penelitian sebelumnya telah menggabungkan pelecehan seksual fisik dan verbal menjadi satu pembahasan (AAUW, 2001, 2011; Espelage, Basile, De La Rue, & Hamburger, 2015; Gruber & Fineran, 2007, 2008 ) atau hanya berfokus pada pelecehan seksual fisik (Levine, 2015; Pellegrini, 2001). Padahal, studi AAUW (2011) menemukan bahwa insiden pelecehan seksual verbal lebih menonjol daripada pelecehan seksual fisik. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada kemungkinan seseorang menjadi korban pelecehan seksual verbal atau melakukan pelecehan seksual verbal berdasarkan jenis kelamin dan pengalaman berpacaran sebelumnya.

DATA DAN METODOLOGI

Studi ini menggunakan data self-report dari evaluasi eksperimental program kekerasan dalam berpacaran dan pencegahan pelecehan seksual yang dilakukan kepada 1.266 siswa kelas enam dan 1.388 siswa kelas tujuh di 30 sekolah menengah di New York dengan tingkat respons sebesar 93%. Ruang kelas dan sekolah dipilih secara acak dengan menggunakan prosedur pengambilan sampel berlapis (stratified sampling) selama tahun akademik 2009-2010. Survei dilakukan dalam tiga gelombang berbeda, yaitu sebelum program anti-kekerasan, sesaat setelah program, dan 6 bulan setelahnya.

Pelecehan seksual verbal sebagai variabel dependen dinilai melalui 7 pertanyaan dengan 14 item skala pelecehan seksual yang digunakan dalam penelitian sebelumnya (AAUW 1993, 2001, 2011; Taylor et al., 2012). Sedangkan, untuk variabel independen terdiri atas jenis kelamin (dummy, 1 = pria dan 0 = wanita) dan pengalaman berpacaran (dummy, 1 = ya dan 0 = tidak). Selain itu, beberapa variabel yang dikontrol dalam penelitian ini adalah ras, usia, dan program anti-kekerasan sebelumnya. Analisis dimulai dengan regresi logistik biner (binary logistic regression) dengan jenis kelamin sebagai satu-satunya variabel independen yang memprediksi kemungkinan menjadi korban pelecehan seksual verbal atau melakukan pelecehan seksual verbal (Model 1). Model berikutnya menambahkan pengalaman berpacaran sebelumnya ke regresi logistik yang memprediksi viktimisasi atau tindakan pelecehan seksual verbal (Model 2). Kemudian, variabel kontrol ditambahkan pada Model 3. Model terakhir menambahkan interaksi antara jenis kelamin dan pengalaman berpacaran bersama dengan variabel kontrol (Model 4).

HASIL PENELITIAN

Korban Pelecehan Seksual Verbal

Semua korban pelecehan seksual verbal

Hasil regresi logistik yang memprediksi semua korban pelecehan seksual verbal ditunjukkan pada Tabel 2. Berdasarkan variabel jenis kelamin, pria 19,3% lebih mungkin mengalami pelecehan seksual verbal (Model 1). Selain itu, ternyata, pengalaman berpacaran sebelumnya meningkatkan kemungkinan menjadi korban pelecehan seksual verbal sebesar 162,3% (Model 2). Hubungan ini tetap signifikan secara statistik dalam model yang telah ditambahkan variabel kontrol (Model 3). Pada model akhir, jenis kelamin dan pengalaman berpacaran terbukti signifikan secara statistik (Model 4). Model ini menunjukkan bahwa pengalaman berpacaran adalah prediktor yang lebih kuat dari kemungkinan korban pelecehan seksual verbal di antara wanita daripada jenis kelamin.

Pelecehan seksual verbal oleh teman pria

Model yang memprediksi kemungkinan mengalami pelecehan seksual verbal dari teman pria ditunjukkan pada Tabel 3. Hasil menunjukkan bahwa pria 27,7% lebih kecil kemungkinannya untuk dilecehkan secara verbal oleh teman pria (Model 1). Lebih lanjut, pengalaman berpacaran sebelumnya meningkatkan kemungkinan pelecehan seksual verbal oleh teman pria sebesar 7,46% (Model 2) dan hubungan tersebut tetap signifikan ketika variabel kontrol ditambahkan ke model (Model 3). Selanjutnya, interaksi antara jenis kelamin dan pengalaman berpacaran menunjukkan bahwa dampak pengalaman berpacaran terhadap kemungkinan mengalami pelecehan seksual verbal dari rekan pria secara signifikan lebih kuat untuk responden wanita (Model 4).

Pelecehan seksual verbal oleh teman wanita

Hasil regresi logistik yang memprediksi pelecehan seksual verbal oleh teman wanita ditunjukkan pada Tabel 4. Hasil menunjukkan bahwa pria 94,6% lebih mungkin mengalami pelecehan seksual verbal oleh teman wanita (Model 1) dan pengalaman berpacaran sebelumnya meningkatkan peluang pelecehan seksual verbal oleh teman wanita sebesar 201,5% (Model 2). Penambahan variabel kontrol ke model tidak mengubah pengaruh jenis kelamin atau pengalaman berpacaran terhadap kemungkinan pelecehan seksual verbal oleh teman wanita (Model 3). Interaksi antara jenis kelamin dan pengalaman berpacaran mengungkapkan bahwa pengalaman berpacaran adalah prediktor yang lebih kuat dan signifikan untuk pelecehan seksual verbal oleh teman wanita bagi responden pria (Model 4).

Perbuatan Pelecehan Seksual Verbal

Semua perbuatan pelecehan seksual verbal

Hasil yang memprediksi semua perbuatan pelecehan seksual verbal ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel tersebut menunjukkan bahwa pria 67,3% lebih mungkin menjadi pelaku pelecehan seksual verbal daripada wanita (Model 1), pengalaman berpacaran meningkatkan kemungkinan melakukan pelecehan seksual verbal sebesar 256,8% (Model 2), dan hubungan tersebut tetap signifikan saat variabel kontrol ditambahkan ke model (Model 3). Interaksi antara jenis kelamin dan pengalaman berpacaran menunjukkan bahwa pengaruh pengalaman berpacaran sebelumnya terhadap pelecehan seksual secara signifikan lebih kuat di antara responden wanita (Model 4).

Pelecehan seksual verbal terhadap teman pria

Model yang memprediksi pelecehan seksual verbal terhadap teman pria ditunjukkan pada Tabel 6. Hasil menunjukkan bahwa dibandingkan wanita, pria 43,7% lebih mungkin untuk melakukan pelecehan seksual secara verbal pada teman pria (Model 1), pengalaman berpacaran sebelumnya meningkatkan kemungkinan terjadinya pelecehan seksual verbal sebesar 135,2% (Model 2), dan variabel kontrol tidak mengubah hubungan yang signifikan (Model 3). Interaksi antara jenis kelamin dan pengalaman berpacaran menunjukkan bahwa pengaruh pengalaman berpacaran terhadap pelecehan seksual verbal terhadap teman pria secara signifikan lebih kuat pada responden wanita (Model 4).

Pelecehan seksual verbal terhadap teman wanita

Hasil model regresi logistik yang memprediksi terjadinya pelecehan seksual verbal terhadap teman wanita ditunjukkan pada Tabel 7. Hasil menunjukkan bahwa pria 80,4% lebih mungkin melakukan pelecehan seksual secara verbal kepada teman wanita (Model 1) dan pengalaman berpacaran sebelumnya meningkatkan kemungkinan terjadinya pelecehan seksual verbal terhadap teman wanita (Model 2). Lebih lanjut, variabel kontrol tidak mempengaruhi hubungan yang signifikan dalam Model 3. Interaksi antara jenis kelamin dan pengalaman berpacaran mengungkapkan bahwa pengalaman berpacaran merupakan prediktor kuat dan signifikan untuk kemungkinan terjadinya pelecehan seksual verbal terhadap teman wanita di antara responden pria (Model 4).

KESIMPULAN

Penelitian ini menyoroti bahwa pria lebih mungkin menjadi korban pelecehan seksual verbal daripada wanita. Salah satu alasan yang memungkinkan adalah karena pria tidak hanya dilecehkan secara verbal oleh teman pria lainnya, tetapi juga menerima banyak pelecehan seksual verbal dari teman wanita. Tidaklah mengherankan bahwa pria akan saling melecehkan secara verbal, terutama jika mempertimbangkan norma budaya yang didasarkan pada perspektif hegemoni maskulinitas. Menurut perspektif ini, pria diajari untuk harus menjadi tangguh, agresif, dan dominan. Oleh karena itu, pelecehan antara pria dimaksudkan untuk membangun hierarki sosial dengan melemahkan pria lain (Ferguson, 2000; Kimmel, 1996).

Namun, melihat tingginya prevalensi (kelaziman) wanita melakukan pelecehan seksual secara verbal terhadap pria, kemungkinan telah terjadi pergeseran hegemoni maskulinitas. Dengan kata lain, wanita semakin tidak menerima norma budaya gender sehingga hal ini telah menyebabkan wanita menjadi lebih kuat dan berani dalam pilihan pendidikan dan karir, serta peran seksual mereka.

Temuan menarik lainnya adalah pengalaman berpacaran meningkatkan kemungkinan menjadi korban atau pelaku pelecehan seksual verbal. Lebih lanjut, baik untuk korban maupun pelaku pelecehan verbal, dampak pengalaman berpacaran lebih signifikan untuk lawan jenis. Oleh karena itu, pengalaman berpacaran kemungkinan dapat menjadi hal yang mendorong pelecehan seksual verbal untuk lawan jenis.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in