Cash, Food, or Vouchers? Evidence from a Randomized Experiment in Northern Ecuador

Penulis: Melissa Hidrobo, John Hoddinott, Amber Peterman, Amy Margolies, Vanessa Moreira

Tahun: 2014

Nama Jurnal: Journal of Development Economics Vol. 107, March 2014, pp. 144-156

Diulas oleh: Novita Furia Putri

Ilustrasi oleh: Firli Wulansari

Pendahuluan:

Dalam merancang kebijakan yang berhubungan dengan bantuan sosial, banyak pertimbangan yang dibutuhkan, seperti target penerima, kuantitas, frekuensi, cara pemberian bantuan, hingga analisis efektivitas biaya dari setiap opsi yang ada. Pembahasan mengenai isu ini dapat ditemukan dalam literatur-literatur terdahulu. Akan tetapi, dalam penelitian ini, penulis secara khusus membahas tentang cara terbaik dalam memberikan bantuan sosial berupa makanan kepada masyarakat. Argumen pro dan kontra dari masing-masing cara telah banyak dipaparkan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, baik yang mendukung pemberian bantuan uang tunai maupun bantuan non-tunai, yakni dalam bentuk food in-kind (pemberian makanan langsung) dan voucher. Namun, sejauh pengetahuan penulis, penelitian ini adalah penelitian pertama yang membandingkan secara langsung ketiga cara pemberian bantuan makanan, yaitu tunai, food inkind, dan voucher makanan. Dengan menggunakan eksperimen berdasarkan desain acak, penulis membandingkan dampak dan efektivitas biaya dari masing-masing jenis bantuan terhadap kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi penerimanya.

Desain Program dan Data:

            Untuk melakukan penelitian ini, penulis menggunakan data dari World Food Programme (WFP) tahun 2011. Program ini merupakan program pemberian bantuan makanan yang didesain untuk meningkatkan ketahanan pangan dan asupan nutrisi para pengungsi berkebangsaan Kolombia dan masyarakat miskin Ekuador, tepatnya di provinsi Carchi dan Sucumbíos. Dari total 80 distrik dan 145 kelompok, rumah tangga yang terpilih untuk berpartisipasi dalam program WFP dibagi menjadi 4 kelompok secara acak, yaitu kelompok kontrol, penerima uang tunai, penerima voucher makanan, dan penerima bantuan food in-kind. Mereka menerima bantuan sebanyak 6 kali, yaitu dari Mei hingga Oktober 2011, dengan nilai sebesar US$40 per bulan. Selain itu, para penerima bantuan diwajibkan untuk mengikuti seminar bulanan bertema pemenuhan nutrisi yang diselenggarakan oleh WFP. Sebagai catatan, program WFP dilaksanakan di daerah perkotaan yang memiliki pasar dan supermarket yang berfungsi dengan baik, sehingga hasil penelitian ini belum tentu dapat diaplikasikan di daerah lain.

Penulis memperoleh data dasar dari survei yang dilakukan pada Maret-April 2011 sebelum bantuan WFP pertama diberikan. Kemudian, setelah keenam bantuan diberikan, survei lanjutan dilaksanakan pada Oktober-November 2011. Dari total 2357 rumah tangga yang disurvei, hanya sebanyak 2087 rumah tangga yang mengisi data konsumsi makanan mereka dengan lengkap. Dengan informasi yang diperoleh dari survei tersebut, penulis mengukur beberapa hal, yaitu konsumsi rumah tangga (makanan dan non-makanan), keragaman jenis makanan yang dikonsumsi, asupan kalori, serta pengalaman dan perasaan penerima selama mengikuti program. Figur di bawah menunjukkan perbandingan jumlah konsumsi makanan sebelum dan sesudah pemberian bantuan WFP. Dapat dilihat bahwa setelah pemberian bantuan, jarak antara kelompok penerima bantuan dan kelompok kontrol membesar.

Secara umum, para penerima bantuan makanan merasa sangat puas dengan pelaksanaan dan transparansi program. Pengetahuan tambahan seputar nutrisi yang responden peroleh dari sesi seminar wajib ternyata sama untuk setiap jenis bantuan makanan. Uniknya, ketika ditanya tentang bagaimana mereka menggunakan bantuan yang diterima, jawaban yang responden berikan berbeda-beda. Rumah tangga penerima bantuan voucher menghabiskan 98,8% jatahnya untuk konsumsi makanan, sedangkan rumah tangga penerima uang tunai dan food in-kind hanya menghabiskan masing-masing 83% dan 63,2%. Bagi rumah tangga penerima bantuan uang tunai, sisa uang yang mereka terima digunakan untuk membeli keperluan non-makanan (6,3%), membagikannya dengan rumah tangga lain (2,4%), dan ditabung (8,3%). Sedangkan, bagi mereka yang menerima bantuan food in-kind, sisa jatah yang ada disimpan untuk keperluan masa depan (29,4%) dan dibagikan dengan rumah tangga lain (6,8%). Sebanyak kurang dari 1% penerima bantuan voucher dan food in-kind tercatat menjual makanan ataupun vouchernya.

Metodologi Penelitian:

            Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain acak untuk menentukan kelompok penerima bantuan dan kelompok kontrol. Hal ini bertujuan untuk mengeliminasi perbedaan sistematik dan meminimalisir kemungkinan bias. Untuk mengestimasi treatment effect, penulis kemudian menggunakan model ANCOVA (Analysis of Covariance) sebagai berikut:

Ket: Yhj1 = hasil untuk rumah tangga h dari kelompok j pada saat survei lanjutan; Yhj0 = hasil untuk rumah tangga h dari kelompok j pada survei awal (baseline); foodj, cashj, dan voucherj = 1 apabila kelompok j merupakan kelompok penerima bantuan jenis tersebut; βf, βc, dan βv = koefisien estimator yang menunjukkan efek dari tiap jenis bantuan; Phj = 1 apabila rumah tangga berada di provinsi Sucumbíos; μj = error antar kelompok; εhj = error antar rumah tangga dalam kelompok. Untuk menguji apakah βf, βc, dan βv signifikan, penulis melakukan Wald tests of equality untuk mencari p-values.

Hasil Penelitian:

Tabel di atas menunjukkan dampak dari bantuan tunai, food in-kind, dan voucher terhadap konsumsi makanan dan non-makanan. Dengan satuan per kapita/per bulan, penulis menemukan bahwa ketiga jenis bantuan WFP secara signifikan meningkatkan konsumsi makanan, konsumsi non-makanan, dan total konsumsi sebuah rumah tangga (kolom 1-3). Program ini bukan hanya berhasil meningkatkan nilai dari konsumsi makanan per kapita sebesar $5.47 (tunai), $6,38 (voucher), dan $9,22 (food in-kind), namun juga meningkatkan konsumsi non-makanan per kapita sebesar $6,78 (voucher), $6,81 (tunai), dan $9,22 (food in-kind). Selain itu, apabila menggunakan estimasi log (kolom 4-6), penulis menemukan hasil yang serupa (signifikan), kecuali untuk konsumsi non-makanan dari jenis bantuan tunai. Uniknya, apabila setiap jenis bantuan saling dibandingkan, tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan. Hal ini berarti bahwa dari ketiga jenis bantuan yang diberikan WFP, jumlah yang digunakan oleh para penerimanya untuk keperluan konsumsi makanan dan non-makanan kurang lebih sama.

Tabel di atas menunjukkan dampak dari bantuan tunai, food in-kind, dan voucher terhadap asupan kalori dan tingkat keberagaman makanan yang dikonsumsi. Asupan kalori yang baik berperan penting untuk mencapai ketahanan pangan, sedangkan keberagaman makanan yang dikonsumsi sangat penting untuk kesehatan. Penulis menemukan bahwa bantuan WFP secara signifikan meningkatkan asupan kalori penerimanya sebesar 21% (food in-kind), 12% (tunai), dan 18% (voucher). Uniknya, apabila dampak dari bantuan food in-kind dan tunai terhadap peningkatan asupan kalori dibandingkan, penulis menemukan perbedaan yang signifikan pada tingkat 5%. Bantuan berupa food in-kind ternyata lebih berpengaruh ketimbang bantuan tunai dalam aspek asupan kalori.

Untuk mengukur tingkat keberagaman makanan yang dikonsumsi, penulis menggunakan: 1) Dietary Diversity Index (DDI) = banyaknya ragam makanan yang dikonsumsi suatu rumah tangga dalam 1 minggu terakhir; 2) Household Dietary Diversity Score (HDDS) = banyaknya kelompok makanan (dari total 12 kelompok) yang dikonsumsi suatu rumah tangga selama 1 minggu terakhir. 3) Food Consumption Score (FCS) = jumlah hari dimana suatu rumah tangga mengonsumsi kelompok makanan tertentu dikali dengan bobot masing-masing kelompok dan kemudian dijumlah. Rumah tangga yang nilai FCS nya kurang atau sama dengan 35 dikategorikan sebagai rumah tangga yang memiliki tingkat konsumsi buruk/di ambang batas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis bantuan secara signifikan meningkatkan keberagaman makanan yang dikonsumsi penerimanya, meskipun bantuan voucher memiliki dampak yang paling besar pada DDI dan FCS. Uniknya, walaupun seluruh bantuan meningkatkan angka FCS, namun ternyata hanya bantuan food in-kind dan voucher yang secara signifikan mengurangi jumlah rumah tangga dengan kategori konsumsi buruk/di ambang batas.

Untuk menemukan jenis makanan apa yang membuat bantuan tunai, food in-kind, dan voucher memiliki hasil yang berbeda dalam aspek asupan kalori dan keberagaman konsumsi makanan, maka penulis mencari tahu dampak dari setiap jenis bantuan WFP terhadap konsumsi 12 kelompok makanan berdasarkan klasifikasi HDDS. Variabel hasil dari tabel ini adalah jumlah hari (frekuensi) suatu rumah tangga mengonsumsi kelompok makanan tersebut dalam 1 minggu terakhir (panel A) dan log asupan kalori per kapita (panel B). Penulis menemukan bahwa bantuan tunai dan food in-kind secara signifikan meningkatkan frekuensi konsumsi 7 dari 12 kelompok makanan, sedangkan bantuan voucher berhasil meningkatkan frekuensi konsumsi 9 dari 12 kelompok makanan. Uniknya, ketiga jenis bantuan tidak meningkatkan frekuensi konsumsi kelompok gula/madu, minyak/lemak, dan kategori lainnya. Apabila ketiga jenis bantuan dibandingkan, maka bantuan food in-kind meningkatkan frekuensi konsumsi ikan/seafood dan kacang-kacangan signifikan lebih besar ketimbang jenis bantuan lainnya. Penulis menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena penerima bantuan food in-kind menerima langsung makanan dari kelompok tersebut, sedangkan sisanya perlu menukar/membeli makanan yang diinginkan. Alasan lainnya adalah karena kelompok ikan/seafood dan kacang-kacangan ternyata bersifat extra-marginal (menengah ke atas) bagi responden, sehingga penerima voucher dan tunai akan cenderung memilih untuk mengonsumsi kelompok makanan yang lain.

Analisis Efektivitas Biaya:

Untuk membandingkan efektivitas biaya dari setiap jenis bantuan, penulis melakukan simulasi dengan menghitung biaya yang dibutuhkan seandainya hasil (outcome) ditingkatkan sebesar 15%. Hasil menunjukkan bahwa bantuan makanan merupakan jenis bantuan yang paling memakan biaya. Selain itu, bantuan voucher ternyata paling sedikit memakan biaya, kecuali pada kategori “nilai konsumsi makanan,” dimana voucher dan tunai memiliki biaya yang hampir sama. Dengan asumsi bahwa biaya WFP untuk memperoleh makanan sama dengan harga pasar, maka setelah menghitung biaya penyediaan dan pengiriman, penulis menemukan bahwa lebih murah menyediakan bantuan tunai ($42,99 per transfer) atau voucher ($43,27 per transfer) ketimbang bantuan food in-kind ($58,22 per transfer).

            Selain melihat dari segi biaya penyediaan dan pengiriman bantuan, penulis juga melihat pendapat para penerimanya. Tabel di atas menunjukkan bahwa apabila penerima diberikan pilihan, maka 55% penerima bantuan food in-kind, 77% penerima bantuan tunai, dan 56% penerima bantuan voucher, memilih untuk menerima bantuan dalam bentuk yang sama dengan yang saat ini mereka terima. Uniknya, ketika ditanya apakah mereka ingin mengganti jenis bantuan yang diterima apabila program serupa diadakan lagi, ternyata hanya sedikit penerima bantuan tunai (9%) yang tidak ingin memperoleh uang tunai lagi. Di samping itu, penulis juga menjelaskan bahwa rata-rata waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk mengambil jatah bantuan berbeda-beda. Secara garis besar, penerima bantuan berupa food in-kind paling banyak memakan biaya berupa waktu dan uang, sedangkan penerima bantuan tunai adalah yang paling sedikit.

Kesimpulan:

Sebelum menentukan siapa “pemenang” dari ketiga jenis bantuan, pemerintah perlu terlebih dahulu menentukan tujuan utama dari program sosialnya. Apabila pemerintah berniat untuk meningkatkan nilai konsumsi makanan, maka tidak ada bedanya memberikan bantuan tunai ataupun voucher. Bantuan tunai akan menjadi pilihan terbaik apabila pemerintah ingin meningkatkan kesejahteraan. Hal ini dikarenakan selain rata-rata waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk mengambil bantuan tersebut paling sedikit, peminat jenis bantuan tunai paling banyak. Akan tetapi, apabila tujuan utama program adalah untuk meningkatkan asupan kalori atau keberagaman makanan yang penerimanya konsumsi, maka bantuan voucher menjadi pilihan yang terbaik meskipun peminatnya paling sedikit. Jadi, pemerintah perlu secara jelas memilih antara meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan atau meningkatkan hasil (outcome) tertentu. Pilihan pertama memberikan penerimanya kebebasan, sedangkan pilihan berikutnya mengekang pilihan penerima guna mencapai tujuan utama program.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in