Do Television and Radio Destroy Social Capital? Evidence from Indonesian Villages

Penulis             : Benjamin A. Olken

Tahun               : 2009

Publisher        : American Economic Journal

Diulas oleh     : Ratu Silfa Addiba Nursahla

LATAR BELAKANG

Social capital (modal sosial) sebagai isu yang hangat diperbincangkan merupakan rantai hubungan antara orang-orang yang tinggal dan bekerja dalam suatu masyarakat sehingga fungsi kemasyarakatan dapat berlangsung dengan efektif. Jurnal ini ingin mengetahui pengaruh antara frekuensi menonton televisi dan mendengarkan radio terhadap social capital yang ada di Indonesia. Pada tahun 2000 awal, masyarakat digadang-gadang mengalami penurunan social capital yang disebabkan eksistensi teknologi, terutama televisi serta radio. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua tolak ukur keterikatan sosial, yaitu partisipasi masyarakat dalam komunitas sosial dan kepercayaan di antara masyarakat. Peneliti juga menggunakan dua faktor eksogen, yaitu  variasi penyampaian sinyal televisi dan radio akibat faktor topografi berbukit di Indonesia dan diferensiasi jenis saluran televisi swasta yang tayang. Peneliti menduga desa yang memiliki akses terhadap sinyal televisi dan radio memiliki partisipasi yang rendah terhadap kegiatan sosial. Kepercayaan (trust) juga menjadi salah satu tolak ukur social capital karena dapat mencerminkan keterikatan antaranggota masyarakat. Penurunan social capital berjalan seiring dengan penurunan kepercayaan (Avner Greif 1993; Michihiro Kandori 1992; Markus Mobius and Adam Szeidl 2007).

Masyarakat desa di Indonesia memiliki ciri khas yaitu mempunyai banyak komunitas sosial, mulai dari yang bersifat keagamaan, perkumpulan tetangga, arisan, dan komunitas-komunitas wanita (PKK). Desa-desa di Indonesia juga masih menerapkan gotong royong sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan desa, sehingga peneliti juga ingin mengetahui dampak dari penurunan social capital terhadap kehidupan masyarakat desa. Menurut Putnam (1993), social capital yang rendah akan berdampak pada tata kelola desa dan komunitas yang rendah pula. Hal ini merupakan akibat dari kurangnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pengawasan pembangunan desa. Oleh karena itu, proyek pembangunan jalan digunakan sebagai variabel untuk merepresentasikan keaktifan masyarakat kualitasnya dalam tata kelola daerah.

DATA DAN METODOLOGI

Indonesia dipilih sebagai lokasi penelitian karena negara ini memiliki sistem sosial yang kompleks dan memiliki banyak komunitas sosial, contohnya seperti rapat desa, majelis ta’lim, PKK, dan arisan (Vivi Alatas, Pritchett, dan Anna Wetterberg (2003) serta Miguel, Gertler, dan Levine (2005)). Indonesia memiliki 11 saluran televisi dan sebanyak 70% rumah tangga memiliki TV dan 73% memiliki radio, sedangkan hanya 12% yang tidak memiliki TV maupun radio. Rata-rata responden menghabiskan waktu 123 menit sehari menonton televisi dan 60 menit mendengarkan radio. Data diambil dari 600 desa yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jawa dipilih sebagai area penelitian karena termasuk ke dalam salah satu wilayah terpadat di dunia, dengan kepadatan sekitar 750 orang per km2. Kriteria desa yang dipilih pun merupakan desa yang sedang atau akan melaksanakan proyek pembangunan jalan. Lebih lanjut, peneliti mendapatkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) berupa survei Potensi Desa (PODES) sebagai data kelompok dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) sebagai data individu untuk mengetahui penggunaan televisi dari waktu ke waktu di berbagai daerah di Indonesia.

Untuk mengetahui aktivitas komunitas-komunitas sosial, peneliti menggunakan dua tipe data, yaitu key informant survey dan household survey. Key informant survey dilakukan dengan mewawancarai kepala wilayah (seperti ketua RT dan RW) mengenai komunitas sosial apa sajakah yang ada di wilayah mereka. Sedangkan household survey dilakukan dengan mewawancara warga secara acak dan mengonfirmasi komunitas sosial apakah yang mereka ikuti. Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variabel lain, metode cross-section via OLS digunakan untuk mencari tahu variasi pengaruhnya di setiap daerah. Pada bagian 1, peneliti mencari pengaruh antara keadaan geografis dari desa tersebut terhadap banyaknya saluran televisi maupun radio yang sampai ke penduduk.

Pada bagian 2, peneliti mencari tahu hubungan antara banyaknya saluran dan baiknya kualitas penayangan terhadap lamanya waktu menonton televisi maupun mendengarkan radio.

Pada bagian 3, peneliti ingin mengestimasi pengaruh banyaknya saluran terhadap partisipasi masyarakat dalam komunitas sosial.

Data memiliki kemungkinan dapat dipengaruhi oleh keadaan topografi Indonesia, seperti pegunungan. Oleh karena itu, peneliti menggunakan model electromagnetic signal propagation untuk mengisolasi kemungkinan ini. Persamaannya sebagai berikut :

Terakhir, peneliti ingin mengonfirmasi korelasi negatif antara banyaknya saluran televisi dan radio terhadap social capital masyarakat dengan menggunakan data PODES dan SUSENAS.

HASIL PENELITIAN

Hasil yang didapatkan pada penggunaan dan kepemilikan televisi maupun radio mungkin sudah dapat diprediksi. Tidak ada pengaruh antara penerimaan sinyal televisi di desa terhadap jumlah televisi yang dimiliki. Penerimaan sinyal televisi hanya akan mempengaruhi intensitas menonton. Lebih lanjut, jika dilihat pada Tabel 5, setiap tambahan 1 saluran televisi maka akan mengakibatkan penurunan sebesar 6,8%  pada jumlah komunitas sosial yang ada di desa tersebut dan penurunan sebesar 11% pada kehadiran warga dalam rapat selama 3 bulan terakhir. Peneliti juga menemukan bahwa orang yang lebih kaya akan cenderung jarang menghadiri pertemuan komunitas.

Dari aspek keagamaan, komunitas sosial keagamaan memiliki frekuensi pertemuan yang lebih sering dibandingkan dengan non-keagamaan. Hal ini disebabkan oleh dorongan komunitas keagamaan untuk berkumpul membahas kajian rohani sehingga tidak banyak terpengaruh oleh eksistensi televisi dan radio. Selain itu, grup berbentuk arisan (ROSCA) juga jumlahnya akan berkurang 13,6% dan jumlah kehadirannya berkurang 16,5% setiap pertambahan 1 saluran televisi.

Indikator lainnya dari social capital adalah kepercayaan (trust). Peneliti menemukan bahwa pengaruh televisi secara signifikan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap orang lain sebesar 3,6%, terhadap pemerintah desa sebesar 5,3%, dan terhadap presiden sebesar 3,3%.

Terakhir, dari segi kualitas tata kelola daerah, peneliti menggunakan variabel pengelolaan proyek pembangunan jalan pada interval waktu ketika penelitian dilaksanakan. Terbukti bahwa kehadiran masyarakat saat rapat desa akan berkurang seiring dengan frekuensi menonton televisi yang meningkat. Namun, kualitas dari rapat tersebut tidak terpengaruh. Antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam kepengurusan desa pun ikut turun. Sehingga, dapat dilihat bahwa indikasi adanya korupsi pada proyek skala desa tidak terbukti dipengaruhi oleh tayangan televisi maupun radio.

KESIMPULAN

Peneliti mengisolasi dua kemungkinan eksternal yang mungkin dapat mempengaruhi hasil penelitian, yaitu kemungkinan topografi Indonesia yang bervariasi (ada yang di dataran rendah maupun pegunungan) dan perbedaan eksistensi saluran televisi swasta sebelum dan sesudah tahun 2000-an. Kedua metode ini menunjukkan hasil yang konsisten yaitu peningkatan frekuensi menonton televisi dan mendengarkan radio akan mengurangi partisipasi dalam komunitas sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa setiap penambahan 1 saluran televisi akan meningkatkan 14% tambahan menit menonton televisi dan mendengarkan radio, 7% lebih sedikit eksistensi komunitas sosial, dan 4% lebih sedikit jenis komunitas. Namun, peneliti menemukan bahwa penerimaan televisi dan radio tidak berpengaruh terhadap tata kelola pengurus desa maupun kecenderungan untuk korupsi, setidaknya pada apa yang terukur di dalam jurnal.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in