Crowding in Public Transport: Who Cares and Why?

Pengarang: Luke Haywood, Martin Koning, Guillaume Monchambert

Tahun: 2017

Nama Jurnal: Hal Archives (HAL Id: hal-01517820)

Diulas oleh: Meidy Winengko

Ilustrasi oleh: Rizki Fajar

Pendahuluan

Pada umumnya, konsumen barang dan jasa   pasti menginginkan harga yang murah. Harga produk menjadi faktor utama dalam menentukan permintaan barang atau jasa. Selain harga, seseorang akan mempertimbangkan tingkat pendapatannya juga, termasuk ketika dihadapkan pada alternatif transportasi.   umum, Moda Raya Terpadu (MRT), Kereta Rel Listrik (KRL), bus umum, dan sejenisnya merupakan pilihan yang sangat ramah untuk dompet masing-masing. Namun, kata ‘umum’ yang menyandang julukan transportasi ini mengharuskan setiap penumpangnya berbagi tempat dengan penumpang lainnya hingga kuota maksimal terpenuhi.  Tidak jarang, ketika masinis KRL menghentikan kereta di stasiun berikutnya, banyaknya penumpang yang berdiri dan berdesakan akhirnya terdorong dan menyebabkan insiden ‘jatuh massal.’ Ternyata, penelitian yang dipelopori oleh Haywood dkk di Paris menunjukkan bahwa keramaian ini dapat mempengaruhi kenyamanan konsumen sehingga berpengaruh pada utility cost masing-masing. Penulis juga berfokus pada alasan-alasan di balik ketidaknyamanan akibat keramaian pada transportasi umum dengan mengadakan survei yang menyediakan opsi-opsi tertentu, misalnya apakah pendingin ruangan, sistem keamanan, atau kuota kursi yang lebih baik dapat meningkatkan kepuasan konsumen.

Data dan Metodologi

Data dalam jurnal diambil dari hasil survei yang disebar pada 1.000 pengguna MRT Prancis yang menunggu di peron 1 dan 4. Peron 1 MRT Prancis merupakan peron dengan pengguna terbanyak, sekitar 750.000/hari pada tahun 2010 dengan jalur ke Prancis Timur-Barat. Sementara peron 4 MRT Prancis merupakan peron kedua dengan pengguna terbanyak, sekitar 670.000/hari dengan jalur menuju Prancis Utara-Selatan. Survei disebar pada jam-jam dengan permintaan tinggi (peak hours), yaitu  . Pengguna yang menunggu di peron 1 dan 4 sangatlah beragam, dari kaum berpendapatan tinggi hingga rendah sehingga membantu penulis untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat terkait pandangan mereka mengenai keramaian di transportasi umum. Berikut karakteristik sampel yang didapatkan: (1) jenis kelamin dengan rasio laki-laki 48% dan perempuan 52%, (2) Asal sampel mayoritas dari Paris Tengah (53%), (3) 37% sampel memiliki mobil sendiri, (4) Dari stasiun ke stasiun membutuhkan waktu rata-rata 49 menit, dengan rata-rata 10 menit pada peron 1 atau 4, dan (5) Mayoritas sampel merupakan commuters (71%) dan menggunakan peron 1 atau 4 setiap hari (64%).

Pertama, untuk memastikan pandangan mereka tentang hubungan antara keramaian di transportasi umum dan kepuasan mereka, penulis menyediakan 7 ilustrasi keadaan di transportasi umum dan meminta mereka menilai masing-masing ilustrasi dengan skala 0-10, di mana 0 untuk sangat tidak puas dan 10 untuk sangat puas.

Gambar 1 Ilustrasi Tingkat Keramaian di Transportasi Umum

Sumber: Haywood, dkk (2017)

Kedua, untuk menyelidiki alasan dari ketidakpuasan mereka terhadap keramaian di transportasi umum, penulis menanyakan seandainya penumpang berada di ilustrasi carte 7, penumpang diminta untuk menilai dari skala 0-10 setiap alasan berikut: terlalu berdekatan, harus berdiri, mencium bau tidak mengenakkan, kerugian waktu, waktu terbuang, peluang jatuh dan dirampok. Angka 0 menandakan alasan ini tidak relevan dengan ketidakpuasan yang mereka maksud dan angka 10 untuk sebaliknya. (Perbedaan dari kerugian waktu dan waktu terbuang adalah

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil survei yang didapatkan   disimpulkan bahwa semakin ramai transportasi umum, semakin rendah kepuasan penumpang, tetapi penumpang juga tidak akan memilih kondisi di mana transportasi umum terlalu sepi. Pada penelitian ini, mayoritas penumpang memilih 2,5 orang/m2 untuk memperoleh kepuasan tertinggi. Sementara untuk alasan dari ketidakpuasan akibat keramaian, penulis menyusun ranking sebagai berikut: (1) terlalu berdekatan (lebih dari 50% sampel menganggap alasan ini yang paling tidak nyaman), (2) bau tidak mengenakkan, (3) harus berdiri, (4) peluang kecopetan, (5) waktu terbuang, (6) keributan, dan (7) kerugian waktu. Sementara untuk risiko jatuh dianggap dapat diabaikan oleh para penumpang.

Selain itu, penulis juga ingin mengukur ketidakpuasan yang tadi didapatkan akibat keramaian di transportasi umum menggunakan pendekatan matematis.

x merupakan vektor dari karakteristik individu dan perjalanan K; Ɛ mengukur error dari data.

Untuk alasan ketidaknyamanan akibat keramaian di transportasi umum, disusun fungsi matematis sebagai berikut:

di mana  adalah nilai ketidakpuasan yang disebabkan oleh alasan d,  =  adalah penjumlahan nilai ketidakpuasan individual i, x adalah nilai dari variabel kontrol k: waktu perjalanan, kepemilikan mobil, gender, seberapa sering menggunakan transportasi umum, waktu perjalanan selama menggunakan transportasi umum, ln (pendapatan), umur, dan tempat tinggal di Paris. Nilai negatif dari  menandakan seorang penumpang yang relatif lebih tidak puas karena alasan tertentu (yang disebut d) akan kurang toleran terhadap keramaian di transportasi umum.

Tabel 1 Dampak dari keramaian terhadap pendapatan ketidakpuasan konsumen

Sumber: Haywood, dkk (2017)

Kolom 1 pada tabel 1 menandakan  = 0 dan seperti yang telah diduga, bertambahnya 1 penumpang/m2 pada transportasi umum menyebabkan kepuasan konsumen berkurang sebesar 0,55 (hasil hampir linear) dan standar deviasinya bernilai kecil, yaitu hanya sebesar 0,044. Sementara untuk kolom 2, hasilnya menjadi lebih bervariasi ketika interaksi antar variabel dilakukan. Bertambahnya 1 orang penumpang/m2 di transportasi umum akan menyebabkan turunnya kepuasan penumpang dengan pendapatan yang tinggi sebesar 0,166. Sedangkan untuk kolom 3, hasilnya hanya signifikan hingga akhir untuk interaksi antara keramaian transportasi umum dan pendapatan, sementara variabel lain seperti umur, gender, peak hours tidaklah signifikan. Perlu diperhatikan juga bahwa ternyata variabel waktu (in vehicle travel time) tidak berdampak signifikan terhadap kepuasan konsumen, baik secara individu maupun jika dilakukan interaksi.

Selain itu, seseorang yang melakukan perjalanan dengan transportasi umum pada pagi hari memiliki kepuasan yang lebih tinggi daripada yang melakukan perjalanan pada sore hari. Hal ini mungkin disebabkan karena ketika bepergian pada sore hari, seseorang cenderung lebih tidak sabar untuk tiba di rumah karena lelah sehabis bekerja. Interpretasinya, ketika seseorang bepergian pada pagi hari menggunakan transportasi umum, kepuasannya cenderung bernilai   daripada yang bepergian pada sore hari. Seseorang yang menggunakan transportasi umum setiap hari juga memiliki kepuasan yang relatif lebih rendah 0,127 dibandingkan dengan yang tidak menggunakannya setiap hari. Akhirnya, pada kolom 2 terlihat bahwa penumpang laki-laki memiliki kepuasan  daripada penumpang perempuan ketika menggunakan transportasi umum.

Tabel 2 Dampak dari Berbagai Alasan Ketidakpuasan Konsumen terhadap Keramaian di Transportasi Umum

Sumber: Haywood, dkk (2017)

Tabel ini berfokus pada interaksi antara keramaian di transportasi umum (penumpang/m2) dengan delapan alasan yang telah diungkapkan sebelumnya. Hasilnya hanya ‘harus berdiri’, ‘terlalu berdekatan’, dan ‘waktu terbuang’ yang signifikan menurunkan kepuasan konsumen. Intinya, ketika seseorang berdesakan di transportasi umum, mereka merasakan kepuasan yang berkurang karena harus berdiri, membuang waktunya untuk tidak melakukan hal yang bisa ia lakukan, dan tidak nyaman terlalu dekat dengan orang lain.

Solusi penulis

  • Untuk mengatasi ‘harus berdiri’: pihak transportasi umum seharusnya menyediakan kursi yang terlipat otomatis ketika tidak ada yang mendudukinya untuk memberikan ruang lebih bagi para penumpang. Menambah kursi bukanlah opsi yang benar-benar tepat karena akan memakan ruang dan memperparah dari yang sebelumnya.
  • Untuk mengatasi ‘terlalu berdekatan’: pihak transportasi orang harus berdiri untuk memberi space yang lebih dan menyimpan ransel atau barang bawaan mereka ke atas kabin.
  • Untuk mengatasi ‘waktu terbuang’: penulis menyarankan agar pihak transportasi umum menyediakan fasilitas Wi-Fi agar para penumpang dapat melakukan hal yang menurut mereka berguna yang dapat

Tabel 3 Dampak utama dari variabel sosial-ekonomi terhadap alasan-alasan ketidaknyamanan di transportasi umum

Sumber: Haywood, dkk (2017)

Catatan: (+) = kebijakan berkaitan hal ini akan meningkatkan kepuasan konsumen, (-) = kebijakan berkaitan hal ini akan mengurangi kepuasan konsumen

Terakhir, penulis juga menunjukkan seberapa signifikan ketiga alasan yang dibahas sebelumnya apabila dilihat dari beberapa variabel sosial-ekonomi.   perempuan cenderung lebih sensitif kepada ketiga alasan signifikan di balik ketidakpuasan konsumen terhadap keramaian transportasi umum. Penumpang dengan pendapatan lebih tinggi cenderung lebih tidak puas karena alasan ‘waktu terbuang’ dan ‘terlalu berdekatan’ di dalam transportasi umum. Penumpang yang memiliki mobil merasa alasan ‘waktu terbuang’ relatif kurang penting karena meskipun tidak menaiki transportasi umum, mengendarai mobil juga tidak akan membuat mereka bisa melakukan kegiatan selama perjalanan (misalnya, harus fokus terhadap lalu lintas perjalanan). Selain itu, seseorang yang senang bekerja dan membaca selama perjalanan sangatlah tidak puas karena alasan ‘waktu terbuang’ dan  Terakhir, kawula tua cenderung kurang terpengaruh oleh ketiga alasan ini.

Kesimpulan

Seperti yang telah diduga, memang benar kepuasan konsumen akan berkurang seiring bertambah ramainya keadaan dalam transportasi umum yang diukur dalam satuan penumpang/m2. Ada tiga alasan utama berdasarkan uji statistik yang menyebabkan ketidakpuasan ini: ‘terlalu berdekatan’, ‘harus berdiri’, dan ‘waktu yang terbuang.’ Kendati demikian, hasil penelitian ini akan menjadi lebih signifikan pada penumpang dengan pendapatan yang lebih tinggi. Mereka cenderung tidak suka berdesakan dan tidak suka waktu mereka terbuang, seperti mereka bisa membaca koran ketika sedang dalam perjalanan. Untuk solusi atas permasalahan ini, pihak penyelenggara transportasi umum harus memperbaiki sarana/prasarana yang dapat meningkatkan kepuasan konsumen khususnya pada saat peak hours, di mana mobilitas penumpang sangat tinggi.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in