Crisis-Proof Services: Why Trade in Services Did Not Suffer During The 2008-2009 Collapse

jadiii

 

Pengarang              : Andrea Ariu

Tahun                      :  2016

Nama Jurnal         :  Journal of International Economics, No. 98, 2016, pp. 138–149

Diulas oleh            : Lovina Aisha

Ilustrasi oleh        : Rizki Fajar

 

Pendahuluan

Krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008 memberi dampak negatif terhadap berbagai aspek ekonomi, salah satunya perdagangan internasional. Selama kuartal III 2008 sampai dengan kuartal II 2009, perdagangan barang mengalami penurunan paling tajam yang pernah tercatat dalam sejarah: ekspor dan impor turun empat kali lebih besar dari pendapatan (Freund, 2009; Levchenko, Lewis, & Tesar, 2010). Struktur perdagangan ekspor dari suatu negara pada umumnya didominasi oleh barang tahan lama, namun komponen konsumsi dalam PDB lebih didominasi oleh jasa dan barang konsumsi (barang tidak tahan lama). Income shock negatif (kejadian yang tidak diharapkan dan memberi dampak terhadap penurunan pendapatan, dalam hal ini krisis ekonomi) sangat mempengaruhi kuantitas ekspor barang, tetapi tidak mengganggu pertumbuhan ekspor jasa. Tujuan dari penelitian ini ialah sebagai pelengkap dari penelitian sebelumnya yang hanya membahas tentang keadaan ekspor atau impor barang pasca krisis ekonomi melalui data perusahaan secara individu dan antar perusahaan.

Metodologi

            Penelitian ini menggunakan data-data ekonomi dan perdagangan di negara Belgia. Data perdagangan dan jenis kepemilikan perusahaan diambil dari National Bank of Belgium (NBB), sedangkan untuk data pertumbuhan PDB di negara-negara tujuan bersumber dari database IMF World Economic Outlook (versi 2012). Selanjutnya, informasi tentang nilai tukar harian pada tanggal 1 April setiap tahunnya bersumber dari European Central Bank’s Statistical Data Warehouse. Terakhir, informasi tentang OECD diambil dari data OECD and European Commission.

Pembahasan mengenai pengaruh krisis ekonomi terhadap ekspor jasa akan ditinjau melalui tiga bukti empiris: (1) Perbandingan data deskriptif untuk membandingkan jumlah ekspor dalam unit dan mata uang Euro serta memperhitungkan margin perdagangan saat sebelum dan sesudah krisis; (2) Pendekatan Difference-in-Difference (DID) untuk mengetahui bagaimana pengaruh pertumbuhan PDB di negara mitra dagang terhadap keadaan ekspor jasa saat sebelum dan sesudah krisis; (3) Pendekatan Triple Difference untuk menguji signifikansi perbedaan ekspor barang dan jasa jika ditinjau dari beberapa aspek ekonomi.

Persamaan data deskriptif (perubahan total ekspor, intensive margin):

foto

Di mana k = {jasa, barang}, tanda delta = perubahan, tanda bar = rata-rata, X = ekspor, f = jumlah perusahaan, c = jumlah pasar (negara mitra dagang), p = produk yang diekspor per perusahaan & jumlah pasar, x = ekspor per perusahaan, jumlah pasar, dan jenis produk. Catatan: extensive margin merupakan penjabaran per variabel pada persamaan di atas.

Persamaan regresi DID:

fotooooo

Persamaan di atas merupakan log jumlah ekspor yang dilakukan perusahaan (f), pada pasar (c) tertentu, dan jenis produk (p), di mana k = {jasa, barang} dan t = waktu. Ekspor yang dibandingkan ialah 6 bulan pertama dari tahun 2007 & 2008 serta 6 bulan pertama tahun 2008 & 2009.

fotoooo

T= treatment (0 = tidak krisis, 1 = krisis), Z = variabel independen yang merupakan vektor (gabungan) pertumbuhan PDB, bersama dengan variabel kontrol lain di tingkat perusahaan, negara mitra dagang, dan produk.

Persamaan Triple Differences:

aaaaaaaa

Untuk pertumbuhan PDB

Sama dengan persamaan DID, ditambah dengan y0 = variabel kontrol untuk barang dan jasa, y1 = respons ekspor barang/jasa, y2 = kontrol variabel spesifik untuk ekspor barang/jasa, y3 = efek pertumbuhan PDB terhadap ekspor barang/jasa. Untuk penyerapan domestik dan kendala kredit, interpretasi sama dengan penjelasan di atas.

Hasil dan Analisis

Analisis Deskriptif:

desk

Tabel di atas menunjukkan perubahan margin pada ekspor negara belgia saat 6 bulan pertama tahun 2008 dan 6 bulan pertama tahun 2009 (2008S1 & 2009S1). Panel a: berdasarkan jenis produknya (barang atau jasa) dapat dilihat bahwa layanan bisnis, keuangan dan telekomunikasi, yang mewakili lebih dari 50% ekspor Belgia, kuantitas ekspornya terus bertumbuh sedangkan untuk jasa transportasi, konstruksi, dan semua jenis barang justru menurun akibat krisis. Panel b: berdasarkan negara tujuan, ekspor jasa untuk daerah non-OECD lebih besar dibanding negara tujuan lainnya karena jasa yang diekspor ke negara-negara tersebut lebih kepada ekspor jasa transportasi (yang mengalami penurunan). Panel c: perusahaan jasa multinasional dan milik asing tetap bertumbuh di saat krisis. Panel d: perusahaan besar dan memiliki ketergantungan kredit pinjaman (financially exposed) tetap bertahan di saat krisis.

Analisis Regresi DID:

regre

Kolom (1) dari tabel regresi di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB dan heterogenitas jenis usaha memberikan pengaruh signifikan yang positif terhadap jumlah barang yang diekspor. Pada keadaan normal (B1), peningkatan 1% PDB akan meningkatkan ekspor barang sebanyak 1.20%. Sehingga, ketika krisis penurunan 1% PDB akan menurunkan ekspor barang sebanyak 2.68% (1.20% + 1.48%). Sedangkan untuk heterogenitas produk, semakin besar dan produktif perusahaan, serta apabila perusahaan dimiliki oleh pihak asing / multinasional, maka perusahaan tersebut akan tumbuh dengan baik di saat normal dan akan paling menderita ketika krisis. Kolom (2) menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB memiliki pengaruh positif terhadap ekspor jasa ketika masa normal dan pengaruh negatif ketika krisis, namun tidak signifikan. Penurunan PDB saat krisis tidak memengaruhi ekspor jasa, begitu pula dengan heterogenitas dan kendala kredit. Namun, untuk faktor global value chain, perusahaan jasa yang lebih terlibat dalam pasar luar negeri justru hanya tumbuh sedikit selama masa normal, namun perusahaannya bertumbuh dan meningkatkan ekspornya ketika krisis. Kolom (3) dan (4) menunjukkan pengaruh keempat variabel terhadap barang tahan lama dan barang tidak tahan lama, yang hasilnya tidak jauh berbeda dari interpretasi untuk kolom (1).

Analisis Triple Differences:

blaaaaaaaaa

Tabel di atas menunjukkan seberapa signifikan dari perbedaan respon ekspor jasa dan ekspor barang dalam menghadapi krisis ekonomi. Pengolahan data ini juga mengklasifikasikan pengekspor menjadi bi exporter (ekspor barang dan jasa) atau mono exporter (hanya ekspor barang atau jasa). Kolom (1) menunjukkan bahwa reaksi ekspor barang dan jasa terhadap income shock berbeda secara signifikan. Penurunan 1% PDB menyebabkan ekspor jasa menurun rata-rata 5% lebih rendah daripada ekspor barang. Kolom (2) dan (3) menunjukkan bahwa ekspor jasa secara signifikan lebih kebal terhadap krisis jika dibandingkan dengan barang tahan lama, tidak dengan barang konsumsi. Kolom (4) sampai (10) menunjukkan hasil regresi untuk beberapa sektor ekspor jasa. Dapat dilihat bahwa sektor yang memiliki pengaruh paling signifikan ketika terjadi krisis ialah layanan bisnis, karena layanan tersebut tetap dibutuhkan ketika krisis. Ketika krisis, penurunan ekspor layanan bisnis 9.5% lebih rendah daripada ekspor barang.

Selanjutnya, jasa finansial merupakan sektor dengan ekspor yang tertinggi pertumbuhannya saat krisis karena layanan seperti manajemen, hukum bisnis, dan akuntansi akan terus dipakai meskipun krisis ekonomi melanda. Jasa tersebut juga akan mendukung produksi barang hingga menjadi barang jadi. Selanjutnya, untuk kolom (11) dan (12), ekspor kepada negara OECD lebih bertahan dibanding negara non-OECD karena 70% dari ekspor Belgia menuju kepada negara OECD dan komoditas ekspor utama untuk negara non-OECD ialah jasa transportasi yang mengalami penurunan di saat krisis. Robustness test juga dilakukan untuk membuktikan apakah hal di atas dapat dibuktikan melalui aspek keterserapan domestik dan kendala kredit, hasilnya pun tidak jauh berbeda dari hasil di atas.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa ekspor jasa tidak menderita akibat krisis 2008-2009 karena mereka lebih kebal terhadap income shock negatif dalam jangka pendek daripada ekspor barang. Peneliti menemukan bahwa elastisitas jasa terhadap pertumbuhan PDB di negara-negara mitra selama krisis secara signifikan berbeda dari elastisitas barang. Income shock negatif di negara-negara mitra dagang mempengaruhi ekspor barang, namun tidak mempengaruhi ekspor jasa. Ekspor jasa lebih memiliki ketahanan terhadap krisis yang sangat tinggi dibandingkan dengan barang tahan lama, dan jasa yang paling bertahan ketika krisis ialah layanan bisnis. Terdapat perbedaan yang cukup besar secara ekonomi; jika barang ekspor memiliki elastisitas yang sama dengan elastisitas ekspor jasa terhadap pertumbuhan PDB, penurunan ekspor selama krisis 2008-2009 hanya setengah dari penurunan yang sudah terjadi.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in