Monetary Policy and Birth Rates: The Effect of Mortgage Rate Pass-Through on Fertility

Author             : Fergus Cumming dan Lisa Dettling

Jurnal              : Finance and Economics Discussion Series 2020-002 Divisions of Research & Statistics and Monetary Affairs Federal Reserve Board

Diulas oleh      : Pricilia Meidy Winengko

Pendahuluan

Telah banyak perdebatan terjadi di antara para ekonom dan pengambil kebijakan dalam menentukan pengaruh kebijakan moneter ke sektor riil. Salah satu hal yang dapat menjembatani kedua sektor ini adalah keputusan yang diambil setiap rumah tangga. Banyak pendapat yang mengemukakan bahwa saluran kebijakan moneter yang dapat memengaruhi keputusan rumah tangga adalah melalui tingkat bunga hipotek (mortgage interest rate), di mana ketika terjadi penurunan tingkat bunga dan pembayaran angsuran hipotek turun, setiap keluarga akan meningkatkan konsumsi barang tetap maupun barang lainnya (Di Maggio, dkk 2017; Floden, dkk, 2017; La Cava, dkk, 2016). Akan tetapi, belum ada literatur yang menemukan bagaimana dampak kebijakan moneter terhadap salah satu keputusan terpenting yang dihadapi oleh setiap keluarga, yaitu memiliki atau tidak memiliki anak. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis fenomena penurunan tingkat bunga pada zaman Great Recession terhadap tingkat kelahiran bayi dengan menggunakan negara sampel Britania Raya.

Kerangka Transimisi Kebijakan Moneter terhadap Tingkat Kelahiran Anak

Berangkat dari penelitian terdahulu yang diusung oleh Becker (1960) dengan menggunakan kerangka teoritis aliran neoklasik, anak cenderung diperlakukan sebagai barang durable dan orangtua merupakan konsumen yang akan menentukan berapa jumlah anak yang bisa memaksimalisasi kepuasan hidup (lifetime utility) dengan menyesuaikan batasan berupa anggaran mereka dan ‘harga’ dari memiliki anak. Oleh karena itu, penurunan pada pembayaran utang hipotek yang telah dijadwalkan akan menyebabkan: (1) penurunan pada pengeluaran anak yang meningkatkan pendapatan disposabel keluarga atau utang hipotek yang dibayarkan untuk memiliki rumah yang dipandang sebagai input untuk memiliki anak, (2) penurunan pada biaya membesarkan anak. Maka dengan melihat kedua hal tersebut, penurunan pada jumlah pembayaran cicilan utang hipotek yang dijadwalkan akan meningkatkan permintaan terhadap anak yang kemudian jelas akan meningkatkan jumlah fertilitas.

Sementara jika berkaca dari model life cycle of fertility yang dinamis, keluarga cenderung tidak hanya menentukan jumlah anggota keluarganya kelak, melainkan juga waktu yang mereka ingin habiskan untuk membesarkan anak mereka (Hotz, Klerman, dan Willis, 1997). Pada model ini, terjadinya perubahan sementara pada harga dari memiliki anak akan  memengaruhi waktu optimal yang ingin dihabiskan orangtua untuk membesarkan anak tanpa memengaruhi jumlah anak yang ingin dimiliki.

Data dan Metodologi

Data dari penelitian ini diperoleh dari Office for National Statistics (ONS), di mana data tersebut merepresentasikan jumlah fertilitas di Britania Raya. Sementara, untuk memperoleh data dari variabel kontrol, seperti kepemilikan rumah dan karakteristik dari utang hipotek, data fertilitas yang diperoleh sebelumnya dari ONS akan diagregasikan dengan Local-Authority-Unit (LAU), kelompok umur, dan data kuartalan masa subur wanita. Pembagian kelompok umur yang  digunakan adalah 16-24, 25-35, dan 35-44. Periode waktu penelitian adalah selama 3 tahun atau 12 kuartal dimulai dari kuartal ketiga tahun 2008 hingga kuartal kedua tahun 2011.

Alasan waktu penelitian dimulai dari kuartal ketiga tahun 2008 adalah karena periode tersebut bertepatan dengan sebelum diturunkannya tingkat bunga 4,5%. Sementara itu, periode penelitian diakhiri pada tahun 2011 karena 80% dari utang hipotek dengan tingkat bunga tetap telah kadaluarsa sehingga tidak dapat lagi diperoleh data untuk mendukung penelitian.

Untuk data utang hipotek, diperoleh dari data administratif pembaharuan dan pembiayaan kembali (new and refinanced) utang hipotek yang diterbitkan dari kreditor Britania Raya dari tahun 2005 hinga 2009 yang didata oleh Financial Conduct Authority. Sumber data ini juga mencakup informasi terkait lokasi tempat tinggal para debitur, harga pembelian, nilai utang, periode utang, jenis tingkat bunga (tetap atau disesuaikan), status utang hipotek (dibeli atau dibiayai kembali), status pembelian (pertama kali atau tidak), dan pendapatan kasar setiap tahun para debitur, serta umur mereka.

Untuk mengukur besarnya tingkat bunga utang hipotek, peneliti menguji proporsi keluarga yang memiliki utang hipotek dengan tingkat bunga disesuaikan (ARM ) dengan kelompok umur pada setiap kuartal. Hal ini dilakukan karena keputusan pembelian rumah atau pembiayaan kembali utang hipotek tergantung dari periode saat tingkat bunga diturunkan dapat bersifat endogenous (dipengaruhi juga) oleh keputusan memiliki anak setiap rumah tangga. Peneliti juga menggunakan informasi origination date (tanggal saat utang hipotek dicairkan ke akun debitur) dan initial period length (lama periode tingkat bunga utang hipotek dibayarkan lebih rendah) untuk mengestimasi tanggal kadaluarsa dari utang hipotek yang tingkat bunganya tetap. Semua data ini kemudian digunakan untuk menghitung proporsi utang hipotek yang memiliki ARM pada setiap LAU, kelompok umur,dan kuartal (didefinisikan sesederhana 1 – proporsi utang hipotek dengan tingkat bunga tetap).

Karena sumber data di atas tidak memasukkan informasi terkait keluarga tanpa utang hipotek, maka data juga dilengkapi dengan data tingkat kepemilikan rumah. Caranya adalah dengan menginteraksikan proporsi utang hipotek dengan ARM dengan LAU, kelompok umur, dan tingkat kepemilikan rumah yang diperoleh dari Sensus Britania Raya tahun 2001. Secara lengkapnya, model pertama dari penelitian ini dapat disusun sebagai berikut:

Setelah menentukan besarnya tingkat bunga utang hipotek melalui persamaan di atas, adapun model yang akan digunakan sebagai acuan utama dalam penelitian ini, yaitu:

Di mana tingkat analisis dari penelitian ini mencakup: local authority unit, (1) kelompok umur, (a) kuartal, (t) cell. Pada spesifikasi model ini, peneliti menandingkan semua variabel independent variasi waktu dari tingkat bunga terhadap kuartal masa subur setiap wanita. Lengkapnya, dalam data penelitian ini terdapat 12 data kuartal, 3 kelompok umur, dan 343 local authorities, sehingga jumlah sampelnya melebihi 12.348 observasi. Semua uji regresi kemudian di-weighting (supaya dapat merepresentasikan hasil uji terhadap keseluruhan populasi) dengan jumlah kelahiran setiap cell.

Koefisien dari tingkat bunga () mencakup interaksi antara dan yang menandakan berapa peningkatan proporsi rumah tangga dengan utang hipotek ARM yang kemudian menentukan hubungan antara kebijakan moneter dengan pertumbuhan tingkat kelahiran tiga kuartal setelah pengumuman otoritas moneter (kuartal kedua tahun 2008). Oleh karena itu, dihipotesiskan koefisien ini akan bernilai positif.

Vektor  merepresentasikan keseluruhan dari kelompok umur, kuartal, dan local-authority fixed effect untuk menggambarkan perbedaan intercept dari setiap unit analisis.

Selanjutnya, vektor merepresentasikan kelompok umur dari setiap local authority. Artinya, vektor ini mencakup karakteristik dari kontrak utang hipotek yang diberlangsungkan oleh keluarga pada setiap kelompok umur dan LAU. Vektor ini juga mencakup tingkat kepemilikan urmah dan proporsi keluarga yang pada awalnya memilih ARM. Selain itu, vektor ini juga mencakup kelompok umur dari setiap LAU yang mengukur pencapaian pendidikan, pendapatan, serta kekayaan dari masing-masing pasangan. Pencapaian pendidikan kemudian diukur dari proporsi wanita yang pada setiap kelompok umur menamatkan pendidikan tinggi dari Sensus 2001. Untuk mendata pendapatan, digunakan ukuran persentil, yaitu ke-5, ke-25, ke-50, dan ke-75 dari pendapatan kotor tahunan pasangan. Sementara untuk kekayaan, digunakan satuan Loan-to-Values (LTV) dan Loan-to-Incomes (LTI).

Terakhir, vektor merupakan variabel kontrol untuk tingkat pengangguran kuartalan pada setiap LAU dan harga rumah yang keduanya diperoleh dari ONS. Karena pemilik dan bukan pemilik rumah memiliki reaksi berbeda terhadap perubahan harga rumah, peneliti juga melakukan interaksi antara harga rumah dengan tingkat kepemilikan rumah dari setiap LAU dan kelompok umur.

Hasil Penelitian

Tabel 1. Kebijakan Moneter dan Tingkat Fertilitas

Kolom (1) menunjukkkan spesifikasi model yang telah dijabarkan di atas sebelumnya. Hasilnya adalah koefisien yang bernilai positif dan signifikan pada tingkat 0,1% sebesar 0,0513. Artinya, untuk kelompok keluarga dengan 100% exposure rate (menggunakan ARM pada utang hipotek mereka), setiap 1% penurunan tingkat bunga bank sentral akan meningkatkan fertilitas sebanyak 5%. Jika di rata-ratakan terhadap exposure rate di Britania Raya, penemuan ini ekuivalen dengan peningkatan 2% pada tingkat fertilitas.

Kolom (2) dan (3) menunjukkan uji robust terhadap hasil penelitian yang memasukkan vektor dan . Kolom (2) secara spesifik memperhitungkan age-group fixed effect sehingga model bisa mengkalkulasikan jika ada perbedaan tingkat kelahiran maupun tingkat bunga utang hipotek di setiap LAU Britania Raya. Hasilnya masih sama, yaitu koefisien bernilai positif dan signifikan. Sementara pada kolom (3) di mana quarter fixed effect juga dimasukkan sehingga model bisa memperhitungkan jika ada perbedaan tren fertilitas antarkuartal. Hasilnya juga masih mirip seperti kedua kolom sebelumnya.

Pada kolom (4) dilakukan filter terhadap periode waktu, yaitu hanya dari 2008Q3 hingga 2009Q4. Hal ini dilakukan untuk melihat dampak jangka pendek dari kebijakan moneter penurunan tingkat bunga yang terjadi pada Oktober 2008. Hasilnya, koefisiennya bernilai positif dan signifikan sama seperti ketiga kolom sebelumnya, namun dengan tingkat paling rendah. Secara rata-rata, estimasi pada kolom 4 menandakan penurunan tingkat bunga bank sentral 4,5% akan menyebabkan kenaikan fertilitas sebesar 6,8%.

Pada uji berikutnya, peneliti menyadari bahwa transitory shock dalam hal penurunan tingkat bunga utang hipotek yang dapat memengaruhi waktu keluarga memutuskan memiliki anak tergantung dari kemampuan likuiditas masing-masing keluarga, yaitu apakah keuangannya bersumber dari kredit atau tabungan. Untuk dapat mengidentifikasi perbedaan kemampuan likuiditas keluarga, peneliti kemudian menggunakan variabel seperti pendapatan, LTI, dan LTVs sebab keluarga yang memiliki tingkat pendapatan lebih rendah cenderung kurang mampu untuk menabung maupun meminjam.

Tabel 2. Uji Heterogenitas

Tabel di atas menunjukkan bahwa keluarga dengan pendapatan lebih rendah atau memiliki LTI atau LTV lebih tinggi akan lebih responsif terhadap perubahan kebijakan moneter. Pada kolom (3) dan (4) menunjukkan setiap penurunan 1% tingkat bunga bank sentral akan menaikkan tingkat fertilitas sebesar 5% pada keluarga dengan utang hipotek ARM, dibandingkan keluarga dengan LTI lebih rendah yang hanya terjadi peningkatan fertilitas sebesar 2,7%. Dari hasil uji ini, dapat disimpulkan bahwa keterbatasan likuditas rumah tangga memiliki peran yang penting dalam menjelaskan mengapa keputusan keluarga untuk memiliki anak responsif terhadap perubahan kebijakan moneter.

Tabel 3. Dampak Tingkat Pengangguran dan Harga Rumah terhadap Tingkat Fertilitas

Pada uji berikutnya, peneliti ingin mengetahui bagaimana tren fertilitas di masa resesi dan tanpa kebijakan moneter. Kolom (1) menunjukkan peningkatan harga rumah akan meningkatkan fertilitas untuk para pemilik dan menurunkan fertilitas untuk para penyewa rumah. Sementara untuk variabel pengangguran, terdapat dampak negatif namun tidak signifikan terhadap tingkat fertilitas. Selanjutnya pada kolom (2), variabel kontrol terkait kepemilikan utang hipotek dimasukkan. Hasilnya masih relatif sama dengan kolom (1) di mana kenaikan harga rumah akan meningkatkan fertilitas pemilik rumah dan sebaliknya pada penyewa rumah, serta variabel pengangguran masih tidak signifikan dampaknya terhadap tingkat fertilitas.

Terakhir, pada kolom (3) dimasukkan dampak kebijakan moneter. Hasil yang diperoleh  masih sama untuk koefisien harga rumah dan pengangguran, namun untuk yaitu vektor quartal-fixed effect, nilainya menjadi negatif dan signifikan dari akhir tahun 2008 hingga pertengahan 2011. Artinya dengan mengontrol dampak positif kebijakan moneter ekspansif terhadap tingkat fertilitas, tren fertilitas selama periode ini menjadi meningkat.

Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan

Penelitian ini berhasil mengungkap dampak kebijakan moneter terhadap tingkat fertilitas dengan menggunakan saluran berupa tingkat bunga utang hipotek. Hasil utama dari penelitian ini adalah setiap penurunan 1% tingkat bunga bank sentral akan meningkatkan fertilitas sebesar 5% pada keluarga yang memiliki utang hipotek dengan tingkat bunga yang disesuaikan. Secara rata-rata, di Britania Raya setiap penurunan 1% tingkat bunga bank sentral akan meningkatkan tingkat fertilitas sebesar 2%. Namun, keterbatasan dari hasil penelitian ini adalah  belum dapat dipastikannya apakah hasil yang diperoleh mencerminkan perubahan waktu untuk memiliki anak atau perubahan jumlah kelahiran setiap wanita inginkan selama masa hidupnya.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in