Do Car Restriction Policies Effectively Promote the Development of Public Transport?

Penulis           : Linling Zhang, Ruyin Long, dan Hong Chen

Tahun             : 2019

Publisher       : Elsevier BV

Jurnal              : World Development

Diulas oleh    : Zhalza Septya Dewi

Pendahuluan

Kemacetan kerap kali menimbulkan masalah yang dapat mengganggu kesehatan manusia, kehidupan sehari-hari, serta permasalahan lingkungan. Oleh karena itu, beberapa daerah di Tiongkok mulai mengeluarkan kebijakan pembatasan mobil. Kebijakan ini secara garis besar terbagi menjadi tiga, yaitu pembatasan berkendara, pembatasan jumlah plat nomor, dan kombinasi keduanya. Kebijakan pembatasan berkendara meliputi aturan ganjil-genap serta kebijakan pembatasan berdasarkan nomor ekor. Kebijakan ganjil-genap hanya mengizinkan mobil berplat nomor ganjil untuk melintas di tanggal ganjil, dan sebaliknya. Sedangkan kebijakan pembatasan berdasarkan nomor ekor melarang kendaraan untuk beroperasi selama sehari dalam seminggu berdasarkan nomor ekornya. Adapun kebijakan pembatasan plat nomor adalah pembatasan kuota plat nomor yang diterbitkan tiap tahunnya per daerah. Hak untuk mendapatkan kuota ini didapatkan dengan sistem undian bagi para pendaftar yang telah memenuhi syarat.

Beberapa studi berusaha menjelaskan dampak kebijakan pembatasan mobil ini di berbagai wilayah. Eskeland dan Feyzioglu (1997) menemukan bahwa kebijakan pembatasan berkendara di hari kerja tertentu justru meningkatkan total pengendara di Mexico City. Di sisi lain, Mahendra (2008) menjelaskan bahwa pembatasan berkendara di San Diego bekerja dengan baik dalam mengatasi arus kendaraan. Schuitema, Steg dan Forward (2010) menunjukkan bahwa pembatasan mobil hanya berdampak terhadap kemacetan dan polusi lingkungan di jangka pendek. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, peneliti berusaha menganalisis dampak kebijakan pembatasan mobil terhadap kemacetan dengan variabel hasil berupa penggunaan transportasi publik dan proporsinya terhadap distribusi transportasi di jalanan.

Metodologi dan Data

Dalam menghitung dampak pembatasan mobil dan perkembangan transportasi publik di beberapa kota, peneliti menggunakan metode evaluasi dampak kebijakan berbasis panel data yang diajukan oleh Hsiao, Ching, dan Wan (2012). Peneliti menggunakan informasi dari kelompok kontrol yang tidak mengalami intervensi kebijakan untuk mendapatkan nilai kontrafaktual dari kelompok eksperimen yang terkena intervensi kebijakan. Nilai kontrafaktual adalah nilai prediksi variabel hasil dari kelompok eksperimen tanpa kebijakan. Nilai ini didapatkan dari hasil regresi kelompok kontrol terhadap kelompok eksperimental. Kemudian, peneliti membandingkan nilai kontrafaktual dengan keadaan sebenarnya. Perbedaan kedua nilai tersebut merepresentasikan dampak kebijakan.

Untuk mengkuantifikasi dampak dari kebijakan pembatasan berkendara dan pembatasan jumlah plat nomor, peneliti menggunakan indikator berupa jumlah pengguna transportasi publik. Transportasi publik dalam studi ini adalah transportasi publik darat. Data diambil dari 215 kota di Tiongkok dari 1985-2015. Diantara 215 kota ini, 14 kota telah menerapkan kebijakan pembatasan mobil. Peneliti kemudian memilih 6 kota sebagai kelompok eksperimental. Kelompok tersebut dibagi menjadi 3 kelompok kecil. Kelompok pertama (Lanzhou dan Chengdu) digunakan untuk menganalisis dampak kebijakan pembatasan berkendara. Kelompok kedua (Guangzhou dan Shenzhen) digunakan untuk menganalisis dampak kebijakan pembatasan jumlah plat nomor. Kelompok ketiga (Beijing dan Guiyang) digunakan untuk menganalisis dampak kebijakan dari kombinasi kedua kebijakan. Kemudian, peneliti memilih 20 kota yang tidak menerapkan kebijakan pembatasan mobil sebagai kelompok kontrol.

Hasil Penelitian

Grafik 1 menunjukkan bahwa selisih antara nilai kontrafaktual dan nilai sesungguhnya baik di Lanzhou dan Chengdu selalu bernilai positif, meskipun berfluktuasi. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembatasan berkendara meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik secara signifikan. Sedangkan Grafik 2 menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan jumlah plat nomor tidak memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah pengguna transportasi publik karena selisihnya yang berubah-ubah antara positif dan negatif. Kombinasi kedua kebijakan tersebut akan meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik secara signifikan hingga 30%, seperti yang ditunjukkan pada Grafik 3.

Kebijakan pembatasan berkendara akan membuat masyarakat terpaksa beralih ke transportasi publik sehingga pengguna transportasi publik meningkat. Namun, masyarakat akan berusaha menyiasati kebijakan ini dengan membeli mobil baru. Hal ini dapat menimbulkan kesenjangan sosial, dimana masyarakat berpendapatan tinggi dapat dengan mudah membeli mobil baru, sedangkan masyarakat berpendapatan rendah terpaksa menggunakan transportasi publik. Di sisi lain, kebijakan pembatasan jumlah plat nomor dapat mengurangi jumlah pembelian mobil tetapi tidak akan mempengaruhi pola penggunaan transportasi masyarakat yang telah memiliki mobil. Selain itu, sistem lotre dalam mendapatkan plat yang bersifat acak mendorong terjadinya perdagangan plat nomor pribadi yang dapat menimbulkan biaya sosial bagi masyarakat.

Kombinasi kebijakan pembatasan berkendara dan pembatasan jumlah plat nomor dapat meminimalisir penggunaan mobil bagi masyarakat yang sudah memiliki mobil sekaligus menghambat pembelian mobil baru. Oleh karena itu, penerapan kombinasi kedua kebijakan tersebut memiliki dampak positif yang signifikan terhadap jumlah pengguna transportasi publik.

Grafik 4: Distribusi Proporsi Jumlah Kendaraan di Jalanan di Beijing

Namun, meskipun jumlah pengguna transportasi publik meningkat secara signifikan setelah adanya kebijakan pembatasan mobil, kebijakan ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan proporsi penggunaan transportasi publik. Pertumbuhan proporsi penggunaan transportasi publik relatif stabil pada tingkat pertumbuhan 2% per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah adanya kebijakan pembatasan mobil, jumlah pengguna jalanan juga turut meningkat. Penelitian oleh Li et al. (2017) menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan berkendara justru meningkatkan keinginan masyarakat untuk menggunakan mobil di hari yang tidak dilarang sebesar 51.4%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengguna mobil lebih berpeluang untuk menggunakan mobil pada hari yang tidak dilarang sehingga meningkatkan volume kendaraan di jalan.

Kesimpulan

Berdasarkan 6 kota eksperimen yang diamati oleh peneliti, kebijakan pembatasan berkendara memiliki dampak positif terhadap jumlah penggunaan transportasi publik secara signifikan. Namun, kebijakan pembatasan jumlah plat terbukti tidak memiliki dampak signifikan. Kombinasi keduanya akan meningkatkan jumlah pengguna transportasi secara lebih signifikan. Akan tetapi, penerapan pembatasan berkendara tidak memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan proporsi dari penggunaan transportasi publik. Kebijakan ini juga berpotensi meningkatkan biaya sosial bagi masyarakat.

Saran

Kebijakan pembatasan mobil hanya dapat digunakan sebagai tindakan darurat dan tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kemacetan secara fundamental. Untuk wilayah dengan masalah kemacetan yang menonjol, kebijakan pembatasan mobil dapat digunakan sebagai solusi sementara untuk mengatasi kemacetan. Kebijakan tersebut sebaiknya digabungkan beberapa kebijakan transportasi lain untuk meningkatkan efektivitasnya. Selain itu, untuk meningkatkan perkembangan transportasi publik dan mendukung ‘green traveling’, peneliti menganjurkan pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur transportasi publik, meningkatkan rute transportasi publik, serta meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas dari transportasi publik.

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in