Reserving Time for Daddy: The Consequences of Fathers’ Quotas

Penulis             : Ankita Patnaik 

Tahun               : 2019

Jurnal               : Journal of Labor Economics

Penerbit           : The University of Chicago Press Journals

Diulas oleh      : Muhammad Saeful Hakim

PENDAHULUAN

Perbedaan kontribusi dari ayah dan ibu terhadap pekerjaan rumah tangga serta partisipasi terhadap pekerjaan menjadi hal yang menarik untuk dibahas melalui berbagai sisi, tak terkecuali melalui perspektif ekonomi. Meskipun telah terjadi penurunan gender gap antara pria dan wanita, terdapat perbedaan yang tetap mengakar antara keduanya, yaitu dalam hal cuti berbayar. Kenyataannya, perbedaan durasi dalam cuti berbayar berpotensi meningkatkan divergensi pendapatan dari ibu dan ayah (OECD, 2012). Salah satu ekonom, Becker (1981), menyatakan bahwa fenomena perbedaan durasi dalam pengambilan cuti berbayar didasarkan pada keunggulan komparatif. Secara biologis, wanita memiliki keunggulan komparatif karena memiliki keunggulan biologis dalam hal mengasuh anak.

Nyatanya, dalam beberapa dekade terakhir terdapat peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia pekerjaan dan kenaikan gaji mereka. Hal tersebut membuat spesialisasi pekerjaan berdasarkan gender menjadi sumber inefisiensi pada rumah tangga. Selanjutnya, cuti berbayar bagi ayah dianggap sebagai kebijakan yang dapat mengubah pembagian tugas bagi orang tua sehingga dapat berdampak pada kegiatan household production dalam jangka panjang. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dampak dari pengadaan kebijakan cuti berbayar khusus ayah dan perubahan mengenai insentif finansial di program tersebut. Selain itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui mekanisme yang dapat memberikan pembagian cuti berbayar secara adil antara ibu dan ayah serta mengetahui dampak jangka panjang dari kebijakan tersebut.

METODOLOGI DAN DATA

Penelitian ini dilaksanakan di Kanada dengan menggunakan dua sumber, yaitu Employment Insurance Coverage Survey (EICS) dan General Social Survey (GSS). Sumber pertama, EICS, memiliki jumlah sampel sebanyak 8.907 dan memiliki jangkauan data selama sembilan tahun (2002-2010). Sedangkan mengenai sumber kedua, GSS merupakan data yang diambil pada tahun 2005 dan 2010 serta merupakan time-diary data. Sumber kedua memiliki sampel sebanyak 3.502 serta data placebo group yang digunakan sebagai kelompok kontrol.

Terdapat tiga model yang digunakan oleh peneliti, yaitu (1) regression discontinuity design; (2) difference-in-difference model; dan (3) double- and triple-differencing model. Model pertama digunakan peneliti untuk menguji dampak langsung dari diterapkannya cuti berbayar bagi ayah. Model kedua berfungsi untuk mengetahui perbedaan yang muncul ketika diberikan perlakuan yang berbeda (difference-in-difference) serta mengetahui dampak dalam jangka pendek. Model ketiga merupakan modifikasi dari model kedua yang digunakan peneliti untuk mengetahui dampak jangka panjang dari kebijakan cuti berbayar dan perubahan kompensasi finansial.

HASIL PENELITIAN

Pada Table 3, dengan menggunakan model pertama, peneliti menemukan bahwa setelah kebijakan kuota cuti berbayar bagi ayah serta peningkatan economic benefit dari program cuti berbayar diimplementasikan, terdapat kenaikan langsung secara signifikan pada probabilitas ayah mengambil kesempatan cuti berbayar sebesar 53,6% serta durasi cuti berbayar sebesar 3,088 minggu. Jika dibandingkan dengan variabel kontrol yang menggunakan program lama dari cuti berbayar, hanya durasi cuti berbayar dari ayah yang signifikan dan memiliki korelasi negatif, yakni sebesar 1,43 minggu. Selain itu, implementasi program tersebut tidak berdampak secara signifikan terhadap ibu.

Hasil selanjutnya adalah mengenai dampak jangka pendek dari implementasi kuota cuti berbayar bagi ayah dan peningkatan economic benefit dari program cuti berbayar. Pada Table 6, peneliti menemukan bahwa dampak dari program tersebut signifikan terhadap probabilitas ayah mengambil cuti berbayar pada keluarga ketika tingkat pendidikan ayah setara dengan ibu atau ibu lebih berpendidikan, yaitu sebesar 54,5% dan 56,4%. Pada tingkat pendidikan yang setara juga ditemukan signifikansi pada durasi cuti berbayar ayah dan probabilitas ibu mengambil cuti berbayar, yakni sebesar 3,264 minggu dan 16,4%. Penemuan lainnya adalah dampak implementasi terhadap probabilitas ayah mengambil cuti berbayar akan lebih besar untuk ayah dengan kelahiran anak pertama, yaitu sebesar 60%, dibanding 46,5% untuk ayah dengan anak setelah anak pertama.

Selanjutnya, Table 10 menunjukkan penemuan peneliti mengenai dampak jangka panjang dari implementasi program tersebut. Peneliti menemukan bahwa implementasi program secara signifikan menambah waktu yang dihabiskan ibu di tempat kerja, meningkatkan persentase menjadi pekerja penuh waktu, serta meningkatkan jam kerja mingguan dengan masing-masing memiliki dampak sebesar 79,908 jam, 5,4%, dan 1,353 jam. Namun, terdapat penurunan jumlah minggu yang digunakan untuk bekerja bagi ibu sebesar 3,257 minggu. Secara umum, implementasi program ini mampu meningkatkan partisipasi dari ibu di market work.

KESIMPULAN

Berdasarkan pengujian menggunakan 3 model tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa ketika digabungkan dengan kompensasi finansial yang baik, labelling effect yang dimunculkan oleh kuota cuti berbayar khusus ayah akan memberikan dampak signifikan terhadap kemungkinan mengambil cuti berbayar bagi ayah dan durasi cutinya. Dengan mengubah kewajiban orang tua di awal melalui cuti bagi ayah, alokasi sumber daya yang dimiliki orang tua untuk pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga, serta kerja berbayar di masa depan juga akan berubah secara positif. Alhasil, perubahan yang mengakar pada perilaku orang tua pun dapat dilakukan dengan adany perubahan perilaku dari orang tua dalam jangka pendek. Kemudian, kebijakan kuota cuti bagi ayah dapat mengatasi masalah stigma sosial yang ada di masyarakat. Terakhir, kebijakan tersebut menghilangkan trade-off antara kesetaraan gender dan investasi sumber daya orang tua terhadap anak yang muncul di saat tidak adanya kuota khusus bagi ayah serta memberikan win-win solution kepada ayah dan ibu.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in