Food Waste: The World’s Most Unnoticable Sins

Introduction

Permasalahan sampah makanan atau food waste telah menjamur di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, sekitar 150.000 ton makanan terbuang oleh seluruh rumah tangga setiap harinya (The Guardian, 2018). Di India, sekitar 40% dari total makanan yang diproduksi terbuang sia-sia setiap tahunnya (The Forbes, 2019). Bagaimana jika di Indonesia? Dalam sebuah studi dari The Economist, diperkirakan setiap orang Indonesia dapat menghasilkan sampah makanan bahkan hingga 300 kilogram per tahun. Akan tetapi, dengan angka yang fantastis tersebut, permasalahan food waste ternyata belum menjadi masalah yang mendesak bagi sebagian besar masyarakat (Qi dan Roe, 2016). Masyarakat–dan mungkin termasuk kita–masih belum sadar dengan urgensi dari permasalahan ini. Oleh karena itu, melalui Grand Primera dari Divisi Penelitian Kanopi FEB UI kali ini, Food Waste: The World’s Most Unnoticeable Sins, kami ingin mengulik pandangan masyarakat mengenai fenomena food waste, sekaligus mengetahui faktor-faktor apa saja yang membuat masyarakat melakukan food waste.

Data & Methodology

Dalam penelitian kali ini, kami memperoleh sebanyak 111 responden yang terdiri atas 47 laki-laki dan 64 perempuan dari berbagai tingkat pendidikan (55% SMA atau sederajat, 25% S1, 8% S2, 3% D3, 1% D4, dan 1% D1), berbagai tingkat pendapatan (38% < Rp1.000.000, 23% Rp5.000.000 atau lebih, 15% Rp2.000.000 – Rp2.999.999, 13% Rp3.000.000 – Rp3.999.999, 8% Rp1.000.000 – Rp1.999.999, dan 4% Rp4.000.000 – Rp4.999.999), dan berbagai jenis pekerjaan (58% Pelajar atau Mahasiswa, 23% Karyawan Swasta, 7% Pegawai Negeri Sipil, 4% Wiraswasta, 4% Ibu Rumah Tangga, dan 5% lainnya seperti Polri, TNI, atau driver online). Metode penelitian yang kami gunakan adalah convenience random sampling. Melalui metode ini, kami melakukan penelitian dengan mewawancarai responden yang kami temui secara langsung di sekitar kawasan Blok M dan Blok S. Kami juga menyebarkan kuesioner daring kepada 40 responden dari keseluruhan 111 responden.

Food Waste Problem

Seluruh manusia di muka bumi tentu membutuhkan makanan. Makhluk hidup lain, seperti tumbuhan dan hewan juga membutuhkan makanan. Makanan yang kita makan memberi kita berbagai nutrisi: vitamin, mineral, air, lemak, karbohidrat, serat, dan protein. Makanan yang kita makan juga menyuplai tubuh kita energi untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari dalam bentuk glukosa. Karenanya, makanan merupakan bagian esensial dari kehidupan setiap makhluk hidup. Akan tetapi, meski makanan merupakan hal yang penting, seringkali masyarakat membuang-buang makanannya tanpa alasan yang jelas. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nikolaus et al. (2018) dari Universitas Illinois di Amerika Serikat, orang-orang muda, khususnya mereka yang berusia 18 hingga 24 tahun, dikenal sangat ceroboh dengan makanan. Orang-orang juga masih bersikap denial atau menolak terhadap permasalahan food waste ini. Oleh karena itu, kami mendedikasikan bagian awal ini untuk meneliti determinan apa saja yang berkaitan dengan perilaku food waste di masyarakat.

Kami memulai bagian awal dari penelitian ini dengan menanyakan kepada masyarakat faktor apa yang membuat mereka membeli suatu produk makanan. Ada sebagian orang yang membeli produk makanan karena harga, ada yang membeli karena porsi, dan ada pula yang membeli karena rasa. Hal ini menunjukkan adanya variasi pada masyarakat dalam membeli produk makanan. Penelitian kami pun membuktikan adanya variasi ini. Sebanyak 33% masyarakat menganggap rasa sebagai faktor utama yang memengaruhi mereka dalam membeli produk makanan, disusul dengan harga di posisi kedua sebanyak 26% dan kualitas makanan di posisi ketiga sebanyak 18%. Dalam penelitian yang kami lakukan, hanya sebanyak 7% dari masyarakat yang menganggap kualitas atau nilai gizi sebagai faktor utama yang memengaruhi mereka dalam membeli produk makanan. Penemuan ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Warde (1977) yang menemukan bahwa rasa memiliki pengaruh yang signifikan pada preferensi makanan konsumen sehingga dapat mengarahkannya untuk memilih makanan berdasarkan rasa daripada nilai gizi. Di luar keempat faktor tersebut, ada pula faktor-faktor lain, seperti porsi (11%), merk (3%), dan tren (2%).

Selanjutnya, kami bertanya kepada responden tentang faktor-faktor apa saja yang membuat mereka tidak menghabiskan makanan yang sudah mereka beli. Kita telah mengetahui bahwa sebagian besar masyarakat (33%) menganggap rasa sebagai faktor utama yang memengaruhi mereka dalam membeli produk makanan, tetapi apakah rasa juga menjadi faktor utama yang memengaruhi mereka untuk tidak menghabiskan makanannya? Ternyata, penelitian kami menunjukkan bahwa rasa merupakan hal utama yang menyebabkan masyarakat (termasuk responden) tidak menghabiskan makanannya dengan memeroleh persentase sebanyak 23% dari keseluruhan responden. Faktor-faktor lain seperti porsi, kandungan gizi, tanggal kedaluwarsa, dan kebersihan makanan pun secara bersamaan berada di posisi selanjutnya dengan persentase yang diperoleh masing-masing faktor sebesar 13%. Kemudian, faktor-faktor seperti kualitas makanan (12%), mood (11%), merk (1%), kekenyangan (1%), dan alergi tertentu (1%) juga ditemukan dalam penelitian kami. Apa yang kami temukan dalam penelitian ini pun sesuai dengan studi dari Yayasan Waste & Resources Action Programme di Inggris yang menemukan bahwa faktor rasa, porsi, dan tanggal kedaluwarsa memang merupakan alasan yang paling sering disebutkan masyarakat untuk membuang-buang makanan.

Kemudian, kami ingin mengulik lebih dalam perihal kesediaan untuk membayar atau willingness to pay (WTP) masyarakat berkaitan dengan perilaku food waste ini. Untuk memeroleh data WTP ini, kami menanyakan kepada masyarakat rata-rata anggaran mereka dalam membeli makanan berdasarkan dua jenis tempat makan, yakni 1) restoran/café/mall/fast food, dan 2) warteg/PKL/food court. Rupanya, penelitian kami menunjukkan bahwa masyarakat memiliki WTP yang lebih tinggi di restoran/café/mall/fast food daripada di warteg/PKL/food court, tercermin dari rata-rata anggaran yang lebih tinggi di restoran/café/mall/fast food.

Berdasarkan bagan di atas, dapat terlihat bahwa sebanyak 50% dari responden menyatakan bahwa rata-rata anggaran untuk membeli makanan di restoran/café/mall/fast food adalah Rp25.000-Rp50.000. Sedangkan, sebanyak 70% dari responden memiliki WTP yang lebih kecil ketika membeli makanan di warteg/PKL/foodcourt, yaitu kurang dari Rp25.000. Alasan yang paling mungkin menjelaskan penemuan ini adalah bahwa pada umumnya makanan yang dihidangkan oleh PKL dijual dengan harga lebih murah daripada makanan cepat saji atau fast food (Alima, 2016). Akibatnya, rata-rata anggaran untuk warteg/PKL/foodcourt lebih kecil daripada rata-rata anggaran untuk restoran/café/mall/fast food.

Lebih lanjut, kami menanyakan kembali perihal WTP ini. Kami bertanya kepada responden berkaitan dengan perilaku mereka apabila harga makanan yang mereka beli berada di atas atau di bawah rata-rata anggaran mereka. Menurut Parfitt et al. (2010), masyarakat cenderung membuang lebih banyak makanan ketika mereka menghabiskan hanya sebagian kecil dari pendapatan mereka. Penelitian kami mengonfirmasi apa yang diutarakan Parfitt et al. (2010) tersebut. Kami menemukan bahwa lebih sedikit responden (48% dari keseluruhan responden) yang menghabiskan makanannya ketika harga makanan berada di bawah anggarannya daripada responden yang menghabiskan makanannya ketika harga makanan berada di atas anggarannya (59% dari keseluruhan responden).

Pada bagian selanjutnya kami ingin mengetahui kaitan perilaku food waste dengan tempat-tempat tertentu. Untuk itu, kami menanyakan responden mengenai tempat atau lokasi mana saja yang paling sering menurut responden untuk tidak menghabiskan makanannya. Penelitian kami menemukan bahwa hampir 50% dari responden menyatakan bahwa kondangan adalah lokasi yang paling sering untuk tidak menghabiskan makanan. Dalam studi yang dilakukan oleh Baig et al. (2018), disebutkan bahwa acara-acara seperti festival keagamaan, pernikahan, dan pesta, memang berkontribusi terhadap fenomena food waste ini, di mana lazim untuk menyajikan jamuan makan mewah dengan makanan segar yang berlimpah. Penelitian oleh Göbel et al. (2015) pun memeroleh hasil yang sama. Göbel et al. (2015) menemukan bahwa mayoritas responden (sebanyak 43% dari 315 responden) menyebutkan bahwa pesta atau perayaan merupakan acara di mana makanan sering terbuang sia-sia dalam jumlah banyak. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan, seperti kesulitan dalam menentukan jumlah tamu yang datang, preferensi makanan para tamu, dan rasa lapar atau selera mereka. Dalam penelitian kami, selain kondangan, tempat-tempat lain, seperti restoran/café/mall/fast food (14%), rumah (13%), dan warung/PKL/food court (11%) juga termasuk dalam tempat-tempat di mana responden tidak menghabiskan makanannya. Uniknya, terdapat sebanyak 7% responden yang bersikap indifferent terhadap permasalahan tempat ini. Dalam kata lain, sebanyak 7% responden dapat tidak menghabiskan makanannya di mana saja tanpa bergantung tempat. Adapula sebanyak 8% responden yang selalu menghabiskan makanannya di mana pun tempatnya.

Kami pun kemudian mengerucutkan kepada dua tempat, yakni di rumah dan di restoran, untuk membandingkan perilaku food waste di kedua tempat tersebut. Dengan menggunakan skala 1 hingga 5, kami menanyakan kepada responden tentang seberapa sering bagi mereka untuk tidak menghabiskan makanannya. Angka 1 menunjukkan bahwa responden sangat jarang melakukan food waste, sementara angka 5 menunjukkan bahwa responden sangat sering melakukan food waste.

Ternyata, penelitian kami menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak terlalu sering, namun pernah melakukan food waste baik di rumah maupun di restoran. Akan tetapi, persentase yang menjawab skala 5 atau sangat sering melakukan food waste lebih banyak di rumah (7%) daripada di restoran (6%). Penemuan ini pun sesuai dengan studi yang ditemukan oleh lembaga Natural Resources Defense Council di Amerika Serikat dalam laporannya yang berjudul “Estimating Quantities and Types of Food Waste at the City Level”. Dalam laporan tersebut, diestimasikan bahwa di kota-kota besar Amerika Serikat seperti kota Denver, New York, dan Nashville, sektor perumahan merupakan sektor penghasil limbah makanan terbanyak, diikuti oleh restoran dan catering.

Beralih dari tempat masyarakat melakukan food waste, kami ingin mencari tahu secara spesifik pada waktu kapan masyarakat paling sering membuang makanannya. Hasil dari penelitian kami menemukan bahwa mayoritas responden (46% dari keseluruhan responden) melakukan food waste di saat makan malam, disusul oleh makan siang yang memeroleh sebanyak 29%. Sementara itu, hanya sebanyak 12.5% dari total responden yang menjawab makan pagi merupakan waktu yang paling sering melakukan food waste. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa secara relatif waktu makan malam merupakan waktu yang paling sering bagi masyarakat untuk melakukan food waste. Alasan yang paling mungkin menjelaskan hal ini adalah bahwa sebagian besar masyarakat menganggap waktu makan pagi merupakan waktu makan yang paling penting dibandingkan waktu makan siang atau makan malam. Akibatnya, banyak orang yang tidak membuang makanannya di pagi hari, karena menganggap makan pagi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Argumen ini pun diperkuat dengan temuan dari Asia Pacific Healthy Breakfast Survey 2018 yang menemukan bahwa sebanyak 72% responden Indonesia setuju bahwa sarapan di pagi hari merupakan waktu makan yang paling penting dibanding makan siang dan malam.

Berikutnya, kami juga menanyakan responden mengenai jenis makanan apa yang secara spesifik sering mereka buang. Ternyata, mayoritas responden paling sering tidak menghabiskan lalapan dan nasi dengan masing-masing memeroleh persentase sebanyak 37% dan 34% secara berurutan. Sementara itu, dalam penelitian kami ditemukan pula bahwa buah merupakan jenis makanan yang tidak pernah dibuang oleh responden. Penemuan ini tidak terlalu mengejutkan, dalam sebuah studi yang dilakukan oleh FAO pada tahun 2016, ditemukan bahwa lalapan (tergolong sebagai sayur-sayuran) dan nasi menduduki peringkat ke-2 dan peringkat ke-4 dalam hal jenis makanan yang sering dibuang oleh masyarakat di seluruh dunia (Garfield, 2018).

Food Waste Awareness

Tidak dapat dimungkiri bahwa kita pernah melakukan food waste tanpa menyadari dampak alam dan sosial yang ditimbulkannya. Seringkali kita tidak sadar meninggalkan dua potong timun, setengah piring nasi, atau bahkan seperempat kilogram daging di atas piring kita. Tidak jarang pula kita menganggap “Ah, ini biasa saja.” tanpa berpikir ada 815 juta orang di seluruh dunia yang berada di luar sana menderita kelaparan. Kita lupa serta tidak peka bahwa permasalahan food waste ini ada dan sedang terjadi di sekitar kita. Menanggapi hal itu, kami mendedikasikan bagian kedua dari penelitian ini untuk mengulik lebih dalam tentang kepekaan masyarakat dalam menyikapi permasalahan food waste ini.

Dalam bagian kedua dari penelitian ini, pertama-tama kami menyebutkan dua fakta terkait fenomena food waste yang belum diketahui oleh responden kami. Kedua fakta tersebut adalah:

  • Di Indonesia, hampir 13 juta ton makanan dibuang sia-sia setiap tahunnya. Jumlah makanan yang terbuang ini dapat memberi makan kurang lebih 28 juta orang, sama dengan angka kelaparan di Indonesia. (Idris, 2016)
  • Selain itu, sisa makanan tersebut dapat meningkatkan emisi metana. Metana dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan berbagai macam masalah, seperti meningkatnya emisi gas rumah kaca dan berbahaya bagi kesehatan manusia, bahkan dapat menyebabkan kematian.(Frischmann, 2018)

 

Rupanya, setelah kami menyebutkan kedua fakta di atas, sebanyak 90 dari 111 responden atau sekitar 90% responden menjawab bahwa mereka menjadi lebih sadar terhadap permasalahan food waste ini. Sementara itu, 8% responden lain menjawab tidak dan 2% sisanya menjawab  Kemudian, apabila kami menganalisis perbedaan respon laki-laki dan perempuan, kami tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara kedua jenis kelamin tersebut. Kedua jenis kelamin secara garis besar menunjukkan respon yang sama, yakni menjadi lebih sadar terhadap permasalahan food waste. Hanya saja, seluruh responden yang menjawab tidak menjadi lebih sadar terhadap permasalahan food waste berasal dari responden laki-laki. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam beberapa derajat tertentu, tingkat kepekaan responden laki-laki sedikit lebih rendah daripada tingkat kepekaan responden perempuan terkait permasalahan food waste ini.

Kami juga menanyakan respon dari responden tentang ketersediaan mereka untuk mengurangi porsi makanan setelah mengetahui kedua fakta di atas. Hal ini perlu ditanyakan mengingat porsi merupakan salah satu faktor yang cukup erat kaitannya dengan permasalahan food waste ini. Ternyata, kami menemukan bahwa mayoritas responden (78% dari keseluruhan responden) bersedia untuk mengurangi porsi makanannya demi menghindari food waste. Uniknya, apabila kami menganalisis responden laki-laki dan perempuan, kami menemukan fakta bahwa responden perempuan lebih bersedia untuk mengurangi porsi makanannya (sebanyak 81% menjawab akan mengurangi porsi makanan) daripada responden laki-laki (sebanyak 74% menjawab akan mengurangi porsi makanan).

Selanjutnya, kami juga ingin mencari tahu alasan dibalik kesadaran yang meningkat ini. Kami ingin mengetahui apa yang menjadi dorongan bagi responden untuk menjadi lebih sadar, apakah lebih didorong oleh dampak terhadap alam atau dampak terhadap sosial. Kami menemukan bahwa lebih banyak responden (71% dari keseluruhan responden) terdorong oleh dampak terhadap sosial dari fenomena food waste ini dibandingkan dengan dampaknya terhadap alam. Selain itu, apabila membandingkan respon laki-laki dan perempuan, kami tidak menemukan perbedaan yang mencolok di antara kedua jenis kelamin tersebut.

Penemuan ini pun sejalan dengan hasil yang diperoleh oleh Watson dan Meah (2013). Watson dan Meah (2013) menemukan bahwa masyarakat cenderung jarang secara eksplisit memperhatikan masalah lingkungan alam, tetapi justru lebih sering memperhatikan dorongan atau motivasi etis bawaan dari lingkungan sosial untuk melakukan “hal yang benar”.

Analisis selanjutnya kami lakukan untuk melihat perbedaan perasaan responden sebelum dan sesudah eksperimen. Untuk mengetahui perbedaan perasaan ini, kami merata-ratakan nilai untuk setiap perasaan, yakni Marah, Malu, Bersalah, Senang, Biasa Saja, dan Sedih. Nilai rata-rata yang kami peroleh kemudian dibagi dengan skala lima untuk mendapatkan perasaan yang sebenarnya dirasakan oleh keseluruhan responden secara rata-rata. Sebelum eksperimen, kami menemukan bahwa secara rata-rata mayoritas responden merasa bersalah (69%) dan sedih (55%) sesaat setelah membuang makanan bersisa di rumah dan/atau restoran. Sesudah eksperimen, kami menemukan pula bahwa secara rata-rata mayoritas responden merasa bersalah (74%) dan sedih (63%) sesaat setelah membuang makanan bersisa di rumah dan/atau restoran. Meski pada saat sebelum dan sesudah eksperimen, mayoritas responden merasa bersalah dan sedih, kami menemukan peningkatan pada kedua rasa tersebut. Sesudah eksperimen, secara rata-rata responden menjadi lebih merasa bersalah, sedih, malu, dan marah. Responden juga menjadi lebih peduli, sebab terdapat perubahan pada perasaan Biasa Saja yang turun dari 48% ke 36%. Perasaan Senang yang kecil sebanyak 23% menunjukkan bahwa secara rata-rata mayoritas responden tidak merasa sedih.

Lalu, setelah mengetahui perasaan responden, kami bertanya kepada responden tentang solusi apa yang mereka anggap terbaik untuk menghentikan atau mengurangi permasalahan food waste ini. Penelitian kami menemukan bahwa mayoritas responden, yakni sebanyak 36% dari keseluruhan responden, setuju bahwa kampanye dari masyarakat secara langsung merupakan solusi terbaik untuk menghentikan permasalahan ini. Solusi ini kemudian disusul solusi-solusi lain, yakni kampanye dari masyarakat melalui media sosial (32%), insentif/hukuman berupa denda dari pemerintah (16%), berita dari media cetak atau elektronik (11%), dan lainnya, seperti pendidikan lingkungan sejak dini di rumah (5%).

Price or Fresh?

Pada bagian ini, kami melakukan eksperimen kedua untuk meneliti preferensi masyarakat terhadap kualitas makanan dan harga makanan.

Dalam eksperimen ini, tanggal kedaluwarsa yang kami berikan adalah tanggal 18 Agustus 2019, 20 Agustus 2019, dan 22 Agustus 2019. Setelah kami melempar pertanyaan di atas kepada responden, kami tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam probabilitas menghabiskan makanan, namun secara relatif probabilitas menghabiskan makanan ketika kedaluwarsa pada tanggal 18 Agustus lebih rendah dibandingkan kedua tanggal lainnya. Penemuan ini sejalan dengan studi Grant et al. (2018) yang menemukan bahwa terdapat lebih kecil kemungkinan untuk membuang makanan apabila ada lebih banyak waktu yang tersisa sebelum makanan tersebut kadaluarsa, begitu pula sebaliknya. Ketika kami menganalisis respon laki-laki dan perempuan, kami menemukan pula bahwa secara rata-rata responden laki-laki memiliki kecenderungan untuk menghabiskan makanan yang lebih tinggi dibandingkan responden perempuan.

Eksperimen berikutnya kami lakukan dengan menampilkan tiga pilihan di bawah ini kepada responden.

Pilihan A

Ayam sayur seharga Rp50.000 untuk 2 porsi, tapi kedaluwarsa dalam 3 hari. (Keterangan: ayam dan sayur organik/segar)

Pilihan B

Ayam sayur seharga Rp60.000 untuk 2 porsi, tapi kedaluwarsa dalam 6 hari. (Keterangan: ayam dan sayur organik/segar)

Pilihan C

Ayam sayur seharga Rp40.000 untuk 2 porsi, tapi kedaluwarsa dalam 9 hari. (Keterangan: makanan dapat dihangatkan di microwave)

Sumber: Grant et al. (2018), dengan modifikasi

Dari ketiga pilihan di atas ini, sebagian besar responden (44% dari keseluruhan responden) memilih pilihan C, yakni ayam sayur seharga Rp40.000, namun bisa dihangatkan. Hasil ini mengindikasikan bahwa responden memperhatikan harga yang lebih murah saat membeli makanan. Selain itu, responden juga cenderung memilih untuk membeli makanan dengan tanggal kedaluwarsa yang lebih lama. Selanjutnya, kami membandingkan pilihan A dan pilihan B. Hasilnya, lebih banyak responden yang memilih pilihan A (36%) dibandingkan pilihan B (20%). Dengan jenis makanan yang sama, namun dengan harga dan tanggal kedaluwarsa berbeda, responden lebih memilih makanan dengan harga yang lebih murah meski dengan tanggal kedaluwarsa yang lebih cepat. Hasil ini semakin memperkuat faktor harga sebagai faktor yang sangat memengaruhi keputusan seseorang dalam membeli makanan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, mayoritas masyarakat tidak sadar ketika melakukan food waste. Keadaan ini tercermin dari banyaknya responden yang mengaku sangat jarang menyisakan makanan di rumah maupun di restoran, tetapi tetap menyisakan makanan dalam kuantitas yang sedikit, seperti lalapan dan beberapa sendok makan nasi. Selain itu, peningkatan rasa bersalah dari responden setelah mengetahui fakta dari buruknya food waste di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat tidak sadar akan bahaya yang ditimbulkan dari problematik ini. Padahal, tanpa kita sadari, permasalahan ini telah membahayakan alam kita dan mengukir kesenjangan sosial di antara kita. Akan tetapi, bukan tidak mungkin bagi kita untuk menghentikan persoalan ini. Dengan langkah kecil, seperti dengan memulai mengonsumsi makanan secara bijak, kita dapat menciptakan perubahan besar untuk dunia yang lebih baik.

Referensi

Website

The Economist Intelligence Unit. (2016). Fixing Food 2016: Towards A More Sustainable Food System. Diakses pada 7 September 2019, dari http://foodsustainability.eiu.com/wp-content/uploads/sites/34/2016/11/Barilla-Fixing-Food.pdf

Felder, S. (2019). How to turn India’s food waste problem into opportunity. Diakses pada 7 September 2019, dari http://www.forbesindia.com/blog/technology/how-to-turn-indias-food-waste-problem-into-opportunity/

Frischmann, C. (2018). The climate impact of the food in the back of your fridge. Diakses pada 7 September 2019, dari https://www.washingtonpost.com/news/theworldpost/wp/2018/07/31/food-waste/?noredirect=on

Garfield, L. (2017). A third of the planet’s food goes to waste — here’s what we throw out the most. Diakses pada 7 September 2019, dari https://www.businessinsider.sg/food-world-wastes-most-2016-10/?r=US&IR=T

Hoover, D. (2017). Estimating Quantities and Types of Food Waste at the City Level. Diakses pada 7 September 2019, dari https://www.nrdc.org/sites/default/files/food-waste-city-level-report.pdf

Idris, M. (2016). 13 Juta Ton Makanan Terbuang Percuma di RI Setiap Tahun. Retrieved 7 September 2019, from https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-3317570/13-juta-ton-makanan-terbuang-percuma-di-ri-setiap-tahun

Milman, O. (2018). Americans waste 150,000 tons of food each day – equal to a pound per person. Diakses pada 7 September 2019, dari https://www.theguardian.com/environment/2018/apr/18/americans-waste-food-fruit-vegetables-study

Paramita, A. (2018). Inilah Fakta Sarapan Orang Indonesia. Diakses pada 7 September 2019, dari https://www.msn.com/id-id/kesehatan/health/inilah-fakta-sarapan-orang-indonesia/ar-AAw3wmA

Quested, T., & Murphy, L. (2014). Household food and drink waste: A product focus. WRAP. Diakses pada 7 September 2019, dari http://www.wrap.org.uk/content/household-food-drink-waste-%E2%80%93-product-focus

Jurnal

Alima  BA  (2016).  Risk  factors  in  street  food  practices  in  developing  countries:  A  review.  Food  Science  and  Human  Wellness  5(3):141-148.

Baig, M. B., Gorski, I., & Neff, R. (2018). Understanding and addressing waste of food in the Kingdom of Saudi Arabia. Saudi Journal of Biological Sciences. https://doi.org/10.1016/j.sjbs.2018.08.030

Göbel, Christine & Langen, Nina & Waskow, Frank. (2015). The effectiveness of advice and actions in reducing food waste. Proceedings of the ICE – Waste and Resource Management. 168. 72-86. 10.1680/warm.13.00036.

Grant, Kara R., Gallardo, R. Karina, McCluskey, Jill and Mandal, Bidisha, (2018), Consumers perceptions of their own food waste. Evidence from WTP estimates and premeditated waste, No 273833, 2018 Annual Meeting, August 5-7, Washington, D.C., Agricultural and Applied Economics Association.

Nikolaus, Cassandra & M. Nickols-Richardson, Sharon & Ellison, Brenna. (2018). Wasted food: A qualitative study of U.S. young adults’ perceptions, beliefs and behaviors. Appetite. 130. 70-78. 10.1016/j.appet.2018.07.026.

Parfitt Julian, Barthel Mark and Macnaughton Sarah. Food waste within food supply chains: quantification and potential for change to 2050. 365 Phil. Trans. R. Soc. B http://doi.org/10.1098/rstb.2010.0126

Qi D, Roe BE (2016) Household Food Waste: Multivariate Regression and Principal Components Analyses of Awareness and Attitudes among U.S. Consumers. PLOS ONE 11(7): e0159250. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0159250

Watson, Matt & Meah, Angela. (2013). Food, Waste And Safety: Negotiating Conflicting Social Anxieties Into The Practices Of Domestic Provisioning. Sociological Review. 60. 102-120. 10.1111/1467-954X.12040.

Warde, A. (1997). Consumption, food and taste: Culinary antinomies and commodity culture. London: Sage

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in