Leisure Time in Modern Societies: A New Source of Boredom or Stress?

Pengarang: Max Haller, Markus Hadler, dan Gerd Kaup

Tahun: 2012

Nama Jurnal:  Social Indicators Research, Vol. 111, No. 2 (April 2013),
pp. 403-434

Pendahuluan

Setiap individu telah diberikan
waktu yang sama yaitu 24 jam dalam satu hari. Waktu ini dipergunakan individu
untuk bekerja (work) dan waktu luang (leisure). Seiring
berkembangnya zaman, berkembangnya teknologi ternyata memiliki pengaruh pada
alokasi waktu bekerja dimana semakin sedikitnya waktu yang digunakan untuk
bekerja. Thompson menuturkan bahwa pada awal kapitalisme, pekerja akan
menghabiskan 10 hingga 12 jam waktunya perhari untuk bekerja selama 6 hari
dalam satu minggu (Thompson, 1967). Namun dewasa ini, pekerja akan menghabiskan
8 jam perhari dengan 5 hari dalam seminggu untuk bekerja (Castells, 1996).
Penurunan jam kerja ini mengakibatkan meningkatnya jumlah waktu luang individu.
Terdapatnya perbedaan penemuan antar penulis pada penelitian terdahulu.
Beberapa penelitian menemukan bahwa hal ini akan lebih menyebabkan stress dan
lainnya berargumen akan menyebabkan kebosanan. Peneliti ingin melihat apakah
perubahan pola penggunaan waktu dimana saat ini lebih banyak tersedia waktu
luang akan berpengaruh pada seseorang. Selain itu, faktor apa sajakah atau
karakteristik apa yang menyebabkan individu akan merasakan bosan atau malah
merasakan stress pada waktu luangnya dimana kondisi saat ini jumlah waktu luang
yang tersedia lebih banyak.

Data dan Metodologi

Penelitian ini menggunakan
data yang diperoleh dari International Social Survey Programme (ISSP) modul.
ISSP modul merupakan survei mengenai “Leisure and Sport” kepada 52.000
responden yang tersebar di 36 negara. Penelitian ini memiliki dua variabel
dependen yaitu Individual’s level of boredom dan Individual’s level
of stress
. Variabel independen pada penelitian ini merupakan gabungan dari
beberapa karakteristik baik pada tingkatan mikro maupun makro. Karakteristik
pada tingkatan makro yang digunakan sebagai variabel independen yaitu GNI per
kapita, persentase pengeluaran sosial terhadap GDP, agama yang dominan, dan
ideologi perekonomian negara tersebut pada masa lampau. Segi karakteristik
tingkatan mikro melihat pada aspek gender, umur, tingkat edukasi, partisipasi
ketenagakerjaan dan waktu bekerja, occupational position, pendapatan, household
compotition and family situation
, dan household size. Untuk variabel
umur diklasifikasikan dalam tiga grup yaitu the youngest age group
dimana umur 15 hingga 24 tahun, middle age group untuk umur 25 hingga 54
tahun, dan the older age group untuk umur diatas 55 tahun. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Multilevel Regression Analysis.

Hasil dan Analisis

Hasil menunjukkan bahwa
jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan stress dan
kebosanan pada waktu luang. Bila dibandingkan, wanita lebih merasakan stress
daripada laki-laki pada waktu luangnya secara signifikan. Menurut peneliti, hal
ini dikarenakan wanita masih memiliki berbagai tanggung jawab pada waktu luangnya
seperti pekerjaan mengurus rumah serta mengurus anak. Karena pada waktu
luangnya pun wanita masih adanya pekerjaan yang harus dilakukan, maka wanita
lebih merasakan stress pada waktu luangnya dibandingkan laki-laki. Wanita ini
kemudian diklasifikasikan menjadi wanita bekerja, wanita tidak bekerja, seorang
ibu dan bukan, seorang ibu yang bekerja dan tidak bekerja. Hasil memperlihatkan
bahwa pada waktu luang, wanita yang bekerja akan merasa lebih terburu-buru
dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja. Seorang ibu juga akan merasa
lebih terburu-buru dibandingkan yang bukan seorang ibu. Selain itu, seorang ibu
yang bekerja juga akan merasa lebih terburu-buru pada waktu luangnya
dibandingkan seorang ibu yang tidak bekerja.

Selain jenis kelamin,
usia ternyata juga memengaruhi tingkat stress atau kebosanan pada waktu luang
secara signifikan. Hasil menunjukkan The older age group dan youngest
group lebih tidak terpengaruh terhadap stress dibandingkan dengan middle age
group
. Sedangkan untuk perasaan bosan pada waktu luang, youngest group
lebih merasakan kebosanan dibandingkan dengan middle group dan the
older group
lebih tidak merasa dibandingkan middle group. Peneliti juga
melihat interaksi antara umur dengan bekerja serta tingkat edukasi. Terlihat
bahwa the older age group yang masih bekerja tidak lebih merasakan
stress atau kebosanan dibandingkan dengan youngest group. The older age
group
yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan yang lebih rendah
ternyata tidak memiliki perbedaan pada stress di waktu luang. Namun terdapat
perbedaan pada kebosanan dimana the older age group yang berpendidikan
tinggi lebih tidak merasakan bosan pada waktu luangnya.

Secara general, tingkat
edukasi memiliki efek yang signifikan meskipun efeknya kecil. Semakin tinggi tingkat
edukasi, semakin rendah kecenderungan seseorang untuk merasakan kebosanan dan
cenderung lebih merasakan stress pada waktu luang. Selanjutnya berdasarkan
pekerjaan, individu yang sama sekali tidak bekerja akan lebih tidak merasakan
stress dan lebih merasakan kebosanan. Sebaliknya, individu yang bekerja dengan
waktu yang panjang dimana lebih dari 51 jam akan lebih merasakan stress
dibandingkan kebosanan pada waktu luangnya.

Berdasarkan household
composition and family situation
, keluarga yang memiliki tingkat pendapatan
lebih tinggi semakin rendah kecenderungan untuk merasakan kebosanan pada waktu
luang. Hal ini disebabkan semakin tinggi pendapatan yang dimiliki, semakin
beragam pilihan aktivitas yang dapat dilakukan pada waktu luangnya. Untuk
tingkat stress, ternyata kondisi keluarga tidak memengaruhi secara signifikan
terhadap tingkat stress pada waktu luang. Pada aspek household size,
rumah tangga yang memiliki lebih dari dua anak atau dua orang dewasa akan lebih
merasakan stress daripada bosan pada waktu luangnya. Hasil ini mempertegas
bahwa keberadaan anak dan family members menurunkan tingkat kebosanan tetapi
juga mengakibatkan semakin sedikitnya jumlah waktu luang. Hasil perhitungan
dapat dilihat pada tabel 1 dan tabel 2 pada lampiran.

Kesimpulan

            Penelitian ini menunjukkan bahwa apakah seseorang akan merasakan stress dan tingkat kebosanan bergantung pada karakteristik individu tersebut. Karakteristik atau kelompok yang lebih merasakan kebosanan pada waktu luangnya merupakan the youngest age, pengangguran, pekerja tidak terampil, dan individu yang tinggal pada household size yang besar. Kelompok yang merasakan stress pada waktu luangnya yaitu perempuan, the middle age, individu yang jam kerjanya panjang, dan individu yang tinggal bersama lebih dari dua anak. Kelompok yang merasakan stress dan terburu-buru pada waktu luangnya menginginkan untuk memiliki waktu luang yang lebih banyak.

Diulas oleh Naura Nafisha

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in