Under the Weather: Health, Schooling, and Economic Consequences of Early-Life Rainfall

Penulis              : Sharon Maccini dan Dean Yang

Tahun                : 2009

Publisher         : American Economic Association

Jurnal               : American Economic Review

Diulas oleh      : Adho Adinegoro

PENDAHULUAN

Lahir di area pedesaan, terlebih di negara berkembang, tidak dapat dimungkiri lagi banyak dihantui oleh berbagai risiko, baik dari faktor kesehatan, ekonomi, sosial, dan juga alam. Kadang kala efek dari risiko ini dapat bertahan lama bahkan hingga individu yang lahir tersebut tumbuh dewasa. Mengulik bagaimana hal ini bisa terjadi tentunya menjadi sesuatu yang penting apalagi jika dilihat dari kacamata kebijakan publik. Hal ini disebabkan karena dengan itulah, intervensi yang tepat guna dan tepat sasaran dapat dijalankan. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba mencari tahu bagaimana suatu faktor tertentu yang terjadi pada saat seseorang lahir dapat menyebabkan efek jangka panjang pada hidupnya saat dewasa. Secara spesifik, peneliti ingin mengulik bagaimana dampak dari shock pada curah hujan yang terjadi pada saat seorang individu lahir dapat memengaruhi kehidupannya saat dewasa.

Dalam penelitian ini, sejatinya peneliti mendasarkan penelitiannya pada fungsi produksi kesehatan oleh Michael Grossman pada 1972 yang mengatakan bahwa kesehatan saat ini dipengaruhi oleh berbagai variabel, salah satunya endowment dari kesehatan itu sendiri, di mana endowment ini dipengaruhi juga oleh berbagai variabel, salah satunya merupakan kondisi lingkungan sekitar saat kelahiran. Dari hal tersebut, dapat terlihat suatu hubungan dalam bentuk yang direduksi antara kondisi lingkungan sekitar saat kelahiran dengan kondisi kesehatan saat ini. Lebih lanjut dengan mempertimbangkan shock curah hujan sebagai variabel kondisi lingkungan yang dimaksud, terlihat pula bahwasanya shock curah hujan merupakan shock yang bersifat positif untuk kasus Indonesia. Hal ini terlihat dari berbagai penelitian sebelumnya, seperti Levine dan Yang (2006) dan Kishore et al. (2000), yang membuktikan bahwasanya penyimpangan curah hujan dari rata-rata tingkat kabupaten secara positif terkait dengan penyimpangan panen beras dari rata-rata tingkat kabupaten di kabupaten pendesaan di Indonesia pada 1990-an. Dengan produktivitas yang meningkat ini, pada tahap selanjutnya, akan memengaruhi kondisi kesehatan dan nutrisi pada anak yang lahir khususnya di pedesaan, yang mana akan menjadi inti dari pembahasan jurnal ini.

DATA DAN METODOLOGI

Data penduduk yang digunakan terdiri atas 4.615 sampel wanita dan 4.217 sampel pria yang lahir pada rentang waktu 1953 hingga 1974 di 166 kabupaten pedesaan dari dataset Indonesian Family Life Survey (IFLS) ke-3. Selain itu, penulis juga menggunakan beberapa data kesehatan, seperti keluhan kesehatan, kapasitas paru-paru, tinggi badan, dan lama waktu seseorang sakit. Peneliti juga menggunakan data pendidikan berupa lama tahun bersekolah dan data ekonomi berupa indeks kepemilikan barang berharga atau asset. Lebih lanjut, terkait dengan data untuk variabel independen berupa curah hujan, penulis menggunakan data historis curah hujan yang terjadi di kabupaten-kabupaten tersebut dari data Global Historical Climatology Network (GHCN) untuk tahun 1953 – 1995 dan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk tahun 1976 – 1999.

Dalam meneliti hubungan antara curah hujan yang terjadi saat seseorang individu lahir dengan kondisi kehidupannya saat dewasa, peneliti menggunakan model fixed effect untuk menguji seberapa besar dampak shock curah hujan terhadap kondisi/status kehidupannya saat ini. Adapun peneliti mendefinisikan shock curah hujan didefinisikan sebagai besarnya penyimpangan curah hujan yang terjadi di suatu kabupaten relatif terhadap curah hujan rata-rata di kabupaten tersebut. Penulis juga mendefinisikan kondisi/status kehidupan saat ini yang dimaksud adalah besarnya penyimpangan indikator status relatif terhadap rata-rata dari indikator status tersebut berdasarkan kabupaten dan tahun.

HASIL PENELITIAN

Terlihat pada Tabel 2 di atas, terdapat hubungan positif dan signifikan untuk variabel-variabel, yakni keluhan status kesehatan sangat baik yang dilaporkan oleh responden, tinggi badan, lama waktu bersekolah. Terlihat pula hubungan negatif dan signifikan untuk variabel keluhan status kesehatan buruk atau sangat buruk yang dilaporkan oleh responden. Baik variabel yang bertanda positif maupun negatif, seluruh variabel ini hanya signifikan pada kelompok wanita. Hasil ini dapat diinterpretasikan bahwasanya peningkatan satu standar deviasi (atau saat curah hujan 0.2 poin log lebih tinggi dari rata-rata curah hujan) menyebabkan seseorang wanita untuk 2% (0.101 × 0.2) lebih cenderung memiliki kondisi kesehatan yang baik, 0.55 cm (2.832 × 0.2) badan yang lebih tinggi, 0.22 (1.086 × 0.2) waktu sekolah yang lebih lama, dan 0.175 (0.876 × 0.2) poin indeks kepemilikan barang berharga yang lebih tinggi. Hasil ini menunjukkan pula bahwasanya peningkatan satu standar deviasi dari curah hujan juga menyebabkan seorang wanita memiliki 3.8% (-0.192 × 0.2) kecenderungan yang lebih kecil untuk melaporkan status kesehatan yang buruk atau sangat buruk.

Selanjutnya, penulis ingin mengetahui apakah ada indikasi curah hujan yang terjadi sebelum dan sesudah tahun kelahiran seseorang ini memengaruhi temuan yang ada pada curah hujan yang terjadi pada tahun kelahiran seseorang. Rupanya, seperti terlihat pada Tabel 3 penulis tidak menemukan satu pun hasil yang signifikan pada tahun-tahun sebelum (Year -3, Year -2, dan Year -1) dan sesudah kelahiran seseorang (Year 1, Year 2, dan Year 3). Temuan ini semakin menegaskan bahwasanya curah hujan yang terjadi pada tahun kelahiran seseorang merupakan variabel penjelas utama dalam penelitian ini. Temuan yang tidak signifikan pada tahun-tahun sebelum kelahiran sekaligus mengonfirmasi bahwa gender bias memang terjadi di sebagian masyarakat Indonesia. Temuan yang tidak signifikan pada tahun-tahun setelah kelahiran juga mengonfirmasi bahwa dampak yang ada memang karena disebabkan kondisi lingkungan saat kelahiran dan masa pertumbuhan bayi, dan bukan karena faktor-faktor lain yang memengaruhinya saat beranjak dewasa.

Adapun penulis juga ingin melihat mekanisme apa yang dapat menjelaskan efek dari curah hujan ini terhadap status ekonomi seseorang yang diukur dari indeks kepemilikan barang berharga atau asset. Seperti terlihat pada Tabel 4, saat variabel-variabel data pendidikan ditambahkan, R2 meningkat lebih besar (dari 0.33 menjadi 0.48) daripada saat variabel-variabel data kesehatan ditambahkan (dari 0.33 menjadi 0.34). Hal ini menyiratkan bahwa aspek pendidikan merupakan aspek yang lebih baik dalam menjelaskan peningkatan status ekonomi seseorang, sebagaimana dijelaskan oleh penulis.

KESIMPULAN

Penelitian ini telah menunjukkan bagaimana dampak curah hujan yang terjadi pada tahun seseorang lahir terhadap kondisi kehidupan seseorang di masa yang akan datang di Indonesia. Dalam penelitian ini, curah hujan yang lebih tinggi dari normal berkorelasi positif pada banyaknya laporan status kesehatan yang baik, tinggi badan, lama waktu bersekolah, dan status ekonomi seseorang, Curah hujan yang lebih tinggi dari normal pun sebaliknya berkorelasi negatif pada banyaknya laporan status kesehatan yang buruk atau sangat buruk. Adapun dari temuan yang ada, seluruhnya hanya signifikan pada kelompok wanita, sehingga mengindikasikan gender bias yang terjadi di sebagian besar masyarakat Indonesia. Terkait dengan status ekonomi yang lebih di masa mendatang, aspek pendidikan dapat dikatakan menjadi faktor yang dapat menjelaskan lebih baik mengapa hal ini bisa terjadi dibandingkan aspek kesehatan. Temuan dari penelitian ini pun dapat menjadi justifikasi untuk dilakukan serangkaian intervensi kebijakan publik yang dapat melindungi kelahiran-kelahiran yang terjadi dari konsekuensi kesehatan akibat hal-hal tertentu.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in