Siapa Saya dan Anda dalam Pemikiran Ekonomi?

Sebuah kemustahilan apabila mengharapkan ekonomi sebagai ilmu sosial lepas dari perdebatan dan perbedaan pendapat. Tentu anda juga sudah sering mendengar dan membaca perbedaan pandangan dalam hal formulasi kebijakan ekonomi, entah di ranah praktisi atau akademisi. Namun pernahkah anda bertanya atau mempertanyakan posisi anda dan eksistensi diri anda dalam pergulatan pemikiran ekonomi? Kapitalis kah? Sosialis? Syariah? Apabila iya, maka mari kita bahas dan pertanyakan bersama siapa kita dalam pemikiran ekonomi?

Abad 18 akhir, seorang filsuf kenamaan Skotlandia, Adam Smith, menulis sebuah buku penting yang pada kemudian hari dijadikan rujukan utama oleh ekonom-ekonom yang kita sebut sebagai ekonom gaya klasik. Pandangan Adam Smith, yang menjadi tamparan cukup kuat bagi negara-negara yang masih tergila-gila dengan perang untuk berburu emas, menekankan bahwa pada akhirnya efisiensi adalah keadaan final dari sebuah bentuk pasar yang kompetitif. Tentu banyak yang telah Adam Smith jelaskan dalam bukunya tersebut, namun mari kita bahas teori dasarnya saja.

Abad 19 akhir, seorang filsuf kenamaan Prusia, Karl Marx, membuat sebuah pernyataan yang sangat anti-mainstream, yaitu sebuah kondisi yang disebut sebagai alienasi. Apabila sebelumnya efisiensi dianggap yang paling adil, sekarang seorang pemikir dituntut untuk mengakui fakta bahwa efisiensi menghasilkan sebuah kondisi keterasingan bagi kaum lemah. Tentu masih banyak lagi pemikiran Karl Marx, namun mari kita bahas yang sederhana saja.

Abad 20 awal, ekonomi diuji dengan berbagai cobaan, mulai dari panic 1907, great depression, serta krisis-krisis parsial yang dialami berbagai negara akibat dari perang dunia 1 dan 2. Dari rentetan masalah tersebut muncul seorang golden boy, yang sekarang kita kenal pandangan besarnya Keynessian, bernama John Maynard Keynes. Salah satu tulisannya yang berjudul The End of Laizzes Fair seakan menjadi tulisan hangat yang berani menantang paham ekonomi pasar ala Adam Smith. Kita dipaksa mengakui bahwa pasar tidak bisa berjalan sesempurna yang kita harapkan, di mana pada akhirnya kita membutuhkan intervensi pemerintah. Tentu masih banyak lagi pemikiran Keynes, namun mari kita bahas yang sederhana saja.

Abad 20 pertengahan, ekonomi kembali diuji dengan apa yang kita sebut sebagai stagflation 1970. Dogma-dogma Keynessian perlahan mulai diragukan ketepatannya dalam menjelaskan fenomena ekonomi. Golden boy baru muncul dari kalangan yang kita sebut sebagai monetarist, Milton Friedman. Memberi ruang untuk pemerintah melakukan intervensi kepada pasar adalah sebuah dosa besar dalam proses ekonomi. Begitulah pandangan Milton Friedman dan kaum monetarist secara umum. Tentu masih banyak lagi pemikiran Milton Friedman, namun mari kita bahas yang sederhana saja.

Ekonomi sejauh ini telah mengalami berbagai ujian. Seperti kata pepatah, “Semakin banyak kau telan ujian, semakin indah kau punya masa depan.” Pada awal abad 21 hal itulah yang ditekankan Robert Lucas dan Ben Bernanke. Dengan penuh keyakinan Robert Lucas menyatakan satu kalimat ajaib, “The central problem has been solved.” Lalu dilanjutkan dengan pernyataan Ben Bernanke tentang berlakunya sebuah keadaan yang disebut sebagai Great Moderation. Bahkan secara empiris James Stock dan Mark Watson, dalam paper berjudul “Has the Business Cycle Changed and Why?”, memaparkan perkembangan ekonomi yang mulai stabil dilihat dari volatilitasnya yang mulai berkurang.

Dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi tersebut nyatanya pada tahun 2008 – 2018 sekarang kita masih harus merasakan dan melihat krisis ekonomi yang lebih canggih. Titik puncak dari masalah tersebut adalah ketika kita seakan mencoba untuk mulai tidak percaya terhadap efektivitas uang, yang akhrinya membuat bitcoin berkembang pesat. Kita mulai tidak percaya bahwa bumi akan memiliki umur lebih lama, yang akhirnya membuat Elon Musk menjadi lebih bersemangat dalam mewujudkan mimpi membuat koloni di Mars. Dan ketidakpercayaan lain yang saya yakin akan memiliki pola yang sama seperti ketidakpercayaan sebelumnya yang menghasilkan sebuah perbaikan dan perkembangan.

Jadi siapa saya dan anda dalam pemikiran ekonomi? Apakah Komunis? Liberalis? Agamis? Menurut saya, bukan ketiga-tiganya. Di era yang sudah semaju sekarang, menurut saya, adalah sebuah kebodohan ketika kita hanya membatasi diri dengan sebuah label pandangan tertentu dalam mendefinisikan perilaku dan pemikiran kita. Jawaban yang paling memuaskan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah anda seorang yang skeptis terhadap pemikiran ekonomi apapun. Sebab sejauh anda percaya dengan buta suatu pandangan tertentu, maka mungkin anda tidak dapat menjadi aktor dalam pergulatan pemikiran ekonomi yang sangat complicated ini.

Oleh As’ad (Ilmu Ekonomi 2016)

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in