Quarantine 101: Life in Global Pandemic

Introduction

Pandemi COVID-19 membuat banyak negara menerapkan kebijakan physical distancing, bahkan lockdown. Walaupun Indonesia tidak mengimplementasikan lockdown, Indonesia merupakan salah satu negara yang melaksanakan kebijakan physical distancing (CNN, 2020). Berdasarkan kebijakan tersebut, Universitas Indonesia (UI) mengambil langkah dengan memulangkan mahasiswanya ke daerah asal (Surat Edaran Nomor SE-703/UN2.R/OTL.09/2020). Oleh karena itu, mahasiswa UI dapat melakukan karantina mandiri di rumahnya masing-masing. Untuk mengisi waktu luang mereka ketika karantina, mahasiswa dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti bermain sosial media dan menonton film.

Namun, ternyata, karantina dapat menimbulkan biaya sosial, psikologis, dan ekonomi yang signifikan (Day, Troy, et al, 2006). Selain itu, salah satu konsekuensi penting dari karantina adalah perubahan gaya hidup, yaitu berkurangnya aktivitas fisik (Mattioli, Anna Vittoria, et al., 2020). Apakah hal tersebut juga berlaku pada mahasiswa UI? Berdasarkan permasalahan tersebut, Divisi Penelitian KANOPI FEB UI ingin mengetahui aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa UI dan permasalahan psikologis, serta perubahan dalam beberapa aspek lainnya yang dialami mahasiswa ketika karantina mandiri. Mari simak pembahasannya dalam Primera kali ini!

Data and Methodology

Data dalam penelitian ini adalah 428 responden yang terdiri atas 168 laki-laki dan 260 perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner dalam media Google Form kepada ketiga rumpun ilmu di Universitas Indonesia, yaitu Rumpun Ilmu Kesehatan, Rumpun Ilmu Sains dan Teknologi, Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora, serta Vokasi. Jumlah responden dalam masing-masing rumpun adalah 147, 92, 178, dan 11 responden secara berturut-turut. Responden tersebar pada angkatan 2016 – 2019 dengan rentang usia 17 – 23 tahun dan berbagai tingkat pengeluaran. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan t-test. Data dalam penelitian disajikan dalam skala rumpun dan fakultas.

Do We Care about Our Environment?

Bagian I menunjukan tingkat kesadaran lingkungan per rumpun selama masa pandemi. Grafik 1 memperlihatkan bahwa tingkat kesadaran mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan (4.459) dan Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora (4.433) lebih tinggi dibandingkan rata-rata keseluruhan (4.361). Hal tersebut menunjukan bahwa mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan dan Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora relatif lebih peduli terhadap lingkungan dibandingkan rumpun lainnya. Sedangkan, tingkat kesadaran lingkungan terendah terdapat pada mahasiswa Vokasi.

Lebih lanjut, survei dari Food Dive (2020) menemukan bahwa jumlah konsumen yang mempertimbangkan lingkungan saat melakukan pembelian telah meningkat sebesar 12% dibandingkan tahun lalu. Survei tersebut diperkuat oleh penelitian dari Kearney (2020) mengungkapkan bahwa 48 persen responden mengatakan pandemi membuat mereka lebih peduli terhadap lingkungan dan 55 persen responden mengatakan bahwa mereka lebih mungkin untuk membeli produk ramah lingkungan sebagai akibat dari pandemi COVID-19.

Grafik 1. Tingkat Kesadaran Lingkungan Per Rumpun

Am I Depressed?

Bagian II ingin membuktikan apakah mahasiswa UI mengalami gangguan psikologis, berupa depresi selama masa pandemi. Kuesioner disusun berdasarkan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) yang berfungsi untuk mendeteksi risiko depresi. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa UI mengalami moderate depression (Grafik 2). Tingkat kesehatan mental moderate depression memiliki sensitivitas 88% dan spesifisitas 88% untuk depresi berat (Kroenke, K., Spitzer, R. L., & Williams, J. B, 2001). Oleh karena itu, mahasiswa UI diharapkan lebih memperhatikan kesehatan mentalnya dengan merencanakan perawatan, mempertimbangkan konseling, tindak lanjut dan/atau farmakoterapi (Kroenke, K., Spitzer, R. L., & Williams, J. B, 2001).

Grafik 2. Tingkat Kesehatan Mental Per Rumpun

Lebih lanjut, ternyata, fakultas dengan tingkat depresi tertinggi adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), diikuti dengan Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK), Vokasi, Fakultas Hukum (FH), dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Uniknya, fakultas dengan tingkat depresi terendah adalah Fakultas Psikologi (FPsi) dengan persentase hanya 3.13%. Hasil tersebut didapat berdasarkan self-report mahasiswa yang mengisi kuesioner. Namun demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai tingkat kesehatan mental mahasiswa UI.

Grafik 3. Persentase Self-Report Kesehatan Mental Per Fakultas

When Will the Coronavirus Pandemic End?

Bagian III mengungkapkan mengenai ekspektasi mahasiswa UI terhadap pandemi COVID-19. Grafik 4 menunjukkan bahwa mahasiswa Rumpun Ilmu Sains dan Teknologi dan Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora relatif pesimis mengenai pemulihan pandemi COVID-19. Rata-rata mahasiswa Rumpun Ilmu Sains dan Teknologi berekspektasi bahwa COVID-19 akan berakhir 4.85 bulan dari sekarang. Sedangkan, ekspektasi rata-rata mahasiswa Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora adalah 5.06 bulan dari sekarang. Kemudian, mahasiswa Vokasi merupakan mahasiswa teroptimis dengan ekspektasi pemulihan COVID-19 sebesar 2.36 bulan dari sekarang. Secara keseluruhan, mahasiswa UI percaya bahwa COVID-19 akan berakhir 4.39 bulan dari sekarang. Sementara itu, berdasarkan riset Singapore University of Technology and Design (SUTD), pandemi COVID-19 di Indonesia berakhir 7 Oktober 2020 atau 6 bulan dari sekarang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa UI relatif cukup optimis mengenai pemulihan COVID-19.

Grafik 4. Kepercayaan Responden tentang Kapan COVID-19 Berakhir

Selanjutnya, mayoritas mahasiswa UI percaya bahwa setelah pandemi COVID-19, akan terjadi gejala kemiskinan dan kelaparan. Selain itu, mereka percaya bahwa akan terjadi kelangkaan barang setelah pandemi COVID-19. Uniknya, mahasiswa UI cukup optimis mengenai pencarian atau penciptaan pekerjaan setelah pandemi COVID-19.  Hal tersebut terlihat dari rata-rata yang cukup rendah dibanding kategori lainnya.

Grafik 5. Tingkat Kepercayaan Responden Mengenai Kondisi Setelah Pandemi COVID-19

Lebih lanjut, sebagian besar mahasiswa UI menganggap bahwa pandemi COVID-19 akan bertahan lama karena kurangnya kesadaran dalam melaksanakan himbauan pemerintah. Mereka juga percaya mengenai faktor egoisme pasien positif yang cenderung menutupi status dan jejak perjalanan, serta faktor pemerintah yang kurang siap dalam mitigasi pandemi COVID-19. Hal menarik lainnya adalah sebesar 27.57% mahasiswa percaya bahwa teguran Yang Maha Kuasa menyebabkan pandemi COVID-19 akan bertahan cukup lama.

Grafik 6. Tingkat Kesetujuan Responden Mengenai Penyebab Pandemi COVID-19 akan Bertahan Cukup Lama

Am I Online Shopping A Lot During Quarantine?

Grafik 7. Rata-rata Frekuensi Belanja Secara Online Selama Masa Pandemi

Bagian IV membahas mengenai perilaku ekonomi mahasiswa UI selama karantina mandiri. Ternyata, rata-rata frekuensi belanja online meningkat pada mahasiswa di semua rumpun seperti yang terlihat pada Grafik 7. Peningkatan rata-rata frekuensi belanja online diperjelas dengan pengujian t-test yang signifikan di tingkat 5% pada Rumpun Ilmu Kesehatan dan Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora. Meningkatnya rata-rata frekuensi belanja online mungkin terjadi karena terdapat peningkatan diskon dan promo ketika masa pandemi COVID-19. Peningkatan rata-rata frekuensi belanja online ini sejalan dengan perilaku konsumen dunia, volume transaksi e-commerce global telah mengalami kenaikan 74 persen di bulan Maret 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (ACI Worldwide, 2020). Selain itu, penelitian dari Criteo (2020) menunjukan hal yang sama.

Secara lebih spesifik, platform yang paling sering digunakan untuk berbelanja online oleh mahasiswa selama masa pandemi adalah Shopee (58,64%), kemudian diikuti oleh Tokopedia (23.36%) seperti yang terlihat pada Grafik 8. Lebih lanjut, Grafik 9 menunjukkan kategori barang yang banyak dibeli oleh mahasiswa selama masa pandemi, yakni makanan dan minuman (35.03%), peralatan kecantikan (32.71%), dan kesehatan (27.8%). Hal ini serupa dengan penuturan Direktur Shopee Indonesia, Handhika Jahja, yang dilansir melalui Antara News (2020) bahwa terdapat lonjakan pembelian di kategori Perlengkapan Rumah, Makanan dan Minuman, Kebutuhan Ibu dan Bayi, Kesehatan, Kecantikan, Pakaian Muslim, serta Perlengkapan Dapur dalam platform Shopee selama pandemi ini.

Grafik 8. Jenis Platform Untuk Berbelanja Secara Online Selama Masa Pandemi

Grafik 9. Kategori Barang Yang Dibelanjakan Secara Online Selama Masa Pandemi

Selain peningkatan belanja online, ternyata terjadi penurunan rata-rata frekuensi belanja makanan secara online (food delivery) pada semua rumpun. Hal tersebut dapat dilihat dalam Grafik 10. Penurunan rata-rata frekuensi food delivery diperjelas dengan pengujian t-test yang signifikan di tingkat 5% pada semua rumpun kecuali Vokasi. Rata-rata frekuensi food delivery yang menurun mungkin terjadi karena mahasiswa yang merantau sudah kembali ke rumah masing-masing sehingga tidak memerlukan food delivery. Adapun hasil yang ditunjukkan pada penelitian ini berbeda dengan pernyataan serupa oleh Tri Sukma Anreianno selaku Head of Public Affairs Grab Indonesia yang mengatakan bahwa walaupun sektor transportasi Grab menurun, tetapi sektor pengiriman logistik dan food delivery masih cukup baik, mengingat sampel pada penelitian ini hanya terbatas pada mahasiswa UI.

Selain Indonesia, data SimilarWeb dalam VentureBeat (2020) menunjukkan bahwa Just Eat dan Uber Eats di Prancis, Spanyol, dan Inggris mengalami penurunan rata-rata pengguna harian berkisar antara 2% hingga 23% pada bulan Maret dibandingkan bulan Januari dan Februari. Selain itu, Deliveroo juga mengalami penurunan di Perancis dan Spanyol, meskipun peningkatan kecil terjadi di Inggris.

Grafik 10. Rata-rata Frekuensi Belanja Makanan Online Selama Masa Pandemi

Selanjutnya, aktivitas yang dilakukan oleh mayoritas mahasiswa selama pandemi adalah bermain sosial media, rebahan, dan menonton film. Namun, aktivitas fisik, seperti workout hanya dilakukan oleh 41.82% mahasiswa. Padahal, aktivitas fisik merupakan aktivitas yang cukup penting dalam masa pandemi ini. Kurangnya waktu melakukan aktivitas fisik dapat menimbulkan risiko penyakit kardiovaskular (gangguan pada jantung dan pembuluh darah), khususnya ASCVD (Atherosclerotic Cardiovascular Disease) (Mattioli, Anna Vittoria, et al., 2020). Maka dari itu, mahasiswa UI diharapkan tetap melakukan aktivitas fisik dalam bentuk olahraga atau workout selama masa pandemi ini.

Grafik 11. Aktivitas yang Sering Dilakukan oleh Mahasiswa Selama Pandemi COVID-19

Conclusion

Secara garis besar, hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas mahasiswa UI mengisi waktu luang semasa pandemi dengan bermain sosial media, rebahan, dan menonton film. Sangat disayangkan hanya sekitar 40% mahasiswa UI yang melakukan aktivitas fisik seperti workout semasa pandemi. Padahal, aktivitas fisik merupakan hal yang penting bagi tubuh. Selain itu, terjadi kenaikan rata-rata frekuensi berbelanja online serta penurunan rata-rata frekuensi food delivery pada mahasiswa UI selama pandemi. Selanjutnya, mahasiswa UI relatif cukup optimis mengenai pemulihan COVID-19 dengan rata-rata 4.39 bulan dari sekarang. Lebih lanjut, ternyata, berdasarkan PHQ-9, sebagian besar mahasiswa UI mengalami moderate depression pada masa karantina mandiri. Oleh karena itu, pandemi COVID -19 terbukti membawa pengaruh kedalam aspek-aspek dalam kehidupan kita, khususnya mahasiswa UI.

References

ACI Worldwide. (2020). COVID-19 Crisis Driving Changes in eCommerce Purchasing Behaviors, ACI Worldwide Research Reveals. https://www.aciworldwide.com/news-and-events/press-releases/2020/april/covid-19-crisis-drives-changes-in-ecommerce-sales-aci-worldwide-research-reveals. (Diakses pada 23 Mei 2020).

CNN Indonesia. (2020). Jokowi Ungkap Alasan Tak Tetapkan Lockdown Corona. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200324095851-20-486338/jokowi-ungkap-alasan-tak-tetapkan-lockdown-corona. (Diakses pada 26 Mei 2020).

Criteo. (2020). [RESEARCH] Social Distancing Economy 2020: What & How Consumers Buy in a New Normal. https://www.criteo.com/insights/coronavirus-retail-trends/. (Diakses pada 27 Mei 2020).

Day, T., Park, A., Madras, N., Gumel, A., & Wu, J. (2006). When is quarantine a useful control strategy for emerging infectious diseases?. American Journal of Epidemiology, 163(5), 479-485.

Devenyns, Jessi. (2020). Consumers still care about sustainability amid pandemic, report finds. https://www.fooddive.com/news/consumers-still-care-about-sustainability-amid-pandemic-report-finds/576682/. (Diakses pada 26 Mei 2020).

Eloksari, Eisya A., (2020). Ride-hailing apps rely on deliveries during pandemic. https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/03/ride-hailing-apps-rely-on-deliveries-during-pandemic.html. (Diakses pada 27 Mei 2020).

Kearney. (2020). As Earth Day turns 50, new Kearney research indicates COVID-19 has not reduced consumers’ demands for sustainable solutions. https://www.prnewswire.com/news-releases/as-earth-day-turns-50-new-kearney-research-indicates-covid-19-has-not-reduced-consumers-demands-for-sustainable-solutions-301045136.html. (Diakses pada 26 Mei 2020).

Kroenke, K., Spitzer, R. L., & Williams, J. B. (2001). The PHQ‐9: validity of a brief depression severity measure. Journal of general internal medicine, 16(9), 606-613.

Mason, Josephine. (2020). Online meal delivery market suffers due to coronavirus crisis. https://venturebeat.com/2020/04/08/online-meal-delivery-market-suffers-due-to-coronavirus-crisis/. (Diakses pada 26 Mei 2020).

Mattioli, A. V., Puviani, M. B., Nasi, M., & Farinetti, A. (2020). COVID-19 pandemic: the effects of quarantine on cardiovascular risk. European Journal of Clinical Nutrition, 1-4.

Meodia, Arindra. (2020). Tren belanja Shopee selama pandemi COVID-19 dan Ramadhan. https://www.antaranews.com/berita/1474785/tren-belanja-shopee-selama-pandemi-covid-19-dan-ramadhan. (Diakses pada 26 Mei 2020).

Singapore University of Technology and Design (SUTD). (2020). Indonesia. https://ddi.sutd.edu.sg/portfolio/items/444037 (Diakses pada 22 Mei 2020).

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in