Temperature and Decisions: Evidence from 207,000 Court Cases

Penulis             : Anthony Heyes dan Soodeh Saberian

Tahun              : 2019

Publisher         : American Economic Association

Jurnal               : American Economic Journal: Applied Economics

Diulas oleh      : Adho Adinegoro

Ilustrasi oleh  : Norman Hasudungan

Pendahuluan

Penelitian ini menginvestigasi hubungan antara suhu luar ruangan dengan keputusan yang diambil oleh hakim imigrasi berpengalaman yang bekerja dalam tempat berkualitas baik dengan suhu terkontrol di dalam ruangan. Peneliti melakukan penelitian terhadap 207.000 kasus selama empat tahun dari 266 hakim pengadilan imigrasi di 43 pengadilan imigrasi federal di Amerika Serikat. Peneliti memutuskan untuk melakukan observasi terhadap pengadilan imigrasi karena beberapa alasan. Pertama, keputusan yang diambil memiliki dampak secara sosial dan ekonomi serta tidak seharusnya dipengaruhi faktor yang tidak relevan. Kedua, subjek penelitian, yakni seorang hakim, merupakan pengambil keputusan profesional. Ketiga, hakim bekerja di dalam ruangan yang berkualitas baik serta dengan suhu terkontrol. Keempat dan terakhir, kualitas data dan rincian prosedural yang ada memungkinkan peneliti untuk menemukan kesimpulan kausal.

Peneliti melakukan pendekatan terhadap data berfrekuensi tinggi ini (207.000 kasus) untuk mengestimasi linear probability model dengan berbagai fixed effect. Analisis dari hasil penelitian ini menemukan efek yang signifikan dari variasi suhu jangka pendek terhadap keputusan yang diputuskan oleh hakim. Dalam argumen peneliti, hasil ini sangatlah penting karena pengadilan seharusnya bertindak adil dalam memutuskan sebuah keputusan dan keputusan terhadap kasus tertentu semata-mata harus berlandaskan atas fakta yang ada, serta bukan dari faktor yang tidak relevan (dalam kasus ini, suhu). Hasil dari penelitian ini juga menyediakan bukti prima facie (diterima sebagai benar sampai terbukti sebaliknya) bahwa suhu dapat memengaruhi konsistensi dan kualitas suatu keputusan dalam pengadilan. Hal ini sekaligus mengisyaratkan suatu inefisiensi dalam pengambilan keputusan pada proses peradilan.

Literatur

Peneliti menggunakan beberapa penelitian terkait sebelumnya yang menghubungkan suhu dengan fungsi mental, pengambilan keputusan, risk attitude, dan suasana hati (mood). Dalam kaitan hubungan suhu dengan fungsi mental, khususnya mengenai ketajaman kognitif, terdapat beberapa penelitian terkait seperti yang dilakukan oleh Hedge (2004), Fang et al. (2004), Wyon et al. (1996), Chao et al. (2003), Allen dan Fischer (1978), dan Seppänen et al. (2006). Keenam penelitian tersebut secara umum meneliti performa dalam mengerjakan suatu aktivitas di dalam ruangan dengan suhu terkontrol. Akan tetapi, khusus penelitian terakhir oleh Seppänen et al. (2006) dilakukan dengan meta-analisis terhadap 24 penelitian terkait sebelumnya. Dari penelitian tersebut, diestimasikan bahwa produktivitas tertinggi di dalam ruangan berada saat suhu 21,75°C atau 71,5°F, dengan penurunan performa sekitar 9% terjadi ketika suhu mencapai 30°C atau 86°F.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan, penelitian terkait dilakukan oleh Cheema dan Patrick (2012). Dari penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa di suhu yang lebih tinggi, konsumen: (i) lebih kecil kemungkinannya untuk gamble, (ii) lebih kecil kemungkinannya untuk memilih produk-produk inovatif daripada yang sudah mapan, dan (iii) lebih mungkin untuk mengandalkan pengambilan keputusan dari kebiasaan yang ada. Kemudian, dalam hal hubungan suhu di luar ruangan dengan kegiatan brain-intensive yang dilakukan di dalam ruangan, beberapa penelitian terkait dilakukan oleh Graff Zivin et al. (2018) yang menemukan bahwa suhu di atas 79°F mengganggu performa anak-anak dalam pekerjaan matematika. Selanjutnya, Park (2016) menemukan bahwa dibandingkan dengan suhu 72°F, ujian yang dilakukan saat suhu 90°F mengurangi performa siswa sebanyak 0,19 standar deviasi.

Lalu, dalam kaitan dengan keputusan hakim serta hubungannya terhadap beberapa faktor, penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Guthrie et al. (2007) menemukan bahwa kelebihan beban emosional dan kognitif berpengaruh terhadap keputusan yang diambil oleh hakim. Selain itu, penelitian oleh Chen (2006) menemukan bahwa probabilitas suatu keputusan berpihak terhadap pemohon imigrasi di Amerika Serikat meningkat 1,4% pada hari setelah kemenangan tim NFL di mana pengadilan tersebut berada. Di lain sisi, penelitian oleh Eren dan Mocan (2018) menemukan bahwa pengadilan anak-anak di Louisiana memutuskan lama hukuman 6.4% lebih lama ketika tim football Lousiana State University NCAA mengalami kekalahan. Lebih lanjut, terdapat penelitian oleh Danzinger et al. (2011) yang menemukan kemungkinan keputusan yang menguntungkan tahanan oleh dewan pembebasan bersyarat Israel akan lebih tinggi setelah istirahat.

Data

Analisis utama dari penelitian ini berfokus pada data di seluruh Amerika Serikat terhadap permohonan suaka dengan mengetahui kondisi lingkungan terkait di hari serta di tempat di mana keputusan terkait diputuskan. Oleh karena itu, peneliti memperoleh data-data sebagai berikut:

Imigrasi

Peneliti menggunakan data administratif tingkat kasus pada permohonan suaka Amerika Serikat yang dibuat kepada pengadilan imigrasi dari Januari 2000 hingga September 2004. Data ini diperoleh dari asylumlaw.org, sebuah laman yang memberikan informasi bagi para pencari suaka di Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa. Dari laman tersebut diperoleh infromasi terkait tanggal persidangan, identitas hakim, kewarganegaraan pemohon, dan kategori permohonan. Dataset final peneliti mencakup keseluruhan 206.924 keputusan yang dibuat selama periode 58 bulan oleh 266 hakim imigrasi di 43 kota Amerika Serikat di mana pengadilan berada. Dalam dataset ini, sebanyak 34% hakim adalah perempuan dan grant rate (tingkat keputusan yang dibuat berpihak kepada pemohon) sebesar 16%. Berikut adalah lokasi-lokasi pengadilan tempat peneliti memperoleh data-data keputusan suatu kasus:

Parole

Untuk menguji validitas eksternal dari penelitian ini, peneliti menggunakan keputusan pembebasan bersyarat (parole) di seluruh negara bagian California. Semua data dengar pendapat pembebasan bersyarat dilakukan oleh Board of Parole Hearing (Dewan Pemeriksaan Pembebasan Bersyarat) atau BPH, sebuah badan yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi risiko keselamatan publik dari pembebasan narapidana yang dipenjara karena kejahatan berat. Seluruh data dengar pendapat yang diperoleh dilaksanakan antara 3 Januari 2012 dan 18 Desember 2015. Peneliti memperoleh data ini dari California Department of Corrections and Rehabilitation (Departemen Pemulihan dan Rehabilitasi California) atau CDCR. Dataset final mencakup 18.461 keputusan dengar pendapat yang dibuat oleh 12 komisioner BPH di 39 tempat di California. Dataset tersebut berisikan tanggal dengar pendapat, identitas anggota panel, pengidentifikasi unik narapidana, lokasi dengar pendapat. jenis dengar pendapat, dan hasil. Dari dataset ini, grant rate adalah sebesar 16.48%. Berikut adalah lokasi-lokasi dengar pendapat tempat peneliti memperoleh data-data pembebasan bersyarat:

Environment

Untuk mengetahui pengaruh suhu luar ruangan terhadap proses peradilan suatu kasus, peneliti menggabungkan dua dataset terkait keputusan dengan dataset suhu dan berbagai kontrol lingkungan lainnya sebagai variabel kontrol cuaca. Data tersebut diperoleh dari dua sumber, yakni dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan Northeast Regional Climate Center (NRCC). Data pengamatan setiap jam untuk suhu udara, titik embun, tekanan udara, curah hujan, dan kecepatan angin diperoleh dari NOAA sementara data untuk tutupan awan berasal dari NRCC. Seluruh informasi cuaca ini disandingkan ke setiap lokasi pengadilan dari stasiun monitor cuaca terdekat dengan jarak tidak lebih jauh dari 20 mil.

Kemudian, untuk mengontrol kualitas udara, peneliti menggunakan data polusi harian yang dipublikasikan secara online oleh United States Environmental Protection (USEPA) sebagai variabel kontrol polusi. Dataset tersebut mencakup ukuran partikel harian kurang dari 2,5 mikron (PM2,5), karbon monoksida (CO), dan ozon (O3) di seluruh Amerika Serikat untuk periode 2000 hingga 2004. Berikut adalah summary statistics dari dataset peneliti terkait environment:

 

Metode

Empirical Strategy

Peneliti mengestimasi linear probability model sebagai berikut:

Hasil

Linear

Terlihat pada tabel 2 di atas, kolom 1 menunjukkan hasil yang signifikan, yakni -1,075. Hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa pada saat suhu di luar ruangan pada pukul 6 pagi hingga 4 sore pada hari t meningkat sebesar 10°F, maka akan menurunkan kemungkinan permohonan suaka diterima pada hari t menurun sebesar 1,075. Sementara itu, hasil sebesar -1,454 pada kolom 1 menunjukkan bahwa pada saat suhu di luar ruangan pada pukul 6 pagi hingga 4 sore pada hari t meningkat sebesar 10°F, maka akan menurunkan kemungkinan permohonan suaka diterima pada hari selanjutnya sebesar 1,454. Begitu pula hasil sebesar -1,208 pada kolom 3 menunjukkan bahwa pada saat suhu di luar ruangan pada pukul 6 pagi hingga 4 sore pada hari t meningkat sebesar 10°F, maka akan menurunkan kemungkinan permohonan suaka diterima pada hari sebelumnya sebesar 1,208. Baik suhu panas di hari kemarin maupun hari esok, keputusan hari ini tetap kurang berpihak pada pemohon atau less favorable.

Nonlinear

Dari pengujian hubungan nonlinearity dari suhu dan hasil keputusan hakim, didapatkan hasil yang signifikan untuk setiap rentang suhu dengan rentang suhu 50-55°F sebagai kategori acuan. Hasil ini terlihat apabila suhu luar ruangan berada di bawah rentang suhu 50-55°F, kemungkinan permohonan suaka diterima juga meningkat dan signifikan untuk setiap rentang suhu tersebut. Sebaliknya, saat berada di atas rentang suhu 50-55°F, maka akan menurunkan kemungkinan permohonan suaka diterima dengan hasil yang juga signifikan untuk setiap rentang suhu tersebut.

Parole

Terlihat pada tabel 7 di atas, terdapat perbedaan hasil antara keputusan di permohonan suaka dan keputusan di pembebasan bersyarat. Dari kolom 1, dapat diinterpretasikan bahwa pada keputusan di pembebasan bersyarat, kenaikan 10°F di suhu rata-rata di sekitar tempat pembebasan bersyarat akan menurunkan kemungkinan keputusan untuk bebas bersyarat sebesar 1,56. Sementara itu pada kolom 2 dan 3, hasil masih menunjukkan korelasi negatif, tetapi tidak signifikan. Hasil ini berbeda dengan hasil yang didapat pada keputusan di permohonan suaka.

Lalu, untuk pengujian nonlinearity, pada keputusan di pembebasan bersyarat, hasil yang signifikan hanya diperoleh ketika suhu berada di atas 65°F. Hasil ini mengindikasikan bahwa pada saat suhu yang lebih tinggi (misal, di atas 85°F) maka kemungkinan keputusan untuk bebas lebih rendah.

Kesimpulan

Hasil dari penelitian ini telah menemukan bahwa kenaikan suhu 10°F dapat menurunkan kemungkinan suatu keputusan permohonan suaka diterima sebesar 1,075, serta menurunkan kemungkinan keputusan bebas bersyarat diterima sebesar 1,56. Hasil ini menandakan bahwa terdapat inefisiensi yang nyata dalam sistem peradilan bahkan saat faktor-faktor tidak relevan telah dikontrol (dalam konteks ini, suhu). Terbukti dalam penelitian ini, sensitivitas hasil keputusan mempunyai efek yang signifikan terhadap perubahan suhu. Penjelasan yang mungkin paling masuk akal dari hasil ini adalah bahwa tingginya suhu akan menurunkan mood serta ketajaman mental dari hakim sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih tidak berpihak kepada pemohon. Meski begitu, penelitian ini masih belum dapat memastikan mekanisme pasti dari sensitivitas hasil keputusan terhadap suhu.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in