Natural Disasters, Economic Development, and Humanitarian Aid

Penulis             : David Stromberg

Tahun               : 2007

Jurnal               : Journal of Economic Perspectives

Publisher         : American Economic Association

Diulas oleh      : Ratu Silfa Addiba Nursahla

Latar Belakang

Fenomena alam berupa bencana, seperti yang kita ketahui disebabkan oleh kejadian natural atau dapat juga karena ulah manusia. Berdasarkan keterangan yang dipaparkan oleh analis risiko (Coburn, Spence, and Pomonis, 1994; Mileti, 1999), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi dampak sebuah bencana, yaitu: kejadian alam yang menjadi pemicu, populasi yang terdampak, dan tingkat kerentanan populasi tersebut. Menurut J. J. Rousseau, apakah suatu kejadian alam dapat dikatakan sebagai bencana dan bagaimana penanganannya, bergantung kepada siapa yang menderita karenanya. Oleh karena itu, pada dasarnya dampak dari bencana dapat pula ditinjau berdasarkan faktor sosial. Ulasan ini akan mengulas bagaimana faktor sosial ini, seperti ekonomi dan politik dapat mempengaruhi dampak bencana.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh CRED, bencana alam mengalami peningkatan frekuensi dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan, banjir, dan badai semakin sering terjadi. Selain itu, disinyalir terdapat andil pemerintah terkait pelaporan bencana yang lebih terbuka. Hal ini menjadikan frekuensi bencana terlihat lebih sering, meskipun sebenarnya bencana (seperti gempa) frekuensinya tetap (Peduzzi, 2005). Negara dengan pendapatan rendah pun cenderung jarang untuk melaporkan kejadian bencana yang mereka alami, kecuali yang benar-benar parah. Selain itu, rezim pemerintahan negara terindikasi ada sangkut-pautnya dengan penanggulangan bencana dan pelaporan datanya. Contohnya, kejadian yang terjadi di negara Tiongkok. Pada masa pemerintahan Mao Zedong, negara Tiongkok hanya melaporkan paling banyak 1 bencana setiap tahun. Sedangkan pada masa Deng Xiaoping, Tiongkok dapat melaporkan minimal 6 bencana setiap tahunnya. Maka dari itu, kondisi politik juga mempengaruhi kuantitas dan dampak bencana itu sendiri.

Data dan Metodologi

Data dalam penelitian ini diambil dari  Emergency Event Database (EM-DAT) yang dikelola oleh Centre for Research on the Epidemiology of Disaster (CRED) Universitas Louvain di Belgia.  Menurut data yang dipaparkan oleh CRED, suatu kejadian alam dapat disebut bencana ketika memiliki kriteria: menelan korban jiwa minimal 10 orang, minimal 100 orang terdampak, luka-luka, dan/atau kehilangan rumah, pemerintah mengumumkan darurat bencana atau pemerintah mengumumkan perlunya bantuan dari dunia internasional. Diskusi yang dipaparkan dalam penelitian ini dibatasi hanya pada kejadian geofisika seperti gunung meletus dan gempa bumi, atau kejadian hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, dan longsor. Pada tahun 1980 hingga 2004, telah terjadi 6.028 bencana dalam dua kategori tersebut yang menyebabkan 1.5 juta korban jiwa dan 4.7 juta jiwa terdampak. Data ini kemudian diolah menggunakan metode Ordinary Least Square Regression dan Linear Regression. Dengan beberapa pendekatan mengenai dampak bencana, di mana sajakah itu terjadi, pengaruh faktor sosial, dan bantuan sosial yang mungkin disalurkan.

Hasil Penelitian

Berdasarkan kejadian yang secara natural terjadi, bencana alam tidak dapat dilihat berdasarkan angka saja. Ini terjadi karena sebagaimana yang dapat kita lihat melalui Tabel 2, bahwa Asia menjadi benua dengan bencana, keparahan, dan orang yang terdampak paling banyak dibandingkan dengan benua lain. Hal ini disebabkan karena Asia merupakan tempat tinggal 60% penduduk dunia dan merupakan sepertiga daratan di bumi. Sehingga dapat dipahami jika Asia mendapatkan angka tertinggi dalam hal jumlah bencana.

Lebih lanjut dalam Tabel 4 ditemukan bahwa dampak dari bencana secara rata-rata pada negara dengan pendapatan tinggi hanya 30% fatalitasnya dari negara dengan pendaptan lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mumpuni negara dengan pendapatan yang lebih tinggi dalam hal pencegahan maupun penanggulangan bencana. Di samping itu, efektivitas pemerintah memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap dampak bencana. Artinya, semakin efektif pemerintah maka dampak yang ditimbulkan dari sebuah bencana akan semakin kecil. Bentuk negara tersebut (demokrasi atau non demokrasi) juga berpengaruh, yakni negara demokrasi cenderung menanggulangi bencana dengan baik.

Dari segi ketimpangan, ditemukan pengaruh positif namun tidak signifikan dari koefisien gini terhadap kematian akibat bencana sehingga belum dapat disimpulkan bahwa ketimpangan ekonomi dapat memperparah fatalitas bencana di suatu negara. Namun, jika mengacu dari berbagai literatur sebelumnya, koefisien Gini memiliki korelasi positif dengan kematian akibat bencana. Ketimpangan yang terjadi meningkatkan kerentanan negara dalam menghadapi bencana. Negara dengan ketimpangan yang parah akan cukup sulit menjangkau kalangan masyarakat yang sangat miskin padahal mereka termasuk kalangan yang sangat rentan (Chou, Huang, Lee, Tsai, Chen, and Chang, 2004).

Dari segi performa ekonomi suatu negara, dengan menggunakan variabel PDB per kapita serta variabel dummy antarnegara, diperoleh elastisitas kematian akibat bencana terhadap PDB per kapita sebesar -0.43, yang berarti peningkatan PDB per kapita di negara berpendapatan rendah ($1300) jika dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi ($23000), dapat mengurangi fatalitas dari bencana hingga 70%.

Bantuan sosial yang datang ketika sebuah negara mendapatkan musibah memang lumrah terjadi dalam dunia internasional. Namun, ternyata, terdapat kecenderungan didalam keputusan dan jumlah bantuan yang disediakan. Dalam Tabel 6, dipaparkan bahwa  apabila sebuah negara memiliki riwayat kolonial dengan negara bersangkutan, maka akan secara signifikan meningkatkan kemungkinan mendapatkan donor sebesar 8%. Kemudian, jika negara donor terletak di wilayah Eropa Latin, maka kemungkinannya akan naik lagi sebesar 10%. Lebih lanjut, besarnya donor yang akan diberikan akan meningkat dengan faktor e0.38 = 1.46 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 46%.

Selain itu, probabilitas sebuah negara akan memberikan donornya kepada negara akan lebih tinggi 8% jika negara bersangkutan merupakan mitra dagangnya. Di samping itu, kepemilikan bahasa yang serupa tidak signifikan mendorong negara kerabatnya untuk menjadi donor, tetapi menariknya, ketika telah menjalin relasi donor-resipien maka negara donor akan cenderung menyumbangkan 46% lebih banyak.

Selanjutnya, jika ditinjau dari letak geografis, hasilnya menunjukkan relasinya negatif yaitu semakin dekat lokasi resipien dari negara donor maka negara donor akan semakin murah hati. Terakhir, jika ditinjau dari apakah donor-resipien merupakan kawan di forum PBB, kemungkinan negara resipien untuk menerima bantuan lebih rendah namun tidak signifikan. Memang tidak dimungkiri jika masih ada kemungkinan negara yang jauh maupun statusnya bukan koloni untuk mendapatkan bantuan. Namun, dibutuhkan bencana yang lebih kuat dan dampak yang lebih parah agar negara lain tergerak untuk memberikan donor.

Kesimpulan

Bencana alam yang terjadi di setiap negara, baik yang berpendapatan rendah maupun tinggi pada nyatanya memiliki tingkat keparahan yang kurang lebih sama. Yang kemudian membedakan adalah dampak sosial yang ditimbulkan. Memang terjadi perkembangan di benua Eropa dan Asia dalam hal penurunan tingkat kefatalan bencana. Namun, ironisnya tidak terjadi perkembangan di Afrika dalam satu dekade terakhir. Bantuan internasional memang cukup lumrah terjadi, tetapi penelitian telah membuktikan bahwa para donor cenderung akan memberikan bantuannya berdasarkan pertimbangan tertentu, seperti jarak yang dekat, akar bahasa yang sama, dan hubungan kolonial. Hal seperti ini juga bergantung pada kekuatan keparahan bencana. Contohnya, negara yang jaraknya jauh dari pendonor maka harus mengalami bencana 160 kali lebih parah dari negara yang dekat. Oleh karena itu negara dengan jarak yang jauh, akar bahasa yang berbeda, dan tidak memiliki koloni cenderung dirugikan ketika bencana melanda.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in