The Geography of Music Preferences

Peneliti           : Charlotta Mellander, Richard Florida, Peter J. Rentfrow, Jeff Potter

Tahun              : 2018

Publisher       : Springer, in cooperation with The Association for Cultural Economics International

Journal           : Journal of Cultural Economics

Diulas oleh    : Ariqoh Wahyu Armadhani

Pendahuluan

Sudah banyak teori dan penelitian yang menjelaskan terkait perbedaan politik dan budaya di masyarakat berdasarkan aspek geografis. Zelinski (1974) yang meneliti perbedaan budaya masyarakat USA menggunakan variabel langganan majalah, menemukan bahwa terdapat perbedaan preferensi berlangganan majalah antara satu kota dengan kota lainnya yang berdasarkan pada tingkat konsentrasi pekerja profesional, jumlah penduduk lulusan perguruan tinggi, dan tingkat keberagaman di masyarakat. Dari budaya musik, suatu penelitian pernah dilakukan oleh Fox dan Wince (1975) menemukan bahwa masyarakat di kota kecil berbasis agraris lebih menyukai musik folk, rock, dan country, sedangkan masyarakat dari daerah yang lebih besar lebih menyukai musik jazz dan blues. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara preferensi musik dan kelas sosial ekonomi di masyarakat (Katz-Gerro 1999; Mark 1998; Van Eijck 2001) dan kepribadian seseorang (Colley 2008; Delsing et al. 2008; Dunn et al. 2012; Rentfrow and Gosling 2003). Penelitian kali ini mencoba menggabungkan berbagai pengamatan dari penelitian-penelitian terdahulu dalam satu penelitian yang akan memperoleh kesimpulan yang lebih utuh dan mampu menjelaskan kondisi di dunia nyata dengan lebih baik. Peneliti memiliki hipotesis bahwa variasi geografis dalam preferensi musik mencerminkan dan memperkuat perbedaan politik dan ekonomi di masyarakat berdasarkan kelas dan geografi.

Data dan Variabel

Penelitian ini meneliti pembagian geografis dalam preferensi musik pada 95 daerah metropolitan terbesar di Amerika Serikat. Data diperoleh dari survei internet berskala besar pada situs web http://www.outofservice.com/musik-personality-test/ yang dilakukan sejak tahun 2001-2013. Sebanyak 119.316 orang berpartisipasi dalam mengisi kuesioner tersebut. Namun, mengingat adanya kemungkinan data berganda dan untuk mendapatkan partisipan yang sesuai dengan kebutuhan penelitian (tinggal di daerah metropolitan dengan populasi lebih dari 500.000 jiwa), peneliti melakukan screening terhadap partisipan-partisipan tersebut. Setelah dilakukan screening, diperoleh 91.948 responden yang memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Median usia responden adalah 24 tahun (dengan standar deviasi 11,04 tahun). Setelah dilakukan beberapa pengujian, data yang diperoleh terbukti dapat menjadi representasi populasi daerah yang ingin diteliti dengan baik.

Penelitian ini menggunakan banyak variabel independen yang dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori umum, yaitu kategori yang menjelaskan perbedaan ekonomi (meliputi kondisi dan kesenjangan ekonomi, serta kelas sosioekonomi) dan yang menjelaskan perbedaan politik (meliputi pendidikan, faktor demografis, dan psikologis). Subkategori kondisi dan kesenjangan ekonomi meliputi variabel GRP dan pendapatan per kapita, upah rata-rata, upah per jam, serta jam kerja per minggu. Sub kategori kelas sosial ekonomi meliputi variabel pendidikan (jumlah tenaga kerja dengan gelar sarjana) dan pekerjaan (blue-collar worker atau white-collar worker). Selanjutnya, subkategori politik meliputi variabel pilihan pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2012 (memilih Obama atau Romney). Subkategori pendidikan meliputi variabel bagian dari angkatan kerja dengan gelar sarjana 3 tahun atau lebih. Subkategori faktor demografi meliputi variabel jumlah dan kepadatan populasi, ras (lahir di luar negeri, ras kulit hitam, kulit putih, dan hispanik), status pernikahan (rumah tangga tunggal, menikah, dan telah bercerai). Subkategori terakhir, yaitu faktor psikologis, meliputi variabel kepribadian (ekstraversi, keramahan, kehati-hatian, neurotisme, dan keterbukaan), toleransi (dilihat dari gay index atau jumlah daerah yang dengan rumah tangga gay atau lesbian, serta bohemian index atau jumlah daerah yang digunakan untuk kegiatan berbau seni dan desain), dan kesejahteraan (kesehatan mental, kualitas kerja, perilaku sehat, kesehatan fisik, dan evaluasi hidup). Semua data terkait variabel yang telah disebutkan sebelumnya diperoleh dari sumber-sumber sekunder, seperti badan pemerintahan dan penelitian pendahulu.

Penelitian ini hanya menggunakan satu variabel dependen, yaitu preferensi musik. Preferensi musik diukur dengan Short Test Musik Preferences (STOMP-R) yang berbasis pada likert scale dengan skala 1 (tidak suka) hingga 7 (suka) terhadap beberapa pilihan genre. Secara garis besar, terdapat 5 preferensi musik yang meliputi Mellow yang berciri romantis dan lambat (Electronica, New Age), Unpretentious yang berciri lembut dan mudah didengar (Religi, Country, Gospel, Pop), Sophisticated yang berciri dinamis dan kompleks (Folk, Bluegrass, Blues, Jazz, Opera, Classical, World), Intense yang berciri keras dan agresif (Heavy Metal, Rock, Punk, Alternative), dan Contemporary yang berciri perkusif dan electric (Rap, Soul, Funk, Reggae).

Metodologi

Untuk mendapatkan preferensi musik suatu daerah, peneliti menjumlahkan preferensi musik individual responden berdasarkan daerah tempat tinggalnya. Karena penelitian ini menggunakan banyak variabel independen, peneliti melakukan principle components analysis dengan varimax rotation untuk menyederhanakan variabel-variabel yang ada serta untuk menghindari multikolinieritas. Selanjutnya, peneliti menggunakan bivariate correlation analysis yang dilanjutkan dengan regresi sederhana untuk melihat hubungan antara preferensi musik terhadap variabel-variabel ekonomi, sosial, politik, dan psikologis yang telah disederhanakan dengan principle components analysis.

Hasil Penelitian

Correlation analysis

Correlation analysis ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berkaitan dengan perbedaan pada hasil observasi tingkat regional. Peneliti melakukan analisis terkait lima preferensi musik utama terhadap faktor-faktor dasar ekonomi, sosial, demografi, politik, dan psikologis.

Mellow

Dalam level wilayah kota, preferensi terhadap musik mellow ternyata secara signifikan memiliki korelasi negatif terhadap pendapatan per kapita masyarakat, jumlah working class, populasi penduduk ras kulit hitam, dan jumlah tunggal households rumah tangga tunggal. Penduduk di kota-kota tersebut, cenderung memiliki psychological well-being dan keterbukaan yang lebih baik. Di sisi lain, preferensi terhadap musik mellow memiliki korelasi positif terhadap kepadatan populasi, jumlah masyarakat yang lahir di luar negeri, populasi penduduk ras hispanik, jumlah pasangan menikah dini, dan neurotisme.

Unpretentious

Preferensi terhadap musik unpretentious memiliki hubungan positif dengan religiusitas, keramahan, dan kehati-hatian dari masyarakat, jumlah kelompok pekerja, partisipan Partai Republikan, jumlah pasangan menikah dini, jumlah kasus perceraian, dan populasi penduduk ras kulit hitam. Selanjutnya, preferensi terhadap musik jenis ini memiliki korelasi negatif terhadap kondisi ekonomi, jumlah kelas kreatif, kualitas modal manusia, populasi penduduk yang lahir di luar negeri, populasi penduduk kulit putih dan keturunan hispanik, jumlah rumah tangga tunggal, dan indeks toleransi masyarakat (yang diukur melalui nilai bohemian dan gay index).

Sophisticated

Preferensi terhadap musik sophisticated memiliki korelasi positif dengan tingkat pendidikan, jumlah kelas kreatif, indeks toleransi masyarakat, keterbukaan, output dan pendapatan per kapita, serta upah per jam. Sedangkan variabel-variabel yang secara signifikan memiliki korelasi negatif adalah populasi penduduk ras kulit putih dan jumlah kelas pekerja.

Intense

Preferensi musik intense berhubungan secara positif dengan jumlah penduduk ras kulit putih, jumlah rumah tangga tunggal, jumlah kasus perceraian, dan neurotisme. Selain berhubungan positif dengan variabel-variabel tersebut, preferensi musik intense memiliki hubungan negatif dengan variabel upah rata-rata, upah per jam, jumlah penduduk yang lahir di luar negeri, populasi penduduk ras kulit hitam, dan keramahan.

Contemporary

Preferensi terhadap musik contemporary memiliki hubungan positif terhadap output per kapita, pendapatan per kapita, upah rata-rata, upah per jam, jumlah populasi secara keseluruhan, jumlah penduduk yang lahir di luar negeri, populasi penduduk ras kulit hitam, partisipan Partai Demokrat, keterbukaan. Namun, preferensi terhadap musik contemporary memiliki hubungan negatif dengan jumlah kelas pekerja, populasi penduduk ras kulit putih, jumlah penduduk yang menikah, dan religiosity masyarakat.

Regression analysis

Setelah dilakukan principal component analysis, diperoleh 7 variabel/faktor/dimensi yang akan dimasukkan dalam analisis regresi multivariat. Kota-kota yang memenuhi faktor 1 cenderung lebih makmur, beragam, dan kreatif. Faktor 2 dipenuhi oleh kota-kota yang banyak memiliki penduduk hispanik, kelahiran luar negeri/imigran, dan pasangan menikah. Faktor 3 akan dipenuhi oleh kota-kota dengan masyarakat yang memilih Partai Demokrat, kurang religius, dan memiliki sedikit penduduk yang menikah. Kota-kota dengan masyarakat yang memiliki tingkat keramahan dan kehati-hatian tinggi dan tingkat neurotisisme rendah akan memenuhi faktor 4. Kota-kota yang memiliki banyak penduduk ras kulit hitam dan sedikit penduduk ras kulit putih akan memenuhi faktor 5. Kota-kota dengan tingkat perceraian tinggi dan masyarakat yang memiliki jam kerja diatas rata-rata akan memenuhi faktor 6. Sedangkan faktor 7 akan dipenuhi oleh kota-kota dengan masyarakat yang memiliki tingkat ekstraversi (extrovert) tinggi.

Mellow

Musik mellow berkorelasi positif dengan pengaruh terkuat terhadap faktor 2 dan berkorelasi negatif dengan faktor 5. Dapat disimpulkan bahwa musik mellow terkait dengan karakteristik ras dan etnis. Musik mellow cenderung lebih disukai di kota-kota yang memiliki populasi kulit putih dan orang kelahiran luar negeri lebih tinggi. Musik mellow juga cenderung lebih disukai di daerah yang masyarakatnya banyak menikah dini dan memiliki sifat terbuka.

Unpretentious

Musik unpretentious berkaitan dengan 4 faktor, 2 faktor positif (faktor 4 dan 5) serta 2 faktor negatif (faktor 1 dan 3). Keempat faktor tersebut mampu menjelaskan 67% variasi dalam musik unpretentious. Faktor 3 merupakan faktor dengan pengaruh terkuat terhadap musik jenis ini. Secara keseluruhan, musik unpretentious lebih disukai di kota-kota yang tidak terlalu padat dan memiliki lebih banyak kelas pekerja, dengan masyarakat yang lebih konservatif dalam berpolitik, lebih religius, dan banyak penduduk ras kulit hitam. Musik unpretentious juga cenderung lebih disukai di daerah dengan tingkat pendapatan rendah, jumlah lulusan perguruan tinggi, jumlah penduduk gay/lesbian, dan populasi penduduk ras kulit putih yang lebih rendah. Penduduk di kota-kota tersebut cenderung lebih ramah dan hati-hati.

Sophisticated

Musik sophisticated berkaitan positif secara erat terhadap faktor 1, namun lemah terhadap faktor 4. Dapat disimpulkan bahwa musik sophisticated lebih disukai di kota-kota yang padat dan memiliki tingkat pendapatan, pendidikan, serta white-collar workers lebih tinggi. Namun, kedua faktor tersebut hanya mampu menjelaskan 19.1% variasi dalam musik sophisticated.

Intense

Musik intense berhubungan secara negatif dengan faktor 1 dan 5. Namun, faktor 5 memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan faktor 1. Sehingga, dapat dikatakan bahwa musik intense lebih disukai di kota-kota yang memiliki banyak populasi penduduk ras kulit putih dan hanya sedikit populasi penduduk ras kulit hitam. Musik intense juga lebih disukai di daerah yang memiliki tingkat pendapatan, pendidikan, jumlah white-collar workers, jumlah seniman/bohemian dan penduduk gay/lesbian, serta psychological well-being yang lebih rendah. Kedua faktor ini menjelaskan 20% variasi dalam preferensi musik intense.

Contemporary

Preferensi musik contemporary berkaitan dengan 4 faktor, yaitu faktor 1, 3, 5, dan 6. Keempat faktor tersebut mampu menjelaskan 40% variasi dalam preferensi musik contemporary. Dari keempat faktor tersebut, faktor yang paling terkait adalah faktor 3. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa musik contemporary lebih disukai di kota-kota padat yang memiliki tingkat pendapatan, pendidikan, liberalisme politik, dan jumlah white-collar workers, serta jumlah artis dan penduduk gay/lesbian lebih tinggi/besar.

Kesimpulan

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada hipotesis bahwa perbedaan geografis dalam preferensi musik akan mencerminkan pembagian pokok masyarakat Amerika Serikat secara ekonomi dan politik. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa hipotesis tersebut adalah benar, dengan didukung berbagai data secara signifikan. Dari 5 tipe musik secara umum, 2 jenis musik (sophisticated dan contemporary) lebih disukai di daerah yang lebih padat, beragam, liberal, makmur, berpendidikan, dan berlandaskan pada ilmu pengetahuan. Dua jenis musik lainnya (unpretentious dan intense) lebih disukai di daerah yang homogen, kurang makmur, berpendidikan, lebih konservatif, dan banyak kelas pekerja. Sedangkan jenis musik terakhir (mellow) lebih berhubungan dengan faktor ras dan etnis dibanding ekonomi atau kelas sosial.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in