Isolated Capital Cities, Accountability, and Corruption: Evidence from US States

Penulis             : Filipe R. Campante dan Quoc-Anh Do

Tahun              : 2014

Publisher         : American Economic Association

Jurnal               : American Economic Review

Diulas oleh      : Adho Adinegoro dan Damar Ega Prabaswara

Ilustrasi oleh   : Kartika Putri Larasati

PENDAHULUAN

Korupsi selalu menjadi permasalahan utama di banyak negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Determinan dan keterkaitan korupsi dengan berbagai aspek pun telah banyak diteliti. Akan tetapi, salah satu aspek yang jarang diteliti lebih dalam adalah: distribusi spasial atau persebaran dari suatu populasi. Oleh karena itu, dengan meninjau distribusi spasial dari populasi di negara-negara bagian Amerika Serikat, penelitian ini mencoba untuk menginvestigasi bagaimana keterkaitan lokasi ibu kota dengan tingkat korupsi dan derajat akuntabilitas pemerintahan di ibu kota tersebut. Penelitian ini pun berkontribusi dalam beberapa penemuan penting, khususnya di Amerika Serikat. Pertama, ibu kota negara bagian AS yang terisolasi atau jauh dari pusat metropolitan memiliki kaitan dengan tingkat korupsi yang tinggi. Kedua, ibu kota yang terisolasi itu pun juga memiliki kaitan dengan derajat akuntabilitas yang rendah. Ketiga dan terakhir, derajat akuntabilitas yang rendah itu pun juga akan berdampak pada penyediaan barang publik atau fasilitas umum yang rendah.

DATA

Tingkat Isolasi Ibu Kota

Tingkat isolasi ibu kota dalam penelitian ini diukur melalui variabel AvgLogDistance. Variabel AvgLogDistance ini sendiri diperoleh dengan menempatkan lokasi setiap populasi di setiap kabupaten di negara bagian di titik pusat kabupaten tersebut, untuk kemudian diukur jaraknya terhadap Kantor Senat di negara bagian tersebut. Variabel AvgLogDistance pun dibagi menjadi dua jenis, yakni AvgLogDistancenot saat tanpa mempertimbangkan luas geografis negara bagian tersebut dan AvgLogDistanceadj saat secara otomatis mempertimbangkan luas geografis negara bagian tersebut.  Hal ini diperlukan sebab tingkat isolasi memiliki korelasi yang tinggi dengan luas suatu negara bagian.

Korupsi

Peneliti memeroleh data korupsi dari data hukuman federal untuk kasus korupsi di kalangan pejabat publik pada tahun 1976-2002 relatif terhadap rata-rata jumlah populasi di negara bagian AS selama tahun 1976-2002. Data ini merupakan hasil dari Laporan kepada Kongres edisi 1989, 1999 dan 2002 yang dikeluarkan oleh Departemen Kehakiman AS. Selain itu, peneliti menggunakan alat pencarian daring Exalead untuk mencari kata kunci “korupsi” di dekat nama negara bagian (corruption NEAR name of state), dan membagi jumlah hasil pencarian “korupsi” dengan jumlah hasil pencarian untuk nama negara bagiannya saja. Data ini meski dianggap kurang objektif bagi peneliti, namun memberikan ukuran alternatif lain untuk tingkat korupsi di negara bagian yang bersangkutan. Lebih lanjut, peneliti juga menggunakan ukuran persepsi korupsi yang dikembangkan oleh Boylan dan Long (2003) untuk mengukur spillover dari korupsi di berbagai tingkatan pemerintah di negara bagian di Amerika Serikat.

Akuntabilitas

Akuntabilitas diukur dalam beberapa variabel berikut, yakni:

Newspaper Coverage – Liputan surat kabar dipilih oleh peneliti karena dianggap menyediakan liputan politik yang lebih luas dari pada media lainnya. Surat kabar yang dipilih pun adalah surat kabar yang tersedia secara daring dan dapat dilakukan pencarian di dalamnya. Hal ini diperlukan karena peneliti melakukan pencarian tentang segala informasi apapun yang berkaitan tentang negara bagian tempat koran tersebut berasal.

Concentration of Readership around the Capital – Variabel ini, ReaderConcentr, mengukur seberapa terkonsentrasinya pembaca surat kabar di sekitar ibu kota. Variabel ini memiliki hubungan yang berlawanan dengan AvgLogDistance sehingga dapat disimbolkan sebagai ReaderConcentr = 1 – AvgLogDistance. Artinya, apabila jarak rata-rata ibu kota terhadap keseluruhan populasi semakin besar, konsentrasi pembaca surat kabar di sekitar ibu kota akan semakin kecil.

Citizens’ Information – Variabel-variabel yang termasuk dalam data ini mengukur pengetahuan dan ketertarikan masyarakat terhadap politik di negara bagian tempat mereka tinggal. Terdapat tiga variabel berkaitan dengan data ini.yang ketiganya diperoleh dari American National Election Studies. Variabel pertama adalah variabel Knowledge yakni variabel dummy yang mengukur apakah individu mengetahui setidaknya satu nama kandidat gubernur dalam pemilihan gubernur negara bagian yang akan datang. Variabel kedua adalah variabel Interest yakni variabel dummy yang mengukur apakah individu mengikuti liputan-liputan surat kabar terkait pemilihan gubernur atau kondisi politik di negara bagian. Variabel ketiga adalah variabel GeneralInterest yakni variabel dummy yang mengukur apakah individu mengikuti kondisi politik secara keseluruhan dan tak terbatas hanya di negara bagiannya saja.

Voter Turnout – Peneliti menggunakan data partisipasi pemilih dalam pemilihan gubernur negara bagian dari tahun 1990 hingga 2012. Variabel ini diperlukan untuk mengetahui kaitan partisipasi politik dalam pemilihan umum dengan jarak ibu kota.

Money in State Politics – Peneliti menggunakan total dana/kontribusi kampaanye dari tahun 2001 hingga 2010 untuk mengetahui apakah jarak terhadap ibu kota negara bagian memengaruhi pola distribusi dana/kontribusi untuk kampanye di negara bagian.

Pengadaan Barang Publik

Peneliti menggunakan data dari anggaran belanja negara bagian AS pada tahun 2009. Peneliti menggunakan tiga jenis ukuran sebagai proxy untuk memeroleh data ini. Ukuran pertama diperoleh dengan menghitung bagian anggaran belanja yang secara langsung berkaitan dengan barang publik seperti pendidikan, kesejahteraan publik, kesehatan, dan rumah sakit terhadap besaran total anggaran belanja negara bagian. Lalu, ukuran kedua diperoleh dengan menghitung bagian anggaran belanja yang tidak berkaitan dengan barang public seperti administrasi pemerintahan, bunga utang, atau lain-lain terhadap besaran total anggaran belanja negara bagian. Terakhir, untuk ukuran ketiga, peneliti menggunakan beberapa variabel dalam indeks ”Smartest State” yang dikembangkan oleh Morgan Quitno Corporation pada tahun 2005. Indeks ini mengagregatkan input dan output pendidikan, persentase penduduk yang memiliki asuransi, dan log dari jumlah kasur rumah sakit per kapita.

HASIL EMPIRIS

Keterkaitan Tingkat Isolasi Ibu Kota dengan Tingkat Korupsi

Tabel 2 menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara rata-rata log jarak keseluruhan populasi terhadap ibu kota atau AvgLogDistancenot terhadap tingkat korupsi relatif terhadap populasi. Berdasarkan kolom 1 pada tabel tersebut, terlihat bahwa ketika rata-rata log jarak keseluruhan populasi terhadap ibu kota meningkat sebesar 1% maka tingkat korupsi relatif terhadap populasi juga akan meningkat sebesar 1.0477%. Hasil ini pun selalu signifikan pada 1% ketika peneliti menambahkan variabel kontrol dasar (contoh: log pendapatan, log populasi), variabel kontrol 1 (contoh: persentase PNS, persentase penduduk urban), dan variabel kontrol 2 (contoh: perbedaan rasial). Lebih lanjut, saat peneliti menyesuaikan luas negara bagian pada rata-rata log jarak keseluruhan populasi terhadap ibu kota atau dalam kata lain menggunakan variabel  AvgLogDistanceadj, peneliti menemukan pula korelasi positif yang signifikan antara AvgLogDistanceadj terhadap tingkat korupsi relatif terhadap populasi. Kolom 5 menunjukkan ketika jarak ibu kota semakin jauh sebesar 1% maka tingkat korupsi relatif terhadap populasi meningkat sebesar 0.8245%. Hasil ini pun selalu signifikan dan positif ketika peneliti menambah variabel kontrol lainnya dari kolom 6 hingga kolom 8.

Derajat Akuntabilitas Pemerintahan

 

Terlihat pada tabel 6 di atas, seluruh hasil berkaitan dengan liputan surat kabar di negara bagian memiliki koefisien yang positif dan signifikan. Hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa liputan surat kabar akan lebih besar apabila pembaca surat kabar terkonsentrasi di dekat ibu kota. Hasil ini disebabkan karena ReaderConcentr memiliki hubungan yang berlawanan dengan AvgLogDistance. Oleh karena itu, apabila ReaderConcentr semakin besar, maka AvgLogDistance menjadi semakin kecil yang berarti bahwa ibu kota tidak terisolasi atau memiliki rata-rata log jarak yang jauh terhadap keseluruhan populasi di negara bagian.

 

Kemudian, terlihat pada tabel 7 di atas, seluruh koefisien menunjukkan korelasi negatif namun dengan tingkat signifikansi yang berbeda-beda. Pada kolom 3, hasil ini dapat diinterpretasikan bahwasanya ibu kota yang terisolasi atau memiliki rata-rata log jarak keseluruhan populasi terhadap ibu kota yang besar cenderung kurang diliput oleh media. Hasil yang signifikan pada kolom 3 namun tidak signifikan pada kolom 1 juga mengindikasikan bahwa isolasi ibu kota bukan disebabkan jarak absolut, melainkan luas geografis negara bagian yang sangat besar, sehingga membuat lokasi ibu kota seakan terpencil dari keseluruhan populasi negara bagian.

Selanjutnya, terlihat pada tabel 8 di atas, kolom 1 dan 2 menunjukkan bahwa individu yang berada jauh dari ibu kota negara bagian memiliki lebih kecil kemungkinan untuk mengetahui setidaknya satu kandidat yang akan maju di pemilihan gubernur negara bagian. Begitu pula pada kolom 4, individu yang berada jauh dari ibu kota negara bagian memiliki lebih kecil kemungkinan untuk peduli tentang kabar-kabar politik di negara bagian.

Lebih lanjut, terlihat pada tabel 9 di atas, kolom 1 menunjukkan korelasi yang negatif antara jarak ibu kota dengan partisipasi pemilih dalam pemilihan di negara bagian. Semakin jauh jarak pemilih terhadap ibu kota negara bagian, maka semakin kecil partisipasi pemilih di negara bagian tersebut. Hal ini terlihat dari setiap kenaikan 1% pada jarak negara bagian, maka akan menurunkan partisipasi pemilih sebesar 0.018%. Fakta ini juga diperkuat ketika peneliti membagi seluruh tahun dalam enam periode yang berbeda-beda. Koefisien yang negatif dan signifikan selalu muncul dari periode 1990-1992 hingga periode 2009-2012. Dari penemuan ini, maka dapat disimpulkan pula bahwa meski terdapat korelasi negatif, angka koefisien yang diperoleh semakin kecil, sehingga menunjukkan bahwa seiring waktu partisipasi pemilih menjadi semakin besar.

Money in Politics

Terlihat pada tabel 10 kolom 1 dan kolom 2 di atas, terdapat korelasi positif antara AvgLogDistance, baik yang telah disesuaikan maupun tidak, dengan dana/kontribusi kampanye. Kedua hasil ini pun signifikan pada tingkat signifikansi 1%. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwasanya apabila terdapat satu standar deviasi kenaikan pada rata-rata log jarak keseluruhan populasi terhadap ibu kota, atau–secara singkatnya–ibu kota mengalami isolasi, maka besaran dana/kontribusi untuk kampanye pun akan meningkat sebesar 30.14% dan 24.24%. Lebih lanjut, hasil positif dan signifikan pun tetap diperoleh saat peneliti mengontrol kampanye Pilpres AS tahun 2008. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa meningkatnya isolasi ibu kota ini diasosiasikan dengan semakin banyaknya uang yang dikeluarkan untuk kebutuhan kampanye politik, atau dalam kata lain, semakin banyak uang yang “bermain” dalam kontestasi politik.

Keterkaitan Tingkat Isolasi Ibu Kota dengan Pengadaan Barang Publik

Terlihat pada tabel 12 kolom 1 dan 2 di atas, AvgLogDistancenot memiliki korelasi negatif pada anggaran pengadaan barang publik namun memiliki korelasi positif pada anggaran selain barang publik. Meski begitu, kedua hasil menunjukkan tingkat signifikansi yang sama pada 1%. Hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa apabila suatu ibu kota semakin terisolasi, atau terdapat satu standar deviasi kenaikan pada rata-rata log jarak keseluruhan populasi negara bagian terhadap ibu kota maka besaran anggaran pengadaan barang publik akan menurun sebanyak 4.78% dan besaran anggaran selain barang publik akan meningkat sebanyak 3.19%. Lebih lanjut, hasil pada kolom 3 dan kolom 4 pun juga menunjukkan hasil yang sama pada kolom 1 yakni korelasi negatif namun dengan tingkat signifikansi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya memang ketika ibu kota berada dalam isolasi, atau rata-rata log jarak keseluruhan populasi terhadap ibu kota sangat besar, maka besaran anggaran untuk pengadaan barang publik pun akan mengecil.

KESIMPULAN

Penemuan utama dari penelitian ini menunjukkan memang benar terdapat korelasi antara tingkat isolasi ibu kota terhadap tingkat korupsi. Hasil ini terlihat dari semakin besarnya rata-rata log jarak keseluruhan populasi terhadap ibu kota yang berkorelasi positif dan signifikan terhadap tingkat korupsi. Rendahnya akuntabilitas ketika sebagian besar populasi tinggal relatif jauh dari ibu kota mungkin menjadi alasan dibalik terjadinya fenomena ini. Rendahnya akuntabilitas yang dimaksudkan oleh peneliti dalam penelitian ini berkaitan dengan beberapa hal. Pertama, liputan surat kabar yang rendah ketika sebagian besar populasi tinggal relatif jauh dari ibu kota. Kedua, penduduk yang kurang terinformasi dan kurang tertarik tentang kabar politik terkini saat tinggal relatif jauh dari ibu kota. Ketiga, partisipasi pemilih dalam pemilihan umum yang lebih rendah saat tinggal relatif jauh dari ibu kota. Keempat, peran uang yang semakin kuat dalam menentukan hasil politik akibat liputan media yang rendah dan partisipasi pemilih yang rendah. Kelima dan terakhir, semakin berkurangnya pengadaan barang publik yang dilakukan oleh pemerintah. Kelima hal ini menjadi bukti langsung yang menguatkan bahwa ketika ibu kota semakin terisolasi atau semakin jauh, maka tingkat akuntabilitas pemerintah akan semakin rendah. Saat tingkat akuntabilitas semakin rendah, maka tingkat korupsi juga akan semakin tinggi. Sehingga, kelima hal ini juga menjadi penghubung bahwa ketika ibu kota semakin jauh, maka tingkat korupsi akan semakin tinggi.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in