Risk Preferences and Obesity: A Behavioral Economics Approach

Penulis: Sumati Srinivas

Tahun: 2016

Nama Jurnal: MIR Center for Socio-Economic Research, Volume 6, Issue 7, pages 42-50

Diulas Oleh: Fabian M. Ghiffari

Ilustrasi Oleh: Rizki Fajar Satrya

Pendahuluan:

Secara umum, sikap menghindari risiko (risk-averse) telah dibuktikan mempunyai hubungan terbalik dengan perilaku kesehatan yang buruk. Penelitian dari Dave dan Saffer (2008) menyatakan bahwa risk-averse mempunyai efek negatif yang signifikan terhadap konsumsi alkohol. Penelitian dari Barsky (1997) juga mempunyai hasil yang mirip dimana risk-averse berhubungan secara negatif terhadap perilaku merokok. Selanjutnya, penelitian Picone (2004) menunjukkan bahwa individu yang cenderung menghindari risiko memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk melakukan tes kesehatan.

Peneliti mengkategorikan obesitas (bukan pencegahan obesitas) sebagai sebuah perilaku kesehatan. Peneliti menggunakan jurnal Anderson dan Mellor (2008) sebagai acuan untuk penelitiannya, di mana Anderson dan Mellor menemukan bahwa sikap risk-averse mempunyai efek negatif yang signifikan terhadap obesitas (serta perilaku kesehatan lainnya). Ada beberapa aspek yang dikritik dalam penelitian Anderson dan Mellor, seperti penggabungan responden yang kelebihan berat badan dan obesitas (overweight and obese) ke dalam satu kategori, proporsi responden yang kelebihan berat badan dan obesitas lebih kecil dari rata-rata nasional di Amerika Serikat, dan sampel responden yang diambil dianggap ‘terlalu teredukasi.’ Peneliti berusaha untuk mengoreksi kesalahan tersebut dalam penelitiannya.

Peneliti berpendapat bahwa dalam menyusun model penentu perilaku obesitas, tingkat pengetahuan risiko kesehatan perlu dipertimbangkan pula. Hal ini disebabkan karena obesitas tidak selalu terjadi akibat individu tersebut secara sengaja melakukan aktivitas-aktivitas yang mengakibatkan obesitas, tetapi bisa juga disebabkan oleh individu tersebut tidak melakukan aktivitas pencegahan obesitas. Peneliti memberikan contoh penelitian Kan dan Tsai (2004) yang menunjukkan bahwa mempunyai pengetahuan terkait memberikan efek positif yang signifikan terhadap tingkat obesitas.

Instrumen yang digunakan untuk mengukur sikap risk-averse adalah spekulasi hipotesis di antara dua sumber pendapatan prospektif; terinspirasi dari penelitian Barsky (1997). Tidak ada insentif yang diberikan kepada responden dalam percobaan ini, namun sebagai gantinya, peneliti menambahkan unsur penilaian diri terhadap preferensi risiko dari individu.

Data:

Dalam memilih responden, peneliti menggunakan data NLSY79, yaitu sebuah survei berkelanjutan dengan  sampel sebanyak 12.686 responden di Amerika Serikat. Para responden mulai disurvei dari tahun 1979 (rentang usia 14-22 tahun) hingga tahun 2010 (saat usia mereka 45-52 tahun). Peneliti memutuskan untuk mengambil 7.369 responden yang ada di dalam data NLSY79.

Para responden diberi pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

RISK 1: Misalkan Anda adalah satu-satunya anggota keluarga yang bekerja, dan Anda harus memilih salah satu dari dua pilihan pekerjaan. Di pilihan pertama, Anda mendapatkan jaminan bahwa Anda akan mendapatkan jumlah gaji yang sama yang mampu  menghidupi keluarga anda seumur hidup. Pilihan pekerjaan kedua bisa menggaji Anda lebih besar daripada pilihan pertama, tetapi pendapatannya kurang pasti. Ada kemungkinan 50-50 bahwa pilihan kedua dapat meningkatkan penghasilan Anda sebesar 20%, dan ada kemungkinan 50-50 bahwa pilihan kedua mengurangi pendapatan Anda sebesar 10%. Pekerjaan mana yang Anda pilih?

RISK 2: Andaikan ada kemungkinan 50-50 bahwa pilihan pekerjaan kedua dapat meningkatkan pendapatan Anda sebesar 20%, tetapi ada kemungkinan 50-50 bahwa pilihan tersebut dapat mengurangi pendapatan Anda sebesar 15%. Pekerjaan mana yang Anda pilih?

 

RISK 3: Andaikan ada kemungkinan 50-50 bahwa pilihan pekerjaan kedua dapat meningkatkan pendapatan Anda sebesar 20%, tetapi ada kemungkinan 50-50 bahwa pilihat tersebut dapat mengurangi pendapatan Anda sebesar 5%. Pekerjaan mana yang Anda pilih?

 

RISK 4: Apakah Anda adalah seseorang yang cenderung siap untuk mengambil risiko atau cenderung mencoba untuk menghindari risiko? Nilailah kecenderungan Anda dengan skala 0 sampai 10, dimana 0 berarti “tidak ingin untuk mengambil risiko apapun” dan 10 berarti “siap untuk mengambil risiko.”

 

Peneliti melabel responden “risk-averse” kepada para responden yang memilih pekerjaan pertama pada pertanyaan RISK1 dan RISK3, serta menilai preferensi risiko dengan angka antara 0 hingga 4.

Selanjutnya, para responden diberi pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

RISK 1: Saat Anda membeli barang makanan atau minuman, seberapa sering Anda membaca informasi nutrisi yang biasanya ditulis pada label barang tersebut – selalu, sering, kadang, jarang, atau tidak pernah?

RISK 2: Apakah Anda sedang mencoba untuk menurunkan, menaikkan, menstabilkan berat badan, atau apakah Anda tidak mencoba melakukan apapun terhadap berat badan Anda?

 

RISK 3: Seberapa sering Anda melakukan aktivitas yang berlangsung setidaknya 10 menit, yang mengakibatkan berkeringat ringan, atau peningkatan dalam pernapasan dan detak jantung?

Peneliti melabel responden “Read Nutritional Information” kepada para responden yang menjawab “selalu” atau “sering” pada pertanyaan HEALTH1, melabel  responden “Trying to Lose Weight” kepada responden yang menjawab “mencoba untuk menurunkan berat badan” pada pertanyaan HEALTH2, dan melabel responden “Never Engages in Exercise” kepada responden yang menjawab “tidak pernah” atau “tidak bisa” pada pertanyaan HEALTH2.

BMI (Body Mass Index) dihitung dari mengukur setiap tinggi dan berat dari para responden di tahun 2010. Mengikuti pedoman standar, para responden dimasukkan ke dalam kategori obesitas apabila nilai BMI mereka lebih besar atau sama dengan 30. Sementara, para responden dimasukkan ke dalam kategori kelebihan berat badan atau overweight apabila nilai BMI mereka 25 ≤ x < 30

Analisis:                                      

Rangkuman Statistik

Untuk menganalisis distribusi BMI lebih lanjut, tabel 2-4 menunjukkan persebaran angka BMI antara responden risk-averse dengan yang non risk-averse untuk tiga populas dimana tabel 2 untuk keseluruhan responden penelitian, tabel 3 untuk responden yang termasuk variabel “Read Nutritional Information”, dan tabel 4 untuk responden yang termasuk ke dalam variabel “Trying to Lose Weight.

Ketiga tabel diatas menunjukkan bahwa populasi risk-averse mempunyai angka BMI yang lebih tinggi dibanding yang non risk-averse untuk setiap kuantil dari persebaran BMI. Tabel-tabel tersebut memberikan petunjuk pendukung awal bahwa perilaku menghindari risiko (bukan mengambil risiko) mempunyai hubungan dengan tingginya angka BMI.

            Selanjutnya, peneliti membuat persamaan sebagai berikut:

         𝐿𝑜𝑔𝑖𝑡 [𝑃𝑟𝑜𝑏 (𝑂𝑖 = 1)] = 𝛽0 + 𝛽1𝑋𝑖 + 𝛽2𝑅𝑖 + 𝛽3𝐻𝑖        Equation (1)

Di mana 𝑂𝑖 adalah sebuah variabel yang menunjukkan apakah responden mengalami obesitas saat menjalani survei; 𝑋𝑖 mewakili sekelompok karakteristik individu, seperti umur, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan; 𝑅𝑖 adalah variabel yang mewakili tingkat penghindaran risiko (risk aversion) dari responden; 𝐻𝑖 mewakili tiga metode berbeda mengenai tingkat pengetahuan responden terhadap risiko kesehatan; 𝛽0 hingga 𝛽3 menunjukkan parameter dari masing-masing variabel pasangannya, yang menentukan korelasi antara variabel-variabel independen dengan dependen.

Hasil pengolahan data yang dilakukan oleh peneliti ditunjukkan sebagai Odds Ratio Estimates pada tabel 5 hingga 7.

Tabel 5 adalah hasil analisis untuk keseluruhan responden. Banyak variabel yang mempunyai efek yang signifikan terhadap obesitas merupakan variabel-variabel yang sudah dianggap sebagai faktor penentu obesitas. Tiga variabel yang memberikan efek negatif yang paling signifikan adalah “Trying to Lose Weight”, “Race”, dan “Reads Nutritional Labels.” Tetapi, penemuan yang paling penting, menurut peneliti, adalah variabel risk aversion mempunyai efek positif yang signifikan terhadap kemungkinan menjadi obesitas.

            Tabel 6 adalah hasil analisis untuk responden yang membaca informasi mengenai nutrisi dari barang yang dibeli. Tabel ini bertujuan untuk menunjukkan apakah informasi mengenai risiko kesehatan mempunyai andil dalam hubungan antara preferensi risiko dengan obesitas. Variabel demografis dan ekonomi mempunyai efek negatif yang signifikan terhadap obesitas. Variabel jenis kelamin mempunyai efek negatif yang signifikan terhadap obesitas, sedangkan variabel tingkat pendidikan tidak mempunyai efek signifikan terhadap obesitas dalam populasi ini.

            Tabel 7 adalah hasil analisis untuk responden yang sedang mencoba untuk mengurangi berat badan. Karakteristik hasil yang ditemukan pada tabel 7 mirip dengan tabel 6, dimana variabel demografis tetap memiliki efek negatif yang signifikan terhadap obesitas, sedangkan variabel risk aversion kembali tidak mempunyai efek signifikan dalam populasi ini.

Diskusi:

            Penelitian ini menggunakan eksperimen hipotesis dan penilaian diri untuk mendapatkan tingkat risk aversion para responden yang selanjutnya dihubungkan kepada tingkat obesitas untuk mencari tahu apakah terdapat hubungan di antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap risk-averse mempunyai efek positif yang signifikan terhadap tingkat obesitas. Selanjutnya, ketika pengetahuan terhadap risiko kesehatan diperhitungkan, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap risk-averse dengan tingkat obesitas.

            Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa banyak variabel demografis dan ekonomi mempunyai efek negatif yang signifikan terhadap tingkat obesitas, dimana penemuan tersebut konsisten dengan penemuan oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Peneliti juga mengatakan bahwa hubungan antara preferensi risiko dengan tingkat obesitas adalah sebuah penemuan yang baru, dimana preferensi risiko tidak dihubungkan dengan variabel-variabel lainnya.

Kesimpulan (dan implikasinya terhadap kebijakan pemerintah):

            Peneliti menganggap bahwa mempunyai pengetahuan mengenai sifat-sifat mana yang cenderung membuat masyarakat menjadi gemuk adalah hal yang penting, mengingat dampak ekonomi dari peningkatan jumlah masyarakat obesitas di Amerika Serikat. Oleh karena itu, apabila preferensi risiko diketahui mempunyai efek yang signifikan terhadap tingkat obesitas, maka kebijakan-kebijakan untuk menangani permasalahan kesehatan seperti obesitas dapat disesuaikan sehingga dapat memiliki hasil yang lebih baik di lapangan.

     Penelitian ini mengindikasikan bahwa kebijakan yang diarahkan kepada populasi yang cenderung risk-averse dapat memberikan hasil yang lebih baik, karena populasi risk-averse dianggap mempunyai risiko obesitas yang lebih tinggi, bahkan setelah memperhitungkan faktor demografis dan sosioekonomi. Peneliti juga menyarankan untuk membuat insentif bersifat hukuman daripada bersifat ‘hadiah’ untuk mendapatkan hasil implementasi yang lebih baik.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in