Terrorism: Existential or Economic Bad?

GrandmaTest

Penulis : Juliet U. Elu

Diulas oleh M. Raihan Ramadhan dan Ilustrasi oleh Adimas Bagus W.

Tanggal 13 Mei lalu, Indonesia dientakkan dengan gelombang teror yang melanda beberapa kota besarnya. Target-target yang diserang sekilas memperlihatkan apa motif dari perilaku teror tersebut. Pengetahuan akan motif ini semestinya membuat kita mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencegah kejadian yang dapat melumpuhkan perekonomian negara. Namun, apakah memang sesederhana itu?

Banyak negara yang lebih maju dari Indonesia masih tetap mengalami serangan-serangan teror. Bahkan ketika analisis yang dilakukan telah sampai pada tahapan di mana database perbankan digunakan untuk mencegah teror, 1% statistical error masih berarti ratusan ribu hingga jutaan orang tak bersalah yang diduga sebagai teroris. Apalagi ketika kita hanya mendasari dugaan teror pada kesamaan motif atau ideologi?

Pada pembahasan jurnal kali ini, kita akan memandang terorisme dengan menganggapnya sebagai suatu barang. Juliet U. Elu, dalam jurnalnya “Terrorism in Africa and South Asia: Economic or Existential Good?”, hendak melihat hingga titik apa terorisme di Afrika dan Asia Selatan dianggap sebagai economic good—yang dapat dijelaskan dengan standar pilihan rasional—atau existential good.

Selain pengelompokkan sebagai 2 barang tersebut, Juliet juga membuat 2 kelompok untuk orientasi para teroris. Orientasi Present-Aim merupakan orientasi yang didasari pada kepuasan maksimal dari kehancuran besar dengan cara paling efektif dan efisien. Kelompok teroris dengan orientasi ini tidak lagi menggunakan metode yang masuk akal dan tidak ada tindakan evaluasi dari aksi yang telah dilakukan. Orientasi Present-Aim menjadikan terorisme sebagai existential good. Orientasi Self-Interest merupakan orientasi yang didasari pada analisis cost-and-benefit. Sehingga, setiap aksi yang dilakukan didasari pada trade off antara sumber daya dan efek teror.

 

Analisis Ekonomi

Orientasi Self-Interest

  • Indifference Curve memiliki slope negatif.
  • Convex pada origin.
  • Konsisten pada pembuatan preferensi.
  • MRST,N > 0

 

Analisis Indifference Curve tersebut menunjukkan bahwa teroris dengan orientasi ini rela untuk menoleransi pengurangan pada pendapatan sebagai trade off dari efek teror. Teroris dengan orientasi ini hanya melakukan aksi ketika hasil yang didapatkan tinggi, karena hal tersebut mengindikasikan biaya peluang yang tinggi pula. Jurnal ini mengasumsikan bahwa efek substitusi dan pendapatan menjadikan kurva permintaan untuk aksi teror dan aksi non-teror selalu downward sloping.

 

Orientasi Present-Aim

  • Tidak ada trade off antara aksi teror dan non-teror. U = f (T, N)
  • MRST,N = 0

 

Pada orientasi ini, pilihan pada dasarnya merupakan kasus ‘eksistensi’ dan dijustifikasi tidak memiliki konsiderasi pada cost-and-benefit. Namun, orientasi ini memiliki konsiderasi pada prinsip yang merepresentasi tujuan politik yang ideal. Pada konteks ini, bom bunuh diri yang tidak masuk akal mungkin memiliki insentif pada kehidupan di akhirat dan keuntungan untuk meninggalkan kehidupan di dunia.

 

Data dan Hasil Penelitian

Sampel yang digunakan oleh penelitian ini terdiri dari 28 grup teroris di Afrika dan 106 grup teroris di Asia Selatan yang didapatkan dari Global Terrorism Database (GTD). Pemilihan grup teroris didasari pada aktivitas dari tahun 1980-2004 dan grup yang menjadi dalang dari 10 atau lebih kejadian setiap tahunnya.

Menggunakan metode regresi Ordinary Least Squares, penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif antara pendapatan per kapita dengan jumlah serangan teror. Di Afrika, jumlah serangan naik hingga 150% ketika pendapatan per kapita meningkat dari $2,000 ke $12,000. Di Asia Selatan, jumlah serangan naik hingga 350% ketika pendapatan per kapita meningkat dari $2,000 ke $8,000. Coefficient of Determination (r2) untuk Asia Selatan dan Afrika antara jumlah serangan teror dan pendapatan per kapita dalam jangka waktu 1980-2005 adalah signifikan. Dengan besaran Asia Selatan 0.8 dan Afrika 0.7.

Maka hasil penelitian ini menunjukkan konsistensi pada perilaku optimisasi self-interest, di mana pelaku teror menggunakan analisis cost-and-benefit antara pendapatan dan efek teror. Terorisme tampak sebagai suatu economic good dan grup teroris di negara dengan GDP yang lebih tinggi lebih berkemungkinan untuk melancarkan aksinya.

Penemuan selanjutnya yaitu negara berkembang di Asia Selatan dan Afrika dengan pendapatan per kapita yang rendah dan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi relatif dari negara barat kami kira akan melahirkan kelompok teroris dengan orientasi present-aim. Namun, penemuan jurnal ini mendukung sebaliknya yang mana teroris tidak melakukan aksi hanya untuk keinginan eksistensi melainkan untuk pilihan ekonomis menyangkut kepentingan pribadi.

 

             Kesimpulan

  1. Setidaknya di Afrika dan Asia Selatan, terorisme tidak dimotivasi oleh tujuan politik, eksistensi, atau dunia akhirat. Penelitian ini menemukan bahwa aksi terorisme lebih bersandar pada teori self-interest di mana pilihan teror dikondisikan pada cost, benefit, dan sumber daya.
  2. Karenanya, intervensi keamanan pada kedua benua itu harus difokuskan pada barang normal yang menjadi komplemen dan input dari aksi terorisme. Karena semakin mahal barang yang diasosiasikan pada kegiatan teror, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan dan peluang kesuksesan akan semakin kecil.
  3. Terorisme merupakan Barang Ekonomi yang elastis terhadap pendapatan.

 

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in