Realisasi Target Pembangunan Super Cepat: EBA Adalah Koentji

Pencerahan Soal Efek Beragun Aset (EBA)

Efek Beragun Aset (EBA) atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Asset-backed Security adalah surat berharga (efek) yang terdiri dari sekumpulan aset keuangan seperti tagihan kartu kredit, pemberian kredit (termasuk kredit pemilikan rumah dan kredit mobil), efek bersifat utang yang dijamin pemerintah, dan arus kas. Jadi, kreditor awal mengalihkan pendapatan atas kredit tersebut ke pemegang EBA. Jangan pusing dulu, di bawah ada versi mudahnya!

Nah, versi mudahnya seperti ini. Bayangkan Bank BTN akan membangun seratus rumah. Targetnya adalah akan ada seratus keluarga yang membeli rumah tersebut dengan sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Salah satu cara Bank BTN mendapatkan dana untuk membangun seratus rumah tersebut adalah dengan menjual EBA yang berisi bagian dari tagihan KPR tersebut. Jadi, Bank BTN akan mendapat uang segar dan cepat dengan menjual EBA, sedangkan para pembelinya (investor) mendapatkan hak atas pendapatan dari cicilan KPR tersebut. Nantinya, hak atas cicilan KPR tersebut dibagikan dalam bentuk kupon seperti obligasi.

Jadi jangan sampai salah paham ya! Ketika Bank BTN menjual EBA atas KPR, yang dijual bukan rumahnya tetapi arus kas (cash flow) dari KPR tersebut. Pun begitu ketika Jasa Marga menjual EBA atas jalan tol. Bukan jalan tolnya yang dijual! Tetapi pendapatan atau cash flow dari jalan tol tersebut.

Percepatan Pembangunan: Kasus Tol Jagorawi

Tepat pada tanggal 31 Agustus 2017 lalu di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan dihadiri Presiden RI Joko Widodo, Jasa Marga melaksanakan pencatatan perdana EBA Mandiri JSMR01-Surat Berharga Hak Atas Pendapatan Tol Jagorawi. Mengulang penjelasan di atas, efek tersebut menjual pendapatan atas sebagian ruas Tol Jagorawi untuk jangka waktu tertentu. Jadi yang dijual adalah cash flow dari pendapatan Tol Jagorawi. EBA atas jalan tol oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini adalah yang pertama kali diterbitkan di Indonesia dan disambut dengan antusias oleh para investor, dimana terlihat dari tingkat permintaan yang mencapai Rp5,1 triliun.

Lantas, bagaimana EBA dapat menjadi solusi percepatan pembangunan? Bayangkan saja kondisi seperti ini[1]. Untuk membangun jalan tol, diperlukan dana awal untuk pembebasan lahan, misal Rp5 triliun. Salah satu sumber dananya adalah pendapatan dari Tol Jagorawi yaitu Rp1 triliun per tahun. Jika sekarang tahun 2018, maka untuk memulai langkah awal pembangunan jalan tol atau pembebasan lahan saja baru bisa lima tahun kemudian atau tahun 2023. Beruntung Jasa Marga sudah mulai berani menjual EBA sehingga tidak perlu menunggu lima tahun untuk mulai membangun jalan tol baru.

Percepatan Pembangunan: Solusi Pembangunan Rumah

Salah satu masalah yang dihadapi perbankan dalam menyalurkan KPR saat ini adalah maturity miss match dan funding gap. Ini terjadi karena sumber pembiayaan rumah berasal dari dana pihak ketiga yang bersifat jangka pendek (tabungan) kemudian disalurkan ke pembiayaan jangka panjang (KPR). EBA oleh perbankan, yang sudah dikeluarkan oleh Bank BTN salah satunya, merupakan solusi atas masalah ini. Dana dalam proses penyaluran KPR merupakan dua dana yang memiliki karakteristik sama yaitu jangka panjang. Berkurangnya dua risiko di atas oleh hadirnya EBA, diharapkan dapat mengoptimalkan waktu dan jumlah pembangunan rumah di Indonesia.

Oleh Hasyim Ali Shahab (Ilmu Ekonomi 2016)

 

Referensi:

Efek Beragun Aset. (n.d.). Retrieved from http://hdx.co.id/index.php/content/detail/96/Efek-Beragun-Aset

Jasa Marga Laksanakan Pencatatan Perdana Efek Beragun Aset (EBA) Mandiri JMSR-01. (2017, September 4). Retrieved from https://bit.ly/2uEMh7M

OJK Ingin Perbankan Manfaatkan Efek Beragun Aset. (2014, July 13). Retrieved from https://economy.okezone.com/read/2018/02/10/320/1857620/ojk-ingin-perbankan-manfaatkan-efek-beragun-aset?page=1

[1] Angka-angka yang digunakan merupakan bentuk permudahan.

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in