Impact of Natural Disaster on Public Sector Corruption

bersarang-di-balik-rencana_01

Penulis: Eiji Yamamura

Tahun: 2014

Publisher: Springer

Jurnal: Public Choice, Vol. 161, No. 3/4 (December 2014), pp. 385-405

Diulas oleh Naura Nafisha, Ilustrasi oleh Stevannie Gunawan

 

Latar Belakang

Mausia sebagai penghuni bumi dan sering berinteraksi dengan alam, kerap kali mengalami pertistiwa alam yang tidak terhindarkan seperti bencana alam. Banjir, badai, longsor, gempa bumi, meletusnya gunung berapi, dan beragam bencana alam lain yang dapat merenggut harta benda maupun korban jiwa. Ketika bencana alam terjadi, banyak pihak yang berlomba-lomba untuk memberikan uluran tangan kepada korban bencana alam dan tentunya pemerintah ikut andil dalam memberikan bantuan. Peristiwa yang hangat dalam perbincangan topic ekonomi politik ini, sering dipergunakan untuk kepentingan suatu pihak, oknum, atau individu untuk keuntungan masing-masing. Peristiwa alam ini dijadikan ajang untuk mencari muka, membaguskan nama, mencari keuntungan sendiri, atau bahkan menjadi sarana korupsi.

Contoh konkrit bencana alam menjadi ajang aji-mumpung untuk beberapa pihak yaitu Hurricane Katrina. Dalam bencana tersebut terdapat tuduhan adanya permintaan suap dari beberapa pegawai publik kepada kontraktor dan tagihan proyek yang membengkak (Lesson dan Sobel, 2008). Kasus lain yaitu dana rekronstruksi setelah terjadinya Great East Japan Earthquakes, dilaporkan bahwa 3/11 dananya digunakan untuk proyek-proyek yang tidak terkait dengan bencana tersebut (Japan Times, 2012).  Tidak hanya itu, terdapat beberapa kasus pengalokasian dana bantuan bencana alam yang digunakan untuk keperluan lainnya oleh beberapa politikus untuk meningkatkan kemungkinan kemenangan di eleksi berikutnya (Garret dan Sobel, 2003).

Tujuan

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis bertujuan untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana dan faktor apa yang menetukan perbedaan tingkat korupsi pada berbagai jenis dan kondisi benca alam.

Data

Penelitian ini menggunakan country-level panel data dari tahun 1990 hingga 2010 mencakup 84 negara. Data ini didapatkan dari EM-DAT (the International Disaster Database manage by the World Health Organization’s). Bencana alam sangat beragam jenis dan karakteristiknya sehingga perlu pengklasifikasian lebih lanjut untuk mempermudah pembahasan. Penelitian-penelitian sebelumnya melakukan klasifikasi bencana alam yaitu banjir, badai, longsor, gempa bumi, gunung meletus, dan lainnya. Masing-masing bencana memiliki sub kategorinya lagi. Sebagai contoh banjir terdapat 3 sub kategori, banjir biasa, banjir bandang, dan gelombang badai.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, paper ini menyederhanakan klasifikasi yang ada. Banjir terbagi menjadi banjir biasa dan banjir lainnya (banjir bandang dan gelombang badai). Badai terbagi menjadi badai tropis dan badai lainnya (badai musim salju dan gelombang badai). Selain itu merujuk pada Skidmore dan Toya, penelitian ini juga membagi bencana alam menjadi climatic disaster dan geolocial disaster. Climatic disaster berupa banjir dan badai, sedangkan geological disaster yaitu tanah longsor, gempa bumi, dan gunung meletus. Jika dilihat dari frekuensi terjadinya bencana alam maka climatical disaster lebih sering terjadi dibandingkan geological disasters. Dampak kerusakan pada properti yang diakibatkan geological disaster lebih besar dibandingkan climatic disaster.  Namun, keduanya sama berbahayanya terhadap nyawa manusia.

1

Data penulis menunjukkan rata-rata kerugian yang diakibatkan oleh bencana alam dalam milyar US dollars. Estimasi kerugian oleh bencana alam gempa bumi sebanyak US$2,400 milyar. Sedangkan untuk badai tropical estimasi kerugian sebanyak US$200 milyar, dan untuk badai lainnya, gunung meletus, dan longsor sebanyak US$20 milyar. Perihal karakteristik masing-masing bencana alam beserta prediksi kerusakan dan frekueansi terjadinya tertera pada tabel 1.

2

Untuk data korupsi publik didapatkan dari International Country Risk Guide dimana data tersebut dipersiapkan oleh Political Risk Service Group Inc. Data diperoleh dengan skala 0 hingga 6, dimana semakin tinggi angka maka semakin tinggi tingkat korupsi. Figure 1 menunjukkan grafik tingkat korupsi dan terjadinya bencana alam pada 84 negara observasi. Terlihat bahwa sejak 1992 hingga 2010 baik korupsi maupun bencana memiliki trend yang positif.

3

Metodologi

Terdapat fungsi estimasi dalam penelitian ini sebagai berikut:

4

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah korupsi Cit dimana i adalah negaranya dan t adalah tahun. Variabel independen yaitu jumlah terjadinya bencana, Gross Domestic Produk (GDP), jumah populasi, dan trend waktu. Faktor-faktor lain yang tidak terobservasi dinotasikan uit dan eit adalah error term.

Penelitian ini membedakan antara negara maju dan berkembang, dimana negara maju dianggap sebagai anggota OECD dan negara berkembang bukan anggota OECD. Penjelasan lebih lengkapnya tertera pada tabel 2.

Penulis memiliki dua hipotesis dalam penelitian ini. Hipotesis pertama tingkat korupsi publik semakin meningkat ketika bencana alam terjadi.Hipotesis kedua adalah ketika tingkat kerusakan akan bencana alam signifikan, maka tingkat korupsi sektor publik meningkat. Masih pada hipotesis kedua, penulis berhipotesis bahwa tingkat korupsi sektor publik meningkat jika bencana alam sering terjadi. Untuk membuktikannya pengolahan data menggunakan metode robust standard errors clustered.

5

Hasil dan Analisis

Hasil regresi ditunjukkan pada tabel 3 memperlihatkan hasil secara keseluruhan. Adanya bencana alam yang terjadi tidak hanya di satu tahun tetapi beberapa tahun menyebabkan penulis membagi analisis menjadi masing-masing bencana alam dan bencana alam seluruhnya. Sehingga terdapat kemungkinan bahwa satu jenis bencana alam tidak signifikan tetapi bila dilihat pengaruh keseluruhan benca alam akan signifikan.

Hasil regresi pada tabel 3 menunjukkan bahwa bencana alam secara keseluruhan (natural disaster) memiliki koefisien yang positif dan mayortias signifikan secara statistik baik di negara berkembang maunpun negara maju. Merujuk pada hasil ini, maka hipotesis pertama benar adanya dan sejalan dengan olahan data peneliti. Uniknya, bila dilihat secara masing-masing bencana alam pada kolom 2 dan 4, korelasi yang dimiliki tidak semuanya positif. Ternyata banjir biasa, badai lainnya, dan gunung meletus korelasinya bertanda negatif. Tetapi perlu diingat bahwa terdapat kemungkinan adanya bias dan eror sehingga hasil mengenai pertanyaan tersebut tidak terlalu akurat.

Pada negara maju, bencana banjir biasa, banjir lainnya, badai lainnya, dan gempa bumi memiliki korelasi yang positif dan signifikan terhadap korupsi sektor publik. Selanjutnya, bencana yang mengakibatkan kerusakan lebih parah dibandingkan bencana lain secara signifikan di negara maju maupun negara berkembang adalah gempa bumi. Meskipun, jika dilihat rata-rata tingkat kerusakan per bencana tidak memiliki perbedaan yang cukup jauh. Penelitian ini menunjukkan bahwa banjir biasa, badai lainnya, dan gempa bumi merupakan bencana alam yang sering terjadi di neagara maju. Hipotesis kedua ternyata secara signifikan terjadi pada hasil negara maju (OECD Countries) yang ditunjukkan pada tabel 3 kolom 6.

Beralih pada tabel 5, disini tersedia total efek masing-masing bencana terhadap korupsi. Sama seperti tabel 3, olahan data diklasifikasi menjadi negara maju dan negara berkembang. Melihat dari semua sampel atau semua negara (kolom 1), badai tropis dan gempa bumi meningkatkan tingkat korupsi sebesar 0,029 dan 0,228. Dilain sisi, bencana banjir biasa, badai lainnya, dan gunung meletus menunrunkan tingkat korupsi. Tetapi, untuk hal ini kita perlu menelaah lebih lanjut dan lebih baik melihat per kategori jenis negara karena dapat terjadi eror.

Semua jenis bencana memiliki korelasi yang positif dengan korupsi pada negara maju. Hal yang menarik adalah hampir semua koefisien bencana alam di negara maju, kecuali gempa bumi, lebih besar dibandingkan dengan koefisien negara berkembang. Menurut penulis, hal ini disebabkan oleh perhitungan yang lebih akurat dan jarang terjadi bias terjadi pada negara maju sehingga koefisien yang dihasilkan lebih tinggi.

Pada negara berkembang, hanya badai tropis dan gempa bumi yang berkorelasi positif, bencana lainnya berkorelasi negatif dengan tingkat korupsi sektor publik. Namun, bencana yang secara statistik signifikan hanyalah badai tropis, gempa bumi, dan gunung meletus.

Berdasarkan hasil olahan data, bencana alam yang frekuensi terjadi cukup sering, memiliki efek kepada korupsi lebih besar meskipun kecil kerusakan yang dihasilkan. Maka kasus negara maju lebih sejalan dengan hipotesis 2. Walaupun studi terdahulu menyebutkan bahwa korupsi cenderung memiliki koreasi negatif dengan tingkat pertumbuhan ekonomi, nyatanya penelitian ini menemukan bahwa bencana alam menyebabkan korupsi pada sektor publik lebih tinggi pada negara maju dibandingkan negara berkembang.

6

Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bencana alam dapat memicu sektor publik untuk melakukan korupsi. Selanjutnya, baik di negara maju maupun berkembang, bencana yang sering terjadi dan kerusakan yang cukup parah dapat meningkatkan tingkat korupsi. Sejalan dengan pembahasan studi sebelumnya mengenai bantuan dari luar negeri, bahwa dana bantuan bencana menyebabkan terjadi korupsi dimana semakin banyak dana yang masuk semakin tinggi tingkat korupsi (Lesson dan Sobel, 2008). Kemudian, ditemukan juga bahwa efek korupsi dari bencana alam ini lebih tinggi dampaknya pada negara maju dibandingkan dengan negara berkembang. Terakhir, di negara maju, frekuensi terjadinya bencana bereperan lebih signifikan meningkatkan tingkat korupsi. Lain halnya di negara berkembang, tingkat kerusakan yang terjadi akibat bencana berperan signifikan meningkatkan tingkat korupsi sektor publik.

7

8

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in