You’ve Got a Friend in Me: How Peer Exposure Affects Criminal Activity

Penulis : Stephen B. Billings, David J. Deming, dan Stephen L. Ross

Tahun : 2019

Publisher : American Economic Association

Jurnal : American Economic Review

Diulas oleh : Adho Adinegoro

PENDAHULUAN

Kriminalitas tidak dapat dipungkiri merupakan suatu tindakan sosial. Pola bagaimana kriminalitas terjadi juga menunjukkan adanya suatu interaksi sosial di masyarakat. Berbagai penelitian sejatinya telah mencoba untuk mengulik faktor-faktor apa yang memengaruhi suatu tindakan kriminal dapat terjadi. Salah satu faktor menarik yang menjadi subjek dari berbagai penelitian adalah efek teman sebaya (peers). Sebagai contoh, studi yang dilakukan oleh Patacchini & Zenou (2009) menemukan bahwa tindakan kriminal di kalangan muda dipengaruhi dengan kuat oleh teman sebaya dan lingkungannya. Hal ini menunjukkan bagaimana konformitas memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan sosial seorang individu di dalam suatu kelompok. Selain itu, Carrell & Hoekstra (2010) menemukan bahwa siswa yang mengalami kekerasan domestik di rumah secara signifikan meningkatkan jumlah tindakan indisipliner yang dilakukan oleh siswa lain di sekolah. Temuan ini semakin memperkuat bagaimana efek teman sebaya dapat memengaruhi tindakan kriminal seseorang dalam kelompok.

Berkaitan dengan efek teman sebaya tersebut, penelitian ini menelisik lebih dalam lagi bagaimana interaksi sosial antar teman sebaya di kelompok yang teraglomerasi dalam perilaku kriminal dapat memengaruhi jumlah tindakan kriminal di masyarakat. Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mengisi kekosongan khususnya dalam mengidentifikasi apakah suatu interaksi antar teman sebaya berpengaruh secara langsung terhadap teman lainnya atau hanya secara tidak langsung (dalam pengertian bahwa tindakan kriminal antar dua teman sebaya dilakukan secara independen tanpa pengaruh satu sama lain). Oleh karena itu, penelitian ini turut berkontribusi dalam mengukur secara langsung bagaimana interaksi antar teman sebaya memengaruhi tindakan kriminal dan juga mengidentifikasi bagaimana sekolah berperan pula dalam interaksi sosial ini.

DATA DAN METODOLOGI

Penelitian ini menggunakan data administratif siswa berusia 14 tahun yang bersekolah di wilayah Charlotte-Mecklenburg, Carolina Utara, Amerika Serikat, pada tahun 2002/2003 dan 2008/2009. Data administratif ini meliputi jenis kelamin, ras, nilai UAS, jumlah absen, dan jumlah hari siswa dikenakan sanksi skors. Penelitian ini juga menggunakan data dari catatan kepolisian wilayah Charlotte-Mecklenburg dari tahun 1998 hingga 2013. Melalui data ini, peneliti pun dapat memperoleh data mengenai pelanggar atau pelaku kejahatan serta siswa Charlotte Mecklenburg yang melakukan tindakan kriminal pada rentang waktu tersebut. Selain itu, untuk meneliti bagaimana mekanisme aglomerasi turut berperan dalam interaksi ini, peneliti juga menggunakan data dari 129 blok wilayah yang terbagi berdasarkan zona sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dari data tempat tinggal seluruh siswa yang bersekolah di wilayah Charlotte-Mecklenburg.

Dalam melakukan penelitian ini, pertama-tama peneliti menguji bagaimana peningkatan interaksi yang dilakukan dengan teman dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk melakukan tindakan kriminal. Untuk menguji ini, peneliti mengukur jumlah individu yang memiliki ciri yang sama di sekolah dan area tempat tinggal tertentu. Kemudian, peneliti juga menguji bagaimana persekongkolan kriminal dapat terjadi pada siswa atau individu yang tinggal berdekatan dan bersekolah di tempat yang sama. Untuk menguji hal tersebut, peneliti memfokuskan observasi pada individu-individu yang tercatat melakukan tindakan kriminal dari sekolah yang sama dan bertempat tinggal relatif dekat antara satu sama lain.

HASIL PENELITIAN

Tabel 5 di atas menunjukkan hasil pengaruh teman sebaya terhadap angka kriminalitas yang diukur dari angka probabilitas seseorang ditangkap akibat tindakan kriminalitas. Berdasarkan tabel 5 tersebut, Panel C menunjukkan bahwa peningkatan 1 standar deviasi dari jumlah teman sebaya di sekolah yang berada di tingkatan kelas yang sama (same grade) serta memiliki ras (same race) dan jenis kelamin yang sama (same gender) akan meningkatkan kemungkinan seorang individu untuk ditangkap akibat tindakan kriminal sebesar 3.9%. Angka ini pun semakin besar apabila teman sebaya tersebut sama-sama merupakan seseorang dengan ras minoritas dan berjenis kelamin. Menurut perhitungan peneliti, peningkatan 1 standar deviasi teman sebaya laki-laki ras minoritas di tingkatan sekolah yang sama, akan meningkatkan kemungkinan seorang individu untuk ditangkap atas tindakan kriminal sebesar 6%. Apabila melihat hasil penelitian ini secara menyeluruh, hampir seluruh angka pada Tabel 5 menunjukkan hasil yang positif dan signifikan terkait pengaruh teman sebaya terhadap probabilitas seseorang ditangkap atas tindakan kriminal.

Lebih lanjut, Figur 2 menunjukkan probabilitas persekongkolan antar  teman sebaya untuk ditangkap atas tindakan kriminal relatif terhadap jarak tempat tinggal antar teman sebaya tersebut. Seperti terlihat pada Figur 2, probabilitas persekongkolan antar teman sebaya untuk ditangkap jauh lebih tinggi apabila kedua teman sebaya tersebut bersekolah di tempat yang sama dan berada di tingkatan kelas yang sama. Probabilitas yang ada pada Figur 2 juga menunjukkan bahwa probabilitas tersebut akan menurun seiring jarak tempat tinggal antar teman sebaya yang semakin jauh. Hasil Figur 2 ini pun mengonfirmasi bahwa ketika  dua teman sebaya berada di tempat tinggal yang relatif dekat (kurang lebih dalam jarak 1 kilometer), probabilitas untuk bersekongkol dalam melakukan tindakan kriminal pun akan semakin besar.

KESIMPULAN

Penelitian ini telah menunjukkan bagaimana pengaruh teman sebaya terhadap kemungkinan tindakan kriminal di suatu wilayah. Dalam penelitian ini, adanya peningkatan pada pertemanan antar teman sebaya yang memiliki ciri yang sama (misal, berada di tingkatan kelas yang sama/berjenis kelamin yang sama/memiliki ras yang sama), akan meningkatkan pula kemungkinan seseorang individu untuk ditangkap atas tindakan kejahatan. Adanya efek teman sebaya ini semakin menguat, khususnya apabila pertemanan antar teman sebaya tersebut bertempat tinggal di wilayah yang relatif dekat satu sama lain. Temuan  ini pun memberikan sudut pandang baru terkait konsekuensi sosial dari zonasi sekolah dalam konteks Amerika Serikat. Zonasi sekolah yang dapat mempersatukan siswa-siswa dengan ciri yang sama dapat membuka kemungkinan akan adanya peningkatan pada tindakan kriminal di sekitar wilayah itu. Oleh karena itu, untuk menghindari konsekuensi sosial seperti ini, peneliti merekomendasikan agar pengawasan dari lingkungan sekitar baik antar sesama pemuda maupun keluarga lebih diperkuat.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in