Depression, Materialism, and Excessive Internet Use in Compulsive Buying

Penulis              : Astrid Mueller, James E. Mitchell, Lisa A. Peterson, Ronald J. Faber, Kristine J. Steffen, Ross D. Crosby, Laurence Claes

Tahun                : 2011

Nama Jurnal    : Comprehensive Psychiatry, 52(4), 420–424.

Diulas oleh       : Naura Nafisha

Ilustrasi oleh   : Agung Dermawan

 

Latar Belakang

Tingginya kemungkinan bahwa setidaknya pernah satu kali dalam hidup seseorang melakukan belanja impulsif dengan berbagai alasan atau kondisi dalam hidupnya. Namun ternyata, belanja secara berlebihan atau secara impulsif ini apabila berlanjut secara terus menerus dapat dikategorikan sebagai sebuah penyakit atau mental disorders. Data menyebutkan bahwa sekitar 8.1% masyarakat Amerika Serikat terindikasi perilaku compulsive buying. Penelitian dari Korea menunjukkan bahwa terdapat 6% perempuan dan 5.5% laki-laki dari Amerika Serikat yang memenuhi kriteria sebagai compulsive buyers.

Compulsive buying merupakan karakteristik seseorang perilaku belanja dan pembelian yang mengakibatkan kesulitan yang nyata dan menyebabkan kesulitan interpersonal dan finansial. Perilaku ini telah dikategorikan sebagai salah satu mental disorders dan sudah terdapat peneliti yang mengkontstruksikan kriteria diagnosa untuk perilaku ini. Selama ini, compulsive buying sering diasosiasikan dengan kondisi psikologis seseorang seperti suasana hati, anxiety disorder, gangguan obsesif-kompulsif, penumpukan kompulsif, gangguan kepribadian, dan gangguan kontrol impuls, dan intermitten explosive disorders.

Akan tetapi, masih sedikitnya penelitian terdahulu yang melihat hubungan antara compulsive buying dengan nilai materialistik seseorang. Nilai materialistis didefinisikan sebagai keyakinan bahwa perolehan barang-barang material adalah tujuan kehidupan pusat, indikator utama kesuksesan, dan kunci menuju kebahagiaan dan definisi diri. Nilai meterialistik ini memiliki kemungkinan berkorelasi dengan perilaku compulsive buying. Tidak hanya itu, penelitian baru-baru ini menemukan bahwa adanya kecenderungan intensitas penggunaan internet untuk berbelanja secara berlebihan yang dapat mendorong compulsive buying. Oleh sebab itu, peneliti ingin melihat hubungan antara compulsive buying dengan gejala depresi, nilai meterialistik, dan intensitas penggunaan internet.

Data

Data penelitian ini didapatkan dari survei yang dilakukan kepada 387 responden yang berumur 18 hingga 74 tahun. Sebanyak dua pertiga dari respondennya berjenis kelamin perempuan. Survei secara online ini dilakukan pada bulan Januari 2008 hingga May 2009.  Kuesioner online ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama merupakan informasi demografi seperti usia, jenis kelamin, dan pendapatan per tahun. Bagian kedua merupakan pertanyaan mengenai pola preferensi belanja online responden. Bagian ketiga pada survei ini mencoba mengeksplorasi terkait perilaku compulsive buying, depresi, materialistik, dan penggunaan internet yang berlebihan. Indikator untuk mendeteksi gejala depresi peneliti merujuk pada pertanyaan Patient Health Questionnaire Depression Scale (PHQ-9). Selanjutnya, untuk mendeteksi sifat materialistik dilakukan menggunakan Materialistic Values Scale (MVS). Sedangkan untuk intensitas penggunaan internet, peneliti menggunakan Internet Use Measurement (IUM)

 

Metodologi

Peneliti menggunakan beberapa metode dalam penelitian ini. Metode Spearman Correlation Coefficient digunakan untuk melihat hubungan antara compulsive buying dengan depresi, materialisme, dan penggunaan internet berlebihan. Selain itu, peneliti juga menggunakan analisis varians dan x2 test untuk membandingkan compulsive buying respondents dan responden yang bukan compulsive buying. Peneliti juga menggunakan metode Stepwise Logistic Regression untuk menganalisis keseluruhan variabel yang ada.

Pembahasan

            Hasil perhitungan menggunakan metode Spearman pada tabel 2 menunjukkan bahwa compulsive buying memiliki korelasi yang positif dengan semua variabel independen yang ada. Akan tetapi, hanya satu variabel yang secara signifikan memengaruhi compulsive buying yaitu TV Browsing. Oleh karena itu, metode spearman tidak dapat mengungkapkan korelasi yang signifikan antara pola atau preferensi belanja dengan compulsive buying.

 

 

Selanjutnya, untuk melihat adakah perbedaan antara responden compulsive buyers dan responden yang bukan menggunakan analisis varians (ANOVA). Meskipun jumlah responden yang merupakan compulsive buyer hanya berjumlah 17% dari total responden, tetapi hasil perhitungan pada tabel 3 menunjukkan terdapatnya perbedaan yang signifikan pada level 1% pada variabel depresi, materialistik, dan intensitas penggunaan internet. Di lain sisi, ditemukan tidak adanya perbedaan secara signifikan terkait jenis kelamin, pendapatan, dan status pernikahan pada responden compulsive buyer dan responden non compulsive buyers.

 

Berikutnya, peneliti melakukan analisis Stepwise Logistic Regression menggunakan variabel compulsive buying dengan variabel depresi, materialistik, dan intensitas penggunaan internet. Variabel lain seperti usia, jenis kelamin, dan lainnya tidak diikut sertakan dalam regresi karena pada metode Anova menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan pada responden compulsive buyer dan responden non compulsive buyer.  Hasil regresi dapat dilihat pada tabel 4  menunjukkan bahwa hanya depresi dan materialistik yang berhubungan dengan compulsive buying. Sedangkan, intensitas penggunaan internet ditemukan tidak memiliki terkait secara signifikan dengan compulsive buying. Peneliti juga menjelaskan bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan pada two-way interaction pada model ini.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa benar adanya hubungan antara gejala depresi dan nilai materialistik pada seseorang dengan perilaku compulsive buying. Hasil diatas menunjukkan korelasi yang lebih kuat antara nilai materialistik dengan perilaku compulsive buying dibandingkan penelitian sebelumnya. Hasil yang ditemukan pada penelitian ini juga sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Bertentangan dengan hasil dari metode Anova, pada model regresi ditemukan bahwa intensitas penggunaan internet tidak berkorelasi dengan perilaku compulsive buying. Hal ini menjelaskan bahwa responden compulsive buyer memang secara signifikan cenderung lebih intens menggunakan internet dibandingkan responden non compulsive buyer. Akan tetapi, penggunaan internet tersebut menjelaskan tidak hanya penggunaan internet untuk berbelanja namun juga penggunaan unutk bermain games online. Melalui hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa responden compulsive buyer tidak memiliki preferensi untuk berbelanja secara online dibandingkan responden non compulsive buyer. Banyak dari responden compulsive buyers menikmati interaksi yang dilakukan belanja secara langsung seperti interaksi dengan pramuniaga dan lainnya.

Menariknya, interaksi yang tidak signifikan dari dua variabel materialistik dan gejala depresi, menunjukkan bahwa masing-masing variabel memengaruhi perilaku compulsive buying secara independen. Hal ini mengindikasikan terdapatnya dua kelompok compulsive buying. Kelompok pertama dari compulsive buying adalah kelompok yang melakukan compulsive buying didorong atas nilai materialistik dan keinginan untuk memiliki benda secara berlebihan. Kelompok ini cenderung memiliki sifat impulsif dan pengendalian diri yang buruk. Kelompok kedua adalah kelompok yang melakukan compulsive buying didasarkan atas motivasi dari perasaan dalam diri sendiri. Perasaan yang dirasakan seperti rendahnya tingkat percaya diri dan merasa memiliki kekuasaan atau kontrol dalam jangka pendek. Kelompok kedua ini cenderung memiliki gejala depresi. Oleh karena itu, penanganan pasien compulsive buyers harus berdasarkan pemicu atau sesuai dengan jenis pasien tersebut dalam compulsive buyers.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in