Does Beauty Matter in Undergraduate Education?

Penulis: Tatyana Deryugina and Olga Shurchkov

Tahun: 2015

Nama Jurnal: Economic Inquiry Vol. 53, No. 2, April 2015, pp. 940-961

Diulas oleh: Novita Furia

Ilustrasi oleh:  Ni Luh Gede Gayatri Wulansari

 

Pendahuluan:

            Diskriminasi berdasarkan karakteristik seseorang, seperti jenis kelamin, usia, ras, dan asal daerah, merupakan isu yang sudah banyak dibahas hingga saat ini. Bahkan, literatur akademik sebelumnya telah membahas dan menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara pendapatan seseorang dengan karakteristik fisik (daya tarik) dari pria dan wanita (Biddle dan Hamermesh, 1998). Hal ini menunjukkan adanya beauty premium (premi bagi seseorang yang memiliki penampilan fisik yang menarik, seperti pekerjaan yang lebih baik, upah yang lebih tinggi, dan lain sebagainya). Meskipun demikian, mekanisme di balik adanya beauty premium ini masih belum diketahui, seperti seberapa bias pilihan seseorang terkait dengan penampilan fisik, besarnya peran tampilan fisik terhadap pemilihan karir seseorang, dan lain-lain.

            Peneliti menggunakan sebuah dataset yang unik dan beraneka ragam untuk menguji mekanisme beauty premium pada tingkat perkuliahan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk: a) menguji apakah mahasiswi yang memiliki penampilan fisik yang menarik akan lebih pandai ataupun percaya diri ketika memulai perkuliahan (berdasarkan hasil tes ujian terstandardisasi dan admissions ratings yang diukur melalui penilaian berkas calon mahasiswi baru); b) menguji apakah mahasiswi tadi memiliki IPK yang lebih tinggi selama perkuliahan; c) menguji seberapa besar pengaruh penampilan fisik terhadap pemilihan bidang studi dan pekerjaan

Untuk melakukan pengujian, peneliti mengestimasi hubungan antara penampilan fisik yang menarik, hasil tes terstandardisasi (nilai Scholastic Aptitude Test (SAT)), IPK, nilai mata kuliah, admissions ratings, dan pemilihan jurusan/karir seseorang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti kemudian mengukur besarnya pengaruh penampilan fisik terhadap kemampuan dan rasa percaya diri seseorang, besarnya sikap bias terhadap orang-orang yang berpenampilan lebih menarik, dan menguji apakah beauty premium dalam pasar tenaga kerja dapat dijelaskan melalui pemilihan jurusan/kerja seseorang.

 

Metodologi:

            Penelitian ini menggunakan dataset yang terdiri atas 794 alumni yang lulus dari sebuah kampus khusus wanita di Amerika Serikat pada tahun 2002 hingga 2011. Untuk mengukur daya tarik alumni ini, peneliti meminta mahasiswa dan mahasiswi dari kampus di negara bagian lain untuk memberikan penilaian (1-10) terhadap foto para alumni yang diambil dari kartu identitas mahasiswa mereka. Masing-masing foto dinilai oleh paling sedikit 25 orang mahasiswa dan 25 orang mahasiswi dimana hasil akhir yang menunjukkan seberapa tinggi daya tarik alumni tersebut diperoleh dari rata-rata nilai yang diberikan. Peneliti kemudian mencocokan tingkat daya tarik masing-masing alumni dengan catatan akademik mereka semasa kuliah, termasuk jurusan, nilai SAT, IPK, ras, menerima bantuan finansial/tidak, status internasional, dan nilai dari tes quantitative reasoning (QR) yang wajib diambil oleh seluruh mahasiswa/i baru di Amerika Serikat. Selain itu, peneliti juga mengobservasi hasil penilaian berkas setiap sampel sebelum diterima oleh kampus. Berkas tersebut terdiri atas catatan akademik semasa SMA, kegiatan ekstrakurikuler, surat rekomendasi, esai, serta dalam kasus tertentu, prestasi di bidang kesenian/musik. Penilaian menggunakan skala 0-10 dimana semakin tinggi nilai berkas, maka semakin besar peluang diterima sebuah kampus (admissions ratings semakin tinggi).

            Tabel 1 menunjukkan ringkasan data statistika yang diperoleh oleh peneliti. Peneliti membagi tingkat daya tarik seseorang menjadi 2, yaitu di atas median dan di bawah median, dengan median sebesar -0,03. Hasil menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan yang signifikan antara mereka yang di atas median dengan yang di bawah median. Perbedaan tersebut adalah bahwa mereka yang memiliki daya tarik di atas median: a) kemungkinan adalah Hispanik (Spanyol) atau Latin; b) melakukan pinjaman lain (bukan untuk memenuhi kebutuhan) lebih banyak; c) memiliki nilai tes SAT (matematika, verbal/bahasa Inggris, dan writing) yang lebih rendah; d) memiliki admissions ratings yang lebih rendah.

            Untuk mengukur apakah hasil yang diperoleh konsisten setelah ditambah variabel kontrol, maka peneliti melakukan analisis regresi. Namun sebagai catatan, secara umum, peneliti tidak memasukkan nilai tes SAT writing karena tes ini baru diberlakukan sejak tahun 2005.

  • Untuk mengestimasi hubungan antara daya tarik dengan admissions ratings, maka digunakan persamaan: Admissionsi = αRatingi + Xi γ + εi

dimana i = alumni; Admissions = rata-rata admissions ratings alumni yang diberikan oleh 3 atau lebih penilai; Ratingi = daya tarik alumni; Xi = vektor dari karakteristik mahasiswi, seperti nilai SAT, ras, log jumlah tunjangan dan pinjaman, serta tahun masuk.

  • Untuk mengestimasi hubungan antara daya tarikdengan IPK, maka digunakan persamaan: GPAi = βRatingi + Xi γ + εi

dimana GPAi adalah IPK mahasiswi dengan skala 0-4.

  • Peneliti khawatir apabila mahasiswi yang memiliki daya tarik tinggi mengambil lebih banyak mata kuliah sastra yang secara umum mempunyai nilai lebih tinggi, maka IPK yang diperoleh akan overrated untuk dibandingkan. Oleh karena itu, untuk menghilangkan kemungkinan bias akibat adanya beauty premium pada persamaan 2, peneliti mengestimasi hubungan antara daya tarik dengan nilai mata kuliah berdasarkan persamaan: Gradeijt = βRatingi + Ability′i δ + Xi ρ + Zj γ+ θd + μat + πTd + σTdPt + εijt

dimana  i = individu; j = mata kuliah; t = semester; Gradeit = nilai mata kuliah dengan skala 0-4; Zj = vektor dari karakteristik dari mata kuliah tersebut, seperti jenis kelamin dosen, jumlah mahasiswi dalam kelas (dalam log), dan level mata kuliah (pemula, menengah, atau lanjutan); θd = sekumpulan departemen (fixed effects), seperti Sastra Inggris, Matematika, Fisika; μat = bidang studi yang diambil pada semester tertentu (fixed effects), seperti sastra pada musim gugur 2005, sains pada musim semi 2008; Td = rata-rata nilai suatu departemen sebelum kebijakan anti-grade inflation (kebijakan bahwa rata-rata nilai kelas pengantar dan menengah dengan jumlah mahasiswi 10 ke atas harus sama dengan B+) diberlakukan pada musim gugur tahun 2004 dimana 1: B+ ke atas, 0: B+ ke bawah; Pt = 1: musim gugur tahun 2004 dan seterusnya, 0: sebelumnya.

  • Untuk mengestimasi hubungan antara daya tarik dengan pemilihan jurusan, maka digunakan persamaan: I [Major = M]i = βRatingi + Xi γ + εi

dimana I [Major = M]i = 1: mahasiswi i berasal dari jurusan M, 0: lainnya; jurusan dibagi menjadi 5, yaitu sastra, sains, sosiologi, ekonomi, dan studi regional sesuai dengan klasifikasi dari kampus tersebut yang diolah lagi oleh peneliti.

 

Hasil dan Analisis:

            Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara daya tarik dengan admissions ratings. Peneliti menemukan bahwa terdapat signifikansi antara mahasiswi yang berada pada kuintil atas (daya tarik paling tinggi) dengan nilai admissions ratings yang rendah. Signifikansi ini tidak ditemukan pada kuintil lainnya sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab hubungan negatif pada kolom 1 dan 2 adalah mahasiswi kuintil atas. Namun setelah mengontrol nilai SAT matematika dan bahasa Inggris, maka daya tarik dengan admissions ratings menjadi tidak berhubungan. Hal ini berarti bahwa adanya hubungan negatif tadi disebabkan oleh nilai SAT. Peneliti menekankan bahwa tidak ada beauty premium dalam seleksi ini karena penilai tidak secara langsung melihat penampilan fisik calon mahasiswi baru dan hanya menilai berkas mereka. Selain itu, hasil ini robust setelah ditambah variabel negara asal calon mahasiswi baru, baik domestik maupun internasional.

            Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara daya tarik dengan hasil ujian. Peningkatan 1 standar deviasi daya tarik berhubungan dengan penurunan 0.10 standar deviasi nilai SAT matematika, penurunan 0.14 standar deviasi nilai SAT bahasa Inggris, penurunan 0.45 standar deviasi nilai SAT writing, dan penurunan 0.20 standar deviasi nilai QR. Peneliti menemukan bahwa pada nilai SAT matematika, hasil yang signifikan hanya ditemukan pada mahasiswi yang berada pada kuintil paling atas. Artinya, apabila dibandingkan dengan mereka yang berada di kuintil terbawah (daya tarik terendah), maka mahasiswi kuintil teratas memiliki nilai SAT lebih rendah sebesar 0.29 standar deviasi. Pola serupa juga ditunjukkan pada hasil ujian QR. Untuk nilai SAT bahasa Inggris, penurunan terjadi secara bertahap dan signifikansi ditemukan pada mahasiswi kuintil ketiga, keempat, dan kelima (paling atas). Apabila dibandingkan dengan mereka yang berada pada kuintil terbawah, maka mahasiswi kuintil teratas memiliki nilai SAT bahasa Inggris lebih rendah sebesar 0.40. Selain itu, peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan antar kuintil pada nilai SAT writing.

            Peneliti menjelaskan bahwa tidak ada beauty premium dalam hasil ujian ini karena penilai tidak melihat langsung penampilan fisik dari mereka yang ikut ujian. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa hasil ujian bersifat objektif. Peneliti tidak menyimpulkan bahwa mereka yang memiliki daya tarik tinggi kurang cerdas karena tidak adanya bukti. Namun, peneliti menduga bahwa adanya hubungan negatif antara daya tarik dengan nilai ujian SAT dan QR disebabkan oleh faktor kepercayaan diri. Semakin tinggi daya tarik seseorang, maka usaha yang dikeluarkan untuk mengikuti ujian akan semakin rendah karena sudah merasa percaya diri akan diterima di suatu kampus. Alhasil, nilai yang diperoleh pun juga semakin rendah.

            Tabel 5 menunjukkan hubungan antara daya tarik dengan IPK. Secara keseluruhan, tidak ada hubungan antara keduanya. Meskipun hasil menunjukkan bahwa terdapat signifikansi pada mahasiswi kuintil kedua dan pada IPK keseluruhan (kolom 6), namun peneliti menjelaskan bahwa besarnya kecil dan tingkat signifikansinya tipis. Selain itu, peneliti menyoroti adanya signifikansi pada nilai SAT matematika serta admissions ratings pada IPK tahun pertama dan  admissions ratings pada IPK keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa admissions ratings (ketimbang nilai SAT matematika) dapat menjadi alat ukur yang berguna untuk memprediksi IPK mahasiswi, baik tahun pertama maupun secara keseluruhan.

            Tabel 7 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara daya tarik dengan nilai mata kuliah. Hasil ini konsisten dengan tabel 5 dimana IPK yang dapat tercermin dari nilai mata kuliah tidak berhubungan dengan daya tarik, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi bias akibat adanya beauty premium. Selain itu, adanya signifikansi pada nilai SAT matematika, nilai SAT bahasa Inggris, dan admissions ratings menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut dapat digunakan sebagai alat prediksi nilai seseorang ketika berkuliah nanti.

            Tabel 10 menunjukkan hubungan antara daya tarik dengan pemilihan jurusan. Supaya lebih mudah dibaca, hasil di atas sudah dikalikan dengan 100.  Hasil menunjukkan bahwa mahasiswi yang memiliki daya tarik tinggi (khususnya kuintil keempat dan kuintil atas) memiliki kemungkinan lebih besar untuk memilih jurusan ekonomi (signifikan positif) dibandingkan dengan jurusan sains (signifikan negatif). Di sisi lain, tidak ditemukan hasil yang signifikan pada jurusan sosiologi, sastra, dan studi regional. Peneliti menambahkan bahwa nilai SAT matematika memiliki hubungan positif dengan jurusan sains dan ekonomi, tetapi berhubungan negatif dengan jurusan sosiologi dan sastra. Nilai SAT bahasa Inggris berhubungan negatif dengan jurusan sains dan ekonomi, sedangkan admission ratings tidak memiliki hubungan sama sekali dengan pemilihan jurusan.

            Tabel 11 menunjukkan hubungan antara daya tarik dengan pemilihan karir. Peneliti menemukan bahwa daya tarik memiliki hubungan positif dengan karir sebagai konsultan/manajer, namun berhubungan negatif dengan karir sebagai teknisi dan ilmuwan. Hasil ini konsisten dengan hasil pada tabel 10 (pemilihan jurusan) dimana mahasiswi yang berdaya tarik tinggi akan lebih memilih untuk masuk jurusan ekonomi ketimbang sains. Peneliti menduga bahwa hal ini terjadi karena mereka yang memiliki daya tarik tinggi akan cenderung berkarir di bidang yang mempertimbangkan penampilan fisik (menawarkan beauty premium yang signifikan) sehingga kemudian memilih jurusan yang berkaitan dengan ekspektasi karir tersebut. Selain itu, ternyata hanya nilai SAT matematika yang memiliki hubungan dengan pemilihan karir, yaitu berhubungan positif dengan karir konsultan/manajer, namun berhubungan negatif dengan karir administrator dan kesenian/periklanan.

Kesimpulan:

            Isu tentang diskriminasi berdasarkan penampilan fisik telah sering diangkat dan menjadi perhatian banyak orang dewasa ini. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang membahas beauty premium dalam dunia kerja, fokus dari penelitian kali ini adalah membahas hubungan antara daya tarik seseorang dengan dunia perkuliahan. Mahasiswi yang memiliki daya tarik lebih tinggi ternyata mendapatkan nilai SAT dan admissions ratings yang lebih rendah. Peneliti tidak memiliki bukti untuk menyimpulkan bahwa daya tarik berkorelasi negatif dengan kecerdasan, namun peneliti menduga bahwa hasil tersebut muncul karena faktor kepercayaan diri dimana semakin tinggi daya tarik seseorang, maka semakin tinggi pula rasa percaya dirinya akan diterima di suatu kampus. Akibatnya, usaha yang dikeluarkan untuk mengikuti ujian rendah. Di sisi lain, setelah memasuki dunia perkuliahan, peneliti tidak menemukan hubungan antara daya tarik dengan IPK dan nilai mata kuliah. Namun, ternyata mahasiswi yang memiliki daya tarik tinggi berkemungkinan lebih tinggi untuk memilih jurusan ekonomi dan bekerja menjadi konsultan/manajer ketimbang masuk jurusan sains dan berkarir di bidang sains ataupun teknik. Peneliti menyarankan agar hasil penelitian ini dikembangkan lagi dengan menambah responden laki-laki agar dapat membandingkan hubungan antara daya tarik mahasiswa dan mahasiswi dengan dunia perkuliahan secara terpisah.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in