Do Higher Achievers Cheat Less? An Experiment of Self-revealing Individual Cheating

Penulis            : Gideon Yaniv, Erez Siniver, dan Yossef Tobol

Tahun              : 2017

Jurnal              : Journal of Behavioral and Experimental Economics

Penerbit          : Elsevier Inc.

Diulas oleh     : Muhammad Saeful Hakim

PENDAHULUAN

Dalam dua dekade terakhir, dengan menggunakan percobaan lapangan dan lab, ekonom dan psikolog telah berusaha mengungkap informasi dari kecenderungan manusia untuk menyontek atau berperilaku curang. Proses menyontek tersebut didasari oleh pemberian imbalan yang diinformasikan bersamaan dengan kemungkinan hasil yang didapatkan pada percobaan tersebut sehingga pihak yang menjadi subjek percobaan dapat memilih hasil yang lebih tinggi untuk mendapatkan imbalan yang lebih baik. Dalam kasus IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dan kecenderungan berperilaku curang atau menyontek, penelitian terdahulu secara konsisten menemukan hubungan negatif antara kedua hal tersebut (Bunn et al, 1992; Nowell dan Laufer, 1997; Crown dan Spiller, 1998; Roig dan Caso, 2005; Teixeira dan Rocha, 2010).

Meskipun penelitian terdahulu menemukan korelasi negatif antara IPK dan menyontek, penelitian-penelitian tersebut tidak menggunakan metode eksperimen. Hal tersebut disebabkan ketidakmampuan penelitian tersebut dalam mengidentifikasi perilaku menyontek atau berbuat curang pada tingkat individu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara IPK dan perilaku menyontek dengan menggunakan metode eksperimen. Lebih lanjut, penelitian ini menjelaskan korelasi menyontek dengan pencapaian intelektual dari siswa.

METODOLOGI DAN DATA

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan dua metode, yaitu eksperimen dan regresi. Metode pertama, yaitu eksperimen, dilaksanakan sebanyak dua sesi dengan jarak selama dua bulan antara sesi pertama dengan sesi kedua eksperimen. Eksperimen dilaksanakan dengan cara membuat kuis dengan soal pilihan ganda mengenai ibukota dari 16 negara kepada mahasiswa tahun ketiga jurusan ekonomi di COMAS. Setiap soal di eksperimen tersebut memiliki 4 jawaban berbeda dengan 1 jawaban benar dan dilaksanakan dengan waktu selama 10 menit. Tes ini dilakukan dengan keuntungan berupa penambahan nilai sebesar 5 poin untuk nilai akhir mata kuliah dari 10 peserta dengan nilai tertinggi.

Perbedaan dari sesi pertama eksperimen dengan sesi kedua terletak pada pengawasan serta soal dari eksperimen tersebut. Pada sesi kedua eksperimen, urutan soal serta pilihan jawaban dari soal diacak untuk mengurangi kemungkinan peserta mengingat jawaban pada sesi pertama. Selanjutnya, pada sesi pertama eksperimen terdapat satu pengawas, yaitu asisten dosen yang terlihat tidak fokus untuk memantau peserta eksperimen sehingga memberikan peluang menyontek untuk peserta. Sedangkan pada sesi kedua eksperimen, pengawasan ditingkatkan dengan cara menambah jumlah pengawas menjadi dua orang serta mengubah pengawas dari asisten dosen menjadi dosen serta asistennya. Kemudian, analisis regresi digunakan untuk mencari hubungan antara tingkat menyontek dengan jenis kelamin, indeks prestasi kumulatif, serta komponen high achiever (MAG[1] dan PES[2]).

[1] MAG merupakan singkatan dari High-school Matriculation Average Grade

[2] PES merupakan singkatan dari Psychometric Exam Score

HASIL PENELITIAN

Pada Tabel 1 terdapat persebaran distribusi jawaban benar dari sesi pertama dan sesi kedua eksperimen. Pada eksperimen sesi pertama terdapat 66 peserta yang mendapatkan paling tidak 10 jawaban benar. Namun, pada sesi kedua hanya 4 peserta yang mampu mendapat paling tidak 10 jawaban benar. Selanjutnya, secara signifikan terdapat penurunan rerata jawaban benar dari sesi pertama eksperimen sebesar 9,74 menjadi 4,85 pada sesi kedua eksperimen. Kedua hal tersebut menjelaskan terjadi proses menyontek di eksperimen tersebut. Lebih lanjut, terdapat 23 peserta yang menyontek secara maksimal hingga mendapatkan 16 jawaban benar. Hal tersebut membantah klaim sebelumnya yang menyatakan orang yang memiliki kesempatan curang tidak akan melakukan kecurangan secara maksimal.

Selanjutnya, Tabel 2 menjelaskan perbedaan jawaban benar antara sesi pertama dan kedua pada tingkat individu. Pada eksperimen tersebut terdapat 36 peserta atau 28,8% peserta yang memiliki perbedaan jawaban benar paling sedikit 10. Sedangkan peserta yang dianggap jujur, yakni yang memiliki perbedaan jawaban benar kurang dari 3, berjumlah 48% atau 60 peserta.

Pada Tabel 3 terdapat hasil regresi dari tingkat menyontek individu terhadap jenis kelamin serta tingkat pencapaian individu. Menggunakan 3 model berbeda, peneliti menemukan bahwa indeks prestasi kumulatif secara signifikan berpengaruh terhadap jumlah jawaban benar hasil menyontek. Dengan kata lain, peningkatan indeks prestasi kumulatif akan meningkatkan tingkat kecurangan orang tersebut. Penambahan indeks prestasi kumulatif sebesar 10 unit[3] akan meningkatkan jawaban benar hasil menyontek sebesar 2,42 jawaban.

Selanjutnya, kepemilikan MAG dan PES[4] secara signifikan berdampak positif pada jumlah jawaban benar hasil menyontek. Interpretasi dari penemuan tersebut yaitu semakin ambisius orang dalam hal prestasi atau high-achiever semakin tinggi pula kemungkinan orang menyontek. Penambahan PES sebesar 1 poin ketika PES lebih besar dari 600 akan meningkatkan jumlah jawaban benar sebesar 5,141 jawaban. Selanjutnya, penambahan 1 unit PES ketika rentang PES berada pada 551-600 akan meningkatkan jawaban benar sebesar 3.857 jawaban benar. Pada saat bersamaan, tidak terdapat signifikansi pada jenis kelamin terhadap jawaban benar hasil menyontek. Hal tersebut mengindikasikan pria dan wanita memiliki kecenderungan menyontek yang sama.

[3] Negara tempat dilaksanakannya eksperimen memiliki rentang indeks prestasi kumulatif dari 0 – 100

[4] Banyak mahasiswa mengikuti ujian PES dikarenakan nilai PES yang tinggi meningkatkan probabilitas mendapat beasiswa

KESIMPULAN

Dengan menggunakan metode eksperimen, penelitian ini mampu memberikan hasil penelitian yang berbeda dibanding penelitian sebelumnya. Pada penelitian ini, terdapat penemuan mengenai kecenderungan orang untuk menyontek secara maksimum. Hal tersebut membantah penemuan sebelumnya yang menganggap orang tidak akan menyontek secara maksimum. Selanjutnya, peningkatan prestasi akan meningkatkan tingkat menyontek seseorang. Penemuan dari penelitian ini sekaligus membantah penemuan sebelumnya yang menyatakan bahwa siswa yang kurang berprestasi memiliki tingkat menyontek yang lebih tinggi.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in