Less Cash, Less Crime: Evidence from the Electronic Benefit Transfer Program

Penulis            : Wright, R., Tekin, E., Topalli, V., McClellan, C., Dickinson, T., & Rosenfeld, R.

Tahun              : 2017

Jurnal              : The Journal of Law and Economics

Diulas oleh     : Gabriella Caryn Nanda

PENDAHULUAN

Tindakan kriminal jalanan seperti perampokan, pencurian, dan penjambretan sebagian besar didasari oleh motif untuk mendapatkan sejumlah uang tunai. Hal tersebut dikarenakan likuiditas uang tunai yang tinggi dan sifatnya yang anonim (Varjavand, 2011). Selain itu, menurut Armey, Lipow, dan Webb (2014), uang dapat memicu tindakan kriminal. Alasan lainnya, underground economy (pengedar narkoba, pegadaian ilegal, dan lain-lain) cenderung tidak menerima pembayaran non tunai yang semakin memperbesar probabilitas penggunaan uang tunai untuk kejahatan.

Umumnya, tindakan kriminal jalanan terkonsentrasi di lingkungan miskin. Sumber utama uang yang beredar di lingkungan tersebut adalah dari bantuan publik atau program bantuan kesejahteraan. Beberapa wilayah di Amerika Serikat awalnya menerapkan program bantuan bernama Temporary Assistance for Needy Families (TANF) dengan sistem cek kertas yang dapat dicairkan. Namun, terdapat penerapan program baru bernama Electronic Benefit Transfer (EBT) dengan sistem digital berbasis kartu debit yang menggantikan program TANF.  Dengan adanya program EBT, peneliti ingin mengetahui dampak pengurangan jumlah uang beredar (terkait dengan implementasi program EBT) terhadap tingkat kejahatan, khususnya di lingkungan miskin.

DATA DAN METODOLOGI

Daerah yang menjadi sampel penelitian ini adalah Missouri dan wilayah yang berbatasan dengan Missouri di delapan negara bagian sekitarnya, termasuk 57 wilayah di Arkansas, Illinois, Iowa, Kansas, Kentucky, Nebraska, Oklahoma, dan Tennessee. Data tindakan kriminal diperoleh dari Uniform Crime Reporting (UCR) Federal Bureau of Investigation (FBI) tahun 1990-2011. Penelitian ini kemudian menggunakan data kejahatan total, pembegalan (robbery), penyerangan (assault), penjarahan (burglary), penjambretan (larceny), dan pencurian kendaraan bermotor.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah negative binomial regression model dengan robust standard errors. Selanjutnya, untuk dapat mengestimasi hasil menggunakan metode negative binomial regression model, peneliti mengasumsikan bahwa penghitungan untuk setiap kriminal di daerah tertentu (c) dalam bulan tertentu (m) dan tahun (y),, serta mengikuti negative binomial distribution. Berdasarkan model yang diadaptasi dari Greene (2008), model penelitian ini direpresentasikan dengan persamaan regresi berikut:

Dimana adalah variabel exposure, populasi wilayah;  adalah variabel dummy, yaitu 1 untuk wilayah yang mengimplementasikan program EBT dan 0 untuk yang tidak; adalah vektor efek tetap wilayah yang berfungsi untuk menjelaskan perbedaan permanen di seluruh wilayah yang dapat mempengaruhi tindakan kriminal;  adalah serangkaian efek tetap tiap bulan yang berfungsi sebagai pengontrol musiman dalam tindakan kriminal dan setiap perubahan dalam tindakan kriminal yang biasa terjadi di semua wilayah; dan adalah tren waktu linear spesifik tiap wilayah menangkap pengaruh faktor-faktor yang sulit diukur.

HASIL PENELITIAN

Hasil estimasi dari persamaan  ditunjukan pada Tabel 1.

Tabel 1. Efek Implementasi Program EBT terhadap Tingkat Kriminal

Berdasarkan Tabel 1, untuk Missouri dan wilayah-wilayah di sekitarnya, estimasi ini signifikan untuk empat dari enam jenis tindakan kriminal, yaitu tindakan kriminal keseluruhan, penyerangan (assault), penjarahan (burglary), dan penjambretan (larceny). Berdasarkan estimasi, program EBT menyebabkan penurunan tindakan kriminal keseluruhan sebesar 9,2% per 100.000 orang. Besarnya efek penurunan juga cukup besar untuk tindakan kejahatan lainnya, yaitu 10,7% untuk penyerangan, 10,4% untuk penjarahan, dan 10,5% untuk penjambretan. Selain itu, pembegalan (robbery) dan pencurian kendaraan bermotor menunjukan efek negatif tetapi tidak signifikan secara statistik.

Peneliti juga menguji sejauh mana estimasi dipengaruhi oleh lokasi daerah yang terletak di pusat kota, seperti St. Louis dan Kansas City.  Oleh karena itu, peneliti melakukan pengujian ulang dengan mengecualikan daerah pusat. Hasilnya ternyata menunjukan efek negatif signifikan yang lebih besar. Implementasi program EBT mengakibatkan penurunan tindakan kriminal keseluruhan sebesar 13,2%. Untuk Missouri, hasil estimasi sebagian besar konsisten dengan yang ada pada kolom pertama dan kedua. Hal tersebut menunjukan bahwa implementasi program EBT memiliki efek negatif yang signifikan pada tingkat kriminal secara keseluruhan, penyerangan, penjarahan, dan penjambretan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa implementasi program EBT berkontribusi pada penurunan tingkat kriminal.

Selanjutnya, peneliti kembali melakukan estimasi tambahan mengenai penurunan jumlah penangkapan karena penurunan jumlah tindakan kriminal seharusnya sejalan dengan penurunan jumlah penangkapan. Untuk melakukan pengujian ini, data yang dikumpulkan terdiri dari penangkapan yang tidak terkait dengan narkotika, penangkapan karena kepemilikan narkotika (secara keseluruhan), kokain, ganja, narkotika sintetis, penangkapan karena mengemudi dibawah pengaruh (driving under influence) minuman keras atau narkotika (DUI), dan penangkapan karena pelanggaran undang-undang minuman keras. Hasil estimasi ditunjukan pada Tabel 2.

Tabel 2. Efek Implementasi Program EBT terhadap Jumlah Penangkapan

Dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa pada Missouri dan wilayah di sekitarnya, implementasi program EBT menunjukan efek negatif signifikan terhadap jumlah penangkapan karena kepemilikan kokain dan penangkapan yang tidak terkait dengan narkotika. Konsisten dengan Tabel 1, hasil estimasi menjadi lebih tepat apabila mengecualikan Kansas City dan St. Louis (sebagai daerah pusat kota). Dampak implementasi program EBT menjadi negatif dan signifikan untuk penangkapan karena kepemilikan narkotika (secara keseluruhan), kepemilikan marijuana, mengemudi di bawah pengaruh minuman keras dan narkotika (DUI), dan penangkapan yang tidak terkait dengan narkotika. Dengan demikian, hasil pada Tabel 2 sejalan dengan hasil pada Tabel 1, yaitu implementasi program EBT dapat menurunkan jumlah penangkapan tindakan kriminal.

Untuk menjelaskan penalaran di balik penemuan penelitian ini, peneliti menjelaskan bahwa terdapat indikasi penurunan tingkat kriminal disebabkan oleh berkurangnya jumlah uang tunai mendorong penjahat untuk berpindah ke wilayah yang tidak mengimplementasikan program EBT. Selain itu, waktu implementasi program EBT di Missouri bertepatan dengan periode penurunan tingkat pengangguran. Maka dapat dikatakan bahwa penurunan tingkat kejahatan mungkin disebabkan oleh penurunan jumlah penerima program EBT yang juga merupakan korban potensial kejahatan jalanan. Namun, kedua hal ini belum dapat dibuktikan lebih lanjut.

KESIMPULAN

Kesimpulannya, penelitian ini berhasil membuktikan bahwa transisi dari pembayaran bantuan kesejahteraan berbasis cek ke program EBT berbasis kartu debit dapat menurunkan jumlah tindakan kriminal, khususnya penjarahan, penjambretan, dan penyerangan. Dampak dari implementasi program EBT lebih signifikan di lingkungan miskin dibandingkan dengan lingkungan kaya. Selain itu, hasil dari analisis tambahan mengungkapkan bukti bahwa implementasi program EBT dikaitkan dengan penurunan jumlah penangkapan akibat tindakan kriminal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pengurangan uang tunai yang beredar terkait dengan implementasi EBT dapat mengurangi tingkat kejahatan.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in