How Post-Industrial Families Talk: Parental Socialization Values

 

Judul               : What Should Children Learn? Americans’ Changing Socialization Values, 1986–2018

Penulis             : Kei Nomaguchi & Melissa A. Milkie

Tahun              : 2019

Nama Jurnal  : Socius: Sociological Research for a Dynamic World Volume 5: 1–17

Diulas oleh     : Utomo Noor Rachmanto

Ilustrasi oleh  : Rizki Fajar Satrya

 

Latar Belakang

Kualitas yang dimiliki oleh seorang anak di masa depan tergantung dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak kecil. Nilai-nilai orang tua untuk mendidik anak-anaknya juga mencerminkan bagaimana penduduk Amerika Serikat memandang kultur masyarakat mereka secara general. Beberapa penelitian mengenai tren nilai sosialisasi untuk diberikan pada anak-anak mengonfirmasi terjadinya pergeseran dari awal abad ke-20 hingga awal 1980-an, di mana nilai terpenting untuk diajarkan kepada anak-anak bergeser dari kepatuhan (obedience) menjadi otonomi (autonomy). Namun, studi sejak pertengahan tahun 1980-an hingga 2018 menunjukkan dua perdebatan yang cukup sengit. Di satu sisi, perubahan pasar tenaga kerja semakin meningkatkan ketidakamanan finansial bagi orang tua, sehingga mereka merasa perlu untuk menanamkan nilai kerja keras (diligence) dengan lebih gencar daripada otonomi (autonomy) agar anaknya dapat mempersiapkan kehidupan yang lebih baik. Di sisi lain, meskipun ketidakamanan ekonomi terus meningkat, pergeseran nilai dalam masyarakat pasca-industri mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan tingkat tinggi (high-order needs), seperti kebebasan, kesejahteraan individu, serta ekspresi diri. Dengan demikian, orang tua justru lebih menekankan nilai ekspresi diri, seperti otonomi (autonomy) dan kasih sayang (compassion) daripada nilai kerja keras (diligence). Oleh karena itu, studi ini ingin menganalisis perubahan nilai sosialisasi yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka selama 32 tahun terakhir.

 

Data & Metode

Penelitian ini menggunakan data dari General Sosial Survey (GSS) dari tahun 1986 – 2018, tetapi hanya diambil selama 17 tahun dengan rincian 1986, 1988, 1990, 1991, 1994, 1996, 1998, 2000, 2002, 2004, 2006, 2008, 2010, 2012, 2014, 2016, dan 2018. Pertanyaan mengenai kualitas apa yang disukai oleh responden untuk diajarkan kepada anak-anak tidak hanya untuk orang tua yang memiliki anak, tetapi juga mereka yang belum memiliki anak dan belum menikah. Penelitian ini menggunakan jumlah sampel sebanyak N = 23.109 untuk analisis deskriptif. Sementara itu, untuk analisis dekomposisi hanya fokus pada dua tahun, yaitu tahun 1986 dengan n = 732 dan tahun 2018 dengan n = 1542.

Responden diminta untuk memberi peringkat untuk lima sifat dari yang terpenting hingga yang paling tidak penting bagi anak-anak untuk belajar mempersiapkan diri bagi kehidupan: obedience (“untuk taat”), autonomy (“Berpikir untuk diri sendiri”), diligence (“untuk bekerja keras”), compassion (“untuk membantu orang lain”), dan likeability (“untuk menjadi populer”). Namun, studi ini hanya fokus pada tiga sifat yang cocok untuk menguji perubahan dalam nilai kelangsungan hidup (survival) versus nilai ekspresi diri (self-expression). Indikator untuk menandakan nilai bertahan hidup ialah diligence, sementara nilai ekspresi diri ditandakan dengan nilai autonomy dan compassion. Setiap sifat diukur sebagai ordered variable, di mana nilai yang lebih tinggi berarti bahwa sifat itu memiliki peringkat lebih tinggi dalam kepentingan diantara lima sifat yang disediakan (5 = paling penting; 1 = paling tidak penting). Untuk mengukur peringkat rata-rata dari nilai otonomi (autonomy) dan kasih sayang (compassion) relatif terhadap kerja keras (diligence), peneliti mengurangi peringkat dari nilai autonomy dan compassion denan nilai diligence. Hasilnya akan menunjukkan interval dari -4 hingga +4, di mana nilai positif menunjukkan pergeseran ke nilai ekspresi diri, dan sebaliknya.

Di mana, Y2 – Y1 adalah perubahan peringkat nilai otonomi (autonomy) dan kasih sayang (compassion) relatif terhadap kerja keras (diligence). ∆a adalah intercept, ∆bx1 adalah perubahan efek dari variabel penjelas, b1∆x adalah perubahan tingkat variabel penjelas, ∆b∆x adalah interaksi antara perubahan efek dan perubahan tingkat variabel penjelas.

Kemudian, jurnal ini juga melakukan analisis dekomposisi dengan model ordinary least square (OLS) untuk memeriksa sejauh mana perubahan agregat dalam nilai-nilai penduduk Amerika untuk anak-anak yang dicatat oleh perubahan dalam variabel-variabel lain, seperti tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan ras/etnis. Tingkat pendidikan adalah variabel dummy, di mana 1 = responden yang memiliki gelar sarjana selama empat tahun atau lebih tinggi; 0 = tingkat pendidikan di bawah sarjana. Status pekerjaan diukur dalam tiga kategori, yaitu profesional whitecollar (yang berkaitan dengan manajerial dan profesional), non-profesional whitecollar (administrasi, sales, dan lainnya), serta non-profesional bluecollar (seperti pertanian, perikanan, dan lainnya). Terakhir, ras diukur dalam 3 variabel dummy, yaitu ras kulit putih, ras kulit hitam, dan lainnya. Selain itu, terdapat beberapa variabel demografi, seperti usia, jenis kelamin, status pernikahan, status orang tua, status pekerjaan, dan pendapatan keluarga, pandangan politik dan tingkat religiusitas.

 

Hasil & Pembahasan

Gambar 1 menunjukkan tren dalam persentase orang dewasa yang memilih lima sifat terpenting hingga tidak penting untuk pengasuhan anak-anak dari tahun 1986 hingga 2018. Persentase orang dewasa yang melaporkan otonomi sebagai kualitas paling penting untuk anak-anak menurun dari 51,2 persen pada tahun 1986 menjadi 41,6 persen pada tahun 2018. Sebaliknya, persentase orang dewasa yang melaporkan kerja keras sebagai kualitas paling penting untuk anak-anak meningkat hingga lebih dari dua kali lipat dari 11,2 persen menjadi 27,6 persen. Persentase orang dewasa yang melaporkan kasih sayang sebagai yang paling penting untuk mempersiapkan anak-anak untuk masa depan mereka meningkat dari 13,7 persen menjadi 20,7 persen. Persentase orang dewasa yang melaporkan kepatuhan sebagai yang paling penting menurun terus dari 23,4 persen menjadi 9,9 persen. Persentase dari nilai likability (“menjadi populer”) sebagai kualitas paling penting adalah yang paling kecil dari keseluruhan nilai. Singkatnya, meskipun otonomi yang mencerminkan nilai ekspresi diri tetap merupakan kualitas terbaik yang dipilih orang dewasa di AS sebagai kualitas paling penting untuk anak-anak selama 32 tahun, persentasenya menunjukkan penurunan. Sementara itu, persentase orang dewasa AS yang memilih kerja keras sebagai kualitas terpenting meningkat lebih dari dua kali lipat selama tiga dekade. Preferensi untuk kasih sayang, juga menunjukkan peningkatan meskipun tidak sedramatis kerja keras. Terakhir, preferensi untuk kepatuhan menurun hingga lebih dari setengahnya, menunjukkan bahwa penduduk AS semakin jauh dari nilai-nilai tradisional.

Gambar 2 menunjukkan peringkat rata-rata otonomi atau kasih sayang relatif terhadap peringkat rata-rata kerja keras untuk memeriksa perubahan nilai dalam dimensi nilai bertahan hidup versus ekspresi diri. Dengan beberapa fluktuasi, peringkat rerata preferensi untuk otonomi relatif terhadap kerja keras secara bertahap menurun dari 0,71 pada tahun 1986 menjadi -0,02 pada tahun 2018. Perbedaan antara tahun 1986 dan 2018 adalah signifikan secara statistik (p<0,01, uji t). Khususnya, hingga tahun 2008 masih menunjukkan hasil yang positif, yang berarti bahwa rata-rata orang Amerika memberi peringkat otonomi lebih tinggi dari kerja keras di antara lima sifat. Namun, pada 2010-an, angkanya bergeser menjadi negatif (kecuali untuk 2012). Hal ini menunjukkan bahwa orang Amerika dalam satu dekade terakhir menilai kerja keras sama atau lebih tinggi daripada otonomi sebagai sifat penting yang harus dipelajari oleh anak-anak. Untuk nilai kasih sayang, peringkat rerata kasih sayang ke rerata kerja keras menurun sedikit dari -0,01 pada tahun 1986 menjadi -0,17 pada tahun 2018. Meskipun secara statistik signifikan (p <0,05), perbedaan dalam peringkat rerata kasih sayang relatif terhadap kerja keras antara 1986 dan 2018 jauh lebih kecil daripada perbedaan dalam rerata peringkat otonomi relatif terhadap kerja keras pada periode waktu yang sama.

Sejauh ini, penelitian menunjukkan pergeseran yang cukup besar dari otonomi menuju kerja keras dan pergeseran yang lebih kecil dari kasih sayang ke kerja keras. Akan tetapi, sejauh mana perubahan nilai ini apabila dilihat dari karakteristik di variabel independen? Tabel 1 menunjukkan distribusi orang Amerika dalam beberapa karakteristik yang terkait dengan nilai-nilai untuk anak-anak dari 1986 hingga 2018. Tiga variabel utama yang telah dibahas sebelumnya menunjukkan banyak perubahan. Pertama, terdapat peningkatan penduduk AS dengan gelar sarjana dari 20 persen menjadi 33 persen. Kedua, bagian orang-orang dengan pekerjaan whitecollar profesional dan non-profesional meningkat, sedangkan bagian orang-orang dengan pekerjaan bluecollar non-profesional menurun. Terakhir, persentase orang dewasa “ras lain” meningkat cukup tinggi dari waktu ke waktu dari 4 persen menjadi 12 persen.

Sedangkan, untuk variabel demografi lainnya juga menunjukkan berbagai perubahan yang cukup signifikan. Persentase mereka yang berusia 55 atau lebih tua meningkat dari 28 persen menjadi 34 persen. Selanjutnya, status bercerai dan tidak pernah menikah juga meningkat cukup signifikan pada tahun 2018 relatif terhadap tahun 1986. Persentase responden yang hidup dengan anak di bawah 18 tahun mengalami penurunan yang cukup besar, dari 43 persen pada tahun 1986 menjadi 27 persen pada tahun 2018. Orang Amerika yang mengidentifikasi diri mereka sebagai liberal secara politik meningkat dari 23 persen menjadi 30 persen. Frekuensi kehadiran layanan keagamaan menurun dari 4,07 menjadi 3,14, dengan rentang dari 0 hingga 8. Lalu, apa implikasi perubahan populasi ini terhadap perubahan preferensi orang Amerika daru otonomi menuju kerja keras?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan model umum dari Firebaugh (1997) untuk menguraikan perubahan agregat dalam preferensi orang Amerika untuk otonomi atau belas kasih  sayang relatif terhadap kerja keras untuk anak-anak. Perubahan tersebut masing-masing dibagi menjadi empat komponen antara tahun 1986 dan 2018, termasuk: (1) perubahan dalam intercept (2) perubahan efek dari variabel independen, (3) perubahan tingkat variabel penjelas, dan (4) perubahan bersama pada efek dan tingkat dari variabel penjelas. Hasil untuk preferensi untuk otonomi relatif terhadap kerja keras disajikan pada Tabel 2. Kolom 1 dan 2 menyajikan koefisien b dan standar error dari model regresi OLS yang memeriksa hubungan antara variabel independen dan preferensi untuk otonomi relatif terhadap kerja keras pada tahun 1986 dan 2018. Seperti yang diharapkan, orang Amerika dengan gelar sarjana lebih mungkin daripada mereka yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah untuk lebih memilih otonomi daripada kerja keras. Seperti yang telah diprediksikan juga, orang Amerika dengan pekerjaan profesional lebih cenderung memilih otonomi daripada kerja keras dibandingkan dengan orang Amerika dengan pekerjaan bluecollar, meskipun hubungan ini hanya signifikan pada tahun 1986. Konsisten dengan prediksi peneliti, walaupun hanya signifikan pada tahun 2018, orang Amerika yang mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai “ras lain” lebih kecil kemungkinannya daripada orang Amerika yang mengidentifikasi diri mereka sebagai kulit putih untuk menekankan otonomi relatif terhadap kerja keras.

Beberapa hasil lain dari karakteristik demografi juga menarik untuk dibahas. Masyarakat Amerika yang lebih muda (usia 18 hingga 34) lebih besar kemungkinannya memilih otonomi daripada kerja keras daripada orang Amerika yang berusia 35 hingga 54 tahun. Wanita lebih cenderung daripada pria untuk lebih suka otonomi daripada kerja keras untuk anak-anak. Mereka yang belum pernah menikah lebih mungkin daripada yang telah menikah untuk lebih suka otonomi daripada kerja keras, meskipun hanya signifikan pada tahun 1986. Walaupun signifikan hanya pada tahun 1986, orang tua yang hidup dengan anak-anak di bawah 18 tahun lebih cenderung memiliki otonomi daripada kerja keras daripada mereka yang belum memiliki anak. Penduduk Amerika yang mengidentifikasi diri mereka sebagai liberal secara politik lebih mungkin daripada orang Amerika yang mengidentifikasi diri sebagai orang yang konservatif untuk lebih memilih otonomi daripada kerja keras. Terakhir, mereka yang menghadiri kebaktian keagamaan dengan lebih jarang cenderung lebih memilih otonomi daripada kerja keras, meskipun hal tersebut hanya signifikan pada tahun 2018.

Selanjutnya, kolom 3 pada Tabel 2 menunjukkan perbedaan dalam koefisien antara tahun 1986 dan 2018, yang akan menunjukkan perubahan dalam pengaruh variabel tertentu pada preferensi orang Amerika untuk nilai otonomi relatif terhadap kerja keras. Meskipun beberapa variabel yang signifikan pada tahun 1986 tidak signifikan pada tahun 2018 dan sebaliknya, tidak ada perbedaan dalam koefisien antara tahun 1986 dan 2018 signifikan secara statistik. Kolom 4 dan 5 pada Tabel 2 menyajikan centered means untuk setiap variabel pada tahun 1986 dan 2018, masing-masing. Sementara itu, kolom 6 menyajikan perbedaan dalam centered means antara tahun 1986 dan 2018. Informasi yang sama ditunjukkan pada Tabel 1, tetapi semua variabel independen menunjukkan centered means.

Kolom 7 hingga 10 menunjukkan komponen perubahan agregat dalam preferensi untuk otonomi ke kerja keras antara 1986 dan 2018 berdasarkan pergantian demografis. Kolom 7 menunjukkan sejauh mana perubahan agregat dalam preferensi dapat dikaitkan dengan perubahan efek dari variabel independen. Tidak ada perubahan signifikan (pada level p <.05) dalam efek yang berkontribusi pada tingkat agregat perubahan preferensi. Kolom 8 menunjukkan sejauh mana perubahan agregat dalam preferensi dapat dikaitkan dengan perubahan tingkat dari variabel independen. Usia 18 hingga 34 tahun dalam populasi (0,034), orang Amerika yang belum pernah menikah (0,061), dan yang mengidentifikasi diri mereka secara politis liberal (0,031) secara signifikan berkontribusi terhadap perubahan preferensi otonomi relatif terhadap kerja keras. Kolom 9 menunjukkan perubahan joint effect (efek bersama) pada slope dan levelnya. Efek bersama antara orang Amerika yang belum pernah menikah dan perubahan dalam asosiasi kelompok ini dengan preferensi berkontribusi negatif terhadap pergeseran preferensi untuk otonomi relatif terhadap kerja keras (–.066). Kolom 10 adalah jumlah komponen dari kolom 7 hingga 9, yang menunjukkan kontribusi keseluruhan dari perubahan variabel independen terhadap perubahan agregat dalam preferensi orang Amerika untuk otonomi relatif terhadap kerja keras. Peningkatan di Amerika dengan gelar sarjana (0,034), peningkatan mereka yang mengidentifikasi secara politis liberal (0,025), penurunan di Amerika usia 18 hingga 34 (0,028), serta mereka yang menghadiri layanan keagamaan secara teratur (0,025) berkontribusi pada peningkatan dalam preferensi untuk otonomi daripada kerja keras dari 1986 hingga 2018.

Ringkasan dari persamaan dekomposisi ditunjukkan di bagian bawah Tabel 2. Kontribusi keseluruhan karena pergantian demografis (“level”) adalah signifikan dan bertanda positif (0,189). Hal ini menunjukkan bahwa pergantian demografis berkontribusi pada pergeseran menuju otonomi relatif terhadap kerja keras. Perubahan keseluruhan adalah negatif (–722), yang berarti bahwa keseluruhan perubahan terjadi dari otonomi ke kerja keras. Selain itu, perubahan ini didorong oleh perubahan intersep (–910), yang menunjukkan pergeseran budaya secara umum dalam nilai-nilai orang Amerika untuk anak-anak yang tidak dapat dijelaskan oleh perubahan demografis.

Kesimpulan

Singkatnya, analisis dekomposisi menunjukkan bahwa terdapat pergeseran dari otonomi ke kerja keras yang tidak berasal dari pergantian populasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pergantian budaya yang baru terungkap dari nilai ekspresif diri ke nilai bertahan hidup. Peneliti juga mencatat beberapa perubahan demografis, seperti peningkatan derajat perguruan tinggi dan penurunan kehadiran agama yang telah berkontribusi pada pergeseran dari kerja keras ke otonomi. Dengan kata lain, hasil tersebut menunjukkan bahwa jika perubahan demografis dan lainnya tidak terjadi, perubahan nilai dari otonomi ke kerja keras akan lebih dramatis. Sebaliknya, peneliti juga melihat sedikit pergeseran dalam preferensi yang menjauh dari nilai kasih sayang menuju kerja keras. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan penekanan pada kerja keras untuk bertahan hidup dalam ekonomi yang semakin genting dan tidak aman, kecenderungan menuju nilai-nilai ekspresi diri juga terus berlanjut, terbentuk dalam bentuk kasih sayang terhadap orang lain.

Sebagai kesimpulan, latar belakang sosial dan budaya untuk kualitas ideal anak-anak terus berubah. Lalu, ciri-ciri apa yang harus diperoleh anak-anak ketika mereka menempa masa depan di dunia pascaindustri yang tidak menentu secara ekonomi pada tahun 2020 dan seterusnya? Dibandingkan dengan tahun 1980-an, bekerja keras dipandang relatif lebih penting, dan berpikir untuk diri sendiri atau otonomi relatif kurang penting. Selain itu, saat ini kasih sayang dipandang sebagai kualitas yang paling penting daripada dulu melampaui kepatuhan. Dengan kata lain, nilai kepatuhan terus menunjukkan grafik yang selalu mengalami penurunan selama puluhan tahun di Amerika. Perubahan ini tidak dijelaskan oleh perubahan dalam komposisi demografis dalam populasi A.S. Perubahan tingkat makro, seperti orientasi budaya yang lebih besar dari masyarakat A.S. kemungkinan telah mengubah iklim untuk menilai masa depan anak-anak dan menunjuk pada sesuatu di mana lebih banyak orang dewasa memandang persiapan anak-anak lebih membutuhkan nilai kerja keras daripada sifat lainnya.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in