SOCIAL MEDIA AND FAKE NEWS IN THE 2016 ELECTION

GTEST HILLARY CLINTON2

Penulis             : Hunt Allcott and Matthew Gentzkow

Tahun              : 2017

Jurnal               : The American Economic Review, Vol. 31, No. 2, Journal of Economic Perpectives pp. 211-236

Publisher         : American Economic Association

Diulas oleh Rizqi Qurniawan dan Ilustrasi oleh Stevannie Gunawan

 

Latar Belakang dan Tujuan

Demokrasi Amerika Serikat diterjang dan dipengaruhi oleh adanya perubahan teknologi media sosial. Perubahan teknologi media sosial semakin berkembang, khususnya dalam penyebaran berita, dimana semakin diversitasnya dalam pandangan menyikapi berita. Salah satunya Facebook, konten atau post yang dapat disampaikan keseluruh orang tanpa filterisasi pihak ketiga, pemeriksaan fakta, dan penilaian editorial.

Pada Pemilihan Presiden US 2016, Fake news/ Hoax/ berita bohong menjadi konsen utama yang tersebar di media social. Bukti terbaru mengatakan bahwa: 1) 62% orang dewasa mendapatkan berita dari sosial media (Gottfried and Shearer 2016); 2) Berita bohong lebih banyak dibagikan di Facebook daripada berita utama yang paling populer (Silverman 2016); 3) Banyak orang yang melihat berita palsu melaporkan bahwa mereka mempercayainya (Silverman dan Singer-Vine 2016); dan 4) Berita palsu yang paling sering dibahas cenderung mendukung Donald Trump atas Hillary Clinton (Silverman 2016). Dengan mengumpulkan fakta-fakta ini, sejumlah komentator menyatakan bahwa Donald Trump tidak akan terpilih sebagai presiden jika bukan karena pengaruh berita palsu (untuk contoh, lihat Parkinson 2016; Baca 2016; Dewey 2016).

Tujuan dari jurnal tersebut adalah memberikan gambaran teoritis dan empiris mengenai berita bohong dan pengaruhnya dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

The Market for Fake News

Berikut definisi dari berita bohong: 1) kesalahan pelaporan yang tidak disengaja, seperti laporan salah baru-baru ini bahwa Donald Trump telah menyingkirkan patung Martin Luther King Jr. dari Oval Office di Gedung Putih; 2) rumor yang tidak berasal dari artikel berita tertentu; 3) teori konspirasi (ini, menurut definisi, sulit untuk diverifikasi sebagai benar atau salah, dan mereka biasanya berasal dari orang-orang yang percaya mereka benar), 4) satir yang tidak mungkin disalahartikan sebagai faktual; 5) pernyataan palsu oleh politisi; dan 6) laporan yang miring atau menyesatkan tetapi tidak sepenuhnya salah.

Lalu, siapa yang memproduksi dan hulu dari penyebaran berita palsu? Artikel berita palsu berasal dari beberapa jenis website, seperti denverguardian.com, wto5news.com, endingthefed.com, dan US Company yaitu Disinfomedia. Terdapat dua alasan utama dalam menyediakan berita palsu yaitu keuangan dan ideology. Alasan pertama mengatakan bila penyedia berita palsu akan senang jika berita tersebut viral atau tersebar luas di media masyarakat sehingga membuat masyakat akan terus mengunjungi situs hoax tersebut. Hal tersebut dikarenakan penyedia berita mendapat keuntungan dari jasa iklan. Alasan kedua yaitu ideologi dimana konten isi berita membahas mengenai isu-isu terkait kandidat presiden, sehingga konsumen akan semakin terpengaruh apakah benar preferensi untuk memilih kandidat X dan sebagai ajang kampanye politik.

f1

 

f2

f3

Figure 1 memuat rekam jejak berita palsu selama beberapa tahun dan seberapa persen masyarakat mengakuinya. Dari sejarah panjang berita palsu tersebut, ada beberapa alasan mengapa berita hoax mudah berkembang (masyarakat mudah terpengaruh) dan semakin marak. Pertama, hambatan masuk dalam industri media telah menurun drastis, baik karena pada masa sekarang produsen mudah untuk membuat situs web dan mudah untuk memonetisasi konten web melalui platform iklan. Kedua, media sosial sangat cocok untuk penyebaran berita palsu, dan penggunaan media sosial telah meningkat tajam. Pada tahun 2016, pengguna aktif Facebook mencapai 1.6 miliar pengguna perbulan sedangkan Twitter mencapai 400 juta pengguna perbulan. Ketiga, penurunan kepercayaan media mainstream seperti CNN, PolitiFact (karena kecondongan untuk tidak netral) membuat semakin berita bohong berkembang. Pada Figure 2 (A) terlihat bahwa terjadi penurunan kepercayaan diantara dua pendukung partai presiden terhadap media mainstream dari tahun 1998 hingga 2014. Keempat, semakin mudahnya orang untuk mempercayai konten negative dari berita bohong tersebut. Maksudnya, bahwa orang-orang yang mendapatkan berita dari Facebook (atau media sosial lainnya) cenderung tidak untuk menerima bukti tentang keadaan sebenarnya dari dunia yang akan melawan ideologi yang selaras dan mengungkap bahwa mereka yang pro-Republican secara relatif lebih menikmati berita palsu. Figure 2 (B) menunjukkan bahwa rasa kepercayaan dalam mempercayai berita diantara dua pendukung partai berfluktuasi sepanjang tahun dan cenderung menurun, dengan di tahun 2014 menunjukkan banyak masyarakat pendukung. Demokrat lebih dingin atau tidak percaya dalam menanggapi berita terkait partai Republic.

Mengapa berita palsu/hoax lebih dipercayai seolah-olah tampak berita benar?

Konsumen mendapatkan kepuasan melalui 2 jalur. Jalur pertama, bahwa mereka ingin mengetahui kebenaran berita. Kedua, konsumen dapat memperoleh manfaat psikologis dari melihat laporan yang konsisten dengan prior (ideologi) mereka. Konsumen memilih perusahaan dari mana mereka akan mengkonsumsi berita untuk memaksimalkan utilitas yang diharapkan mereka sendiri. Kemudian mereka menggunakan isi laporan berita yang telah mereka konsumsi untuk membentuk posterior tentang keadaan dunia. Dengan demikian, konsumen menghadapi trade-off: mereka memiliki insentif pribadi untuk mengkonsumsi berita yang tepat dan tidak bias, tetapi mereka juga menerima utilitas psikologis dari berita konfirmasi yang sesuai dengan ideologinya.

Setelah konsumen memilih untuk membaca berita sesuai kehendaknya, mereka akan menerima tambahan feedback mengenai kondisi apa sebenernya yang dihadapi kandidatnya. Kemudian konsumen akan mengirimkan good comment terhadap media tersebut seolah-plah mereka telah ter-update dan semakin percaya akan konten berita. Akibatnya, produsen diuntungkan karena meningkatnya jumlah konsumen yang membaca berita tersebut karena pendapatan iklan kemudian mereka berinsentif untuk membangun reputasi dalam memberikan utilitas yang lebih kepada konsumen. Eksternalitas positif akan timbul jika konsumen memilih higher-quality candidate.

Lantas Bagaimana kita memahami berita palsu dalam konteks model seperti itu?

Produser berita palsu adalah perusahaan dengan dua karakteristik yang membedakan. Pertama, mereka tidak membuat investasi dalam pelaporan yang akurat, sehingga sinyal yang mendasarinya tidak dikoreksi dengan keadaan sebenarnya. Kedua, mereka tidak berusaha membangun kualitas reputasi jangka panjang, tetapi memaksimalkan keuntungan jangka pendek dari meng-klik berita utama dalam periode awal sebagai berita yang memiliki daya tarik tinggi untuk dilihat (menjadi headlines news). Tetapi kita dapat membayangkan bahwa perusahaan semacam itu menarik permintaan karena konsumen tidak dapat membedakannya mana berita yang berkualitas lebih tinggi, dan juga karena laporan mereka disesuaikan untuk memberikan utilitas psikologis kepada konsumen apakah cenderung ke kiri atau kanan spektrum politik.

Selain itu, Menambahkan produsen berita palsu ke pasar memiliki beberapa potensi biaya sosial. Pertama, konsumen yang salah mengira outlet berita palsu memiliki keyakinan yang kurang akurat. Kedua, keyakinan yang kurang akurat ini dapat mengurangi eksternalitas sosial yang positif, merusak kemampuan proses demokrasi untuk memilih kandidat berkualitas tinggi. Ketiga, konsumen juga dapat menjadi lebih skeptis terhadap para pembuat berita yang sah (asli), sampai-sampai mereka menjadi sulit dibedakan dari produsen berita palsu. Keempat, mengurangi insentif dalam menyediakan berita dengan fakta yang benar akibat permintaan data pasti yang berkurang.

Metode dan Hasil Penelitian

Data diperoleh dengan membagikan survey online kepada warga Amerika Serikat berumur 18 tahun keatas melalui platform SurveyMonkey. Survei terdiri dari 4 bagian: bagian pertama mengenai kesediaan untuk mengisi form, bagian kedua mengenai demografi, bagian ketiga mengenai konsumsi berita pemilu, dan bagian 4 berisi 15 judul berita utama terkait pemilu. Pada bagian keempat, setiap judul berita yang ditanyakan adalah apakah berita tersebut pernah terbaca atau didiskusikan dan apakah dugaan terbaik anda terkait berita tersebut adalah pernyataan yang benar. 15 judul berita tersebut dibagi menjadi 2 pilihan yaitu, pro-Trump atau pro-Clinton dan terpilih secara acak dari 30 judul berita yang terbagi menjadi, 6 judul berita berisi kebohongan besar pada media artikel yang terkenal, 6 judul berita benar/fakta pada dari Guardian’s election timeline, 6 judul berita yang berisi ambiguitas benar salah pada PolitiFact, 3 judul berita ambiguitas benar atau salah terkait setiap kandidat (Trump/Clinton), dan 6 berita placebo (berita palsu yang dibuat-buat) yang dibuat oleh Oliver dan Wood (2014).

Selain itu, dalam data-data berita bohong yang telah didapatkan, penulis mencatat 41 berita/artikel yang mendukung Pro-Clinton (anti-Trump) dan 115 artikel yang Pro-Trump dimana telah disebarkan melalui Facebook sebanyak 7.6 juta dan 30.3 juta kali berturut-turut.

Appendix Table 1: News Headlines Used in the Post-Election Survey

f5

f6

Appendix Table 2: Rates of seeing and believing fake news relative to placebo fake news

f7

Berdasarkan hasil tersebut, dengan asumsi responden tidak lupa dengan artikel yang dibaca bahwa dari 8458 warga US, sekitar 15% orang masyarakat US pernah membaca berita palsu dan 7,9% signifikan membaca sekaligus mempercayai bahwa berita hoax saat menjelang Pemilu. Selain itu, dari 3624 responden, sekitar 8.3% secara signifikan mempercayai berita placebo, yaitu berita palsu yang dibuat-buat.

Jika dilakukan perhitungan terhadap kaitannya penggunaan media sosial dengan berita hoax yaitu, rata-rata artikel hoax dibagikan melalui Facebook sebanyak 0,386 juta kali, dan sebanyak 1,2% masyarakat pernah membaca berita bohong (placebo). Maka sebanyak 0.03 peluang (0.012/0.386) sebuah artikel hoax tersebar di Facebook. Seperti yang kita ketahui bahwa berita hoax menyebar di Facebook sebanyak 38 juta sebaran, maka rata-rata masyarakat US-dewasa membaca dan mengingat sebanyak 1.14 berita hoax (0,03/juta x 38 juta).

Selain interprestasi diatas, penulis menggunakan model regresi sederhana untuk mengetahui 2 parameter, yaitu:

1. Kepercayaan berita palsu atau benar terhadap variable lain yang diteliti

Model Regresi (1)

f9

f8

Berdasarkan tabel 1 diatas kita dapat melihat: memang benar bahwa responden yang tergabung dalam Partai Republik secara statistik lebih kurang (daripada Demokrat) untuk melaporkan bahwa mereka tidak percaya artikel yang salah. Disisi lain, responden yang tergolong dalam Republican juga lebih mempercayai berita benar, sehingga mereka mudah dipercayai akan benar/tidaknya suatu berita. Selain itu, semakin bertambahnya usia, berpendidikan, dan seseorang yang meluangkan lebih banyak waktu untuk media sosial secara signifikan lebih mempercayai berita benar dan tidak mempercayai berita palsu. Terakhir, ternyata memang benar, bahwa media social adalah sumber utama paling penting dan mereka yang tergabung dalam Republican secara signifikan lebih mempercayai berita benar dan berita salah.

2. Kepercayaan berita palsu/benar dengan inferensi ideology partai dimana menjawab mengapa dan factor apa Republican lebih mempercayai berita Pro-Trump dibanding Pro-Clinton, atau sebaliknya pada Democrat. Model regresi (2) ini yaitu:

f10

f11

Berdasarkan tabel di atas, bahwa benar Democrat lebih mempercayai pro-Clinton headlines (tanpa memandang benar dan salah) begitu pula dengan Republican namun lebih kecil. Selain itu, terdapat korelasi pada 3 variabel yang selaras dengan ideologi masing-masing, yaitu Mereka yang kecanduan media social lebih condong mempercayai berita yang berideologi sama. Mereka yang tersegragasi dalam jaringan social juga lebih condong untuk percaya berita yang selaras dengan ideologi karena mereka tidak menerima informasi dari yang lain. Selain itu, mereka yang netral (undecided) signifkan untuk tidak mempercayai berita yang condong ke ideologi masing-masing.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in