Relative Income, Suicidal Ideation, and Life Satisfaction: Evidence from South Korea

Penulis             : Kang, Songman; Lim, Soo Hwan

Publisher         : Hitotsubashi University

Jurnal               : Hitotsubashi Journal of Economics

Diulas oleh      : Zhalza Septya Dewi

Pendahuluan

Kebahagiaan dan kepuasan hidup seseorang tentu saja dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah pendapatan. Seseorang dengan pendapatan yang lebih tinggi cenderung lebih bahagia dibandingkan orang-orang lainnya (Blanchflower dam Oswald 2004; Frijters, Haisken-DeNew, dan Shields 2004; Gardner dan Oswald 2007). Di sisi lain, Easterlin (1995) menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi di berbagai negara maju tidak diiringi dengan kenaikan tingkat kepuasan hidup secara agregat. Penjelasan yang memungkinkan terkait paradoks ini adalah kepuasan hidup seseorang bergantung pada pendapatan absolut maupun pendapatan relatif seseorang. Beberapa peneliti berusaha menguji hipotesis ini. Hasilnya, kebahagiaan individu meningkat terhadap pendapatannya sendiri, tetapi menurun terhadap pendapatan orang lain (Clark and Oswald 1996; McBride 2001; Blanchflower and Oswald 2004; Ferrer-i-Carbonell 2005; Luttmer 2005).

Namun, penelitian-penelitian tersebut menggunakan data self-report terkait tingkat kebahagiaannya. Alhasil, berbagai masalah muncul terkait penggunaan data survei yang subjektif yang berpotensi membuat data tersebut tidak bisa digunakan dan diinterpretasikan secara langsung (Bertrand and Mullainathan 2001). Untuk mengatasi hal tersebut, tingkat bunuh diri dapat digunakan sebagai indikator alternatif. Aksi bunuh diri dianggap sebagai indikator yang lebih objektif dibanding tingkat kepuasan hidup yang dilaporkan sendiri. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha menguji hipotesis pendapatan relatif melalui hubungan empiris antara pendapatan teman sebaya, pemikiran bunuh diri, dan kepuasan hidup di Korea Selatan.

Data dan Metodologi

Peneliti menggunakan data dari Korea Welfare Panel Study (KOWEPS) dengan sampel berisi 8.456 orang yang berusia 25-64 tahun pada 2011 yang kemudian diamati hingga 4 tahun berikutnya. Variabel dependen yang digunakan adalah apakah responden memiliki pemikiran untuk bunuh diri selama 12 bulan terakhir. Selain itu, peneliti menggunakan data self-report terkait kepuasan hidup sebagai variabel hasil tambahan. Kepuasan hidup diukur berdasarkan skala 1 (terendah) hingga 5 (tertinggi). Kemudian, peneliti mengukur pendapatan individu berdasarkan data pendapatan rumah tangganya dibagi dengan akar dari jumlah anggota rumah tangga. Adapula variabel untuk data karakteristik individu, seperti usia, jenis kelamin, dan jumlah kunjungan berobat responden ke rumah sakit dalam setahun sebagai variabel kontrol dalam penelitian ini.

Dalam mengamati hubungan antara pendapatan relatif, pemikiran bunuh diri, dan kepuasan hidup, peneliti mengestimasi regresi fixed-effect melalui Ordinary Least Square (OLS). Peneliti menggunakan data rata-rata pendapatan disposabel teman sebaya sebagai variabel penjelas utama. Dalam hal ini, teman sebaya adalah individu-individu yang memiliki jenis kelamin yang sama, berasal dari daerah yang sama, dan berasal dari kelompok umur yang sama (dalam perbedaan usia 2 tahun). Selain itu, fixed-effect dari individu, daerah, dan tahun juga diperhitungkan sebagai karakteristik spesifik yang tidak dapat diamati. Peneliti juga menggunakan bobot sampling yang disediakan oleh KOWEPS untuk mengoreksi heteroscedacity dan permasalahan sampling.

Hasil Penelitian

Tabel 1. Efek Pendapatan Relatif Terhadap Pemikiran Bunuh Diri dan Kepuasan Hidup

Dalam kolom pertama dan kolom kedua di Tabel 1, peneliti menggunakan pemikiran bunuh diri sebagai variabel terikat. Pada kolom pertama, peneliti mengamati hubungan antara pemikiran bunuh diri, pendapatan teman sebaya, dan pendapatan individu dengan mengontrol karakteristik individu sekaligus fixed-effect dari tahun dan daerah. Sedangkan pada kolom kedua, peneliti menambahkan fixed-effect individu sebagai variabel kontrol. Hasil menunjukkan bahwa risiko pemikiran bunuh diri berkurang terhadap kenaikan pendapatannya dan bertambah pada kenaikan pendapatan teman sebayanya. Namun, estimasi efek pendapatan teman sebaya menjadi tidak signifikan pada saat fixed-effect individu dikontrol. Selain itu, beberapa kovariat mengalami perubahan tanda koefisien atau berubah menjadi tidak signifikan. Hal tersebut dapat terjadi karena self-selection bias ataupun variasi yang rendah dalam karakteristik tersebut di antara para individu.

Pada kolom ketiga dan keempat, peneliti mengulangi analisis regresi dengan menggunakan tingkat kepuasan hidup sebagai variabel terikat. Konsisten dengan hasil pada kolom 1 dan 2, kepuasan hidup secara signifikan meningkat terhadap peningkatan pendapatan individu dan berkurang terhadap peningkatan pendapatan teman sebaya. Sama seperti sebelumnya, ketika fixed-effect individu dikontrol, tingkat signifikansi efek keduanya berkurang. Namun, berbeda dengan kolom 2, pada kolom 4 hasil regresi menggunakan pendapatan teman sebaya hanya sedikit signifikan (p=0.056).

Secara garis besar, hasil penelitian konsisten terhadap penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pendapatan pribadi dan pendapatan teman sebaya merupakan prediktor penting dalam kepuasan hidup seseorang. Hasil pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa pendapatan teman sebaya berkorelasi kuat dengan kepuasan hidup, tetapi efeknya pada pemikiran bunuh diri relatif kecil, khususnya ketika fixed-effect individu dikontrol. Hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa pemikiran bunuh diri dipengaruhi berbagai karakteristik individu yang tidak terkait dengan pendapatan relatif.

Lebih lanjut, peneliti berusaha mengamati hubungan pendapatan individu dan pendapatan relatif pada berbagai tingkat pendapatan. Datadari KOWEPS membagi tingkat pendapatan menjadi 5 grup, yaitu rendah, menengah kebawah, menengah, menengah keatas dan tinggi berdasarkan pandangan responden. Selanjutnya, peneliti mengelompokkan tingkat pendapatan menjadi 2, yakni di bawah menengah, dan menengah atau lebih.

Tabel 2. Dampak Pendapatan Relatif Terhadap Pemikiran Bunuh Diri dan Kepuasan Hidup Berdasarkan Tingkat Pendapatan Menurut Responden

Hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa efek pendapatan teman sebaya beragam di berbagai tingkat pendapatan. Dua kolom pertama menunjukkan bahwa pendapatan teman sebaya berkorelasi kuat pada kelompok pendapatan di bawah menengah, baik pada kepuasan hidup maupun pemikiran bunuh diri. Namun, dua kolom terakhir menunjukkan bahwa efek dari pendapatan teman sebaya relatif rendah dan tidak signifikan pada kelompok pendapatan menengah ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang memandang pendapatan mereka relatif rendah cenderung terdampak lebih kuat terhadap efek pendapatan relatif.

Kesimpulan

Pada penelitian ini, peneliti mengamati hubungan antara pendapatan relatif, pemikiran bunuh diri, dan kepuasan hidup di Korea Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan teman sebaya berkorelasi negatif signifikan terhadap kepuasan hidup. Namun, efeknya terhadap pemikiran bunuh diri relatif rendah dan tidak signifikan. Peneliti juga menemukan bahwa pendapatan teman sebaya memiliki efek yang beragam di berbagai tingkat pendapatan, di mana dampak dari pendapatan relatif terbukti lebih kuat pada kelompok berpendapatan rendah terhadap pemikiran bunuh diri maupun tingkat kepuasan hidup.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in