Effect Of Growing Up Poor On Labor Market Outcomes: Evidence From Indonesia

Nama Jurnal:  ADBI Working Paper 1002

Pengarang: Mayang Rizky, Daniel Suryadarma, Asep Suryahadi

Tahun: 2019

Pendahuluan

Kondisi seseorang sejak kandungan sampai anak-anak terbukti dapat memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif seseorang (1000 golden days), yang tentunya akan berdampak pula kepada tingkat pendidikan serta kesempatan kerja di masa depan. Karakteristik orang tua, terutama pendapatan, menjadi faktor kunci dalam menentukan kondisi anak-anaknya. Terdapat 2 hipotesis terhadap pengaruh pendapatan orang tua terhadap masa depan seorang anak: (1) Pendapatan sebagai investasi dalam bentuk uang dan waktu melalui fasilitas pendidikan, kesehatan, dan lingkungan rumah yang baik; dan (2) pendapatan rendah akan meningkatkan stress pada orang tua. Kondisi ekonomi yang semakin buruk saat krisis 1997-1998 memiliki dampak kepada kemiskinan, kemudian kemiskinan akan berdampak pada perkembangan seorang anak. Penelitian ini juga mengisi kekurangan penelitian-penelitian sebelumnya, di mana banyak literatur yang mengestimasi hubungan pendapatan orang tua dalam jangka pendek atau menengah. Beberapa literatur pernah membahas dampak jangka panjangnya, namun belum pernah dilakukan penelitian terkait di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini menemukan bukti empiris dampak jangka panjang dari kemiskinan yang dialami oleh seorang anak saat berumur 8-17 tahun dan pengaruhnya kepada pasar tenaga kerja 14 tahun kemudian.

Data dan Metodologi

  • Data:
    • IFLS 2000, 2007, 2014 (wave 3-5). Recontact rate dari seluruh sampel tingkat rumah tangga = 90,5%. Data merupakan panel data. Jenis buku dan variabel yang digunakan: Buku EK1 dan EK2 digunakan untuk mengetahui educational outcome dari sampel, aspek sosial-ekonomi, aspek kesehatan (kapasitas paru-paru).
    • Susenas dan data PDB Indonesia tahun 1997 & 2000 (BPS).
  • Sampel: 1.522 responden berumur 8-17 tahun pada tahun 2000 dan mengisi nominal upah pada tahun 2014.
  • Poverty line: menggunakan national poverty line yang dikembangkan oleh Suryahadi et al. (2003), basis perhitungan: konsumsi per kapita untuk menghindari data dan hasil yang underestimate.
  • Model:
    • Framework:

Peneliti mengestimasi hubungan antar variabel menggunakan grafik siklikal yang menggambarkan kemungkinan hubungan antara variabel confounders (faktor eksogen), exposure (kemiskinan), mediators (variabel lain yang menghubungkan), and outcomes (labor market outcomes 2014). Kemungkinan hubungan: X – L – Y, X – M – Y, atau X – I – Y. Besarnya asosiasi di sepanjang semua jalur antara X, M, I, L, dan Y diestimasi menggunakan analisis regresi.

  • Persamaan Model (OLS)

Di mana: poori2000 = anak termasuk kategori miskin tahun 2000; poori2007 = anak termasuk kategori miskin tahun 2007 ; humcap = mathematics/cognitive skills dan kapasitas paru-paru); dan X𝑖 = variabel terkait kondisi lingkungan tempat tinggal.

  • Instrumental Variable (2SLS)

Di mana: Zijt = proporsi penduduk miskin di sektor pertanian (j), provinsi (t), dan tahun 1997 (t0). Gjt = pertumbuhan nasional di sektor pertanian (j) dan tahun 2000 (t). Pit = weighted average dari proporsi kemiskinan di pertanian & pertumbuhan di sektor tersebut. Untuk menjadi variabel instrumental yang valid, maka Pit harus punya hubungan secara statistik dengan status kemiskinan dan tidak boleh punya hubungan sebab akibat dengan variabel dependen dan residual. Hasilnya, variabel pit dapat menjadi IV karena memengaruhi kemiskinan (poor 2000) dan tidak signifikan ke ln wage 2014 (setelah tes regresi).

Hasil dan Analisis

Berdasarkan estimasi OLS, seorang anak yang tinggal di keluarga miskin pada tahun 2000 menghasilkan gaji 16,22% (= exp (-0,177) –1 x 100%) lebih rendah daripada anak yang tidak miskin. Hasil estimasi 2SLS menunjukkan koefisien yang lebih tinggi di mana seorang anak yang tinggal di keluarga miskin pada tahun 2000 menghasilkan gaji 85,22% (= exp (-1,912) –1 x 100%) lebih rendah daripada anak yang tidak miskin. Di antara para mediator, hanya keterampilan kognitif dan matematika yang secara positif terkait dengan upah per jam (Tabel 5, Kolom (4) – (6)). Kenaikan satu standar deviasi dalam skor kognitif atau matematika menunjukkan kenaikan masing-masing sebesar 6% dan 12% dalam upah per jam. Ini mencerminkan bahwa pengaruh keterampilan matematika pada hasil pasar kerja bernilai sekitar dua kali lipat dari efek keterampilan kognitif. Statistik F tahap pertama untuk estimasi 2SLS mencerminkan bahwa instrumen tersebut cukup kuat (F-stat = 13,651 atau lebih dari 10) ketika kontrol penuh diperhitungkan (Tabel 5, Kolom (6)). Hasil estimasi tersebut tidak berbeda jauh ketika regresi dilakukan tanpa mediator (tanpa var. Kognitif dan kesehatan) di mana anak yang miskin mendapatkan gaji 19% lebih rendah (estimasi OLS) dan 87% lebih rendah (estimasi 2SLS) daripada yang anak yang tidak miskin.

Berdasarkan distribusi kuintil pendapatan, peneliti menemukan bahwa mereka yang berada di kuintil kedua merupakan kelompok yang paling menderita dari kondisi kemiskinan, mendapatkan upah per jam sebesar 91% (= exp (-2.370) –1 x 100%) lebih rendah daripada mereka yang tidak berada di kuintil kedua. Mereka yang tumbuh dalam distribusi pengeluaran per kapita 20% terendah memiliki pendapatan 79% (= exp (-1.538) -1 x 100%) lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak termasuk dalam kelompok itu. Argumen yang mendukung hasil ini ialah karena mereka yang berada di kuintil kedua adalah orang-orang yang rentan berpindah dari status non-miskin ke miskin. Selanjutnya, anak-anak terkaya atau mereka yang hidup di pendapatan 20% tertinggi memperoleh 78% lebih banyak daripada mereka yang bukan.

Terdapat 7 mediator yang dapat menjelaskan hubungan kemiskinan saat anak-anak dengan pendapatan saat dewasa. Peneliti melakukan tes signifikansi, ketika mediator ini diperhitungkan, apakah koefisien menjadi 0 atau tidak signifikan. Meskipun keluarga miskin memiliki kemampuan matematika yang sama dengan anak non-miskin, pendapatan mereka tetap lebih rendah. Adanya pendidikan ini tidak menghilangkan kerugian akibat menjadi miskin. Selanjutnya, ketika mediator depressive symptom score dipertimbangkan, pendapatan anak yang tinggal di keluarga miskin tetap memiliki pendapatan yang lebih rendah saat dewasa. Keadaan paru-paru yang sehat dan “koneksi” dalam pekerjaan juga tetap menghasilkan pendapatan saat dewasa yang lebih rendah bagi anak-anak yang tinggal di keluarga miskin. McKnight (2015) menunjukkan bahwa terdapat faktor “tambahan keuntungan” yang belum bisa dijelaskan dari anak-anak yang hidup pada keluarga yang tidak miskin yang dapat diteliti lebih lanjut lagi. Dalam pembicaraan umum, hal ini sering disebut-sebut sebagai privilege. Meskipun sudah mempunyai kemampuan kognitif yang lebih baik, paru-paru yang cukup sehat, atau bahkan adanya orang yang dikenal dalam suatu pekerjaan, pendapatan anak-anak yang miskin tetap jauh lebih rendah daripada yang tidak.

Dampak besarnya kemiskinan anak terhadap upah per jam menurun ketika peneliti menambah control berupa program BLT dan Raskin (Tabel 8). Mirip dengan mediator lain, peneliti tidak menemukan bukti bahwa menerima program ini memediasi pengaruh tumbuh miskin pada pendapatan sebagai orang dewasa (cash/rice for poor in 2000). Namun, pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan program-program yang bertujuan untuk memutus siklus kemiskinan antargenerasi. Program ini disebut Program Keluarga Harapan (PKH). Ini adalah program bantuan tunai bersyarat yang ditujukan untuk rumah tangga miskin. Ukuran transfer berkisar pada 15%-20% dari pengeluaran rumah tangga tahunan. Kondisi tersebut termasuk memastikan anak-anak usia sekolah dalam rumah tangga bersekolah, wanita hamil melakukan pemeriksaan rutin, dan anak-anak di bawah enam tahun mendapatkan imunisasi lengkap. Cahyadi et al. (2018) mengevaluasi program PKH dalam eksperimen natural RCT enam tahun setelah implementasi dan menemukan efek besar pada penggunaan tenaga kesehatan terlatih selama persalinan. Program ini juga meningkatkan angka school enrollment ratio. Mempertimbangkan sampel kami, kami membutuhkan data dengan time frame yang lebih lama untuk menganalisis efek jangka panjang PKH.

 

Kesimpulan

            Estimasi variabel instrumental kami menunjukkan bahwa seorang anak yang tinggal di keluarga miskin ketika berusia antara 8-17 tahun menderita gaji 87% lebih rendah dibandingkan dengan anak non-miskin. Besarnya efek tersebut hampir sama dengan individu yang memiliki keterbatasan fisik saat dewasa. Sampel yang berada di kuintil kedua pendapatan paling menderita karena hanya mendapatkan gaji paling rendah di antara kelompok pendapatan lain. Bergantung pada set mediator yang peneliti gunakan, diperkirakan bahwa anak yang miskin menerima gaji 85%-90% lebih rendah saat dewasa daripada anak yang tidak miskin. Demikian pula, peneliti tidak menemukan bukti bahwa menerima berbagai program transfer pemerintah memediasi pengaruh tumbuh miskin pada pendapatan sebagai orang dewasa. Namun, pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan program yang bertujuan memutus siklus kemiskinan antargenerasi, yang disebut PKH, dan peneliti memberi rekomendasi untuk meneliti lebih lanjut dampak PKH secara jangka panjang

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in