Cash Transfers, Polygamy, and Intimate Partner Violance: Experimental Evidence from Mali

Penulis            : Rachel Heath, Melissa Hidrobo, dan Shalini Roy

Tahun              : 2019

Publisher       : Elsevier B.V.

Journal           : Journal of Development Economics

Diulas oleh    : Gilbert

PENDAHULUAN

Saat ini, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik secara fisik dan mental, telah banyak terjadi di berbagai negara (Devries et. al. 2013; WHO 2013). Dalam rangka mencegah hal tersebut, banyak negara telah mengimplementasikan bantuan tunai yang berfokus pada wanita. Hal ini ternyata mampu menurunkan tingkat KDRT hingga 5-11% secara rata-rata. Kebijakan tersebut efektif karena beberapa sebab, yaitu peningkatan kontrol emosi, penghindaran konflik, dan pemberdayaan wanita (Buller et. al. 2018). Namun, hal ini mungkin saja berbeda jika diberlakukan kepada keluarga yang menjalani poligami. Suami yang memiliki istri lebih dari satu tentunya memiliki tingkat konflik dan emosi yang berbeda.

Melihat kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak program bantuan tunai terhadap struktur keluarga monogami dan poligami. Penelitian dilakukan di Jigisemejiri, Mali, di mana program tersebut justru berfokus pada kepala keluarga (laki-laki), ditambah kenyataan sekitar 40% keluarga di Jigisemijiri merupakan keluarga poligami.

Mali menjadi negara yang tepat sebagai lokasi penelitian karena Mali menempati posisi keempat paling diskriminatif terhadap gender di dunia (Social Institutions & Gender Index 2014). Selain itu, Mali memiliki tingkat KDRT yang sangat tinggi, dimana 4 dari 10 wanita usia 15-49 tahun yang telah menikah mengalami kekerasan fisik. Dalam hal poligami, berdasarkan data dari Demographic and Health Survey (DHS) 2012, sekitar 35% wanita menikah berusia 15-49 tahun tergabung dalam keluarga poligami dan 19% dari laki-laki menikah berusia 15-49 tahun memiliki paling sedikit dua istri.

PROGRAM BANTUAN TUNAI

Pemerintah Mali secara resmi mengeluarkan program “Programme de Filets Sociaux (Jigisemejiri)” pada 2014. Program tersebut sejatinya bertujuan untuk menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan akumulasi human capital. Program ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: program bantuan tunai, pelatihan, dan paket nutrisi. Program bantuan tunai diberikan setiap 3 bulan sekali sebesar USD 18,02 per bulan atau 9% dari total konsumsi keluarga. Program bantuan tersebut diberikan kepada keluarga yang telah memenuhi kriteria dan ditargetkan kepada kepala keluarga. Program pelatihan dilakukan secara bebas dan tidak terikat hanya pada kepala keluarga. Sedangkan, program paket nutrisi belum dijalankan.

METODOLOGI

Penelitian menggunakan randomized control trial, di mana masyarakat dibagi menjadi dua kelompok (treatment dan control). Control Group terdiri dari 20 kelompok masyarakat yang dua tahun pertama tidak mendapatkan program bantuan tunai. Sedangkan, pada treatment group, terdapat 76 kelompok masyarakat yang mendapatkan program bantuan tunai sejak awal. Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap: (1) tahap pertama pada September 2014 hingga Februari 2015 (saat treatment group pertama kali mendapatkan bantuan), dan (2) tahap kedua pada Agustus 2016 hingga November 2016 (saat control group pertama kali mendapatkan bantuan). Dalam pengumpulan data pertama, peneliti berhasil mengumpulkan 2.560 keluarga, dimana 2.446 keluarga berhasil disurvei ulang pada tahap kedua.

HASIL PENELITIAN

Tabel 3 di bawah menunjukkan dampak yang terjadi pada tingkat KDRT rata-rata keluarga monogami dan poligami setelah adanya program bantuan tunai. Dapat terlihat bahwa sebelum adanya program tersebut, tingkat KDRT berkorelasi positif dengan poligami. Hal ini sesuai dengan studi-studi sebelumnya yang menyatakan bahwa ada kecenderungan tingkat KDRT lebih tinggi di keluarga poligami.

Lebih lanjut, setelah diberlakukannya program bantuan tunai, tidak terjadi penurunan yang signifikan pada kekerasan fisik secara umum. Namun, terjadi penurunan yang signifikan pada kekerasan emosional dan risiko terjadinya KDRT (masing-masing sebesar 6%). Uniknya, pada keluarga monogami, program bantuan tunai tersebut tidak memberikan dampak penurunan yang signifikan pada setiap jenis KDRT manapun. Pola penurunan signifikan justru terjadi pada keluarga poligami. Pada keluarga poligami, program bantuan tunai mampu menurunkan kekerasan fisik (7,2%), kekerasan emosional (12,6%), dan risiko KDRT (16,1%).

Penelitian ini juga berusaha melihat dampak program bantuan tunai tersebut pada keluarga poligami, khususnya istri pertama dan istri kedua (dan seterusnya). Berdasarkan Tabel 5, terlihat bahwa penurunan tingkat KDRT setelah program bantuan tunai lebih besar pada pada istri kedua (dan seterusnya) daripada istri pertama. Pada istri pertama, tidak dijumpai adanya penurunan signifikan pada kekerasan fisik dan emosional, kecuali penurunan pada risiko KDRT (13,8%). Sedangkan, pada istri kedua (dan seterusnya), penurunan signifikan dijumpai pada kekerasan fisik, kekerasan emosional, dan risiko KDRT.

MEKANISME

Penurunan yang telah dideskripsikan tersebut bukanlah tanpa alasan. Peneliti menemukan bahwa secara umum, program bantuan tunai (walaupun ditargetkan pada kepala keluarga) akan meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga dan meningkatkan kesehatan emosional laki-laki sebagai kepala keluarga. Lebih lanjut, tidak ditemukan adanya perbedaan antara monogami dan poligami dalam peningkatan kemampuan ekonomi dan kesehatan emosi. Peneliti juga menemukan bahwa laki-laki di keluarga poligami mengalami penurunan stress yang lebih tinggi ketimbang laki-laki di keluarga monogami. Hal ini disebabkan oleh adanya bantuan tunai, laki-laki sebagai kepala keluarga merasa dibantu untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Selain itu, program bantuan tunai ternyata memengaruhi kualitas hubungan suami-istri. Pada keluarga poligami, program bantuan tunai dapat membantu menurunkan perselisihan tetapi belum signifikan dan meningkatkan kepercayaan antar pasangan secara signifikan. Namun, pada keluarga monogami, bantuan tunai justru berdampak pada semakin buruknya kepercayaan antar pasangan secara signifikan.

PENUTUP

Dari penelitian ini, dengan adanya program bantuan tunai, keluarga monogami cuman mengalami penurunan signifikan sebesar 6% di kekerasan emosional dan risiko KDRT secara umum, tapi tidak pada kekerasan fisik. Namun, dalam keluarga poligami, ditemukan adanya penurunan signifikansi sebesar 7,2% pada kekerasan fisik, 12,6% pada kekerasan emosional, dan 16,1% pada potensi KDRT. Penurunan tersebut semakin besar untuk istri kedua (istri paling muda), yang justru menghadapi tingkat KDRT yang lebih tinggi jika tidak ada program tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, hadirnya program bantuan tunai justru mampu menurunkan tingkat stress suami lebih besar untuk keluarga poligami. Meskipun hal tersebut berdampak positif, tetapi ditemukan tidak adanya hubungan dalam meningkatkan bargaining power sang istri.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in