Can Environmental Cash Transfers Reduce Deforestation and Improve Social Outcomes?

Pengarang: Jennifer M. Alix-Garcia, Katharine R.E Sims, Victor Hugo Orozco-Olvera, Laura Costica, Jorge David Fernandez Medina, Sofia Romo-Monroy, Stefano Pagiola

Tahun: 2019

Nama Jurnal: Policy Research Working Paper No.8707, World Bank

Diulas Oleh: Meidy Winengko

Ilustrasi Oleh: M. Nur Ghiffari

Pendahuluan

Kondisi bumi yang semakin mengkhawatirkan memicu berbagai negara untuk memikirkan cara mengatasi degradasi lingkungan yang dapat mengancam keberlangsungan kehidupan generasi selanjutnya. Salah satu insentif yang ditetapkan oleh masyarakat global adalah memberikan insentif tunai atau sering disebut ‘pembayaran untuk menjaga ekosistem’ (Payment for Ecosistem Services-PES) untuk melindungi keanekaragaman, habitat laut, dan bentuk mitigasi perubahan iklim. Penelitian dalam jurnal ini mengevaluasi dampak program PES terhadap penurunan laju deforestasi dan perbaikan kualitas lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode regresi diskontinu untuk meneliti dampak PES terhadap lingkungan, aspek sosial-ekonomi, dan social-capital masyarakat selama tahun berjalannya program, yaitu 2011-2014. Hasil penemuan penelitian ini adalah (1) komunitas yang mengambil program PES meningkatkan aktivitas lingkungan untuk menjaga luas tutupan hutan, seperti mengawasi konversi lahan atau penebangan ilegal atau aktivitas lainnya yang dapat menyebabkan erosi tanah (48% terhadap variabel control), (2) PES mengurangi laju deforestasi pada daerah dengan risiko deforestasi yang tinggi hingga 29% terhadap variabel kontrol, dan 39% terhadap variabel kontrol pada daerah yang telah memberlakukan PES lebih lama, (3) Tidak signifikannya program PES terhadap aspek sosial-ekonomi masyarakat, (4) Dampak PES terhadap social-capital masyarakat bersifat positif dan signifikan (9% terhadap variabel kontrol) sehingga dapat disimpulkan program PES tidak menghilangkan motivasi intrinsik masyarakat untuk menjaga lingkungan meskipun tanpa diberikan insentif maupun menguras waktu masyarakat dalam memelihara kualitas lingkungan.

Skema Program PES

Deforestasi di Meksiko sebagian besar disebabkan oleh konversi hutan menjadi lahan yang membawa keuntungan lebih bagi pemilik tanah, seperti pertanian atau padang rumput. Selain itu, lebih dari setengah luas hutan Meksiko diklasifikasikan sebagai hutan primer – tempat pemberdayaan keanekaragaman makhluk hidup dan penyerapan karbon. Oleh karena itu, Komisi Perlindungan Hutan Meksiko (CONAFOR) telah mengimplementasikan PES yang dimulai pada tahun 2003 sampai sekarang untuk mengurangi laju deforestasi yang membahayakan lingkungan.

PES yang dibayarkan diharapkan menjadi insentif bagi pemilik tanah untuk memberdayakan tanah dan menjaga agar luas tutupan hutan di daerahnya tidak berkurang sehingga keberlanjutan lingkungan dapat dicapai. Program PES berlangsung selama 5 tahun, baik pada pemilik tanah individu maupun pemilik tanah properti. Uang yang digunakan untuk membayar PES diperoleh dari penerimaan pajak. Pemilik tanah yang berpartisipasi dalam program PES akan dibayar setiap tahun selama 5 tahun berturut-turut. Jika CONAFOR mendapati pemilik tanah yang telah menandatangani kontrak tidak menjaga tanah dan luas tutupan hutan seperti yang tertera dalam perjanjian, maka kontrak PES akan dibatalkan atau pengurangan pembayaran tahunan proporsional terhadap luas degradasi hutan. Dana yang dipersiapkan untuk membayar PES bersifat terbatas, oleh karena itu CONAFOR melakukan seleksi. Dalam menyeleksi, CONAFOR menggunakan sistem kombinasi dengan melihat area dan karakteristik tanah tersebut berada, serta penilaian berbasis skor untuk mengurutkan prioritas para pelamar yang akan menerima program ini. CONAFOR juga memberlakukan sistem pembayaran yang terdiferensiasi dengan mempertimbangkan tipe ekosistem dan risiko deforestasi tanah tersebut. Pelamar program PES yang masa kontraknya telah habis dapat memperbaharui program PES lagi. Untuk menghindari overlapping data, peneliti menandingkan lamaran tanah property (polygon) dengan database National Agrarian Registry (RAN’s).

Metodologi

Peneliti memilih Meksiko sebagai lokasi penelitian karena laju deforestasi negara tersebut cukup tinggi (7,8% selama tahun 1990-2010) (FAO: 2010). Selain itu, sesuai dengan pemaparan di atas, program PES telah berlangsung dengan sistematis dan jumlah partisipan program PES paling banyak berada di Meksiko. Dalam mencapai tujuan studinya, peneliti menggunakan dua sumber data, yaitu data satelit dan data survey.

Data Satelit

Data satelit digunakan untuk melihat pengaruh program terhadap perubahan luas tutupan hutan. Untuk analisis perubahan luas tutupan hutan, peneliti mengumpulkan data keseluruhan populasi, baik pemilik tanah individu maupun pemilik tanah properti di 32 negara bagian Meksiko tahun 2011-2014. Peneliti juga melakukan klasifikasi terhadap jangka waktu, yaitu medium-term effect selama tahun 2011-2012 dan short-term effect untuk tahun 2013-2014.Peneliti juga membagi lokasi penelitian menjadi ukuran yang disebut polygon atau parcel untuk menghindari double-counting areas dan dapat meneliti dengan lebih dalam masing-masing rekam jejak pengajuan lamaran PES masing-masing polygon.

Data Survey

Data survey digunakan untuk mengukur pengaruh PES terhadap aspek sosial-ekonomi masyarakat daerah tersebut dan perubahan social-capital mereka. Survey yang dilakukan dibagi lagi menjadi dua subyek, yaitu survey kepada pemimpin komunitas dan survey kepada satu anggota masing-masing rumah tangga. Sampel dari survey terdiri dari 862 komunitas (493 partisipan program dan 369 non-partisipan). Pada setiap komunitas, peneliti melakukan survey kepada pemimpinnya dan dengan acak memilih 10 rumah tangga, sehingga total rumah tangganya sebanyak 8.413 rumah tangga. Kemudian dalam pemilihan negara bagian, peneliti mengklasifikasikan negara Meksiko menjadi 4 zona, yaitu utara, tengah, selatan, dan Yucatan Peninsula. Akhirnya, peneliti memilih 12 negara bagian dengan jumlah pelamar terbanyak. Sebagai informasi tambahan, survey hanya dilakukan pada rumah tangga dengan hak penuh atas penggunaan tanah, yaitu turut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan program PES, cara berpartisipasi, dan berhak menggunakan PES yang diterima.

Dalam mengukur dampak PES terhadap aktivitas lingkungan yang dilakukan oleh komunitas partisipan, peneliti menghitung indeks management activities-nya dengan menambah semua aktivitas lingkungan yang dilakukan masing-masing komunitas. Kekayaan rumah tangga akan menjadi variabel aspek sosial-ekonomi diukur dengan menanyakan kepemilikan asset, karakteristik rumah, pengeluaran makanan, kepemilikan peternakan, pola emigrasi, dan indikator pendidikan anak kepada masing-masing rumah tangga.

Sementara untuk pengukuran social-capital dilakukan dengan menanyakan perilaku yang mengindikasikan kerjasama, infrastruktur, dan perilaku dalam menunjukkan norma sosial (kepercayaan atau fungsi). Peneliti juga mengukur struktur kelembagaan yang mendukung social-capital, seperti kisaran keputusan yang dibuat oleh pemerintah daerah tersebut dan besarnya partisipasi rumah tangga dalam pengambilan keputusan.

Untuk mengurangi dampak multiple uji hipotesis karena beragamnya hasil yang dapat diperoleh, peneliti menggunakan beberapa variasi metode, seperti simple-summation (checklist dari setiap indikator yang ditanyakan), polychoric principal components, dan inversion proportion weighting (pemberian bobot lebih tinggi pada jawaban yang langka). Penelitian ini juga melihat pengaruh heteorogenitas terhadap time-invariant covariates (variabel yang diobservasi akan selalu sama hasilnya meski waktu penelitian diubah-ubah). Peneliti mengharapkan dampak yang lebih besar pada daerah dengan laju deforestasi yang tinggi. Risiko dapat menjadi indikasi biaya partisipasi yang tinggi dan keuntungan ekonomi yang lebih rendah.

Untuk menaksir perbedaan antar survey sampel dan semua pelamar, peneliti menggunakan normalized differences in means, yaitu skala yang mengukur perbedaan distribusi antardata. Normalized differences dikatakan besar jika nilainya di atas 0,25 standar deviasi. Oleh karena itu, nilai dari uji sampel penelitian mendekati nilai sebenarnya dari keseluruhan populasi pelamar. Karena peneliti tidak melakukan penelitian ke semua komunitas (hambatannya berupa isu keamanan dan tidak dapat diakses sehingga komunitas yang bersangkutan tidak dapat disurvey), error dalam penelitian ini ditaksir sekitar 8 komunitas atau 1% dari keseluruhan komunitas yang menolak untuk berpartisipasi.

Strategi Empiris Penelitian

Peneliti akhirnya menyusun strategi empiris untuk mencapai tujuan penelitiannya, yaitu metode regresi diskontinu (RD) untuk mengidentifikasi sebab-akibat dari program PES. RD mengestimasikan dampak PES melalui perbandingan antara partisipan (pelamar yang diterima) dan pelamar yang ditolak. Standar cut-off diperoleh dari skor yang dihitung oleh CONAFOR selama masa seleksi dan berbeda untuk setiap negara bagian, kelompok, dan sub-program tergantung dari ketersediaan dana PES. Untuk kemudahan interpretasi, peneliti mengatur ulang skor CONAFOR menjadi nol untuk keperluan regresi. Kemudian peneliti menetapkan pelamar yang ditolak sebagai variabel kontrol. Asumsi agar hasil penelitian benar adalah hasil yang berpotensi didapatkan bersifat berkelanjutan di sekitar standar nilai cutoff. Asumsi ini mensyaratkan bahwa para pelamar tidak dapat memanipulasi standar nilai cutoff.

Strategi empiris untuk dampak PES terhadap luas tutupan hutan

Keterangan:

Epics = variabel dummy yang mengindikasikan apakah pelamar telah melewati standar nilai cutoff di negara, program, dan tahun pengajuan program PES tersebut

 Ptspics = skor CONAFOR yang telah diatur kembali menjadi nol (Skor aktual – standar nilai cutoff)

Matriks Xp = level karakteristik polygon (ukuran, tipe wilayah, dan variabel indikator ejido, persentase luas tutupan hutan pada tahun 2000, ketinggian wilayah, dan standar deviasi slope)

 Pc variabel dummy untuk kelompok pengajuan program PES (2011-2012 atau 2013-2014)

 as = variabel dummy negara bagian

= standar error level komunitas (untuk analisis pengajuan lamaran ejido)

Karena terdapat komunitas yang tidak mendapat pembayaran PES meskipun nilai seleksi mereka di atas standar cutoff, maka peneliti juga memeriksa robustness model mereka. Akhirnya, peneliti memberi bobot lebih tinggi pada polygon dengan area yang lebih luas karena peluang polygon tersebut untuk menghasilkan dampak pengurangan luas tutupan hutan lebih besar.

Strategi empiris untuk aktivitas lingkungan dan analisis sosial komunitas yang bersangkutan

 eijs = standar error untuk level komunitas (untuk analisis rumah tangga)

Sebagai informasi tambahan, bobot semua komunitas sama. Untuk pengecekan robustness, peneliti memasukkan perbandingan variabilitas data tanpa state fixed effect dan pengecekan robustness dengan memasukkan variabel kontrol.

Results

Pencegahan Deforestasi

Grafik di atas menunjukkan penurunan perubahan luas tutupan hutan. Grafik tersebut mengombinasikan semua tahun penelitian dan mengestimasikan hasil regresi quadratic fit – regresi untuk menemukan persamaan parabola -. Meskipun mengalami penurunan, hasil grafik tersebut tidaklah signifikan.

Tabel di atas menunjukkan dua hasil, yaitu persentase penurunan luas tutupan hutan dan variabel binary yang mengindikasikan penurunan luas lebih besar dari 2 hektar. Seperti yang terlihat pada panel A (25 poin di bawah standar cut-off), untuk melihat perubahan luas tutupan hutan, nilai koefisien above threshold dibagi dengan koefisien control mean. Jadi, interpretasi perubahan luas tutupan hutan selama tahun 2011-2014 adalah sebesar -0,125/0,619 = 20% penurunan degradasi luas tutupan hutan. Sementara untuk medium-term effect, penurunan degradasi luas tutupan hutan sebesar 30% (-0,285/0,956), dan untuk short-term effect sebesar 5% (-0,016/0,319). Perlu diingat bahwa short-term effect menghasilkan penurunan deforestasi yang kecil karena cakupan waktu sangat terbatas.

Sementara untuk panel B (10 poin di bawah standar cut-off), penurunan deforestasi luas tutupan hutan selama tahun 2011-2014 sebesar 24% (-0,151/0,634), sementara untuk medium-term effect sebesar 35% (-0,324/0,934), dan 8% untuk short-term effect (-0,025/0,329). Sementara untuk binary variabel dengan penetapan deforestasi di atas 2 hektar, untuk keseluruhan sampel peneliti menemukan bahwa dampak marginal signifikan sebesar 7,2%

Heterogeneous Effects

Pada tabel 6, ketika nilai interaksi batas ambang dikalikan risiko deforestasi yang tinggi pada keseluruhan sampel selama tahun 2011-2014, diperoleh angka -0,256. Angka ini kemudian dibagi dengan control mean, yaitu laju deforestasi pada komunitas yang ditolak pada seleksi program PES (0,865). Maka, diperoleh penurunan deforestasi luas tutupan hutan sebesar 29,6%, sementara untuk komunitas yang telah berpartisipasi dalam program PES dalam jangka waktu lebih lama (middle-term effect) menghasilkan penurunan deforestasi luas tutupan hutan lebih besar, yaitu sebesar 38,1% (-0,491/1,294). Sementara untuk short-term effect tetap terjadi penurunan deforestasi tetapi tidak signifikan. Maka dapat disimpulkan, hasil penelitian konsisten bahwa semakin lama sebuah komunitas berpartisipasi dan semakin tinggi risiko deforestasinya, maka semakin besar dampak program PES terhadap penurunan deforestasi luas tutupan hutan komunitas tersebut.

Robustness Checks

Pada tabel A3, hasil penelitian menunjukkan konsistensi meskipun telah dilakukan uji robust. Tabel A3 menandingkan hasil OLS dan fuzzy design. Hasil yang tidak signifikan menunjukkan bahwa dalam penelitian ini, dampak PES terhadap penurunan perubahan luas tutupan hutan tidak ada yang bersifat no-shows (diterima dalam seleksi PES namun tidak menerima pembayaran) dan cross-overs (tidak diterima dalam seleksi PES namun menerima pembayaran). Sementara tabel A4 merupakan hasi placebo test dengan menggunakan hasil laju deforestasi dari tahun 2007-2010 (tahun sebelum pendaftaran). Tidak adanya hasil yang signifikan pada tabel A4 menunjukkan bahwa hasil penelitian tidak berpengaruh pada tahun sebelum pendaftaran program PES. Kemudian, pada tabel A5 peneliti mendapatkan hasil yang robust setelah mengeluarkan observasi dengan laju deforestasi di atas 50%. Ternyata, dampak program PES terhadap penurunan perubahan luas tutupan hutan tidak signifikan. Uji robust ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya, yaitu dampak program PES terhadap penurunan perubahan luas tutupan hutan hanya signifikan pada komunitas dengan risiko deforestasi yang tinggi.

Aktivitas Lingkungan Pemberdayaan Luas Tutupan Hutan

Tabel 7 mendeskripsikan hasil aktivitas lingkungan partisipan program PES berdasarkan indikator yang telah tercermin pada persamaan (2). Peneliti menemukan bahwa program PES meningkatkan indeks aktivitas lingkungan pada level komunitas (Panel A). Komunitas yang terdaftar pada program PES memiliki indeks aktivitas lingkungan 72% lebih tinggi pada kelompok 2011-2012 (0,178/0,247), dan 40% lebih tinggi pada kelompok 2013-2014 (0,177/0,292). Meskipun range antara efek middle-term dan short-term relatif besar, tidak ada perbedaan signifikan pada kedua dampak kelompok tersebut (z-value = 0,867). Ketika kedua kelompok dikombinasikan, terjadi peningkatan indeks aktivitas lingkungan secara total sebesar 47,6% (0,13/0,273). Total efek ini signifikan pada level 1%.

Selanjutnya, berdasarkan data survey rumah tangga, peneliti menemukan bahwa masing-masing rumah tangga telah meningkatkan partisipasi mereka terhadap aktivitas pemeliharaan lingkungan. Panel B pada tabel 7 menunjukkan dampak program pada hari-hari kerja. Nilai dari hari kerja ditransformasikan dalam bentuk log dengan rumus sebagai berikut:

Hasil panel B tabel 7 adalah dampak program PES terhadap partisipasi rumah tangga dalam memberdayakan hutan bersifat positif dan signifikan (0,613***), dan juga positif-signifikan terhadap aktivitas lingkungan dengan bayaran maupun tanpa bayaran. Aktivitas lingkungan pada komunitas yang terikat kontrak PES meningkat sekitar 4,2 hari untuk middle-term effect dan 2,3 hari untuk short-term effect (jika dikombinasikan maka total efeknya 2,7 hari).

Heterogeneous effects

Untuk meneliti dampak heterogenitas, peneliti mengklasifikasikan ulang zona survey menjadi kelompok-kelompok berdasarkan kemiripan komunitas dari karakteristik dasar yang telah ditentukan sebelumnya. Kelima zona tersebut adalah: Utara (Chihuahua dan Durango states), Tenggara (Nuevo Leon dan San Luis Potosi States), Tengah (Jalisco, Michoacan, dan Puebla states), Selatan (Chiapas dan Oaxaca states), dan Yucatan Peninsula (Campeche, Quintana Roo, dan Yucatan). Peneliti menginvestigasi dampak heterogenitas dari setiap zona dan menemukan bahwa komunitas yang terdaftar di zona tenggara meningkatkan aktivitas lingkungannya.(0,212*** pada medium-term effect dan 0,097 pada short-term effect).

Peneliti juga mengestimasikan dampak komunitas yang memiliki risiko deforestasi yang tinggi dan hasilnya adalah tidak ada perbedaan signifikan dalam aktivitas lingkungan komunitas tersebut. Hal ini karena high deforestastion risk yang dimaksud adalah variabel kontrol (bukan komunitas yang melaksanakan kontrak PES). Karena komunitas tersebut tidak terikat kontrak, maka indeks aktivitas lingkungan mereka tidak signifikan.

Indikator Sosial-Ekonomi Rumah Tangga

Peneliti berangkat dari asumsi bahwa PES merupakan insentif lingkungan yang bersifat sukarela, oleh karena itu tidak semua komunitas akan setuju untuk berpartisipasi kecuali PES membuat kesejahteraan mereka meningkat. Tabel 8 menguji sampel rumah tangga melalui indikator-indikator kekayaan, seperti karakteristik rumah, kepemilikan aset rumah tangga, dan pengeluaran konsumsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada dampak program PES terhadap kekayaan rumah tangga. Detectable effects untuk ketiga indikator kekayaan ini berkisar 0,1 – 0,2 (sama dengan peningkatan 14-30%), namun hasil penelitian tidak mencapai detectable effects sehingga tidak dapat ditaksir secara pasti dampak PES terhadap indikator kekayaan rumah tangga. Selain itu, peneliti juga menambah variabel lain untuk menaksir lebih baik kekayaan rumah tangga, yaitu migrasi, pendidikan anak, kepemilikan peternakan, dan apakah rumah yang ditempati memiliki cicilan kredit. Hasil penelitian menunjukkan untuk tingkat migrasi, dampak program PES terhadapnya sebesar -43,75% (-0,035/0,08) namun hanya signifikan pada 10%. Artinya, ketika rumah tangga tersebut terlibat dalam program PES, tingkat migrasi mereka menurun. Sementara untuk tingkat pendidikan, dampak program PES terhadap tingkat pendidikan anak sebesar 18% (0,11/0,59) (SMP), dan 28,8% (0,115/0,4) (SMA). Artinya, pendidikan anak meningkat ketika rumah tangga tersebut berpartisipasi dalam program PES, namun dampaknya hanya signifikan pada level 10%.

Heterogeneous effects

Jika dilakukan pemisahan hasil penelitian berdasarkan klasifikasi zona sebelumnya, diperoleh dampak program PES terhadap indeks rumah signifikan dan positif pada level 1% pada zona tengah pada kelompok tahun 2011-2012, sementara signifikan dan positif pada zona tenggara dan selatan. Sementara untuk kepemilikan aset, dampak program PES signifikan dan negatif pada zona utara selama tahun 2011-2012, dan menjadi signikan-positif pada zona utara, tenggara, dan tengah selama tahun 2013-2014. Sementara untuk pengeluaran konsumsi, dampak program PES signifikan-negatif pada zona utara dan selatan selama tahun 2011-2012. Namun, jika ditotal tanpa pengklasifikasian zona, dampak program PES tidak berpengaruh terhadap indikator kekayaan. Selanjutnya pada tabel A9, dampak program PES terhadap indikator kekayaan komunitas dengan laju deforestasi yang tinggi tidak signifikan. Akhirnya, pada tabel A10 ketika dilakukan interaksi antara standar nilai cut-off dan menerima pembayaran PES, hasilnya hanya signifikan pada level 10%, yaitu penurunan 6,3% pada kepemilikan aset selama tahun 2013-2014.

Social Capital

Social-capital adalah keseluruhan nilai yang mendasari hubungan sosial dalam suatu organisasi yang mendukung tercapainya tujuan ekonomi). Untuk melihat dampak program PES terhadap social-capital, peneliti menyusun tabel 9 yang membagi data menjadi dua bagian, yaitu level komunitas dan level rumah tangga. Untuk level komunitas (Panel A), dampak program PES terhadap social capital komunitas selama tahun 2011-2012 meningkat sebesar 15,3% (0,084/0,548), sementara untuk tahun 2013-2014 meningkat sebesar 6,7% (0,038/0,567). Jika dikombinasikan, dampak program PES terhadap social capital komunitas meningkat sebesar (0,048/0,559). Untuk kelompok dengan jangka waktu lebih lama, program PES berpengaruh lebih besar pada level social capital komunitas. Dua indikator social capital yang berubah akibat pengadaan program PES adalah infrastruktur dan trust komunitas.

Sementara untuk Panel B, dampak program PES terhadap social capital rumah tangga tidak signifikan. Sebagai informasi tambahan, data tabel 7 menunjukkan bahwa pengadaan program PES tidak menghilangkan niat sukarela rumah tangga untuk memberdayakan lingkungan, justru meningkat sebesar 16% (0,26/1,558) dan signifikan pada level 5%.

 

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini adalah signifikannya dampak program PES terhadap penurunan perubahan luas tutupan hutan, meskipun hanya signifikan pada daerah dengan risiko laju deforestasi yang tinggi, dan program PES berhasil mendorong aktivitas pemberdayaan lingkungan. Untuk aspek sosial-ekonomi, penelitian tidak menemukan signifikansi dampak program PES terhadap kekayaan masyarakat. Akan tetapi, program PES menurunkan laju migrasi dan meningkatkan level edukasi anak (SMP dan SMA). Akhirnya, program PES meningkatkan social-capital pada level komunitas dan terbukti tidak menghilangkan niat sukarela rumah tangga untuk memberdayakan lingkungan meskipun tidak diberi bayaran.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in