The Effect of Specialty Coffee Certification on Household Livelihood Strategies and Specialisation

 

Penulis             : W. Vellema, A. Buritica Casanova, C. Gonzalez, dan M.D’Haese

Tahun              : 2015

Publisher         : Elsevier Ltd.

Jurnal               : Food Policy 57 (2015) 13 – 25

Diulas oleh      : Gilbert dan Muhammad Saeful Hakim

Ilustrasi oleh   : Rizki Fajar Satrya

 

 

Pendahuluan

Kopi spesial adalah seluruh jenis kopi yang dianggap berbeda dari umumnya dan terkenal sebagai kopi premium. Daviron dan Ponte (2005) menyatakan bahwa terdapat tiga hal yang menyebabkan suatu kopi dianggap premium, yaitu berdasarkan in-person service, material, dan atribut simbolik. Hanya berdasarkan material dan atribut simbolik saja yang dapat dipengaruhi oleh produsen, sedangkan in-person service hanya dipengaruhi oleh tempat kopi tersebut disajikan. Aspek material sangat dipengaruhi oleh kualitas biji kopi (intrinsic value) sedangkan aspek atribut simbolik dipengaruhi oleh lokasi penanaman biji kopi dan sustainable labels. Sustainable labels seringkali ditentukan oleh sertifikasi dari kopi tersebut.

Kopi spesial berdasarkan aspek atribut mulai dikenal sejak 1970 dan 1980-an, dikarenakan masyarakat mulai memperkenalkan kopi secara umum melalui perdagangan dan pengembangan kopi organik. Perkenalan kopi secara umum ini juga didukung dengan kesepakatan untuk memberikan sertifikasi khusus untuk budidaya kopi yang memiliki cita rasa lebih dan tidak merusak lingkungan. Gerakan ini disebut sebagai Latte Revolution.

Beberapa penelitian sebelumnya telah banyak yang membuktikan adanya peningkatan pasar kopi. Secara global, kopi bersertifikasi mengalami peningkatan volume transaksi hingga 433% dalam periode 2004-2009. Peningkatan pasar kopi ini juga ditandai dengan semakin banyaknya retailer yang masuk dalam pasar kopi. Secara global, terdapat 26 juta orang yang bekerja di sektor kopi dimana sebagian besar pekerja adalah golongan petani kecil.

Penelitian sebelumnya hanya menjelaskan mengenai perbedaan kopi bersertifikat dan non-sertifikat terhadap tingkat pendidikan petani atau aspek-aspek kualitatif saja. Padahal, petani-petani kecil sangat bergantung pada aspek pendapatan dari usaha kopi mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara akses ke pasar kopi premium pada mata pencaharian masyarakat kecil di kelompok masyarakat kecil produsen kopi di Colombia Selatan. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat efek pendapatan yang dialami petani kecil kopi dari adanya kopi premium.

Latar Belakang

Industri Kopi di Kolombia

Kopi merupakan tanaman yang tumbuh di daerah pegunungan yang menyediakan lapangan kerja pada 563.000 produsen kecil kopi. Kolombia adalah salah satu negara dengan produsen kopi terbanyak dan penghasil kedua terbesar kopi Arabika. Kolombia juga merupakan negara dengan nilai pasar kopi terbesar berdasarkan International Coffee Organization (ICO). Kolombia memiliki keuntungan strategis sebagai negara yang cukup dekat dengan garis ekuator. Kementerian pertanian dan pembangunan desa Kolombia juga melakukan berbagai kebijakan yang aktif untuk meningkatkan potensi dari industri kopi. Pemerintah Kolombia berusaha meningkatkan subsidi pada petani kecil kopi dan menetapkan harga minimum yang lebih rendah dari sebelumnya untuk meningkatkan produksi kopi premium berkualitas tinggi dengan harga yang lebih terjangkau.

Akses ke pasar premium

Secara umum, pasar kopi premium terbagi atas dua jenis yaitu pasar third party dan pasar swasta. Pasar third party adalah pasar tempat kopi berkualitas didagangkan tanpa merek tertentu berbeda dengan pasar swasta seperti Starbucks, Nestle, dan lain-lain. Dari segi produsen, penting diketahui bahwa terdapat perbedaan antara perkebunan bersertifikat dan pasar kopi premium. Walaupun produsen memiliki perkebunan tersertifikasi, namun itu tidak dapat menjamin ia untuk dapat masuk dalam pasar kopi premium. Namun, dapat diakui bahwa pasar kopi premium umumnya mendapatkan suplai kopi dari perkebunan bersertifikasi. Adanya peningkatan permintaan kopi premium menyebabkan peningkatan pada jumlah perkebunan bersertifikasi. Hal ini dilakukan hanya untuk dapat masuk ke pasar kopi premium dan terjual dengan harga yang lebih tinggi.

Data Penelitian

Penelitian dilakukan di daerah Nariono yang terbagi atas 3 wilayah geografis dimana terdapat 510 produsen kopi rumah tangga pada April hingga Mei 2012. Pemilihan responden dilakukan dengan metode stratified random sampling dari daftar yang sebelumnya telah disediakan oleh FNC. Data yang dikumpulkan berupa komposisi rumah tangga, karakteristik perkebunan, pendapatan rumah tangga, akses ke layanan finansial, kepemilikan tanah, dan beberapa data-data demografi. Untuk subjek yang memiliki perkebunan dengan jarak lebih dari 10.000 dari kota, maka akan dihitung menggunakan cost distance algorithms.

Diversifikasi Pendapatan

Berdasarkan tabel diatas, dapat terlihat bahwa sebagian besar penduduk di daerah Narino sangat menggantungkan kehidupan mereka dari perkebunan kopi. Untuk pengolah lahan sendiri, hasil dari perkebunan kopi bahkan mencapai 46% dari pendapatannya. Namun pendapatan dari perkebunan kopi justru memiliki nilai variasi yang paling besar ketimpang pos pendapatan lainnya. Hal ini bisa saja dikarenakan proporsinya yang besar terhadap pendapatan dan perbedaan pendapatan kopi yang tinggi di masyarakat sekitar.

Pendekatan Ekonomi

Dalam penelitian ini, disusun model untuk mengetahui bagaimana akses ke pasar spesial mempengaruhi strategi diversifikasi rumah tangga. Faktor yang dibuat yaitu efek dari aktivitas yang berubah dan efek dari perubahan pendapatan pada setiap aktivitas. Seharusnya, adanya peningkatan penghasilan pada salah satu aktivitas dalam perkebunan akan menjadikan pekerja cenderung mengalokasikan waktu lebih banyak pada aktivitas yang mendapatkan penghasilan lebih besar. Untuk mengamati keputusan partisipasi maka peneliti menyusun model regresi

Dan untuk melihat korelasinya terhadap pendapatan rumah tangga, maka disusun pula model:

dij = variabel biner yang menunjukkan partisipasi rumah tangga i dalam aktivitas j

Yij = total pendapatan rumah tangga i dalam aktivitas j

Cij = dummy variabel dimana 1 untuk perkebunan bersertifikasi

Xij = kontrol variabel (land/labour ratio, land holding, and level of education)

Zij= kotrol variabel (jarak dari kota dan kondisi agro-ecological)

Persamaan pertama akan menggunakan model multivariate probit, sedangkan persamaan kedua akan menggunakan model multivariate tobit.

Hasil dan Pembahasan

Alokasi aktivitas

Berdasarkan hasil regresi diatas, dapat dilihat bahwa kepemilikan perkebunan yang tersertifikasi dapat meningkatkan peluang seseorang melakukan usaha perkebunan non kopi atau kopi. Dari indikator pendidikan, ternyata hal ini tidak mempengaruhi keputusan partisipasi pada aktivitas perkebunan non kopi dan kopi. Dalam hal kepemilikan tanah, terdapat nilai signifikan pada peluang di sektor non kopi. Hal ini mengindikasi adanya kepemilikan tanah yang semakin besar cenderung mendorong seseorang untuk melakukan diversifikasi sehingga tingkat peluang partisipasi cenderung meningkat.

Pendapatan rumah tangga

Jika melihat dari segi pendapatan rumah tangga, adanya sertifikat perkebunan mengimplikasikan terjadinya realokasi dari pendapatan. Sertifikat perkebunan dapat meningkatkan pendapatan dari kopi namun terjadi penurunan dalam sektor perkebunan non kopi dan gaji perkebunan. Pendidikan juga ternyata mempengaruhi secara signifikan berbagai aktivitas kecuali perkebunan non kopi. Dari hal kepemilikan tanah, ternyata memiliki efek signifikan terhadap sektor perkebunan non kopi. Semakin jauh jarak perkebunan dengan kota juga ternyata mempengaruhi secara negatif pada sektor perkebunan non kopi.

Efek total pendapatan

Dari hasil kedua pendekatan ini, terdapat beberapa hal yang justru berbeda. Adanya sertifikasi pada perkebunan memanglah terbukti dapat meningkatkan pendapatan dari berkebun kopi, namun efek yang diberikan pada sektor non perkebunan kopi masih belum jelas diketahui. Terdapat implikasi bahwa sertifikat perkebunan secara keseluruhan tidak mengubah pendapatan total dari produsen karena tambahan keuntungan dari kopi tertutup oleh kerugian yang dialami sektor lain.

Kesimpulan

Pada masa sekarang, pemilik perkebunan memiliki kecenderungan untuk mendapatkan sertifikasi pada perkebunannya hanya untuk dapat masuk dalam pasar kopi premium. Kecenderungan ini ternyata dapat berdampak pada kehidupan pada pemilik perkebunan dari rumah tangga berpenghasilan ke bawah. Melalui penelitian yang dilakukan di daerah Narito, usaha untuk mendapatkan sertifikasi perkebunan ini ternyata dapat secara efektif meningkatkan pendapatan dari berkebun kopi. Namun, ternyata terdapat dampak lain dari sertifikasi ini. Adanya sertifikasi perkebunan yang berusaha didapatkan untuk menembus pasar kopi premium nyatanya justru menyebabkan penurunan pendapatan dari hasil perkebunan non kopi dan gaji. Hal ini pada akhirnya tidak akan memberikan efek apapun pada total pendapatan dari seluruh aktivitas yang dilakukan. Hal ini perlu untuk menjadi perhatian bagi pemerintah, dimana adanya peningkatan potensi di sektor kopi harusnya dapat diiringi oleh peningkatan kesejahteraan petani kopi golongan ke bawah.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in