Do More Friends Mean Better Grades?

Penulis              : Kata Mihaly
Tahun                : 2009
Publisher          : RAND
Jurnal                : Working Paper (WR-678)
Diulas Oleh      : Gilbert
Ilustrasi Oleh   : Agung Dermawan

Latar Belakang

Hubungan antara kelompok sosial dan prestasi pelajar telah lama
dipelajari secara luas dalam ekonomi. Penelitian sebelumnya telah mengukur efek
kelompok sosial menggunakan the
unweighted linear mean of behaviors
(prestasi dari kelompok yang diamati).
Namun, adanya keterbatasan data menjadikan efek dari tingkat sekolah, kelas,
dan asrama diakumulasikan menjadi satu kesatuan dalam penelitian ini.
Pengakumulasian ini mengakibatkan beberapa informasi penting diabaikan, seperti
dengan siapa pelajar berinteraksi dan seberapa kuat interaksi tersebut.

Untuk mengetahui efek interaksi, digunakan ukuran berupa jaringan
sosial. Bila pelajar semakin peduli dengan identitas sosialnya, berarti
terdapat hubungan positif antara popularitas dan prestasi pelajar tersebut.
Namun disisi lain, berkumpul dan melakukan kegiatan bersama dengan teman, juga
dapat dianggap sebagai kegiatan yang bersifat recreational, bukan hanya task-oriented.
Apabila efek recreational tersebut
lebih besar, maka hubungan antara popularitas dan prestasi justru menjadi
negatif.

Jurnal
ini mengukur efek popularitas terhadap prestasi akademik pelajar dengan dan
tanpa variabel kontrol. Hasil pertama tanpa melakukan kontrol terhadap endogenous friendship menunjukkan hasil
positif dari popularitas dan prestasi pelajar. Selanjutnya, tahap kedua dalam
penelitian ini berusaha melakukan kontrol terhadap pembentukan kelompok sosial
menggunakan model regresi dengan mengestimasi interaksi antara karakteristik
demografi seseorang dan tingkat komposisi gender berdasarkan karakteristik
tersebut. Interaksi ini kemudian dijadikan sebagai variabel dalam mengukur popularitas
seseorang dan sejauh mana seseorang cocok dengan siswa lain dalam pembentukan
kelompok. Hasil dari regresi menunjukkan bahwa terjadi perubahan arah
signifikansi dari hasil pertama. Ketika dilakukan kontrol terhadap pembentukan
kelompok, ditemukan efek negatif yang signifikan antara popularitas dan
prestasi siswa.

Related Literature

Dampak jaringan sosial terhadap individu telah banyak dipelajari dan
diteliti sebelumnya dalam literatur ilmu sosial. Beberapa penelitian sebelumnya
yang mendukung penelitian ini, antara lain:

  1. Hoxby & Weingarth (2005) menemukan bahwa
    model linear tidak dapat menentukan secara spesifik dan memiliki kemungkinan
    estimasi yang bias. Selanjutnya, Weinberg (2006) menemukan bukti kuat bahwa
    kelompok sosial yang dikontrol memiliki interaksi sosial yang bersifat
    non-linear. Hal ini menimbulkan keyakinan bahwa dalam mengukur efek kelompok
    sosial dibutuhkan model non-linear.
  2. Berdasarkan Teori Jaringan Sosial, perilaku
    individu dibatasi oleh jaringan sosial (pertemanan) untuk tetap konsisten
    terhadap nilai dan norma yang berlaku di kelompok. Teori ini menyiratkan bahwa
    perilaku seseorang dipengaruhi oleh struktur sosial. Haynie (2001) menggunakan
    data Add Health untuk melihat pengaruh sifat struktural jaringan sosial
    terhadap kenakalan remaja di kalangan anak SMA. Hasilnya menunjukkan hubungan
    yang negatif antara beberapa pengukuran suatu jaringan kelompok (dalam hal
    kepadatan dan sentralitas) dengan kenakalan remaja.
  3. Calvo-Armengol et al. (2005) meneliti efek
    jaringan sosial pada hasil pendidikan. Mereka menemukan bahwa ukuran tertentu
    dari sentralitas jaringan, disebut Indeks Bonacich,  muncul sebagai Nash Equilibrium ke model yang dimana agen yang tertanam dalam
    jejaring sosial memilih tindakan secara bersamaan sebagai fungsi dari anggota
    jaringan. Mereka juga menemukan bahwa peningkatan sentralitas dalam jaringan
    mengindikasikan peningkatan signifikan dalam prestasi akademik.

Data

Data
dalam penelitian ini diambil dari National Longitudinal Study of Adolescent
Youth (Add Health) dengan mengambil sampel sebanyak 90.118 siswa dari 145
sekolah. Responden yang diambil berasal dari kelas 7-12 dimana masing-masing
dari mereka diminta untuk mendaftarkan lima teman pria dan wanita terbaik.
Daftar tersebut lalu digunakan untuk mengidentifikasi ciri-ciri dari
orang-orang tersebut. Semakin banyak nama seseorang disebut didaftar orang lain
mengindikasikan bahwa orang tersebut semakin populer.

GPA menunjukkan nilai rata-rata dari matematika, bahasa inggris,
sejarah, dan sains yang dilaporkan sendiri oleh responden. Nilai yang
dilaporkan adalah nilai terbaru yang didapatkan pelajar, dengan skala 1 sampai
4.

Network Measures

Untuk lebih memahami pengukuran jaringan sosial, maka peneliti membaginya menjadi dua kategori, yaitu jaringan lokal dan jaringan global. Jaringan lokal diukur dengan tingkat sentralisasi dalam derajat, sedangkan jaringan global diukur dengan tingkat kepadatan jaringan serta dua eigenvector. Untuk melakukan pengukuran terhadap jaringan lokal, maka standar pengukuran yang digunakan adalah individual in-degree (IDEG). Standar pengukuran ini dilakukan untuk menghitung banyaknya jumlah alternatif untuk masuk dalam kelompok sosial tersebut.

Dimana
1 adalah matriks N x 1 vektor 1 dan N adalah jumlah orang dalam jaringan adjacency matrix (G).

Untuk
melakukan pengukuran terhadap jaringan global, maka digunakan standar
pengukuran density (DENS).

Untuk
vektor eigen pertama, digunakan Spectral
Popularity Index (SPI).

Dimana c^siadalah rata-rata Individual Spectral Popularity Indices dari komponen yang saling berhubungan.

Untuk
vektor eigen kedua, menggunakan Bonacich
Eigenvector Centrality (BONA).
Eigenvector ini digunakan untuk
menghilangkan faktor dari adanya sentralitas dari luar jaringan.

Estimation

Fungsi
prestasi pelajar dinotasikan dengan:

Results

  1. Baseline Model

Dilihat
dari berbagai pendekatan tentang popularitas, perempuan cenderung  melaporkan nilai akademik yang lebih tinggi
dibanding laki-laki. Kemudian, jika dibandingkan dengan siswa berkulit putih,
mayoritas siswa yang berasal dari ras lain cenderung melaporkan nilai yang
lebih rendah; kecuali siswa yang berasal dari Asia yang melaporkan nilai
akademik ¼ lebih tinggi dibanding yang lain. Selain itu, memiliki ibu yang
tidak bekerja ternyata tidak signifikan mempengaruhi nilai akademik. Namun di
sisi lain, memiliki ibu yang berlatar belakang tinggi ataupun tinggal bersama ayah
kandung secara signifikan memiliki efek positif yang besar. Peneliti menemukan
bahwa apabila dilihat dari pengukuran popularitas, maka memiliki tambahan teman
hanya akan sedikit meningkatkan nilai akademik. Akan tetapi, memiliki
pertemanan di sekolah yang lebih kompleks justru memiliki efek positif yang
besar.

Adanya perbedaan sekolah/kelas terkadang mempengaruhi hasil perhitungan.
Namun, perbedaan ini hanya menimbulkan perubahan kecil pada hasil demografi.
Untuk itu, perbedaan sekolah/kelas dan beberapa variabel lain yang tidak dapat
diamati seperti kualitas tetangga, diakumulasikan dalam fixed effect. Tabel 7 menunjukkan data setelah fixed effect dimasukkan. Ternyata, hasil tidak banyak berubah jika
dibandingkan dengan sebelumnya, kecuali pada beberapa faktor demografi. Salah
satu faktor demografi yang berubah adalah kelahiran asing. Kelahiran asing yang
sebelumnya memiliki efek positif yang tidak besar dan tidak signifikan berubah
menjadi lebih besar dan menjadi signifikan. Hal ini diduga karena pelajar yang
lahir di negara lain cenderung masuk ke sekolah yang memiliki kualitas lebih
rendah dibandingkan dengan yang seharusnya bisa didapatkan pelajar tersebut di
negara asalnya. Jika dilihat dari tingkat popularitas, hanya standar pengukuran
Density yang mengalami penurunan. Hal
ini dikarenakan standar pengukuran density
diukur dengan menggunakan jaringan sosial, bukan tingkat individu.

Dalam meningkatkan fokus penelitian terhadap efek popularitas atas prestasi akademik, maka disusun tabel 8, dimana Std. Dev. Increase merupakan dampak dari peningkatan standar deviasi popularitas sebesar 1 terhadap prestasi akademik individu.

  • Instrumental Variables

Untuk menghilangkan kemungkinan bias
akibat memilih-milih teman (adanya popularitas yang direncanakan), tabel 9
menunjukkan hasil estimasi dari persamaan sebelumnya. Tidak ada yang berubah
secara signifikan dalam perubahan demografi setelah adanya kontrol. Akan
tetapi, koefisien dari seluruh pengukuran popularitas justru berubah menjadi
negatif secara signifikan. Selain itu, nilai koefisien dari popularitas menjadi
semakin lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat bias dalam perhitungan baseline
coefficient
akibat adanya unsur endogeneity.

Tabel 10 menampilkan efek popularitas yang diisolasi terhadap prestasi
akademik (dari tabel 7 dan 9). Sebelum instrumenting,
peningkatan standar deviasi dalam popularitas meningkatkan ⅛ standar deviasi
prestasi akademik. Namun setelah diimplementasikan, ditemukan bahwa terjadi
penurunan prestasi akademik hingga ⅔ dari standar deviasinya.  Efek nyata dari penurunan prestasi akademik
ini dalam beberapa kasus bahkan akan melebihi dampak dari karakteristik
demografi yang dibahas sebelumnya.

Kesimpulan

Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa ketika pembentukan kelompok
dianggap sebagai fixed effect, maka
peningkatan popularitas secara signifikan meningkatkan prestasi akademik
seseorang. Hal ini menandakan bahwa bila cakupan interaksi sosial seseorang
tidak mengalami pembatasan, maka popularitas pelajar akan memiliki hubungan
positif dengan tingkat prestasi akademik. Namun, bila dilakukan kontrol
terhadap pembentukan kelompok (cakupan interaksi sosial sengaja dibatasi),
ditemukan efek negatif yang signifikan antara popularitas dan prestasi akademik
di setiap spesifikasi yang diterapkan. Hubungan negatif tersebut memiliki sifat
non-linear sehingga sulit untuk mengukur seberapa jauh efek yang ditimbulkan.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in