Born to be more educated? Birth order and schooling

Penulis             : Young-Joo Kim

Tahun              : 2020

Publisher         : Springer

Jurnal               : Review of Economics of the Household

Diulas oleh      : Gabriella Caryn Nanda

PENDAHULUAN

Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi pencapaian pendidikan seorang anak. Salah satu faktor tersebut adalah ukuran keluarga, sebagaimana ditemukan dalam berbagai penelitian sebelumnya Selain itu, terdapat dilema antara kuantitas dan ‘kualitas’ anak (Becker, 1960; Becker dan Lewis, 1973), di mana ‘kualitas’ anak dikaitkan dengan pencapaian pendidikan. Peneliti menduga bahwa bukan hanya ukuran keluarga yang dapat memengaruhi pencapaian pendidikan anak, melainkan juga urutan kelahiran anak.

Dalam kaitannya mengenai urutan kelahiran anak, beberapa penelitian sebelumnya , seperti Eschelbach (2015) dan Mechoulan dan Wolff (2015), menunjukkan bahwa anak sulung lebih baik menerima dibandingkan adik mereka dalam bidang pendidikan. Namun, penelitian yang membahas penyebab efek urutan kelahiran (birth order effect) dan efek lintas generasi masih sedikit. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti mengidentifikasi pengaruh urutan kelahiran pada pencapaian pendidikan dan bagaimana efek ini berkembang dari waktu ke waktu. Dengan membandingkan pengaruh urutan kelahiran antara dua generasi, peneliti menyajikan bukti baru mengenai pengaruh urutan kelahiran.

DATA DAN METODOLOGI

Data dalam penelitian ini diambil dari Wisconsin Longitudinal Study (WLS). WLS adalah survei longitudinal dari responden acak yang lulus dari sekolah menengah atas di Wisconsin. Penulis menggunakan data dari dua generasi yang berbeda, yaitu tahun 1957 dan 2004. Responden survei tahun 1957 terdiri atas 24.546 individu dari 6.565 keluarga yang memiliki setidaknya dua anak (responden juga telah menjadi orang tua di 2004 dengan setidaknya dua anak). Selanjutnya, peneliti menguji anak dari responden tahun 1957 menggunakan survei tahun 2004. Sampel anak responden terdiri atas 20.727 individu dari 6.715 keluarga.

Metode yang digunakan oleh peneliti adalah model regresi Fixed Effect, Ordinary Least Square (OLS) dan Probit. Model regresi Fixed Effect direpresentasikan dengan persamaan berikut:

Dimana adalah tahun sekolah untuk individu i dalam keluarga j; adalah vektor karakteristik individu termasuk usia dan jenis kelamin; adalah vektor indikator urutan kelahiran; adalah efek tetap yang tidak teramati (unobserved fixed effects) dari efek untuk keluarga j; dan adalah faktor error.

HASIL PENELITIAN

Pada Tabel 3, peneliti menyajikan hasil estimasi dari model regresi fixed effect yang menggunakan sampel orang tua, yaitu pada tahun 1957.

Hasilnya, dibandingkan dengan anak pertama, anak yang lebih muda secara signifikan memiliki tingkat pendidikan yang jauh lebih rendah, dengan mempertimbangkan karakteristik individu dan keluarga. Hal ini ditunjukan pada tanda negatif pada kolom pertama untuk anak kedua, ketiga, keempat, dan kelima atau lebih. Peneliti juga menguji urutan kelahiran yang disederhanakan menggunakan indikator anak pertama dan anak terakhir (anak tengah sebagai referensi dalam interpretasi). Dalam pengujian tersebut, peneliti menemukan bahwa efek untuk anak sulung adalah 0,22 dan efek untuk anak terakhir adalah -0,104. Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata tahun sekolah anak pertama lebih tinggi sebesar 0,22 tahun dan untuk anak terakhir lebih rendah sebesar 0,104 tahun jika dibandingkan dengan anak tengah.

Lebih lanjut, peneliti membahas mengenai pengaruh ukuran keluarga terhadap efek urutan kelahiran. Dalam keluarga dengan dua atau tiga anak, efek urutan kelahiran negatif tetapi tidak signifikan. Efeknya menjadi lebih besar dan signifikan dalam keluarga empat anak. Hal tersebut menunjukan bahwa semakin besar ukuran keluarga tersebut,  kerugian yang dihadapi oleh anak yang lebih muda akan semakin besar. Hubungan yang negatif ini dijelaskan karena adanya kendala pada sumber daya keluarga, seperti pendapatan dalam menyekolahkan semua anak-anaknya pada tingkat pendidikan yang sama.

Selain itu, peneliti menggunakan sampel anak yang dilakukan pada tahun 2004 untuk melakukan analisis serupa. Hasil estimasi dari regresi Fixed Effect  pada sampel anak ditunjukkan pada Tabel 4.

Hasil dari sampel anak konsisten dengan hasil dari sampel orang tua. Regresi sampel anak juga menunjukkan efek negatif pada urutan kelahiran (negative birth order effect). Anak yang lebih muda cenderung bersekolah lebih sedikit (dalam tahun) daripada anak pertama. Keuntungan menjadi anak pertama dapat dilihat pada kolom kedua. Koefisien estimasi untuk anak pertama adalah 0,218. Hal tersebut menunjukkan bahwa anak sulung bersekolah lebih lama sebesar 0,218 (dalam tahun) dibandingkan anak tengah, Pada kolom lainnya di Tabel 4, peneliti mengelompokkan sampel anak berdasarkan ukuran keluarga dan menguji efek urutan kelahiran dalam setiap kelompok. Ternyata, terjadi penurunan dari tahun bersekolah berdasarkan urutan kelahiran pada keluarga yang kecil maupun besar dengan dua, tiga, dan empat anak.

Efek negatif urutan kelahiran yang lebih signifikan dan besar pada sampel anak ternyata juga lebih besar bila dibandingkan dengan sampel orang tua. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan antar generasi dalam berbagai faktor. Pertama, rata-rata perempuan bersekolah lebih lama dibandingkan laki-laki pada sampel anak dan sebaliknya pada sampel orang tua. Kedua, responden pada sampel anak cenderung memiliki lebih sedikit anak daripada orang tua mereka, keluarga sampel anak yang memiliki lima anak atau lebih berkurang sebesar 20% dari sampel orang tua.

Peneliti kemudian menyelidiki apakah efek urutan kelahiran diwariskan lintas generasi menggunakan metode regresi OLS. Peneliti berhipotesis bahwa anak dari orang tua yang lahir di urutan pertama lebih baik dalam pencapaian pendidikan. Variabel dalam penelitian ini adalah urutan kelahiran orang tua, urutan kelahiran anak, dan variabel interaksi. Sedangkan variabel kontrolnya adalah jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan.

Pada kolom bernomor ganjil, model hanya terdiri dari urutan kelahiran orang tua yang terdiri dari indikator anak pertama dan anak terakhir. Dalam kolom bernomor genap, peneliti juga menyertakan interaksi dengan indikator orang tua merupakan anak pertama dalam Model A, dan interaksi dengan indikator orang tua merupakan anak terakhir dalam Model B. Hasil regresi pada Tabel 5 menunjukkan bahwa semua estimasi koefisien urutan kelahiran orang tua dan interaksinya dengan urutan kelahiran anak tidak signifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa urutan kelahiran orang tua tidak mempengaruhi pencapaian pendidikan anak-anak mereka.

Selanjutnya, peneliti mempertimbangkan dampak dari ekspektasi orang tua terhadap pencapaian pendidikan anak mereka. Ekspektasi orang tua dapat mempengaruhi keputusan sekolah anak karena biaya pendidikan yang relatif mahal dan umumnya membutuhkan dukungan pembiayaan dari orang tua. Mengingat sumber daya, seperti pendapatan yang terbatas untuk pendidikan, orang tua mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda untuk sekolah anak sesuai dengan urutan kelahiran. Di sisi lain, orang tua bisa jadi mengharapkan pencapaian yang lebih baik dari anak pertama untuk menjadi contoh bagi adik-adiknya. Peneliti menggunakan model regresi Probit dan hasil dari regresi terdapat pada Tabel 6.

Hasil pada Tabel 6 kolom pertama mengungkapkan bahwa kemungkinan orang tua mengharapkan pendidikan yang lebih tinggi pada anak pertama lebih tinggi ketimbang kemungkinan terhadap anak yang lebih muda. Secara keseluruhan, hasil regresi sejalan dengan penelitian sebelumnya. Misalnya, Hotz dan Pantano (2015) menunjukkan bahwa sikap orang tua terhadap anak secara sistematis berbeda tergantung urutan kelahiran yang diukur dengan peningkatan pemantauan pekerjaan sekolah pada anak pertama.

Terlepas dari harapan orang tua, upaya dan kemampuan anak sendiri adalah penentu penting dalam pencapaian sekolah mereka. Pada kolom lainnya di Tabel 6, peneliti meneliti bagaimana urutan kelahiran dikaitkan dengan berbagai ukuran kapasitas individu. Peneliti mempertimbangkan aspirasi dan persiapan seseorang untuk pendidikan perguruan tinggi ketika mereka berada di sekolah menengah atas. Aspirasi untuk pendidikan perguruan tinggi diukur dengan variabel dummy, satu jika responden menganggap bahwa pendidikan perguruan tinggi diperlukan untuk pekerjaan mereka di masa depan dan nol jika sebaliknya. Sebagai ukuran persiapan kuliah, peneliti menggunakan indikator kursus persiapan perguruan tinggi. Berikutnya, peneliti mempertimbangkan jumlah semester kursus matematika dan bahasa asing ketika sekolah menengah atas.

Peneliti mengidentifikasi efek urutan kelahiran terhadap upaya dan kemampuan anak menggunakan model regresi Probit dan OLS. Hasil estimasi dapat dilihat pada Tabel 6. Peneliti menemukan bahwa probabilitas anak sulung untuk lebih mempersiapkan diri untuk kuliah selama sekolah menengah atas lebih tinggi dengan mengambil lebih banyak kursus persiapan perguruan tinggi matematika, dan bahasa asing.

KESIMPULAN

Penelitian ini mengonfirmasi bahwa terdapat korelasi negatif antara urutan kelahiran dan pencapaian pendidikan. Penelitian ini juga menegaskan bahwa efek urutan kelahiran yang dialami oleh individu dalam satu generasi tidak diwariskan kepada anak mereka pada generasi setelahnya. Selanjutnya, penelitian ini menyajikan bukti tentang aspek lain yang berkaitan dengan urutan kelahiran, yaitu ekspektasi orang tua serta upaya dan kemampuan anak sendiri. Ternyata, orang tua memiliki ekspektasi yang lebih tinggi pada anak pertama dibandingkan anak yang lebih muda. Selain itu, peneliti menemukan bahwa anak pertama lebih banyak mengikuti kursus persiapan perguruan tinggi, matematika, dan bahasa asing untuk mempersiapkan kuliah selama berada di sekolah menengah atas.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in