PRIMERA: “The Worst Trade Ever: To Sleep or Not To Sleep”

primera2

Tidur merupakan salah satu kebutuhan paling fundamental dalam hidup kita, namun gaya hidup sehari-hari sering kali menjadi motivasi mahasiswa untuk melepas beberapa jam tidur demi aktivitas lain. Kesibukan sebagai seorang mahasiswa selalu menjadi alasan yang menggambarkan seolah tidak ada salahnya untuk mengurangi jatah istirahat tubuh. Dalam bidang ekonomi sendiri, tidur hanya mendapatkan sedikit perhatian ketika fakta menunjukkan bahwa hampir sepertiga kehidupan manusia dihabiskan dalam ketidaksadaran. Beberapa penelitian medis mengemukakan bahwa kuantitas dan kualitas tidur memiliki dampak yang besar pada perkembangan manusia berserta kesehatannya. Dalam penelitian ini, kami hendak berfokus pada motivator dari perilaku begadang mahasiswa Universitas Indonesia dan bagaimana mereka menilai tidur itu sendiri. Simak Primera dari Divisi Penelitian Kanopi FEB UI kali ini, The Worst Trade Ever: To Sleep or Not To Sleep.

Data

Pada penelitian kali ini, digunakan 140 sampel mahasiswa Universitas Indonesia yang berasal dari seluruh fakultas dan program vokasi. Setiap fakultas, dipilih 10 orang secara acak untuk mengisi angket yang disebarkan melalui surel yang telah dibuat oleh Divisi Penelitian KANOPI FEB UI.

Bagaimana Mahasiswa Universitas Indonesia Menghabiskan Waktunya?

Bagian pertama penelitian menunjukkan bahwa selain kesibukan berupa belajar, 73% mahasiswa UI mengisi waktunya dengan bergabung dalam organisasi ataupun kepanitiaan. Kesibukan tambahan ini tentu membutuhkan tambahan waktu untuk penyelesaiannya dan terbukti pula bahwa 59% mahasiswa menjadikan tugas kuliah, organisasi, ataupun kepanitiaan sebagai alasan mereka begadang. Pengalokasian waktu untuk mengerjakan kesibukan tambahan ini diletakkan pada sekitar jam 11 malam hingga jam 2 pagi yang mana artinya paling tidak seorang mahasiswa mengurangi waktu tidurnya 3 sampai 4 jam dari 7 jam waktu tidur optimal. Setelah jam 3 pagi, jumlah mahasiswa yang begadang turun drastis karena mereka memilih untuk melanjutkannya nanti. Di dalam teori ilmu ekonomi sumber daya manusia dan ketenagakerjaan, total waktu yang dimiliki manusia diasumsikan digunakan untuk dua kepentingan, berkerja (work) dan waktu luang (leisure). Di dalam penelitian ini, tim peneliti ingin melihat bagaimanakah mahasiswa UI memandang sebuah aktivitas yang mereka lakukan sehari-hari – untuk melihat apakah aktivitas tersebut nantinya digolongkan sebagai sebuah pekerjaan atau aktivitas yang dikerjakan di waktu luang. Hasil menjelaskan apabila 91% mahasiswa UI beranggapan bahwa belajar diibaratkan sebagai pekerjaan, bukan sesuatu yang dikerjakan di waktu luang. Begitu pun kepanitiaan dan organisasi. Uniknya, 96% setuju apabila meluangkan waktu untuk menyelami sosial media (apapun keperluannya termasuk belajar dan komunikasi untuk kepanitiaan/organisasi) adalah bagian dari waktu luang. Temuan ini seolah-olah mendukung fakta sebelumnya yang menjelaskan pengalokasian waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang bertambah diiringi dengan berkurangnya waktu istirahat yang pada penelitian kali ini peneliti golongkan sebagai aktivitas di waktu luang.

primera

Penelitian ini juga menemukan bahwa begadang telah menjadi kebiasaan bagi mahasiswa UI pada level moderat baik itu bagi laki-laki maupun perempuan yang dijadikan sampel penelitian.

The Trade-off

Pada tanggal 28 Maret 1979, terjadi sebuah ledakan nuklir di Pulau Three Mile, Pennsylvania, Amerika Serikat. Kejadian ini mengakibatkan 140.000 warga harus diungsikan ke tempat yang terhindar dari radiasi senyawa penyusun nuklir yang berbahaya. Tujuh tahun berselang, kejadian yang sama terulang di belahan bumi yang lainnya. Tepatnya pada tanggal 26 April 1986,  sebuah bencana nuklir terbesar di dunia terjadi ketika Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Chernobyl meledak. Insiden ini menewaskan 31 orang dan membutuhkan kurang lebih 500.000 orang untuk proses pemulihan. Kerugian yang ditanggung diperkirakan mencapai angka Rp3,5 T dan meninggalkan dampak jangka panjang bagi penduduk sekitar yang terkontaminasi senyawa berbahaya reaktor nuklir. Publik cenderung menilai bahwa kesamaan dari kedua tragedi diatas hanyalah besar kerugian yang ditanggung serta objek utama dari kedua tragedi tersebut yaitu reaktor nuklir. Namun, apabila kita telaah lebih jauh, kedua hal tersebut ternyata disebabkan oleh hal yang sama dan tidak pernah diduga sebelumnya. Hal tersebut adalah sleep deprivation atau yang di dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah kekurangan tidur. Kekurangan waktu istirahat – yang mungkin masih dianggap sepele bagi sebagian besar masyarakat nyatanya tidak lah mustahil untuk menghadirkan sebuah malapetaka. Lalu, bagaimana yang terjadi dengan mahasiswa UI dengan jumlah waktu tidur yang kurang dari batas normalnya?

Bagian kedua penelitian mengungkapkan bahwa mahasiswa UI mengetahui berbagai biaya yang harus dibayarkan karena begadang, yaitu kesehatan, tingkat emosi, dan produktivitas. Sudah jelas apabila kekurangan tidur dalam jumlah yang besar akan berdampak negatif terhadap kesehatan manusia. Penyakit yang bisa saja menyerang manusia pada saat kekurangan tidur diantaranya pusing, migrain, flu, atau malfungsi beberapa organ tubuh – apabila jumlah kekurangan tidur sudah mencapai level yang membahayakan. Selain itu, orang yang kekurangan tidur nampak sedikit lebih emosional dibanding biasanya, hal ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh dokter yang berkutat di dalam bidang ini – meskipun nyatanya di Indonesia jumlahnya tak lebih dari 10 dokter yang berspesialisasi di ranah ini. Dapat disimpulkan, apabila mahasiswa UI mengetahui dengan baik biaya yang harus dikorbankan ketika mereka memutuskan untuk mengurangi jam tidurnya. Walaupun begitu, mereka tetap mau dan berusaha untuk tetap terbangun dengan berbagai metode seperti meminum kopi, mencuci muka, mendengarkan musik, atau bermain media sosial. Terkait metode terakhir—bermain media sosial—mahasiswa UI sering kali justru terdistraksi dari pekerjaan yang hendak ia selesaikan dengan begadang. Fitur-fitur yang mereka anggap distraktif di antaranya adalah Instastory, Instagram Discover, dan Line Timeline dan masih banyak lagi. Pada penelitian kali ini, ditemukan pula intensitas mahasiswa UI membahas pekerjaan mahasiswa (tugas, organisasi, kepanitiaan, lomba, dll.) melewati jam tidurnya. Hasilnya mengatakan apabila mahasiswa UI berada pada level yang cukup intens.

 

primeraa

Compensatory Endeavours

Bagian terakhir penelitian mencoba menggali usaha apa yang mahasiswa UI lakukan agar dampak negatif begadang dapat mereka hilangkan. Lebih dari 50% mahasiswa UI secara sadar mengganti waktu begadangnya, 34% berkata mungkin, dan sisanya tidak mengganti waktu begadangnya. Usaha mereka adalah dengan mengganti waktu tidur di waktu senggang ataupun kelas dan menjadikan hari libur untuk beristirahat penuh. Penggantian waktu tidur tersebut merupakan bentuk penyesalan karena telah merusak siklus tidur mereka yang sebenarnya dapat membuat diri mereka menjadi pribadi yang lebih produktif. Berbicara mengenai tingkat penyesalan, mahasiswa UI berada pada level yang cukup tinggi dan hasilnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

primeraaa

 

Kesimpulan yang kami dapatkan dalam penelitian kami ini adalah waktu tidur dianggap cukup sepele bagi mahasiswa ketika sebenarnya memiliki dampak-dampak yang dominan terhadap produktivitas dan kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang. Namun, untuk tertidur sebelum menyelesaikan tugas juga memiliki berbagai resiko jangka pendek. Sehingga, bagi para mahasiswa yang sedang dikejar oleh tenggat, untuk tertidur dan untuk begadang merupakan sebuah trade-off yang sangat tidak menyenangkan.

 

Diulas oleh Divisi Penelitian Kanopi FEB UI 2018

Ilustrasi oleh Firli Wulansari Wahyuputri (Staf Biro Penerbitan dan Informasi Kanopi FEB UI 2018)

  • Gunakan kalimat yang baik
    You must be logged in to comment. Log in