Wildlife Conservation: Who Cares?

Panda–yang pernah dipastikan akan punah belasan tahun lalu–nyatanya berhasil keluar dari zona berbahaya tersebut. Kabar ini tentu menggembirakan bagi para pecinta primata lucu ini. Namun, di balik itu semua, terjadi pengorbanan yang cukup besar dari segi ekonomi. Jutaan dollar melayang hanya untuk mengembalikan mereka ke zona aman. Studi yang dilakukan pada tahun 2012 memperkirakan bahwa biaya untuk melindungi hewan-hewan darat yang terancam punah adalah $76 milyar per tahun. Jumlah yang lebih dari cukup untuk menyelamatkan jutaan anak yang terkena busung lapar di pelosok Afrika. Sementara masih banyak permasalahan manusia yang harus dikhawatirkan, mengapa kita justru sangat peduli terhadap kelangsungan hidup satwa langka? Singkatnya, apa sebenarnya tujuan dari konservasi? Simak Grand Primera dari Divisi Penelitian Kanopi FEB UI kali ini, Wildlife Conservation: Who Cares?

Dalam penelitian kali ini, kami menyebarkan kuesioner kepada 89 orang yang terdiri  dari  45 pria dan 44 wanita, berbagai lapisan umur (28% umur 0-20 tahun,  52,8% umur  21-40  tahun,  dan  19,2%  umur  41-60  tahun),  berbagai  jenis  pekerjaan (40,4% pelajar, 27% karyawan, 12,4% ibu rumah tangga, 10,1% wiraswasta, dan 10,1% lain-lain), serta berbagai lapisan pendidikan (3,5% S2 sederajat, 41,6% S1/D3 sederajat, 39,2% SMA sederajat, 8,9% SMP sederajat, 3,5% SD sederajat, dan 3,5% lain-lain). Khusus pada penelitian kali ini, kami mewawancarai langsung 47 orang di Kebun Binatang Ragunan dan sisa 42 orang lainnya kami lakukan secara daring.

The Value of Ecosystem’s Pillars

Apa yang terjadi jika hiu terancam punah akibat ulah manusia? Beberapa penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya populasi hiu secara drastis akan menyebabkan efek domino yang berujung pada turunnya populasi ikan di laut. Hiu memiliki peran penting sebagai salah satu keystone species, yaitu spesies hewan yang memiliki biomassa relatif rendah dan memiliki peran yang tidak beririsan dengan hewan lainnya. Satwa langka lainnya seperti orangutan, gajah, hingga berang-berang juga mempunyai tugasnya sendiri untuk ‘melayani’ ekosistem. Tiap spesies mempunyai perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Peran tersebut dapat berupa hal yang kita anggap biasa seperti pembentukan tanah hingga hal yang tidak kita duga seperti stabilisator iklim. IUCN (International Union for Conservation of Nature) memperkirakan nilai yang disediakan oleh ekosistem berjumlah US $33 triliun per tahun. Studi lain pada tahun 2010 menyimpulkan bahwa punahnya spesies yang tak terkendali akan menghapus 18% dari output ekonomi global pada tahun 2050. Dengan kata lain, melestarikan alam merupakan investasi yang sangat tepat. Lalu, apakah masyarakat telah mengetahui tingginya nilai yang harus ditanggung negara jika terdapat satwa langka yang punah?

Penelitian kami membuktikan bahwa mayoritas masyarakat telah cukup sadar akan tingginya nilai dari satwa langka yang punah, dengan rincian 29% masyarakat menjawab Rp1 juta – Rp1 miliar, 30% berkisar di angka Rp1 miliar – Rp999 miliar, 20% berkisar di angka Rp1 triliun – Rp100 triliun, dan 8% menjawab lebih dari Rp100 triliun hingga tak ternilai. Kemudian, sebanyak 28 orang dari 89 responden kami menjawab burung cendrawasih adalah satwa langka dengan kerugian terbesar jika ia punah, disusul dengan harimau (25 orang), badak (15 orang), gajah (9 orang), dan komodo (7 orang). Begitu pula dengan biaya konservasi atau pemeliharaan yang terbesar, 39% dari responden kami masih sepakat bahwa burung cendrawasih membutuhkan biaya konservasi yang terbesar, diikuti dengan badak (19%), gajah (18%), harimau (11%), dan komodo (3%).

Faktanya, meskipun burung cendrawasih bukanlah merupakan keystone species, mereka tetap berperan penting bagi keseimbangan ekosistem. Sebagai pemakan buah, burung cendrawasih membantu membawa benih dalam usus mereka dan menyebarkannya di tempat-tempat baru dalam bentuk kotoran, sehingga dapat menjadi pupuk kandang alami yang bernutrisi bagi tanaman. Sementara itu, sebuah studi menjelaskan bahwa hilangnya predator puncak seperti harimau dapat menimbulkan “trophic cascade”, yaitu fenomena berubahnya struktur ekosistem melalui perubahan rantai makanan akibat perubahan populasi predator. Peristiwa ini pernah terjadi di Amerika Utara, di mana hilangnya keberadaan serigala sebagai predator puncak menyebabkan populasi rusa meningkat dan berujung pada berkurangnya populasi tanaman.

Anggap bahwa kita semua sepakat bahwa alam itu indah dan kita harus melestarikannya karena keelokan dan keajaibannya. Kepuasan kita terhadap keindahan alam dapat dianggap sebagai ecosystem services. Jika kita siap membayar untuk memperoleh sesuatu, maka ia memiliki sebuah nilai. Lantas, bagaimana kita mengukur keindahan secara objektif? Sama seperti lukisan yang ditempatkan di museum, kita cukup menciptakan sebuah sistem agar masyarakat ingin membayar untuk mengalaminya. Contohnya adalah kebun binatang, ekowisata, taman safari, dan bentuk konservasi lainnya. Orang-orang yang telah datang ke salah satu tempat konservasi tersebut memiliki insentif yang jelas untuk menjaga agar satwa-satwa itu tetap aman. Akan tetapi, apakah hadirnya tempat perlindungan–khususnya kebun binatang–sungguh merupakan bentuk perlindungan pada fauna langka? Atau justru merupakan bentuk penyiksaan?

Rupanya, lebih dari setengah responden (57 orang) menyatakan bahwa kebun binatang sebagai bentuk perlindungan satwa langka, dengan alasan untuk mencegah perburuan hewan liar (53%), tidak adanya tempat penangkaran satwa akibat terbatasnya lahan (29%), serta sebagai sarana untuk merawat dan melindungi hewan (16%). Sisanya (32 orang), menjawab kebun binatang justru sebagai bentuk penyiksaan terhadap satwa langka dengan beragam alasan. Pertama, 59% dari 32 orang tersebut beralasan bahwa hewan tidak memiliki kebebasan seperti di habitat aslinya. Selanjutnya, 22% di antaranya mengungkapkan bahwa hewan tidak dilindungi sebagaimana mestinya. Terakhir, 12% sisanya percaya bahwa pemeliharaan hewan membutuhkan biaya yang besar. Lantas, kalau bukan kebun binatang yang mengambil peran untuk melindungi satwa langka, lalu siapa? Apakah pihak swasta atau perorangan? Ternyata, 63 orang dari 89 responden berpendapat bahwa satwa langka yang dipelihara oleh pihak swasta atau perorangan untuk dijadikan hewan peliharaan tidak akan melindungi satwa tersebut. Terdapat 2 alasan utama dari jawaban tersebut, pertama perlindungan yang dilakukan oleh individu belum tentu seprofesional pihak dari kebun binatang, dan kedua tindakan tersebut tidaklah etis karena hewan langka bukanlah hewan peliharaan.

Bagian selanjutnya meminta responden untuk menilai dari rentang 1-10 (1 tidak setuju, 10 sangat setuju), apakah budidaya fauna langka untuk keperluan komersial dapat melindungi spesies tersebut? Uniknya, rata-rata nilai dari pertanyaan ini adalah 5.63, yang berarti masih banyak responden yang menganggap kalau budidaya fauna langka untuk keperluan komersial masih kurang efektif dalam melindungi hewan langka. Padahal di pertanyaan sebelumnya, 64% dari responden menjawab bahwa mereka setuju kebun binatang sebagai bentuk perlindungan bagi fauna. Dengan demikian, masih banyak responden yang tidak sadar akan kenyataan bahwa kebun binatang dan semua bentuk konservasi lainnya adalah untuk keperluan komersial.

Today’s Sacrifice for Tomorrow’s Virtue

 

Berikutnya, responden diminta untuk memilih di antara dua pernyataan: A atau B. Jika responden memilih A, maka ia lebih peduli pada ekosistem dan rela mengorbankan hal-hal di masa kini (pengeluaran konsumsi) untuk masa depan lingkungan yang lebih baik. Sebaliknya, Jika responden memilih B, maka ia kurang peduli pada ekosistem dan tidak rela mengorbankan hal-hal di masa kini (pengeluaran konsumsi) untuk masa depan lingkungan yang lebih baik. Hasilnya, 5 dari 6 pernyataan tersebut menunjukkan bahwa jumlah responden yang memilih opsi A jauh lebih banyak dari jumlah responden yang memilih opsi B. Uniknya, hanya pernyataan nomor 1 yang memperlihatkan hasil yang hampir seri, 44 orang memilih opsi A dan 45 orang memilih opsi B.

Jadi, survei menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat memiliki keinginan untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik dan rela mengorbankan hal di masa kini (pengeluaran konsumsi) untuk masa depan ekosistem yang lebih baik. Contohnya adalah menggunakan sapu tangan dibanding tisu, menggunakan pestisida alami, dan menggunakan alat pancing tradisional dibanding pukat. Hanya saja, mayoritas masyarakat belum ingin menggunakan alat makan dan minum reusable seperti wadah dan sedotan besi.

Authentic vs Synthetic: At What Price?

Dalam penelitian kali ini, kami membuat eksperimen untuk mengetahui preferensi masyarakat terhadap keinginan untuk membeli antara 2 barang dengan kulit asli hewan atau kulit sintetis dengan harga yang berbeda. Pada pertanyaan pertama, kami memberikan pertanyaan yang meminta responden untuk memilih barang yang terbuat dari bagian hewan, seperti kulit dan gading. Hasilnya, tas menduduki peringkat tertinggi (45,83%), disusul dengan dompet (39,58%), hiasan dinding (20,83%), baju atau celana (12,5%), dan sisanya memilih lain-lain (total data lebih dari 100% karena satu orang bisa memilih lebih dari 1 barang).

gp2

Dari pertanyaan pertama, responden cenderung memilih tas kulit asli (55,05%) dengan harga yang lebih murah Rp200 ribu rupiah dibandingkan tas kulit sintetis dengan harga yang lebih mahal (43,8%).

gp3

Selanjutnya, dengan selisih harga Rp150 ribu rupiah, lebih dari setengah responden (64 orang) cenderung memilih sepatu kulit sintetis dengan harga yang lebih murah daripada sepatu kulit buaya asli (24 orang) dengan harga yang lebih mahal.

gp4

Kemudian, 56 dari 89 responden lebih memilih tas kulit buaya imitasi dengan harga yang lebih murah Rp200 ribu rupiah dari tas kulit buaya asli (33 orang).

gp5

Berikutnya, jika diminta untuk memilih di antara 2 dompet dengan bahan yang sama, 64,04% dari responden justru memilih dompet dengan merk Aigner yang lebih murah Rp100 ribu rupiah dari dompet merk MontBlanc.

gp6

Terakhir, responden kami minta untuk memilih jenis bahan tas manakah yang akan mereka beli dengan tingkat harga tertentu. Hasilnya, dengan rentang harga Rp100 ribu – Rp2 juta, lebih dari setengah responden memilih untuk membeli tas dengan bahan kulit sintetis. Sedangkan, dengan tingkat harga Rp2 juta hingga lebih dari Rp5 juta, sebagian besar responden memilih untuk membeli tas dengan bahan kulit hewan.

Hasil eksperimen yang dilakukan menunjukkan bahwa harga barang memiliki pengaruh yang besar terhadap keputusan membeli. Oleh karena itu, penetapan harga yang lebih tinggi terhadap produk kulit asli dapat mengurangi jumlah permintaan dan preferensi masyarakat terhadap produk kulit asli. Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak positif terhadap pelestarian satwa yang dimanfaatkan kulitnya seperti buaya.

Human & The Extinction Crisis

gp7

Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap permasalahan konservasi terhadap satwa? Masyarakat, pemerintah, atau semua pihak termasuk swasta? 44% dari 89 responden menjawab bahwa masyarakat lah yang paling bertanggung jawab. Dan jawaban mereka benar adanya. Menurut penelitian IUCN, manusia berkontribusi meningkatkan laju kepunahan spesies menjadi lebih dari 100 kali lipat, dan kepunahan besar-besaran ini mulai terjadi saat manusia mengalami Revolusi Industri. Jika sudah separah itu, apa yang dapat kita lakukan?

Kabar baiknya adalah masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membantu mengurangi ketidakseimbangan ini. Kita tidak berada dalam situasi tanpa harapan, tetapi masih dapat melakukan perubahan. Perbedaan dapat dilakukan dari hal-hal kecil seperti memakai alat makan dan minum reusable, mengurangi penggunaan sedotan plastik, tissue, dan kertas, hingga tidak membeli barang maupun mengonsumsi makanan yang terbuat dari hewan langka. Kita tidak harus menjadi seorang environmentalist, kita hanya harus setuju bahwa kita sangat membutuhkan mereka untuk menjaga kestabilan planet ini.

 

Reference:

Marshall, Michael. 2015. What is the point of saving endangered species? (http://www.bbc.com/earth/story/20150715-why-save-an-endangered-species).

Hermawan, Zulfikar. 2016. Kenapa Harus Repot Melindungi Hewan Langka? (https://www.zenius.net/blog/13137/perlindungan-konservasi-satwa-hewan)

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in