The Best of Times, the Worst of Times: Understanding Pro-cyclical Mortality

Pengarang: Ann H. Stevens, Douglas L. Miller, Marianne E. Page and Mateusz Filipski

Tahun: 2015

Nama Jurnal:  American Economic Journal: Economic Policy, Vol. 7, No. 4 (November 2015), pp. 279-311

Diulas oleh: Lovina Aisha Malika Putri

Pendahuluan

Mengapa tingkat mortalitas di Amerika Serikat cenderung meningkat ketika tingkat pengangguran menurun? Selama ini, data yang menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut selalu didokumentasikan dengan baik. Hubungan antara perbaikan kondisi ekonomi (dengan indikator tingkat ketenagakerjaan) dan tingkat mortalitas bersifat pro-cyclical, atau dengan kata lain berhubungan positif. Akan tetapi, hal yang menjadi penyebab dari hubungan tersebut masih belum ditemukan dengan jelas. Banyak yang mengira bahwa penyebab dari fenomena ini adalah siklus bisnis yang sedang mengalami economic boom akan mempengaruhi alokasi waktu individu, tingkat stres, dan investasi kepada kesehatan (seperti vitamin, obat, alat kesehatan, berolahraga) melalui perubahan jam kerja ketika ekspansi ekonomi terjadi.

Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Ruhm pada tahun 2005 menunjukkan pola pro-cyclical pada obesitas, merokok, dan pola makan cenderung meningkat ketika angka tingkat ketenagakerjaan meningkat. Studi ini bertujuan untuk mengisi keterbatasan dari penelitian sebelumnya, terutama dalam hal pencarian penyebab dari hubungan pro-cyclical tersebut. Selain itu, studi ini juga ingin membuktikan bahwa penyebab dari hubungan pro-cyclical bukan seperti perkiraan sebelumnya, yaitu sebagai akibat dari perubahan kebiasaan dan alokasi waktu karena bekerja lebih lama. Sebaliknya, studi ini ingin menunjukkan bahwa dapat terjadi variasi siklus dalam kualitas layanan kesehatan ketika ekonomi sedang membaik.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan data CPS (Current Population Survey) tahun 1978-2007, yang selanjutnya akan diregresi menggunakan metode Pooled OLS Estimation. Selanjutnya, data tersebut juga dikombinasikan dengan perhitungan populasi dan melihat faktor kesehatan dari data National Cancer Institute’s Surveillance Epidemiology and End Results (Cancer-SEER) Program. Tingkat mortalitas tahunan (pada tingkat negara) dihitung berdasarkan data Vital Statistics’ micro-record “multiple cause of death” files (numerator), dan state-by-age population counts dari Cancer-SEER (denominator).

Model:

Penjelasan variabel:

H = log natural dari tingkat mortalitas di negara j dan tahun t

E = ukuran kesehatan ekonomi negara (biasanya tingkat pengangguran negara)

X = vektor kontrol demografis, termasuk fraksi populasi yang berusia kurang dari 5 tahun, 5 hingga 17 tahun, 18 hingga 30 tahun, lebih dari 65 tahun, putus sekolah, dengan beberapa lulusan perguruan tinggi, lulusan perguruan tinggi, hitam, dan Hispanik.

αt  = melihat efek tahun, dan vektor variabel indikator spesifik tingkat negara

Sj = kontrol untuk karakteristik keadaan invarian waktu

Sjt = tren waktu khusus tingkat negara

 

Hasil dan Analisis

Pada awalnya, penyebab dari kenaikan tingkat mortalitas pada economic boom dapat diklasifikasikan menjadi empat penyebab utama menurut Ruhm (2000). Pertama, waktu luang yang berkurang menyebabkan waktu berolahraga menjadi “time-intensive” (hanya dapat dilakukan jika terdapat banyak waktu). Kedua, kesehatan dapat menjadi input dalam produksi barang dan jasa. Stres terkait pekerjaan yang berbahaya dan aktivitas fisik dari pekerjaan akan memiliki efek negatif pada kesehatan, diperkirakan akan meningkat ketika ekonomi sedang berkembang. Ketiga, faktor eksternal seperti ramainya lalu lintas akibat banyak orang yang pergi bekerja membuat risiko kecelakaan lalu lintas semakin tinggi. Keempat, terdapat hipotesis bahwa siklus bisnis mempengaruhi mobilitas geografis, meningkatkan kepadatan, atau membawa biaya transisi yang berdampak pada tingkat mortalitas manusia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan 1% tingkat pengangguran menurunkan mortalitas karena kecelakaan kendaraan sebesar 2,641% untuk kelompok umur <65 tahun dan 2,197% untuk kelompok umur 65 tahun ke atas. Akan tetapi, tingkat kecelakaan itu tidaklah memiliki pola yang sama pada setiap kelompok umur dan tidak merepresentasikan penyebab kematian secara mayoritas. Selanjutnya, tingkat mortalitas dan tingkat pengangguran pada setiap kelompok umur memiliki pola yang tidak konsisten. Pada kelompok umur 0-14, 15-19, dan 20-24 tahun dan umur 65 tahun ke atas, kenaikan 1% tingkat pengangguran memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap tingkat mortalitas. Namun, pada kelompok umur usia kerja (25-64 tahun), tidak terdapat hubungan yang signifikan.

Fakta selanjutnya yang ditemukan dalam penelitian ini adalah tingkat mortalitas di kelompok umur 62 tahun dan lebih dipengaruhi oleh tingkat ketenagakerjaan di kelompok umur yang lebih muda. Contohnya seperti pada wanita berumur >62 tahun. Tingkat mortalitas pada wanita >62 tahun dipengaruhi secara signifikan oleh rasio employment per population wanita yang berumur 45-61 tahun. Penemuan ini menjadi suatu petunjuk; ketika wanita berumur 45-61 tahun mempunyai banyak kesempatan kerja, mereka cenderung memilih untuk melakukan pekerjaan lain. Jika tingkat pengangguran sedang tinggi, pada umumnya mereka memilih untuk menjadi pengasuh orang-orang yang lebih tua.

            Melalui paparan data di atas (tabel 3), peneliti menemukan bahwa (i) fluktuasi mortalitas terkonsentrasi di kalangan umur manusia lanjut usia; (ii) fluktuasi mortalitas juga belum tentu berkorelasi dengan tingkat pengangguran di kelompok umurnya sendiri. Beberapa kendala terkait tenaga kerja dengan keterampilan rendah terjadi saat kondisi ekonomi sedang baik. Contohnya, pengasuh dengan keterampilan rendah berbeda dari pekerja perawatan kesehatan yang lebih terampil dan profesional yang sering kali menjadi fokus dalam diskusi kualitas perawatan. Laporan Direct Care Alliance (berdasarkan tabulasi CPS) bahwa pengasuh hampir dan lebih dari setengahnya memiliki pendidikan sekolah menengah atau kurang. Upah rata-rata per jam untuk para pekerja ini pada tahun 2009 adalah $10,58. Yamada (2002) mencatat bahwa selama akhir 1990-an tingkat pengangguran yang sangat rendah memperburuk jumlah pengasuh atau perawat yang tersedia— menunjukkan bahwa antara 70-90% agen perawatan kesehatan rumahan mengalami kekurangan pengasuh atau perawat. Jika kekurangan tersebut menjadi sangat parah selama masa ekspansi ekonomi, maka kemungkinan naiknya angka mortalitas di kalangan usia lanjut akan lebih besar. Karena panti jompo menggunakan sejumlah besar pekerja pengasuh atau perawat ini, fasilitas tersebut mungkin sangat rentan terhadap bentuk siklus ekonomi. Selain itu, hal yang mendorong lebih tingginya kenaikan mortalitas pada wanita lanjut usia ialah cukup banyaknya wanita yang menikah dengan lelaki berumur lebih tua. Ketika suaminya wafat, maka wanita tersebut akan tinggal di panti jompo. Namun, perekonomian yang membaik justru membuat jumlah pengasuh atau perawat berkurang, karena mereka lebih memilih untuk bekerja di tempat lain. Oleh karena itu, peneliti juga menghitung efek dari tingkat pengangguran terhadap tingkat mortalitas berdasarkan tempat orang tersebut meninggal.

Tabel 4 membuktikan kembali hubungan pro-cyclical antara keadaan ekonomi dan tingkat mortalitas. Pada tahun 1976-2006, terdapat hubungan negatif antara kenaikan tingkat pengangguran dan tingkat mortalitas manula di semua tempat (kenaikan 1% tingkat pengangguran mengurangi 0,237% dari tingkat mortalitas). Selain itu, kenaikan 1% tingkat pengangguran juga mengurangi 4,68% dari tingkat mortalitas manula di panti jompo. Dapat dilihat bahwa tingkat pengangguran memiliki kontribusi signifikan dengan nilai yang lebih besar untuk tingkat mortalitas di panti jompo. Namun, jika hanya memasukkan tingkat mortalitas di semua tempat kecuali panti jompo, justru ditemukan hubungan yang positif, di mana 1% kenaikan tingkat pengangguran meningkatkan 0,615% tingkat mortalitas. Hubungan yang sama juga ditemukan jika kita menghilangkan data tahun 2002 ke atas, dengan nilai yang tidak terlalu berbeda jauh.

Tingkat mortalitas manula di suatu tempat bukan merupakan indikator yang tepat untuk menentukan dimana seseorang tinggal sebelum meninggal. Oleh karena itu, peneliti kembali melihat informasi sensus terkait kelompok institusi di mana seseorang tinggal (institutional group quarters). Peneliti menemukan bahwa mayoritas orang yang berumur 65 tahun atau lebih tinggal di panti jompo dan data ini dapat diklasifikasikan berdasarkan data di tingkat negara bagian. Jika petugas kesehatan, perawat, dan fasilitas kesehatan merupakan hal yang penting dari tingkat mortalitas secara siklus ekonomi, maka kita dapat melihat bahwa hubungan pro-cyclical akan lebih tinggi pada negara bagian yang memiliki lebih banyak populasi manula yang tinggal di panti jompo.

Tabel 5 menunjukkan hubungan antara tingkat pengangguran yang diinteraksikan dengan persen orang tua yang tinggal di panti jompo dengan tingkat mortalitas. Tiga baris terakhir dari tabel 5 menunjukkan posisi persentil di mana negara bagian berada. Persentil tersebut menunjukkan seberapa banyak jumlah orang tua yang tinggal di panti jompo. Hasil yang didapatkan sangat sejalan dan berkaitan dengan penjelasan sebelumnya. Dapat dilihat, bahwa semakin tinggi persentil orang tua yang tinggal di panti jompo, tingkat mortalitas di suatu negara bagian akan semakin tinggi. Hal ini berlaku bagi tingkat mortalitas untuk perempuan dan laki-laki. Selain itu, interaksi tingkat pengangguran dan persen orang tua tinggal di panti jompo memiliki hubungan yang negatif signifikan dengan tingkat mortalitas perempuan, namun tidak signifikan pada laki-laki. Akan tetapi, hal ini sudah menunjukkan hubungan pro-cyclical antara tingkat mortalitas dan siklus ekonomi yang kuat di negara bagian dengan jumlah populasi manula tinggal di panti jompo yang lebih banyak.

Tabel 7 menunjukkan hubungan antara log tingkat orang yang bekerja sebagai tenaga kesehatan terampil dan tingkat pengangguran. Estimasi dilakukan dengan mempertimbangkan fixed effect dari fasilitas panti jompo (yang diukur dengan jumlah tempat tidur tersedia) dan fixed effect tingkat negara bagian. Peneliti menemukan bahwa terjadi kenaikan jumlah pekerja kesehatan (secara total) di panti jompo sebanyak 3,89 persen ketika terjadi 1 persen kenaikan tingkat pengangguran. Pekerjaan seperti perawat/ suster, perawat bersertifikat, serta pekerjaan lainnya juga memiliki hubungan yang positif signifikan jika terjadi kenaikan pada tingkat pengangguran. Akan tetapi, profesi dokter tidak mengalami kenaikan yang signifikan ketika tingkat pengangguran meningkat. Hal ini dikarenakan dokter hanya memenuhi sedikit porsi pekerja di panti jompo (jarang ada dokter di panti jompo). Jika diestimasi berdasarkan tingkat negara bagian (state fixed effect), didapatkan hasil yang sama berupa kenaikan pekerja kesehatan (secara total) di panti jompo, kecuali pada profesi dokter. Oleh karena itu, temuan ini menunjukkan konsistensi dengan temuan sebelumnya di mana kekurangan perawat atau pekerja medis secara kronis di panti jompo terjadi ketika ekonomi sedang dalam kondisi baik.

Hasil olah data pada tabel 8 menunjukkan hubungan antara tingkat pengangguran dan kenaikan (penurunan) tenaga kerja pada bidang medis seperti MD (Medical Doctors atau Dokter), LPN (Licensed Practical Nurse atau Perawat Bersertifikat), RN (Registered Nurse atau Perawat biasa), Nursing Aides (Perawat Pembantu atau perawat tanpa pelatihan), dan Health Aides (asisten dalam pemeliharaan dan penggunaan alat bantu kesehatan). Pada pekerjaan yang lebih membutuhkan keterampilan seperti dokter atau perawat bersertifikat, kenaikan tingkat pengangguran sebanyak 1 persen menurunkan jumlah tenaga kerja dokter (1,5 persen) dan perawat bersertifikat (0,7 persen) di panti jompo. Hal sebaliknya terjadi pada pekerjaan yang tidak terlalu banyak memerlukan keterampilan seperti perawat pembantu. Kenaikan tingkat pengangguran sebanyak 1 persen meningkatkan jumlah perawat pembantu di panti jompo sebesar 1,8 persen.

Selain meninjau penyebab mengapa tingkat mortalitas cukup sensitif terhadap kondisi ekonomi dari pola ketenagakerjaan seperti pada penjelasan diatas, peneliti juga menemukan kemungkinan penyebab lain: pergantian pekerja yang lebih sering terjadi ketika perekonomian sedang baik. Terdapat literatur sebelumnya yang sudah meneliti hubungan antara pergantian perawat, kualitas perawatan, kesalahan dalam perawatan pasien, dan proses pemindahan pasien ke rumah sakit. Literatur tersebut belum menemukan hubungan kausalitas secara langsung, namun dapat menunjukkan bahwa pergantian pekerja dapat memberikan pengaruh kepada tingkat mortalitas. Penyebab lainnya adalah kurangnya perhatian dari keluarga. Aguiar, Hurst, dan Karabarbounis (2013) menunjukkan bahwa penurunan 4 persen dari aktivitas di pasar tenaga kerja ketika resesi akan membuat waktu luang meningkat — dan umumnya dialokasikan untuk merawat atau memberi perhatian kepada orang lain. Terdapat perkiraan ketika kondisi ekonomi sedang membaik, kunjungan dari keluarga yang bekerja kepada orang tuanya di panti jompo akan berkurang, dan selanjutnya berpengaruh kepada keadaan mental dan kesejahteraan orang tua di panti jompo yang dapat merasa depresi atau gelisah akibat kurangnya perhatian dari keluarga mereka.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis, hubungan pro-cyclical antara tingkat mortalitas dan kondisi ekonomi tidak disebabkan oleh kondisi kurang sehatnya masyarakat penduduk produktif yang bekerja maupun kecelakaan kendaraan bermotor. Fokus dari penyebab meningkatnya tingkat mortalitas pada kondisi ekonomi yang sedang membaik ialah kematian yang bukan diakibatkan oleh kecelakaan bermotor pada manula, melainkan berkaitan pada kondisi dan kualitas layanan kesehatan di panti jompo. Terdapat tiga temuan penting dalam penelitian ini: (1) Tingkat mortalitas di panti jompo lebih responsif terhadap siklus ekonomi; (2) Tingkat mortalitas di negara bagian dengan populasi penduduk usia tua yang lebih tinggi memiliki hubungan pro-cyclical yang lebih kuat terhadap siklus ekonomi; (3) Ketika tingkat pengangguran menurun, maka kehadiran tenaga kerja terampil seperti perawat bersertifikat di panti jompo akan berkurang.

Ketika terjadi resesi, mortalitas di kalangan penduduk usia tua menjadi faktor penting dan data menunjukkan bahwa kematian tersebut banyak terjadi di panti jompo. Hal yang mungkin terjadi ketika resesi ialah menurunnya tingkat mortalitas, karena penduduk usia tua di panti jompo cenderung menambah pembelian obat atau alat kesehatan yang lebih baik. Obat atau alat kesehatan tersebut merupakan bentuk tambahan layanan kesehatan dari meningkatnya jumlah perawat terampil yang tersedia di pasar tenaga kerja. Penelitian ini juga dapat menjadi pertimbangan pemerintah dalam menentukan alokasi alat dan pelayanan kesehatan, terutama bagi penduduk usia tua.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in