Anomaly in Stock Market : The Ramadan Effect

Penulis         : Azwar Ramadhana Sonjaya dan Imam Wahyudi

Tahun           : 2016

Publisher    : Arab Economic & Business Journal

Diulas oleh : Ratu Silfa Addiba Nursahla

A. Latar Belakang

Dalam dunia pasar saham, terdapat sebuah teori bernama Efficient Market Hypothesis (EMH). Teori tersebut menjelaskan bahwa pasar dapat dikatakan efisien jika harga atau nilai sekuritas yang ada di pasar mencerminkan informasi mengenai seberapa jauh harga sekuritas menyimpang dari nilai intrinsiknya. Ketika pasar sudah efisien namun beberapa investor masih dapat mengeksploitasi informasi pasar untuk mendapatkan pengembalian yang abnormal, dapat diasumsikan terjadi anomali di pasar (Stulz & Williamson, 2003). Kondisi tersebut menimbulkan berbagai macam perdebatan karena kondisi idealnya nyaris mustahil dicapai akibat adanya berbagai macam anomali. Salah satunya adalah anomali kalender (calendar anomaly). Terdapat dua macam anomali kalender, yaitu anomali religius dan anomali nonreligius. Anomali religius berkaitan dengan hari-hari besar keagamaan, sedangkan anomali nonreligius berkaitan dengan bulan maupun hari tertentu. Alper dan Arouba (2001) secara khusus memperhatikan anomali yang terjadi saat bulan Ramadan karena terdapat perbedaan dengan hari-hari raya lainnya akibat terjadinya abnormal return. Abnormal return ini terjadi bukan hanya berdasarkan mekanisme pasar, melainkan juga melibatkan kondisi emosional para investor secara spesifik. Bialkowski et al. (2012) mencurigai bahwa faktor emosi dan suasana hati investor memainkan peran penting dalam penilaian dan pengambilan keputusan mereka, terutama yang terkait dengan pembelian dan penjualan saham, preferensi untuk risiko dan keputusan, dan respons terhadap ketidakpastian.

Pendekatan spiritual yang dialami para investor menyebabkan sikap rasional  dengan cenderung membeli saham pada awal bulan Ramadan dan menjualnya pada akhir bulan saat mendekati Idul Fitri. Secara khusus, Gavriilidis et al. (2015) mengutip dampak tertentu dari faktor-faktor keagamaan pada lingkungan ekonomi dan keuangan yang mempengaruhi kecenderungan untuk menabung, keputusan untuk berinvestasi dalam saham (Renneboog & Spaenjers, 2012), perilaku berisiko investor (Kumar, Page, & Spalt, 2011), dan pertumbuhan ekonomi (Barro & McCleary, 2003). Penelitian yang dilakukan oleh Bialkowski et al. (2012) di 11 negara berpenduduk mayoritas beragama Islam menunjukkan bahwa return yang diterima saat bulan Ramadan menjadi lebih tinggi dibanding 11 bulan lainnya.

B. Data dan Metodologi

Penelitian ini melanjutkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bialkowski et al. (2012), Al-Khazali (2014), dan Gavriilidis et al. (2015). Dalam tiga penelitian tersebut, dinyatakan bahwa Ramadan effect memiliki dampak yang signifikan, sedangkan dalam beberapa penelitian lainnya menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Terdapat 10 negara yang menjadi sampel pengujian, yaitu Bahrain, Indonesia, Yordania, Malaysia, Maroko, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Tunisia. Syarat sebuah negara masuk ke dalam sampel adalah negara tersebut memiliki populasi penduduk muslim lebih dari 50%. Rentang waktu observasi adalah selama 139 kali Ramadan dalam jangka waktu 1989–2013. Penentuan awal dan akhir Ramadan dalam kalender Gregorian didasarkan pada informasi dari situs web resmi masing-masing negara yang menyatakan awal dan akhir Ramadan. Data yang diambil dari Indeks MSCI sudah dalam denominasi USD sehingga tidak ada bias harga saham akibat inflasi di setiap negara.

Dengan menggunakan weak-form efficient market (mengasumsikan bahwa semua harga-harga saham mencerminkan seluruh informasi pasar yang tersedia sehingga informasi harga dan volume perdagangan masa lalu tidak memiliki hubungan dengan pergerakan harga-harga pada masa depan) dan dengan menggunakan metode autocorrelation, tes efisiensi pasar dilakukan saat EMH berada pada titik terendah.

Penelitian ini juga menggunakan tiga model untuk memperkirakan pengembalian normal, yaitu pasar, rata-rata konstan, dan model yang disesuaikan pasar (Brown & Warner, 1985; MacKinlay, 1997).

Bialkowski et al. (2012) menyatakan bahwa salah satu alasan tidak signifikannya efek Ramadan di Indonesia adalah faktor krisis ekonomi. Untuk membuktikan pernyataannya, peneliti menguji signifikansi efek Ramadhan pada pengembalian saham dengan memasukkan faktor krisis ekonomi sebagai variabel dummy.

C. Hasil dan Analisis

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pengujian telah menggunakan weak-form terhadap 10 negara yang diobservasi, masih terdapat 9 negara yang memiliki pasar yang inefisien. Di samping itu, peneliti ingin mengetahui keberadaan Ramadan effect menggunakan 2 indikator, yaitu (1) annualized return sebelum dan sesudah Ramadan serta (2) keberadaan abnormal return selama bulan Ramadan. Identifikasi dari annualized return tersebut membagi negara-negara sampel menjadi tiga kelompok besar, yaitu Tunisia, Qatar, Yordania, Kuwait, Oman, dan Maroko dengan hasil positif; Malaysia dengan hasil positif namun tidak signifikan; serta Indonesia, Bahrain, dan Arab Saudi dengan hasil negatif.

Pada temuannya yang lain, peneliti mencoba membagi 3 periode dalam bulan Ramadan, menjadi 10 hari pertama, kedua, dan ketiga. Ditemukan bahwa pada 10 hari pertama, abnormal return bernilai negatif, karena di titik ini terjadi penyesuaian pada saat memasuki bulan Ramadan. Pada 10 hari kedua, abnormal return menjadi positif dan terus naik. Hal ini dipercaya karena pada pertengahan bulan banyak hal-hal baik yang dipercaya oleh masyarakat akan datang dan masyarakat sudah terbiasa dengan nuansa rohani. Pada akhir bulan Ramadan, masyarakat cenderung mempunyai permintaan uang tunai yang tinggi untuk mempersiapkan Idul Fitri. Hal tersebut menyebabkan terjadinya abnormalitas negatif. Pada kategori ini (Table 4.3), hasil analisis abnormal return yang terjadi saat Ramadan juga dibagi menjadi tiga ketegori negara, yaitu Tunisia, Qatar, Jordan, Kuwait, Oman, and Morocco dengan hasil positif, Indonesia dan Malaysia dengan hasil rata-rata 0.00%, serta Bahrain dan Arab Saudi dengan hasil negatif.

Studi ini juga menemukan tingkat persistensi masing-masing negara yang tertera pada Tabel 4.5. Kuwait, Oman, dan Tunisia memiliki persistensi yang selalu positif terhadap Ramadan effect. Indonesia, Malaysia, Yordania, Maroko, dan Qatar memiliki persistensi positif namun tidak di semua subperiode, sedangkan Bahrain dan Arab Saudi memiliki angka peresistensi yang selalu negatif.

Salah satu faktor penyebab annualized return yang negatif adalah adanya krisis (Bialkowski et al., 2012), seperti halnya yang terjadi pada Malaysia dan Indonesia. Kedua negara ini memiliki hasil yang kurang signifikan karena adanya krisis di Asia Tenggara sekitar tahun 1997 – 1998. Jika perhitungan Ramadan tahun 1997 – 1998 ditiadakan maka Indonesia dan Malaysia memiliki hasil positif di bulan Ramadan.

D. Kesimpulan

Berdasarkan serangkaian analisis yang ada, Ramadan dapat berpengaruh terhadap psikologis para investor dan keputusan mereka berinvestasi. Namun, Ramadan effect disimpulkan belum cukup kuat keberadaannya karena perbedaan perilaku investor saat krisis dan saat tidak krisis. Ramadan effect juga belum dapat dikatakan sebagai anomali EMH  karena negara-negara yang diobservasi memiliki pasar yang inefisien, bahkan dalam weak-form-nya. Ramadan effect hanya terjadi secara signifikan dan persisten hanya di tiga negara yaitu, Kuwait, Oman, dan Tunisia, sedangkan, di negara lainnya, seperti Indonesia, Malaysia, Yordania, Maroko, dan Qatar memang mengalami Ramadan effect namun tidak persisten. Bahkan, Arab Saudi dan Bahrain tidak mengalami Ramadan effect sama sekali ditandai dengan annualized return yang selalu negatif.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in