Unveiling The Truth: Does Your Faculty Culture Determine Your Leisure Time?

Introduction

            Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia karena sifatnya yang tidak dapat diulang. Dalam dunia perkuliahan sendiri, manajemen waktu menjadi sebuah tuntutan yang sangat penting karena seseorang harus membagi waktunya untuk kegiatan akademik dan nonakademik. Oleh karena itu, waktu luang (leisure time) seringkali menjadi hal yang sangat diinginkan oleh mahasiswa/i, khususnya ketika sedang sibuk (banyak tugas, ujian, dan kepanitiaan) maupun mengalami demotivasi kuliah. Saat memiliki waktu luang, cara setiap orang mengalokasikannya tentu berbeda-beda. Ada yang menghabiskannya dengan bermain, menonton film, pergi ke mall, bahkan belajar. Faktor yang mempengaruhinya juga beraneka ragam, salah satunya adalah budaya lingkungan (Hatami dan Bagheri, 2015).

Dalam penelitian kali ini, budaya lingkungan difokuskan pada budaya fakultas di Universitas Indonesia. Kendati masing-masing fakultas memiliki budayanya masing-masing, ternyata muncul stereotip yang seringkali dianggap sebagai identitas fakultas tersebut. Stereotip ini menggeneralisir pandangan publik terhadap suatu fakultas dan mengakibatkan labelling pada mahasiswanya meskipun realitanya belum tentu demikian. Berangkat dari stereotip tersebut, kami dari Divisi Penelitian KANOPI FEB UI ingin mengupas faktanya dan melihat bagaimana budaya masing-masing fakultas yang sebenarnya berdampak pada cara pemanfaatan leisure time mahasiswa/i di UI. Mari simak jawabannya dalam Primera kali ini!

Sumber: Vice; disadur dari sumber lain

Data

Dalam penelitian kali ini, digunakan data 173 responden yang terdiri atas 64 laki-laki dan 109 perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online kepada 8 fakultas di Universitas Indonesia, yaitu Fakultas Kedokteran (16 orang), Fakultas Kesehatan Masyarakat (22 orang), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (22 orang), Fakultas Teknik (21 orang), Fakultas Hukum (17 orang), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (21 orang), Fakultas Ilmu Budaya (20 orang), dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (34 orang). Fakultas-fakultas ini dipilih berdasarkan fakultas yang berada pada titik terekstrim dari kuadran stereotip sebelumnya. Responden berasal dari angkatan 2015-2018 dengan rentang usia 17-23 tahun dan mayoritas asal daerah Jabodetabek. Dalam hasil analisis data, kami akan menguraikan jawaban dalam 2 skala, yaitu skala UI dan skala fakultas.

Leisure Time in Universitas Indonesia

Bagian I menunjukkan bagaimana mahasiswa/i di UI menghabiskan waktu luangnya. Dengan rata-rata uang bulanan seperti yang ditunjukkan pada diagram 1, ketika memiliki waktu luang 2-10 jam, 72% responden mengisi waktunya dengan bermain gadget, 48% memilih pulang ke rumah/kos, 38% belajar, dan 35% pergi ke mall. Sebanyak 73% responden tidak memiliki jam malam, sehingga tempat untuk menghabiskan waktu luang lebih fleksibel.

 

Kemudian, perihal biaya peluang (opportunity cost) dari mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bersifat rekreasional, 54% menjawab mereka mengorbankan waktu untuk bekerja atau melakukan hal produktif dan 46% menjawab waktu untuk tidur. Mayoritas responden (82%) merasakan ada perubahan cara mengisi waktu luang yang signifikan dari masa SMA ke bangku kuliah. Mereka merasa lebih sering mengerjakan tugas/belajar dan melakukan kegiatan produktif lainnya ketimbang bersantai saat memiliki waktu luang. Selain itu, 47 responden yang berasal dari angkatan 2015 dan 2016 merasakan ada alokasi waktu luang yang berkurang. Mereka merasa dibandingkan dengan tahun pertama dan kedua, mereka lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan kegiatan nonakademik (15%), magang (8%), dan kegiatan akademik (7%). Ketiga pertanyaan sebelumnya menunjukkan bahwa mahasiswa/i UI dari seluruh angkatan merasakan adanya perubahan waktu luang dan cenderung memilih untuk mengisi waktu luangnya dengan melakukan hal-hal produktif (baik akademik maupun nonakademik).

How About My Campus Culture?

Bagian II menunjukkan pandangan mahasiswa/i UI secara umum terhadap fakultasnya dan cara mahasiswa/i di fakultasnya mengisi waktu luang. Ternyata, 68% menjawab bermain gadget, 58% menjawab pulang ke rumah/kos, 54% menjawab belajar, dan 43% menjawab pergi ke mall. Hal ini berarti apa yang mayoritas responden lakukan ketika memiliki waktu luang sama dengan cara mahasiswa/i fakultasnya lakukan pada umumnya. Selain itu, apabila dilihat dari segi cara menghadapi perubahan sosial, 65% menjawab fakultasnya liberal (cenderung mendukung perubahan) dan 35% menjawab konservatif (cenderung menolak perubahan). Sedangkan, apabila dilihat dari segi efisiensi dan keadilan, 49% menjawab fakultasnya kapitalis (mengutamakan efisiensi) dan 51% menjawab sosialis (mengutamakan keadilan/sama rasa). Uniknya, apabila dilihat dari sudut pandang akademik/studi, 52% menjawab fakultasnya ambisius dan 48% menjawab santai. Hal ini berarti proporsi pandangan mahasiswa/i UI terhadap fakultasnya antara kapitalis-sosialis dan ambisius-santai sebenarnya cukup seimbang, kecuali dalam cara menghadapi perubahan sosial dimana terdapat kecenderungan liberal.

Leisure Time in Faculty of Medicine: Being Ambitious?

Bagian III menunjukkan bagaimana cara mahasiswa/i per fakultas di UI menghabiskan waktunya luangnya. Dengan kisaran uang bulanan sebesar Rp2.000.000,00 hingga Rp3.000.000,00 ke atas, tiga kegiatan yang paling sering dilakukan oleh responden FK ketika memiliki waktu luang (2-10 jam) adalah main gadget, belajar, dan pulang ke rumah/kos. Hal ini cukup mirip dengan pandangan responden FK tentang apa yang mayoritas mahasiswa/i di fakultasnya lakukan ketika memiliki waktu luang, yaitu bermain gadget, belajar, dan pergi ke mall. Sebanyak 56% responden FK menganggap bahwa biaya peluang dari melakukan kegiatan yang bersifat rekreasional adalah waktu untuk bekerja/melakukan kegiatan produktif, sedangkan sisanya menganggap biaya pengorbanannya adalah waktu untuk tidur. Mayoritas responden (75%) merasakan ada perubahan cara mengisi waktu luang yang signifikan dari masa SMA ke bangku kuliah yaitu dimana waktu luang kini dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas. Mahasiswa/i FK yang berasal dari angkatan 2015-2016 juga merasakan hal serupa, di mana alokasi waktu luang mereka saat ini berkurang karena lebih berfokus mengerjakan kegiatan akademik. Hal ini berarti bahwa mahasiswa/i FK dari seluruh angkatan cenderung mengisi waktu luangnya untuk melakukan kegiatan studi. Selain itu, uniknya 81% responden FK ternyata memiliki jam malam.

Di sisi lain, mayoritas responden memandang FK sebagai fakultas yang konservatif (81%), sosialis (69%), dan ambisius (100%). Hal ini sesuai dengan pandangan orang lain terhadap FK, yaitu ambisius, meskipun memang tidak sepenuhnya benar (ada juga yang santai). Sedangkan, untuk pertanyaan individu sendiri, seluruh responden setuju dengan pernyataan efisiensi lebih baik daripada keadilan (10/16 setuju dan 6/16 sangat setuju) yang menunjukkan kapitalisme. Namun untuk pernyataan berikutnya, yaitu untuk menaikkan pajak bagi orang kaya ketimbang memotong anggaran untuk pendidikan, hanya 19% responden yang menjawab tidak setuju. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi efisiensi dan keadilan, responden relatif netral. Selain itu, responden juga relatif netral dari segi pandangan terhadap perubahan sosial dimana 8/16 setuju dan 3/16 sangat setuju dengan pernyataan hubungan seksual di luar nikah adalah immoral (menunjukkan konservatif), sedangkan 9/16 tidak setuju dan 3/16 sangat tidak setuju dengan pernyataan seseorang dianggap bermoral apabila memiliki agama (menunjukkan liberal).

Leisure Time in Faculty of Public Health: Are We That Rigid?

            Dengan kisaran uang bulanan Rp500.000,00 hingga Rp2.000.000,00, tiga kegiatan yang paling sering dilakukan oleh responden FKM ketika memiliki waktu luang adalah bermain gadget, belajar, dan melakukan kegiatan agama/ibadah. Hal ini lumayan mirip dengan pandangan responden FKM tentang apa yang mayoritas mahasiswa/i di fakultasnya lakukan ketika memiliki waktu luang, yaitu main gadget, belajar, dan pergi ke mall. Sebanyak 73% responden merasa mereka mengorbankan waktu untuk bekerja atau melakukan kegiatan produktif ketika mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang sifatnya bersenang-senang. Layaknya FK, mayoritas responden FKM (82%) juga merasakan adanya perubahan waktu luang yang signifikan dimana sekarang waktu luang yang dimiliki lebih digunakan untuk melakukan aktivitas produktif. Uniknya, tepat separuh responden (50%) memiliki jam malam.

Di sisi lain, mayoritas responden FKM memandang fakultasnya konservatif (86%), sosialis (82%), dan santai (77%). Responden mengaku bahwa pandangan orang lain terhadap fakultasnya, yaitu dianggap lebih Islami, nyatanya tidak sekaku yang orang-orang anggap. Kenyataannya, mahasiswa/i FKM juga sibuk dengan kegiatan organisasi. Untuk pertanyaan individu, hasil menunjukkan bahwa responden cenderung bersikap netral terkait efisiensi dan keadilan. 15/22 responden setuju dan 4/22 sangat setuju dengan pernyataan efisiensi lebih baik dari keadilan, namun hanya 4/22 yang tidak setuju dengan pernyataan lebih baik menaikkan pajak untuk orang kaya dibandingkan memotong anggaran pendidikan. Selain itu, dari segi cara pandang terhadap perubahan sosial, responden cenderung konservatif dimana 13/22 setuju dan 5/22 sangat setuju tentang pernyataan bahwa hubungan seksual di luar nikah tergolong immoral. Sebagai tambahan, 12/22 responden setuju dan 1/22 sangat setuju dengan pernyataan bahwa seseorang yang beragama dapat dianggap bermoral.

Leisure Time in Faculty of Math and Natural Sciences: A Religious Faculty?

Dengan kisaran uang bulanan sebesar Rp500.000,00 hingga Rp2.000.000,00, tiga kegiatan yang paling sering dilakukan oleh responden FMIPA ketika memiliki waktu luang adalah bermain gadget, belajar, dan pulang ke rumah/kos. Hal ini sangat mirip dengan pandangan responden FMIPA tentang apa yang mayoritas mahasiswa/i di fakultasnya lakukan pada waktu luang, yaitu belajar, bermain gadget, dan pulang ke rumah/kos. Sebanyak 55% responden merasa mereka mengorbankan waktu untuk beristirahat/tidur ketika mengisi waktu luang dengan hal-hal rekreasional, sementara sisanya menganggap biaya yang dikorbankan berupa waktu untuk bekerja/produktif. Sama seperti FK dan FKM, 82% responden merasakan perubahan kebiasaan dalam cara mengisi waktu luang dari masa SMA ke kuliah. Mereka merasa lebih menggunakan waktu luangnya untuk berkegiatan produktif ketimbang pada masa SMA. Hal serupa tidak hanya dialami oleh mahasiswa/i tahun pertama dan kedua, melainkan juga oleh mahasiswa/i tahun ketiga dan akhir, di mana mereka kini lebih banyak mengisi waktunya untuk kegiatan nonakademik. Untuk jam malam, mayoritas responden (77%) tidak memilikinya.

Di sisi lain, mayoritas responden FMIPA merasa fakultasnya konservatif (68%), sosialis (64%), dan ambisius (73%). Responden mengatakan bahwa pandangan orang lain terhadap FMIPA adalah fakultas tersebut terkenal religius. Padahal, tidak semua mahasiswa/i dalam FMIPA religius dan ada juga yang menganut nilai ekstrem yang berbeda. Untuk pertanyaan individu sendiri, responden FMIPA relatif netral dari segi efisiensi dan keadilan serta cara pandang terhadap perubahan sosial. Sebanyak 14/22 menjawab setuju dan 5/22 menjawab sangat setuju terhadap pernyataan efisiensi lebih baik daripada keadilan. Sementara itu, untuk pernyataan terkait meningkatkan pajak untuk orang kaya ketimbang memotong anggaran pendidikan, 7/22 menjawab sangat setuju dan 9/22 menjawab setuju. Sebagai tambahan, dari segi cara pandang terhadap perubahan sosial, mayoritas responden setuju (6/22) dan sangat setuju (9/22) dengan pernyataan hubungan seksual di luar nikah merupakan immoral. Namun untuk pernyataan berikutnya, yaitu apakah seseorang dianggap bermoral jika beragama, mayoritas responden justru tidak setuju (11/22) dan bahkan sangat tidak setuju (4/22).

Leisure Time in Faculty of Engineering: The Solid One?

Dengan kisaran uang bulanan sebesar Rp500.000,00 hingga Rp3.000.000,00, tiga kegiatan yang paling sering dilakukan oleh responden FT ketika memiliki waktu luang adalah pulang ke rumah/kos, main gadget, dan berolahraga. Hal ini cukup serupa dengan pandangan responden FT tentang apa yang mayoritas mahasiswa/i di fakultasnya lakukan ketika mempunyai waktu luang, yaitu bermain gadget, belajar, dan pulang ke rumah/kos. Sebanyak 67% responden FT merasa biaya oportunitas dari melakukan kegiatan luang yang sifatnya bersenang-senang adalah waktu untuk beristirahat/tidur. Mayoritas responden (71%) juga merasakan adanya perubahan cara mengisi waktu luang dari masa SMA ke dunia perkuliahan, yaitu menjadi lebih sibuk dan sedikit waktu untuk beristirahat. Uniknya, terdapat 2/21 responden yang berasal dari angkatan 2015 dan 2016 yang menjawab tidak merasakan perubahan alokasi waktu luang dari awal kuliah hingga saat ini. Responden yang setuju mengaku kini mengisi waktu luangnya dengan magang. Mayoritas responden FT (90%) ternyata juga tidak memiliki jam malam.

Di sisi lain, mayoritas responden FT memandang fakultasnya konservatif (52%), sosialis (52%), dan santai (62%). Adanya selisih yang tipis (hanya 2%) antara responden yang menjawab konservatif ketimbang liberal dan sosialis ketimbang kapitalis menunjukkan bahwa terdapat disparitas pandangan yang cukup besar antar responden. Responden menambahkan bahwa apa yang orang lain seringkali katakan perihal FT sebagai fakultas yang santai dan solid memang benar adanya, meskipun ada juga yang ambisius. Untuk pertanyaan individu sendiri, responden FT relatif netral dari segi efisiensi dan keadilan serta cara pandang terhadap perubahan sosial. Mayoritas responden (7/21) sangat setuju dan (9/21) setuju terhadap pernyataan efisiensi lebih baik daripada keadilan. Namun, hanya 3/21 menjawab tidak setuju dan 1/21 menjawab sangat tidak setuju terkait pernyataan lebih baik meningkatkan pajak untuk orang kaya ketimbang memotong anggaran bagi pendidikan. Dari segi cara pandang terhadap perubahan sosial, 9/21 menjawab sangat setuju dan 8/21 menjawab setuju bahwa hubungan seksual di luar nikah adalah immoral. Akan tetapi, untuk pernyataan bahwa seseorang yang beragama dapat dianggap bermoral, 10/21 tidak setuju dan 1/21 sangat tidak setuju.

Leisure Time in Faculty of Law: The Real Hedonist?

Dengan kisaran uang bulanan sebesar Rp500.000,00 hingga Rp3.000.000,00 ke atas, tiga kegiatan yang paling sering dilakukan oleh responden FH ketika memiliki waktu luang adalah pulang ke rumah/kos, bermain gadget, dan belajar. Hal ini lumayan mirip dengan pandangan responden FH tentang apa yang mayoritas mahasiswa/i di fakultasnya lakukan pada waktu luang, yaitu main gadget, pergi ke mall, dan pulang ke rumah/kos. Mayoritas responden (65%) merasa mengorbankan waktu untuk bekerja atau berkegiatan produktif ketika melakukan waktu luang yang bersifat rekreasional. Sebesar 88% dari total responden FH merasakan perubahan cara mengisi waktu luang dari SMA ke kuliah, yaitu menjadi lebih sibuk berorganisasi. Hal ini sejalan dengan jawaban responden yang berasal dari angkatan 2015 dan 2016, dimana kini mereka merasakan berkurangnya alokasi waktu luang dan cenderung mengisinya dengan kegiatan nonakademik (seperti organisasi). Perihal jam malam, ternyata hanya 29% responden yang memilikinya.

Di sisi lain, mayoritas responden FH memandang fakultasnya liberal (100%), kapitalis (88%), dan ambisius (53%). Namun, selisih antara responden yang menjawab antara ambisius dan santai sedikit (hanya 3%), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat kontradiksi pandangan yang lumayan besar antar responden. Menurut responden, pandangan bahwa FH merupakan fakultas yang lebih hedonistik dibandingkan fakultas lainnya salah karena gaya hidup mereka biasa saja dan tidak separah yang orang-orang bayangkan. Mahasiswa/i FH tidak hanya sibuk berorganisasi, namun juga fokus pada hal-hal terkait akademik. Untuk pertanyaan individu, responden FH ternyata relatif netral, baik dari segi efisiensi dan keadilan, maupun segi cara pandang terhadap perubahan sosial. Dilihat dari segi yang pertama, mayoritas responden (2/17 sangat setuju dan 8/17 setuju) dengan pernyataan efisiensi lebih baik dibandingkan keadilan. Akan tetapi, untuk pernyataan berikutnya, yaitu bahwa lebih baik meningkatkan pajak untuk orang kaya ketimbang memotong anggaran, mayoritas responden mengindikasikan kesetujuannya dimana 5/17 sangat setuju dan 10/17 setuju. Selain itu, dari segi yang kedua, 2/17 responden menjawab sangat setuju dan 8/17 menjawab setuju terkait pernyataan bahwa hubungan seksual di luar nikah adalah immoral. Namun, perihal seseorang dapat dinilai bermoral jika beragama, hanya 5/17 yang setuju.

Leisure Time in Faculty of Social and Political Science: Being Too Laid-Back?

Dengan kisaran uang bulanan sebesar Rp500.000,00 hingga Rp3.000.000,00 ke atas, tiga kegiatan yang paling sering dilakukan oleh responden FISIP adalah bermain gadget, pulang ke rumah/kos, dan pergi ke mall. Hal ini cukup mirip dengan pandangan responden FISIP tentang apa yang mayoritas mahasiswa/i di fakultasnya lakukan ketika memiliki waktu luang, yaitu bermain gadget, pulang ke rumah/kos, dan melakukan kegiatan sosial. Mayoritas responden (62%) merasa mereka mengorbankan waktu untuk bekerja/melakukan hal produktif ketika mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang sifatnya bersenang-senang. Sebanyak 86% dari total responden FISIP juga merasakan perubahan cara mengisi waktu luang dari masa SMA ke bangku kuliah dimana mereka kini cenderung kurang tidur karena padatnya kegiatan nonakademik. Responden yang berasal dari angkatan 2015 dan 2016 (43%) juga merasakan perubahan yang signifikan, yaitu waktu luang mereka saat ini lebih diisi dengan kegiatan nonakademik. Sebagai tambahan, mayoritas responden (81%) tidak memiliki jam malam.

Di sisi lain, mayoritas responden FISIP memandang fakultasnya liberal (100%), sosialis (81%), dan santai (81%). Responden merasa bahwa pandangan orang luar terhadap FISIP sebagai fakultas yang lebih santai dan tidak terlalu sibuk adalah benar. Untuk pertanyaan individu, responden FISIP cenderung netral dalam segi efisiensi dan keadilan serta cara pandang terhadap perubahan sosial. Mayoritas responden setuju (12/21) dan sangat setuju (6/21) terkait pernyataan efisiensi lebih baik daripada keadilan. Namun, perihal pernyataan bahwa lebih baik menaikkan pajak untuk orang kaya dibandingkan memotong anggaran untuk pendidikan, hanya 3/21 responden yang menjawab tidak setuju. Selain itu, dilihat dari segi cara pandang terhadap perubahan sosial, mayoritas responden menunjukkan kecenderungan setuju terhadap pernyataan hubungan seksual di luar nikah adalah immoral (3/21 sangat setuju dan 8/21 setuju). Akan tetapi, untuk pernyataan bahwa seseorang dapat dianggap bermoral jika memiliki agama, ternyata mayoritas responden mengindikasikan ketidaksetujuannya (10/21 tidak setuju dan 6/21 sangat tidak setuju).

Leisure Time in Faculty of Humanities: Is It True That We Are Happy-Go-Lucky?

            Dengan kisaran uang bulanan di bawah Rp500.000,00 hingga Rp2.500.000,00, tiga kegiatan yang paling sering dilakukan oleh responden FIB adalah bermain gadget, belajar, dan pergi ke mall. Hal ini lumayan mirip dengan pandangan responden FIB tentang apa yang mayoritas mahasiswa/i di fakultasnya lakukan pada waktu luang, yaitu bermain gadget, pulang ke rumah/kos, dan melakukan kegiatan sosial. Uniknya, ternyata tiga kegiatan yang disebutkan sebelumnya sama dengan tiga kegiatan yang dilakukan oleh mayoritas mahasiswa/i FISIP. Mayoritas responden (65%) mengatakan bahwa mereka mengorbankan waktu untuk beristirahat/tidur ketika mengisi waktu luang dengan kegiatan rekreasional. Sebanyak 75% dari total responden FIB merasakan perubahan cara mengisi waktu luang dari masa SMA ke kuliah, dimana mereka kini justru memiliki lebih banyak waktu luang untuk bersosialisasi. Responden yang berasal dari angkatan 2015 dan 2016 juga menyetujui hal tersebut dimana mereka kini mengisi waktu luang, bukan hanya dengan kegiatan akademik, melainkan juga kegiatan nonakademik. Perihal jam malam, hampir separuh responden (55%) tidak memilikinya.

            Di sisi lain, mayoritas responden FIB memandang fakultasnya liberal (95%), sosialis (70%), dan santai (95%). Responden mengaku bahwa pandangan orang lain terkait fakultasnya itu benar, dimana mahasiswa/i FIB relatif lebih santai dibandingkan fakultas lain. Untuk pertanyaan individu sendiri, responden FIB cenderung netral, baik dari segi efisiensi dan keadilan, maupun segi cara pandang terhadap perubahan sosial. Dari segi yang pertama, sebanyak 5/20 responden menjawab sangat setuju dan 10/20 menjawab setuju perihal pernyataan efisiensi lebih baik dibandingkan keadilan. Sedangkan, terkait pernyataan lebih baik meningkatkan pajak untuk orang kaya ketimbang memotong anggaran pendidikan, hanya 2/20 responden yang menjawab tidak setuju. Dari segi yang kedua, sebanyak 5/20 responden menjawab sangat setuju dan 7/20 menjawab setuju terkait pernyataan bahwa hubungan seksual di luar nikah tergolong immoral. Akan tetapi, perihal pernyataan bahwa seseorang dapat dianggap bermoral jika beragama, 8/20 menjawab tidak setuju dan 4/20 menjawab sangat tidak setuju.

Leisure Time in Faculty of Economics and Business: Love to Study?

Dengan kisaran uang bulanan Rp500.000,00 hingga Rp3.000.000,00 ke atas, tiga kegiatan yang paling sering dilakukan oleh responden FEB ketika memiliki waktu luang adalah bermain gadget, pergi ke mall, dan pulang ke rumah/kos. Hal ini cukup serupa dengan pandangan responden FEB tentang apa yang mayoritas mahasiswa/i di fakultasnya lakukan pada waktu luang, yaitu belajar, main gadget, dan pergi ke mall. Mayoritas responden (59%) merasa biaya oportunitas dari melakukan kegiatan yang sifatnya untuk bersenang-senang adalah waktu untuk bekerja atau melakukan hal yang produktif. Sebanyak 88% dari total responden FEB merasakan perubahan yang signifikan dalam cara mengisi waktu luang dari masa SMA ke kuliah. Ada responden yang merasa kini lebih banyak memiliki waktu luang, namun ada juga yang lebih sibuk dengan kegiatan produktif. Responden yang berasal dari angkatan 2015 dan 2016 (20/34) merasakan ada perubahan alokasi waktu luang dari tahun pertama kuliah hingga sekarang dimana ada yang magang (24%), melakukan kegiatan nonakademik (30%), dan fokus pada kegiatan akademik (12%). Sebagai tambahan, ternyata 79% dari total responden FEB tidak memiliki jam malam.

Di sisi lain, mayoritas responden FEB memandang fakultasnya liberal (94%), kapitalis (94%), dan ambisius (91%). Meskipun hasil menunjukkan titik ekstrem, responden mengatakan bahwa pandangan orang luar terhadap FEB sebagai fakultas yang ambisius dan kapitalis tidak sepenuhnya benar karena ada juga yang berpendapat berbeda. Responden merasa bahwa tingkat ambisius FEB masih dalam batas wajar (seimbang). Untuk pertanyaan individu sendiri, responden FEB cenderung netral dalam segi efisiensi dan keadilan serta cara pandang terhadap perubahan sosial. Dari segi yang pertama, mayoritas responden setuju (13/34) dan sangat setuju (13/34) terkait pernyataan bahwa efisiensi lebih baik daripada keadilan. Namun, untuk pernyataan bahwa lebih baik menaikkan pajak untuk orang kaya ketimbang memotong anggaran pendidikan, hanya 5/34 responden yang menjawab tidak setuju. Dari segi yang kedua, sebanyak 8/34 responden sangat setuju dan 16/34 setuju dengan pernyataan bahwa hubungan seksual di luar nikah tergolong immoral. Akan tetapi, terkait pernyataan berikutnya perihal seseorang dapat dianggap bermoral jika memiliki agama, 14/34 responden menjawab tidak setuju dan 6/34 menjawab sangat tidak setuju.

Conclusion

Secara umum, mayoritas mahasiswa/i di UI menghabiskan waktu luangnya dengan bermain gadget, belajar, dan pulang ke rumah/kos meskipun ada juga yang mengisi dengan berolahraga (FT), ibadah/berkegiatan agama (FKM), dan melakukan kegiatan sosial (FISIP dan FIB). Preferensi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengeluaran bulanan, lingkungan sekitar, dan aksesibilitas mahasiswa/i fakultas tersebut ke tempat-tempat tertentu. Contohnya tercermin dari kecenderungan mahasiswa/i FT dan FH untuk pulang ke kos karena dekat dengan Kutek dan Barel. Selain itu, mayoritas responden dari seluruh fakultas sama-sama merasakan perubahan yang signifikan dalam cara menghabiskan waktu luang, yaitu kini cenderung menggunakannya untuk belajar dan melakukan kegiatan produktif. Terkait dengan pandangan setiap responden terhadap fakultasnya, hasil dapat dilihat dalam diagram 2, 3, dan 4. Uniknya, ternyata hanya 4/8 fakultas di UI yang realitasnya sama dengan stigma orang luar. Hal ini berarti dunia perkuliahan bukan hanya mengubah cara kita mengisi waktu luang, namun mengajarkan kita untuk tidak menilai suatu fakultas (dan mahasiswanya) dari luar saja.

Referensi

Hatami, Mojtaba dan Bita Bagheri. (2015). The Impact of Cultural Center on Filling the Leisure Time. Science Journal Vol. 36, No. 3, pp. 3024-3029. http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.892.8624&rep=rep1&type=pdf

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in