Am I Happy Without Religion?

Judul Jurnal : Losing My Religion: Exploring the Relationship between a Decline in Faith and a Positive Effect

Penulis            : Neal Krause dan Kenneth I. Pargament

Tahun              : 2017

Publisher        : Springer Science

Journal            : Applied Research in Quality of Life

Diulas oleh     : Gilbert

Ilustrasi oleh : Amanda Tsabita

Pendahuluan

Hingga saat ini, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk melihat efek dari kehidupan beragama. Mulai dari hubungannya dengan kondisi fisik dan mental (Koenig et al., 2012), lingkungan (Schieman et al. 2005), dan sosial (Krause 2008). Namun, tanpa disadari, terkadang seseorang mengalami penurunan dalam kepercayaan walaupun masih beragama dan bahkan dapat berujung pada pelepasan kepercayaan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh penurunan kepercayaan tersebut menyebabkan penurunan makna positif kehidupan yang bisa dirasakan, seperti lingkungan sosial yang mendukung dan perasaan tentang arti kehidupan.

Penurunan Kepercayaan

Dalam membangun hipotesis, peneliti membangun konsep keterkaitan antar beberapa mediator, yaitu:

  1. Kegiatan Keagamaan Utama

Penurunan kepercayaan akan mengakibatkan penurunan dalam keikutsertaan kegiatan keagamaan utama. Dalam penelitian ini, digunakan tiga macam perhitungan, yaitu frekuensi ibadah, frekuensi membaca kitab suci, dan frekuensi berdoa.

  1. Kasih sayang

Hampir seluruh agama di dunia mengajarkan kebaikan dan kasih sayang (Lundberg, 2010). Hal ini yang menyebabkan kasih sayang seringkali ditransmisikan melalui pengajaran agama. Maka dari itu, orang-orang yang mengalami penurunan frekuensi keikutsertaan kegiatan keagamaan utama kecil kemungkinannya dalam memperoleh ataupun mempertahankan sifat kasih sayang.

  1. Suka membantu

Sejatinya, sikap membantu setiap orang telah tertanam secara alami sebagai efek dari keresahan. Fungsi agama yaitu untuk meningkatkan/mempertahankan sikap tersebut. Orang-orang yang mengalami penurunan kepercayaan cenderung sulit untuk menjaga kepekaan interpersonal sehingga sulit dalam membantu secara efektif.

  1. Arti Hidup

Sikap suka membantu yang dimiliki oleh setiap orang biasanya akan membantu individu tersebut dalam mengerti arti hidupnya. Arti hidup yang dimaksudkan adalah tujuan hidup dan keberadaannya. Maka dari itu, bila seseorang semakin sering  membantu orang lain, ia akan semakin merasakan makna dari hidupnya.

Metode

Data diambil dari Landmark Spirituality and Health Survey (LSHS) pada tahun 2014. Model yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Full Information Maximum Likelihood (FIML). Dalam penelitian ini juga, peneliti mengasumsikan bahwa indikator yang di observasi bersifat multivariate normal distribution. Adapun beberapa indikator yang menjadi alat ukur, yaitu:

  1. Efek Positif (Kewaspadaan, Menginspirasi, Tekad, Perhatian, Aktif)
  2. Kehilangan Kepercayaan
  3. Praktik Keagamaan
  4. Kasih Sayang
  5. Support Emosional kepada Orang Lain
  6. Arti Kehidupan
  7. Variabel Kontrol Demografi

Hasil

Setelah melakukan estimasi dari model yang telah dibangun peneliti, hasilnya ditemukan bahwa memang benar jika orang yang mengalami penurunan kepercayaan (kehilangan kepercayaan) akan berpeluang untuk melakukan praktik keagamaan lebih kecil. Selain itu, memang benar bahwa orang yang kurang terlibat dalam kegiatan keagamaan cenderung kurang memiliki rasa kasih sayang. Hasil penemuan lainnya, yaitu orang yang kurang memiliki rasa kasih sayang cenderung berpeluang lebih kecil untuk memberikan support emosional kepada orang lain. Pada akhirnya, terbukti juga bahwa orang yang tidak membantu/memberi support emosional kepada orang lain cenderung mempunyai rasa meaning of life yang lebih kecil. Hal ini juga akan menyebabkan seseorang cenderung memiliki efek positif kehidupan yang lebih rendah.

Melihat dari tabel hasil penelitian yang telah dipaparkan oleh peneliti, secara sekilas, terlihat bahwa kehilangan kepercayaan (loss of faith) berdampak positif pada skor efek positif, walaupun tidak signifikan. Bila temuan tersebut signifikan, maka bisa dinyatakan bahwa bila seseorang kehilangan kepercayaannya maka peluang mendapatkan efek positif lebih besar. Namun, hasil yang tidak signifikan ini menjadikan dampak langsung tidak dapat dijustifikasi secara jelas. Namun, secara tidak langsung, kehilangan kepercayaan nyatanya berdampak negatif pada peluang efek positif yang didapatkan. Bila seseorang kehilangan kepercayaannya maka peluang orang tersebut mendapatkan efek positif akan semakin kecil.

Uraian kedua yang juga menarik adalah bagaimana hubungan keikutsertaan kegiatan agama justru berkorelasi negatif dengan peluang seseorang mendapatkan efek positif, walaupun hal ini tidaklah signifikan sehingga tidak dapat dijustifikasi dengan jelas. Secara tidak langsung, keikutsertaan kegiatan agama justru berkorelasi positif dengan peluang seseorang mendapatkan efek positif.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian ini, terlihat bahwa secara sekilas, penurunan kepercayaan ataupun jumlah keikutsertaan seseorang pada kegiatan keagamaan tidak berdampak secara langsung kepada well-being (efek positif) individu tersebut. Namun, hal ini tidak berarti kedua indikator tersebut dapat diabaikan begitu saja. Penurunan (kehilangan) kepercayaan ternyata mempengaruhi berbagai aspek-aspek lainnya yang secara tidak langsung akan menurunkan well-being dari individu tersebut. Penurunan kepercayaan mula-mula akan menurunkan tingkat kehadiran pada kegiatan keagamaan. Selanjutnya, hal ini akan menyebabkan penurunan rasa kasih sayang dan membantu orang lain. Pada akhirnya, akan menyebabkan penurunan meaning of life yang akan menurunkan efek positif yang bisa dirasakan seseorang.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in