Understanding The Effects Of Marriage and Divorce on Financial Investments: The Role of Background Risk Sharing

Penulis: Charlotte Christiansen, Juanna Schröter Joensen, dan Jesper
Rangvid

Tahun: 2015

Nama Jurnal: Economic Inquiry Vol. 53, No. 1, January 2015, pp. 431-447

Diulas oleh: Novita Furia Putri

Ilustrasi oleh: Gayatri Wulansari

 

Pendahuluan:

Semua orang, terlepas dari jenis kelamin ataupun status hubungannya, pasti memiliki pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi, terutama karena adanya risiko. Beberapa penelitian sebelumnya telah membahas dan menemukan banyak hal terkait topik ini, seperti perbedaan antara pria dan wanita dalam mengambil risiko (Sunden and Surette, 1998; Agnew, Balduzzi, dan Sunden, 2003; Jianakoplos dan Bernasek, 1998), hubungan antara status pernikahan dengan keberanian berinvestasi pada portofolio berisiko (Love, 2010; Bertocchi, Brunetti, dan Torricelli, 2011), dan hubungan antara pernikahan dengan partisipasi seseorang dalam pasar modal (Bertaut and Halliasos, 1995; Bertaut, 1998; Guiso, Haliassos, dan Jappelli, 2003). Namun, dalam penelitian ini, peneliti hendak membahas sesuatu yang berbeda, yaitu tentang pengaruh pernikahan dan perceraian terhadap investasi, dilihat dari segi partisipasi dalam pasar modal dan segi kepemilikan aset berisiko. Tujuan dari penelitian ini adalah peneliti ingin melihat peran dari income risk sharing (kerelaan untuk sama-sama menanggung risiko tingkat pengembalian sekuritas yang semakin kecil akibat penurunan suku bunga) dan background risk sharing (kerelaan untuk sama-sama menanggung risiko yang tidak dapat dihindari) dari pernikahan terhadap respon investor pria dan wanita secara terpisah.

Metodologi:

Penelitian ini menggunakan data panel yang berisi sampel yang diambil secara acak sebesar 10% dari total populasi penduduk Denmark selama periode 1997-2003 yang bersumber dari Statistics Denmark. Dalam penelitian ini, investor menggunakan data pria dan wanita berusia 20-60 tahun dan membaginya menjadi empat kategori. Dua kategori pertama berisi investor yang tetap lajang selama periode penelitian (212.113 pria dan 157.333 wanita) dan investor yang memilih untuk menikah dalam periode tersebut (77.464 pria dan 66.377 wanita). Pembagian kategori ini bertujuan untuk melihat dampak pernikahan terhadap investasi. Sedangkan, dua kategori berikutnya berisi investor yang sudah menikah selama periode penelitian (406.957 pria dan 443.209 wanita) dan investor yang memilih untuk bercerai dalam periode tersebut (41.092 pria dan 47.455 wanita). Pembagian kategori ini bertujuan untuk melihat dampak perceraian terhadap investasi. Peneliti menekankan bahwa sampel yang digunakan hanya melakukan perubahan status sebanyak sekali selama periode penelitian berlangsung.

Peneliti menggunakan model persamaan DID untuk mengukur dampak pernikahan dan perceraian terhadap investor pria dan wanita. Dalam penelitian ini, peneliti juga memasukkan variabel berupa tingkat korelasi pendapatan antar suami istri dengan membandingkan kelompok pendidikannya. Variabel ini bertujuan untuk mengukur pengaruh income insurance dalam rumah tangga terhadap investasi. Adapun model persamaan DID yang digunakan adalah:

  • Yit = γ0 + γ1Tj + γDIDAfterit × Tj + dt+ Xitδ + ϵijt
  • Yit = variabel hasil individu i pada tahun t dimana untuk partisipasi dalam pasar modal, Yit = Sit (jumlah saham individu) dan kepemilikan aset berisiko, Yit = S*it/Wit (proporsi kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk saham); Tj = time (1= investor mengubah status pernikahan dalam masa penelitian; 0 = lainnya); γDID merupakan koefisien estimasi dari Afterit x Tj; Afterit (1 = sesudah mengubah status pernikahan, 0 = sebelum); dt = variabel kontrol tahun; Xit = vektor dari variabel kontrol lainnya; ϵijt = determinan Y yang tidak diteliti (“error”)
  • Sama dengan persamaan (1), namun persamaan ini ditambah dengan variabel Corrfm (korelasi pendapatan antara wanita dalam kelompok pendidikan f dengan pria dalam kelompok pendidikan m) untuk mengukur pengaruh pendapatan rumah tangga terhadap investasi. Untuk menghitung Corrfm, peneliti membagi kelompok pendidikan menjadi 23 kelompok dimana faktor berupa lamanya individu mempelajari bidang pendidikannya (singkat-sedang-lama) juga dimasukkan. Korelasi pendapatan akan semakin besar apabila asal kelompok pendidikan suami dan istri semakin mirip, serta lamanya individu mempelajari bidang pendidikannya semakin singkat.

Selain itu, peneliti menggunakan variabel kontrol dalam penelitian ini. Adapun variabel kontrol yang digunakan adalah:

  1. Spesifikasi (i) = tahun
  2. Spesifikasi (ii) = spesifikasi (i) + faktor sosioekonomi (usia, anak, dan pendidikan)
  3. Spesifikasi (iii) = spesifikasi (i) + (ii) + log pendapatan nonfinansial
  4. Spesifikasi (iv) = spesifikasi (i) + (ii) + (iii) + kekayaan

Hasil dan Analisis:

Partisipasi Dalam Pasar Modal

 

Tabel di atas menunjukkan secara terpisah pengaruh pernikahan dan perceraian terhadap partisipasi pasar modal pria dan wanita. Hasil menunjukkan bahwa pernikahan secara signifikan meningkatkan partisipasi pria dan wanita dalam pasar modal, sedangkan perceraian hanya berdampak penurunan signifikan terhadap pria. Hal ini disebabkan karena setelah menikah, sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh individu bertambah dan biaya tetap dari partisipasi ini ditanggung bersama. Oleh karena itu, keputusan investasi setelah menikah menjadi lebih menarik dan menguntungkan.

Namun, apabila ditambah dengan variabel korelasi pendapatan rumah tangga, maka tanda koefisiennya menjadi berbanding terbalik dengan koefisien sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara tingkat korelasi pendapatan dengan respon partisipasi pasar modal pria dan wanita. Semakin besar tingkat korelasi pendapatan rumah tangga, maka besarnya pengaruh pernikahan/perceraian terhadap partisipasi pasar modal akan semakin kecil. Artinya, pria dan wanita cenderung akan meningkatkan lebih sedikit partisipasinya setelah menikah dan menurunkan lebih sedikit setelah bercerai. Peneliti menjelaskan bahwa dengan tingkat korelasi pendapatan yang tinggi, income risk sharing setelah menikah kecil, sehingga individu memilih untuk meningkatkan partisipasi dalam skala yang lebih kecil. Sebaliknya, apabila korelasinya rendah, maka risiko untuk berinvestasi menjadi lebih kecil dan mendorong individu untuk berpartisipasi dalam skala yang lebih besar.

Kepemilikan Aset Berisiko

Tabel di atas menunjukkan secara terpisah pengaruh pernikahan dan perceraian terhadap kepemilikan aset berisiko pria dan wanita. Hasil menunjukkan bahwa setelah menikah, pria secara umum menurunkan kepemilikan aset berisiko, sedangkan wanita cenderung meningkatkan kepemilikan setelah menikah. Di sisi lain, setelah bercerai, pria meningkatkan kepemilikan aset berisiko, sedangkan wanita menurunkan kepemilikannya. Meskipun demikian, hasil hanya signifikan pada pria yang bercerai. Peneliti menjelaskan bahwa pernikahan menjadi ”risk-reducer” bagi pria dan ”risk-increaser” bagi wanita. Hal ini disebabkan karena setelah menikah, keputusan investasi tidak lagi didasarkan pada preferensi individu, melainkan disesuaikan dengan preferensi bersama (suami-istri dalam rumah tangga).

Setelah ditambah dengan variabel korelasi pendapatan rumah tangga, hasil tetap tidak signifikan, kecuali pada pria yang bercerai. Kecenderungan respon pria dan wanita untuk meningkatkan/menurunkan kepemilikan aset berisiko setelah menikah/bercerai tetap sama seperti sebelumnya, meskipun adanya penambahan variabel ini cenderung menetralisir dampak dari pernikahan/perceraian terhadap portofolio investasi. Peneliti menjelaskan bahwa semakin besar tingkat korelasi pendapatan rumah tangga, maka semakin kecil pengaruh pernikahan/perceraian terhadap kepemilikan aset berisiko (sama seperti pengaruh tingkat korelasi pendapatan rumah tangga terhadap partisipasi dalam pasar modal yang dibahas sebelumnya).

Grafik dan Interpretasi:

Figur 1 menunjukkan perbandingan tingkat partisipasi dalam pasar modal, sedangkan figur 2 menunjukkan perbandingan kepemilikan aset berisiko. Grafik (a) = perbandingan pria lajang, menikah pada 1998, dan menikah pada 2002. Grafik (b) = perbandingan wanita lajang, menikah pada 1998, dan menikah pada 2002. Grafik (c) = perbandingan pria menikah, bercerai pada 1998, dan bercerai pada 2002. Grafik (d) = perbandingan wanita menikah, bercerai pada 1998, dan bercerai pada 2002.

Hasil Figur 1:

  • Pria meningkatkan partisipasi setelah menikah.
  • Wanita meningkatkan partisipasi setelah menikah.
  • Pria menurunkan partisipasi setelah bercerai.
  • Perceraian tidak berdampak pada partisipasi wanita.

Hasil Figur 2:

  • Pria menurunkan kepemilikan aset berisiko setelah menikah.
  • Wanita meningkatkan kepemilikan aset berisiko setelah menikah.
  • Pria meningkatkan kepemilikan aset berisiko setelah bercerai.
  • Wanita menurunkan kepemilikan aset berisiko setelah bercerai.

 

Catatan:

Peneliti memasukkan variabel pola waktu untuk mengukur time lag dalam grafik di atas. Hasil hanya signifikan pada pengaruh perceraian terhadap kepemilikan aset berisiko: pria secara langsung akan meningkatkan aset berisikonya pada tahun setelah perceraian, sedangkan wanita baru akan menurunkan aset berisikonya 2 tahun setelah perceraian (terdapat time lag). Selain itu, peneliti juga melakukan robustness test. Peneliti tidak menemukan perbedaan signifikan dalam respon investasi individu apabila faktor tingkat pendidikan, usia, waktu, dan keruntuhan pasar modal Denmark tahun 2000-2001 diperhitungkan.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa pernikahan dan perceraian memiliki dampak yang berbeda terhadap respon investasi pria dan wanita. Apabila dilihat dari segi partisipasi dalam pasar modal, pernikahan membuat pria dan wanita sama-sama meningkatkan partisipasinya, sedangkan perceraian hanya berdampak pada pria saja, yaitu berupa penurunan partisipasi. Hal ini dikarenakan melalui pernikahan, sumber daya ekonomi individu bertambah dan biaya tetap dari partisipasi pasar modal ditanggung bersama. Di sisi lain, apabila dilihat dari segi kepemilikan aset berisiko, pernikahan dan perceraian memiliki dampak berkebalikan bagi pria dan wanita. Pada pria, pernikahan menurunkan kepemilikan aset berisiko dan perceraian meningkatkannya, sedangkan pada wanita, pernikahan justru meningkatkan kepemilikan aset berisiko dan perceraian menurunkannya. Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan merupakan ”risk-reducer” bagi pria dan “risk-increaser” bagi wanita. Penulis juga menemukan bahwa dampak pernikahan/perceraian terhadap respon investasi (dilihat dari kedua segi yang dibahas sebelumnya) akan semakin kecil apabila variabel tingkat korelasi pendapatan rumah tangga semakin besar.

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in