Doing Good or Doing Well? Image Motivation and Monetary Incentives in Behaving Prosocially

Penulis            : Dan Ariely, Anat Bracha, and Stephan Meier

Tahun              : 2009

Jurnal              : American Economic Review 2009, Vol. 99 No.1, 544-555

Diulas oleh Gilbert

Behavioral Hypothesis

Organisasi-organisasi sosial pada umumnya bergantung pada kontribusi pihak swasta, baik itu berupa bantuan dana, volunteer, atau berbagai bentuk lainnya, seperti donor darah. Kontribusi pihak swasta terbilang cukup besar, seperti contohnya di Amerika Serikat, 89% rumah tangga memberikan donasi dengan rata-rata $1.620 per tahun dan 44% dari orang dewasa di Amerika Serikat menjadi volunteer. Perilaku prososial ini menjadi insentif ekonomi bagi seseorang untuk menjadi free-rider dalam penyediaan barang publik. Untuk memacu kontribusi sosial, organisasi sosial akhirnya melakukan berbagai cara-cara kreatif, seperti wristbands, thank-you gifts, gerak jalan, konser amal, dan lain-lain. Pemerintah juga ikut membantu dengan tidak mengenakan pajak atas kegiatan-kegiatan sosial.

Adanya berbagai upaya yang dilakukan untuk memacu kontribusi sosial menunjukkan bahwa terdapat berbagai motif yang bisa mendorong seseorang berperilaku sosial. Motif tersebut terbagi atas motif intrinsik, ekstrinsik, dan citra sosial. Motif intrinsik adalah motif yang semata-mata dipicu oleh sifat altruisme murni (niat benar-benar ingin membantu orang lain). Motif ekstrinsik adalah motif yang dilakukan semata-mata karena adanya keuntungan yang bisa didapatkan dari melakukan tindakan sosial, seperti keringanan pajak. Motif citra sosial adalah tindakan sosial yang dipicu oleh keinginan dipandang sebagai orang baik oleh orang lain. Orang yang memiliki motif ini akan melakukan tindakan yang dianggap baik oleh orang lain, seperti memberikan bantuan pada organisasi sosial. Adanya keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial sebagai orang baik menjadikan seseorang akan berlaku lebih prososial di lingkungan umum ketimbang lingkungan sehari-hari. Hal ini juga menjelaskan mengapa seseorang lebih memilih memberikan sumbangan amal menggunakan namanya ketimbang menggunakan nama anonim. Oleh karena itu, hipotesis pertama terkait motif citra sosial adalah Image-Motivation Hypothesis dimana dengan asumsi ceteris paribus, apabila kegiatan prososial menghasilkan citra yang positif bagi seseorang, maka semakin banyak jumlah orang yang melihat perbuatan baiknya, semakin besar pula nilai citra sosial yang diperolehnya. Hal ini mengakibatkan seseorang akan lebih berupaya untuk melakukan aksi prososial.

Walaupun ketiga motif memiliki efeknya masing-masing pada perilaku sosial, ketiga motif tersebut juga bisa memiliki interaksi satu sama lain. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian-penelitian sebelumnya dimana insentif moneter dalam donor darah terbukti menyebabkan penurunan suplai darah. Penyebabnya adalah adanya motif ekstrinsik yang menghancurkan motif intrinsik.  Penelitian ini bertujuan melihat mekanisme lain dari motif ekstrinsik dalam mengurangi perilaku sosial dengan memasukkan motif citra sosial. Seseorang bisa saja membeli sebuah mobil ramah lingkungan untuk menunjukkan dia peduli akan lingkungan. Namun disisi lain, bila pemerintah menurunkan pajak atas mobil ramah lingkungan (motif ekstrinsik), harga mobil ramah lingkungan akan mengalami penurunan. Penurunan harga ini menjadikan efek motif citra sosial yang akan didapatkan menjadi semakin berkurang sehingga mengurangi motif citra sosial.

Motif ekstrinsik secara garis besar dianggap mempengaruhi motif citra sosial melalui dua hal, yaitu harga dan manfaat pribadi. Semakin besar harga yang dibutuhkan untuk melakukan aksi sosial tersebut, maka semakin besar upaya seseorang untuk melakukannya karena akan memiliki nilai tinggi dari masyarakat. Di sisi lain, semakin tinggi manfaat pribadi yang didapatkan dari tindakan prososial, maka akan mendorong seseorang untuk mengurangi aksi sosialnya karena akan memiliki nilai yang rendah di masyarakat (dipandang melakukan aksi sosial hanya karena hadiah/keuntungan ekstrinsik). Hal ini memunculkan hipotesis kedua yaitu Effectiveness Hypothesis dimana motif ekstrinsik semakin kurang efektif apabila visibilitas dari kegiatan prososial ini semakin besar (semakin banyak orang yang melihat dan memperhatikan kegiatan tersebut).

 

Experimental Design- Click for Charity

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan experimental test dimana peserta dipilih secara acak untuk berpartisipasi dalam program yang secara sengaja dirancang dengan nama “Click for Charity.” Peserta dapat memberikan donasi dengan cara mengklik dua tombol (contoh: X dan Z) di papan ketik selama lima menit. Setiap pasang X dan Z yang berhasil diketik akan terhitung sebagai satu donasi. Donasi dilakukan dengan skema yang menurun, sebagai gambaran, 1 sen donasi akan diberikan kepada setiap orang untuk 200 pasang X-Z pertama,  0,5 sen donasi akan diberikan kepada setiap orang untuk 200 pasang X-Z kedua. 0,25 sen donasi akan diberikan kepada setiap orang untuk 200 pasang X-Z ketiga, dan 0,01 sen akan diberikan kepada setiap orang untuk pasangan X-Z di atas 1.200 pasang. Skema ini dilakukan untuk mengidentifikasi motivasi yang dimiliki oleh setiap peserta dalam memberikan sumbangan. Walaupun nilai yang diberikan semakin menurun, namun bila semakin banyak pasangan X-Z yang terbentuk, mengindikasikan motivasi yang semakin besar. Sebelum dimulai, peserta diminta untuk berlatih selama 30 detik. Peserta terdiri dari 161 mahasiswa Princeton.

Peserta dibebaskan untuk memilih apakah ingin menyertakan nama atau tidak (anonim). Peserta juga dibebaskan untuk memilih apakah ingin mengambil atau tidak mengambil insentif yang diberikan kepada mereka. Selanjutnya, sebagai faktor ketiga, peserta juga diberitahukan kemana sumbangan tersebut akan diberikan, yaitu antara American Red Cross atau National Rifle Association (NRA). Untuk menentukan mana lembaga sosial yang dianggap memiliki citra positif ataupun negatif, peneliti sebelumnya memberikan beberapa daftar lembaga sosial dimana peserta harus memberikan nilai dari -5 hingga +5 mengenai citra lembaga tersebut. Bila hasilnya positif, maka akan menunjukkan citra yang positif dan begitu juga sebaliknya. Untuk menghindari “false-consensus”, maka peneliti memilih lembaga-lembaga sosial yang secara ekstrim dipandang positif dan negatif. Dalam penelitian ini, American Red Cross dianggap sebagai lembaga sosial dengan citra positif dan National Rifle Association (NRA) dianggap sebagai lembaga sosial dengan citra negatif.

 

Results

Figur di atas menunjukkan perbandingan motivasi yang dilakukan saat adanya insentif dan tidak adanya insentif bagi donasi yang dianggap baik oleh diri sendiri (Panel A) dan donasi yang dianggap baik oleh sekitar dimana dalam kasus ini adalah donasi bagi Red Cross (Panel B). Tanpa adanya insentif moneter, responden secara signifikan lebih termotivasi pada public condition (diketahui orang-orang) ketimbang private condition. Dalam public condition, responden rata-rata menghasilkan 822 pasangan X-Z (Panel A) dan 900 pasangan X-Z (Panel B) sedangkan pada private condition, responden rata-rata menghasilkan 548 pasangan X-Z (Panel A) dan 517 pasangan X-Z (Panel B).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa motif citra sosial menjadi salah satu motif paling penting dalam perilaku sosial. Namun, adanya insentif moneter cenderung mengurangi motif citra sosial yang ada. Sebelum adanya insentif moneter, seseorang cenderung memperlihatkan tindakan sosialnya di publik ketimbang menutupinya. Namun, ketika insentif moneter diadakan, tindakan sosial yang ditutupi cenderung lebih besar ketimbang tindakan sosial yang ditunjukkan kepada publik.

Selanjutnya, figur di atas menunjukkan perbandingan motivasi yang dilakukan saat adanya insentif dan tidak adanya insentif bagi donasi yang dianggap buruk oleh diri sendiri (Panel A) dan donasi yang dianggap buruk oleh sekitar dimana dalam kasus ini adalah donasi bagi NRA (Panel B).  Untuk donasi yang dianggap buruk, tanpa adanya insentif moneter, kontribusi yang diberikan tidak signifikan berbeda pada private dan public condition. Dari kedua figur yang telah disajikan, dapat dilihat bahwa adanya insentif hanya meningkatkan jumlah donasi di private condition. Hal ini menunjukkan bahwa terlepas dari nilai citra sosial yang dimiliki oleh suatu aksi sosial, bila insentif moneter dimunculkan, maka orang akan cenderung meningkatkan donasi di public condition.

Ketika tidak dilakukan pembagian atas donasi yang dianggap baik dan buruk, maka peneliti berusaha menunjukkan perbedaan private dan public condition menggunakan OLS Regression.

Pada tabel tersebut, dalam private condition, insentif moneter meningkatkan motivasi secara signifikan. Sebaliknya, bila seseorang berada di ruang publik, maka insentif moneter tidak akan meningkatkan motivasi seseorang. Uniknya, jika alasan seseorang didasarkan pada motif intrinsik dan ia berada di ruang publik, maka jumlah donasi akan meningkat secara signifikan. Peneliti menambahkan bahwa dalam praktik nyatanya, efek yang ditimbulkan bisa saja tidak sebesar yang telah dinyatakan dalam tes eksperimental ini. Hal tersebut dikarenakan dalam eksperimen, peserta tidak dapat memilih kemana ia harus berdonasi, sedangkan di dunia nyata ia dapat memilih untuk tidak memberikan sumbangan sedikitpun pada donasi tertentu.

 

Conclusion

Hasil dari penelitian ini telah sesuai dengan hipotesis yang telah disusun sejak awal bahwa seseorang cenderung ingin berdonasi agar terlihat baik ketimbang untuk kebaikan. Penelitian ini membuktikan bahwa dengan adanya insentif moneter, image value (citra sosial) mengalami penurunan sehingga seseorang menjadi kurang tertarik dalam memberikan donasi dalam public condition. Hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengambil beberapa kebijakan. Bila pemerintah menetapkan pengurangan pajak pada kendaraan ramah lingkungan, maka pada dasarnya pemerintah hanya akan meningkatkan penjualan alat-alat (perabotan) ramah lingkungan. Hal ini disebabkan karena penurunan harga kendaraan ramah lingkungan mengakibatkan citra sosial dari memiliki kendaraan tersebut ikut menurun. Oleh karena itu, orang akan beralih pada penggunaan barang-barang ramah lingkungan di rumah. Terakhir, peneliti mengungkapkan berbagai kelemahan yang ada dalam penelitian yang telah dilakukan sebagai bahan masukan bagi penelitian selanjutnya. Peneliti menganggap masih terdapat physical limit yang berpotensi menghasilkan data yang kurang akurat dalam eksperimen ini. Peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang insentif non-moneter terhadap perilaku sosial seseorang.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in