Paying for Kidneys? A Randomized Survey and Choice Experiment

Author            : Julio J. Elias, Nicola Lacetera, dan Mario Macis

Jurnal             : American Economic Review 2019, 109(8): 2855-2888

Diulas oleh    : Pricilia Meidy Winengko

PENDAHULUAN

Empat setengah tahun merupakan waktu yang dibutuhkan untuk menunggu hingga mendapatkan donor ginjal, organ tubuh dengan kebutuhan transplantasi terbesar pada tahun 2018. Selisih waktu yang cukup lama itu membuat kematian ribuan orang tak terhindarkan sebagaimana kesehatan mereka menjadi menurun drastis. Bahkan, dari segi ekonomi, biaya yang ditimbulkan akibat tidak cukupnya suplai donor ginjal mencapai $3 miliar setiap tahun. Karena besarnya permintaan donor ginjal yang selalu tidak tercukupkan, muncul suatu wacana kebijakan untuk melegalisasi pembayaran atas donor ginjal yang hingga saat ini masih ilegal di negara manapun (Becker dan Elias, 2007; Held, dkk. 2016; dan Satel 2006).

Namun, wacana kebijakan ini mendapat kritik keras dari pihak oposisinya sebagaimana muncul permasalahan etis terkait legalisasi pembayaran atas donor ginjal, yaitu spesifiknya dari segi eksploitasi terhadap pendonornya, pemaksaan berupa kekerasan (koersi), hingga tindakan sewenang-wenang terhadap kaum yang lemah untuk mendonorkan ginjal mereka (undue influence). Selain itu, muncul kekhawatiran lainnya, seperti legalisasi pembayaran akan menodai martabat luhur manusia maupun nilai sakral (norma) lainnya yang berlaku di masyarakat. Dengan mempertimbangkan dari segi pro dan kontra yang disebabkan oleh kebutuhan yang tinggi akan donor ginjal, penelitian ini bertujuan untuk melihat persepsi masyarakat Amerika terkait kebijakan ini dengan mengadakan survei acak dan eksperimen pilihan.

DATA DAN METODOLOGI

Peneliti menggunakan survei acak dan eksperimen terbatas (memilih sampel yang akan diuji dan memberikan insentif kepada sampel tersebut) yang diadakan melalui perusahaan survei online (Qualtricts) dengan jumlah sampel 2.666 warga Amerika berusia dewasa yang dilakukan dari 15 November – 7 Desember 2017. Peneliti kemudian menyampaikan 8 fitur dalam kebijakan alternatif terkait donor ginjal yang ditinjau berdasarkan aspek:

  1. Pembayaran: tunai atau nontunai. Seandainya responden memilih tunai, maka pendonor ginjal akan menerima sejumlah deposito ke akun banknya. Sementara apabila memilih nontunai, maka pendonor dapat memilih pengurangan pajak, tuition vouchers, penebusan utang, atau pembayaran dana pensiun.
  2. Identitas dari pembayar: penerima organ atau pemerintah. Jika pemerintah yang membayar donor ginjal, pendonor akan menerima kompensasi dari Departemen Kesehatan AS.
  3. Besar pembayaran atas donor ginjal: $30.000 atau $100.000.
  4. Pendirian responden: apakah akan memilih kebijakan legalisasi pembayaran donor ginjal (selanjutnya disebut kebijakan legalisasi untuk mempersingkat) atau tetap pada kebijakan sekarang. Dalam kebijakan ini, peneliti juga memberikan kasus kepada responden seandainya efektivitas dari kebijakan legalisasi dapat memenuhi 50-100% permintaan atas donor ginjal.
  5. Pandangan moral responden: setiap responden akan ditanyakan mengenai pandangan moral mereka terhadap kebijakan legalisasi dari beberapa aspek, yaitu (1) (seberapa) menguntungkan atau merugikan bagi pendonor, (ii) melindungi atau membatasi kebebasan individu, (iii) atas kesadaran sendiri atau paksaan orang lain, (iv) adil atau tidak bagi pasien, (v) adil atau tidak bagi pendonor, dan (vi) mendukung atau menodai martabat luhur manusia. Penilaian responden menggunakan likert scale dengan interval -10, +10.
  6. Kualitas dari jawaban: karena kebijakan alternatif saat ini tidak diakui secara legal, peneliti menggunakan modul yang dapat meningkatkan akurasi dari jawaban responden dengan mengestimasi seberapa penting topik survei tersebut dan seberapa signifikan jawaban responden terhadap kebijakan pemerintah yang sesungguhnya. Eksperimen donasi juga dilakukan oleh peneliti untuk melihat preferensi sesungguhnya dari responden terkait legalisasil.
  7. Moral foundations: dalam penelitian ini juga terdapat sebuah modul yang akan mengukur nilai-nilai dasar moral responden berdasarkan beberapa aspek, seperti kesetaraan, kebebasan, kerohanian, keadilan, dan sebagainya.
  8. Sosial-demografi: pencatatan informasi sosial dan demografis responden, seperti jenis kelamin, umur, pendapatan, dan sebagainya.

Model Kuantitatif Penelitian

 

 

Di mana melambangkan perubahan jumlah transplantasi ginjal setelah diberlakukan kebijakan legalisasi,   adalah nilai kepuasan dari sejumlah ketentuan teknis (fitur) pada kebijakan legalisasi. adalah perubahan kepuasan seiring dengan pertambahan suplai donor ginjal setelah kebijakan legalisasi. Syarat untuk dapat dikatakan responden menyetujui kebijakan legalisasi adalah ketika nilai utilitas () > 0. Responden dengan nilai dan   yang positif akan selalu memilih kebijakan legalisasi tidak peduli seberapa perubahan jumlah donor ginjal selepas kebijakan. Namun, jika nilai  < 0 dan nilainya cukup besar (secara mutlak), responden akan menolak kebijakan legalisasi (mengindikasikan penolakan yang kuat responden terkait fitur kebijakan).

Sementara jika <0 tetapi nilainya secara mutlak tidak besar, keputusan akhir responden tergantung dari seberapa peningkatan donor ginjal yang diciptakan oleh kebijakan legalisasi. Andaikan sebagai peningkatan minimum donor ginjal dari kebijakan legalisasi yang membuat tingkat kepuasan responden = 0 (artinya responden indiferen antara kebijakan legalisasi dan kebijakan sekarang), maka syaratnya nilai > untuk pendonor dapat menyetujui kebijakan alternatif. Namun, jika nilai dari dan  < 0 (artinya ketidakpuasan responden meningkat seiring pertambahan orang yang terlibat dalam legalisasi donor ginjal berbayar), ia akan selalu menolak kebijakan legalisasi. Sementara, jika < 0, sementara >0, nilai  yang melebihi peningkatan minimum sebesar akan membuat responden menolak kebijakan legalisasi.

HASIL PENELITIAN

Dampak dari Kenaikan Transplantasi Ginjal dan Karakteristik Kebijakan yang Dapat Mendukung Kebijakan Legalisasi Pembayaran Donor Ginjal

Tabel 1. Dampak dari Kenaikan Transplantasi Ginjal dan Fitur Teknis yang Mendukung Kebijakan Legalisasi

Tabel di atas menyatakan hasil estimasi penelitian menggunakan model regresi dengan indikator = 100 jika responden memilih kebijakan alternatif pada peningkatan transplantasi ginjal tertentu dan 0 jika sebaliknya. Variabel pada bagian tabel kanan menunjukkan peningkatan transplantasi ginjal yang diukur dalam poin terhadap jumlah transplantasi ginjal saat ini (tanpa pemberlakuan kebijakan) setiap tahunnya serta variabel lainnya yang telah disebutkan di atas sebagai fitur dari kebijakan alternatif, seperti besar pembayaran (1 untuk $100.000 dan 0 untuk $30.000), cara pembayaran (1 untuk tunai dan 0 untuk nontunai), dan identitas dari pihak yang membayar (1 untuk penerima organ dan 0 untuk pemerintah). Peneliti juga mengestimasi hasil interaksi antara fitur dan peningkatan transplantasi ginjal serta menggunakan variabel sosio-demografis sebagai variabel kontrol.

Hasil menunjukkan bahwa baik fitur dari kebijakan legalisasi dan dampaknya terhadap jumlah transplantasi ginjal memiliki dampak yang positif (mendukung) implementasi kebijakan legalisasi. Secara rata-rata, setiap kenaikan 10% jumlah transplantasi ginjal akan menyebabkan peningkatan 2,56% pada kebijakan legalisasi (kolom 1 dan 2). Dari segi identitas pihak yang membayar, ternyata hasil penelitian lebih tinggi 15-16% jika penerima organ yang membayar. Jadi, dampak dari identitas yang membayar terhadap peningkatan transplantasi ginjal adalah peningkatan sebesar 57% (15/0,256). Sementara dari segi cara dan jumlah pembayaran memiliki dampak yang tidak signifikan dalam mendukung kebijakan legalisasi.

Dampak dari Pertimbangan Moral Responden terhadap Kebijakan Legalisasi Pembayaran Donor Ginjal

Dalam analisis kedua ini, peneliti menggunakan faktor nilai-nilai dasar moral dalam pengaruhnya terhadap kebijakan legalisasi. Nilai yang positif menandakan responden setuju apabila kebijakan legalisasi bertentangan dengan prinsip moral, sementara nilai negatif menandakan sebaliknya.

Hasil menunjukkan secara keseluruhan dampak dari transplantasi negatif dan signifikan terhadap pertimbangan moral. Pembayaran tunai secara signifikan  menyebabkan masalah moral meskipun tidak signifikan pada komponen undue influence. Pembayaran oleh penerima donor justru meningkatkan kecurigaan bahwa keputusan pendonor tidak sepenuhnya sukarela, sistem cenderung tidak adil bagi pasien, menyebabkan undue influence, dan menodai martabat luhur manusia. Sementara dari segi besarnya pembayaran, faktor tersebut secara signifikan tidak adil bagi penerima donor.

Dampak dari Nilai-nilai Moral Tertentu terhadap Dukungan Kebijakan Legalisasi Pembayaran Donor Ginjal

Selanjutnya, peneliti melakukan spesifikasi terhadap nilai-nilai moral tertentu yang dianggap umum sebagai alasan mengapa banyak orang menolak kebijakan legalisasi. Karena penilaian moral bersifat subjektif, maka hasil penelitian di atas hanya bisa diinterpretasikan sebagai korelasi antara satu sama lain. Hasilnya, jumlah kenaikan transplantasi masih memiliki dampak yang positif terhadap dukungan kebijakan legalisasi, tetapi marginal effect-nya terus menurun dari 0,2 hingga 0,14-0,15, yang menandakan pertimbangan moral juga merupakan faktor krusial bagi responden dalam menyatakan dukungannya terhadap kebijakan legalisasi. Selain itu, masih terdapat dampak negatif dari identitas pihak yang membayar meskipun telah mempertimbangkan prinsip moral. Di samping itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa responden khawatir pembayaran oleh penerima donor akan tidak adil bagi penerima donor (bandingkan hasil di kolom 3 dan kolom 4 untuk variabel ‘Recipient pays’).

Terakhir, hasil dari kolom 9 digunakan untuk membandingkan dampak keseluruhan dari jumlah suplai donor ginjal dan pertimbangan moral. Salah satu contoh interpretasinya adalah peningkatan 0,22 standar deviasi dari nilai prediksi komponen pokok dari pertimbangan moral (contohnya rata-rata perbedaan antara komponen dasar antara sistem jika dibayar pemerintah dan penerima donor) mengurangi secara keseluruhan dukungan terhadap kebijakan legalisasi sebesar  5,28% (0,22 x 24). Dengan kata lain, satu orang mewakili tambahan dukungan untuk kebijakan legalisasi yang meningkatkan suplai donor ginjal sebesar 5,28/0,14 = 38%.

Uji Eksperimen Donasi untuk Melihat Dukungan Responden terhadap Kebijakan Legalisasi Pembayaran Donor Ginjal

Terakhir, peneliti ingin melihat pilihan responden dalam uji eksperimen berbasis insentif yang dilakukannya. Berdasarkan hasil tabel di atas, tergambarkan konsistensi yang kuat antara preferensi dan pertimbangan moral responden dalam menentukan pilihannya pada uji eksperimen donasi. Kolom 1 hingga 3 mencakup hasil uji regresi untuk berdonasi ke American Transplant Foundation (ATF). Satu-satunya variabel pada kolom 1 adalah indikator yang menyatakan apakah responden menerima modul moral. Hasilnya, orang-orang dengan nilai moral lebih rendah cenderung berkemungkinan lebih tinggi untuk berdonasi ke ATF, organisasi yang memfokuskan pada semua donor organ, sementara berkebalikan dengan hasil donasi kepada National Kidney Foundation (NKF) pada kolom 4-6, ternyata orang-orang dengan nilai moral lebih tinggi berkemungkinan lebih tinggi untuk berdonasi ke NKF. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa meskipun kebijakan legalisasi memiliki banyak keuntungan, kebijakan ini mendapat kritik keras dari sisi moral sehingga menurut persepsi warga Amerika, kebijakan ini hanya tepat jika dilakukan khusus untuk donor organ ginjal.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, tingkat kesetujuan responden terhadap implementasi kebijakan legalisasi pembayaran donor ginjal tergantung dari fitur atau teknis dari implementasi kebijakan tersebut (cara pembayaran, siapa yang membayar, dan berapa jumlah pembayarannya) serta terhadap pertimbangan moral berdasarkan aspek-aspek, yakni eksploitasi kepada pendonor, ancaman terhadap kebebasan memilih setiap individu, pemaksaan dari seseorang kepada individu (undue influence), keadilan bagi pendonor, keadilan kepada pasien, dan dampaknya ke martabat luhur manusia. Secara garis besar, kebijakan legalisasi yang meningkatkan suplai donor ginjal akan meningkatkan dukungan terhadap kebijakan ini, tetapi apabila implementasi kebijakan ini kelak menggunakan cara pembayaran tunai, dibayar oleh penerima donor, dan jika besar pembayaran $100.000, fitur tersebut secara moral dipandang tidak etis sehingga tidak direkomendasikan.

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in